Masjid AR. Fachruddin, Kampus III UMM, 5/3/2010

Khutbah 1:

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah..

Saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk menggali nilai dalam ilustrasi kisah berikut ini. Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudlu, masuk masjid dan melakukan shalat dhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman. Nenek itu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari itu sungguh menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepada nenek itu. Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid.  Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu telah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. ‘jika kalian kasihan kepadaku,’ kata nenek itu, ‘berikan kesempatan padaku untuk membersikannya’”.

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan oleh takmir dan jama’ah untuk mengumpulkan dedaunan seperti biasanya. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan. Perempuan itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang nenek itu telah meninggal dunia, sehingga kita bisa mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai” tutur nenek itu, “saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan sholawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya”

Sidang Jum’ah yang dikasihi Allah SWT .

Apa yang dikisahkan oleh Kyai Madura, D. Zawawi Imran di atas adalah cerita yang bersahaja tetapi memiliki kandungan nilai yang luar biasa. Nenek tua itu bukan saja megungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus, tetapi juga menunjukkan kepada kita tentang nilai keikhlasan, kerendahan diri, kehinaan diri dan keterbatasan amal di hadapan Allah SWT. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat bagi semua alam selain Rasulullah SAW??

Cinta Rasulullah SAW itulah kata kunci renungan kita kali ini. Cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi menurut Ibnu Qayyim, cinta dapat dirumuskan dengan memperhatikan turunan kata cinta, mahabbah, dalam bahasa Arab. Mahabbah berasal dari akar kata hubb. Ada lima makna untuk akar kata ini yang semuanya dapat kita jadikan alat untuk mengukur kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.:

Pertama, الصفاء والبياض , putih bersih. Ini menunjukkan bahwa cinta itu ditandai dengan ketulusan, kejujuran dan kesetiaan; Kedua,  العُلُوّ و الظهور, tinggi dan tampak. Cinta juga ditandai dengan pengutamaan kehendak orang yag dicintai di atas kehendak dan keinginan diri sendiri; Ketiga, اللزوم و الثبوت , terus menerus dan menetap. Cinta juga ditandai dengan keengganan berpisah atau jauh dari kekasih yang dicintai; Keempat, لُبّ , inti atau saripati sesuatu. Cinta juga ditandai dengan kesediaan memberikan apa yang paling berharga kepada sang kekasih; Dan kelima, الحفظ و الإمساك, menjaga dan menahan. Cinta juga ditandai dengan upaya untuk memelihara dan mempertahankan kecintaannya kepada sang kekasih.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah SWT..

Sekarang marilah kita tilik diri kita. Kalau kita memiliki cinta pada Rasulullah SAW, apakah kita telah memiliki ketulusan dan kesetiaan untuk tunduk patuh mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya? Kalau tidak berarti kita belum mencintainya.

Kalau kita merasa cinta kepada Rasulullah, pernahkah kita menyepelekan kehendak beliau dan menempatkannya ribuan kali setelah keinginan kita sendiri? Kalau memang demikian, sungguh kita juga belum mencintainya.

Kalau kita menganggap ada cinta Rasulullah di hati kita, adakah dalam hati rasa dekat dengan beliau? Atau adakah kehadiran Rasulullah senantiasa berbayang dalam ruang kesadaran kita? Kalau tidak, memang kita belum mencintainya.

Kalau kita mencintai Rasulullah, apakah kita telah berupaya memberikan apa yang terbaik atau paling berharga yang kita miliki hanya untuknya? Kalau tidak, lagi-lagi memang kita belum mencintainya.

Dan kalau benar kita merasa mencintainya, apakah ada kerinduan berjumpa denganya? Adakah sunnah-sunnahnya senantiasa menghiasi prilaku tatahidup kita? Apakah namanya senantiasa kita hiaskan dalam setiap shalawat yang keluar dari lisan kita? Dan apakah kita telah memelihara cinta itu pada setiap detak jantung dan aliran darah kita? Kalau tidak, memang sungguh kita belum mencintainya.

Jika begitu adanya, marilah kita berbenah diri, mulai belajar untuk bisa mencintai Rasulullah SAW. Karena selain cinta Rasul memang diperintahkan oleh Allah SWT, di dalam nilai ini juga terdapat tanda puncak keimanan kita kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan semua manusia” sesungguhnya beliau hanya menegaskan apa yang difirmankan oleh Allah dalam QS at-Taubah: 24, yang berbunyi:

قُلْ إِنْ كاَنَ آباؤُكمْ وَ أَبْناؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُم وَ أَزْوَاجُكُم وَعشِيْرَتُكُم وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهاَ وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَساَدَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ  وَاللهُ لاَ يَهْدِي القَوْمَ الفَاسِقِيْنَ

“Katakanlah, jika orangtua-orangtua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum kerabat kalian, kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”

Khutbah 2:

Pada khutbah kedua ini, khatib ingin mengikhtisari khutbah pertama dengan mengutip Herbert C. Kilman, seorang psikolog sosial, tentang keajaiban cinta dalam membentuk prilaku manusia. Ia menyebutkan ada tiga macam pengaruh dari seseorang kepada orang lain.

Pertama, ketundukan (compliance). Ini pengaruh yang paling dangkal. Pegawai patuh pada bosnya karena takut gajinya dipotong. Mahasiswa patuh pada dosennya karena takut tidak dapat nilai. Di sini kepatuhan terjadi karena ketakutan. Kedua, internalisasi. Ini pegaruh yang lebih dalam. Orang mengikuti kita karena ia yakin kita ini benar. Misalnya, pasien yang mengikuti nasehat dokter. Mahasiswa yang melaksanakan instruksi dosennya. Santri yang mengamalkan petuah kyainya. Mengapa mereka mau berbuat demikian? Karena yang diikuti memiliki otoritas atau keahlian. Dan ketiga identifikasi. Orang meneladani kita karena mereka membentuk identitas dirinya dengan menisbahkannya kepada kita. Dalam identifikasi, setiap orang berusaha untuk menjadi seperti yang diteladani. Misalnya, anak kecil yang meniru orangtuanya. Murid yang mencontoh prilaku gurunya. Remaja yang meniru gaya penyanyi idolanya dan sebagainya. Bagaimana identifikasi ini terjadi? Karena cinta.

Pada yang terakhir inilah, sebisa mungkin kita belajar untuk menjadi seperti Rasulullah dengan meneladaninya sebaik mungkin. Dan itu hanya bisa terjadi kalau kita sungguh-sungguh mencintai beliau. Nabi bersabda: ANTA MA’A MAN AHBABTA, engkau akan selalu bersama orang yang engkau cintai. Jika kita sungguh mencintai Rasulullah maka dalam kehidupan ini, kita akan selalu bersamanya, secara psikologis dan spiritual. Beruntunglah bagi kita yang akhlaqnya didekatkan kepada akhlaq Nabi saw karena tarikan cinta kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s