Archive for March, 2010

HARGA DIRI

Posted: March 28, 2010 in celetukan
Tags: , , , , ,

Sering sekali ibu tua dengan pakaian yang lusuh ini lewat di depan rumahku. Pertama saya menganggapnya biasa saja seperti layaknya pengemis. Bukankah saat ini memang pengemis menjadi profesi tersendiri bagi sebagian orang untuk memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka bekerja dengan pelbagai modus dan cara masing-masing. Ada yang terang-terangan menadahkan tangan ke semua pengendara di setiap lampu merah, ada yang door to door dengan gaya memohon belas kasihan. Bahkan ada pula yang beraksi seakan meminta sumbangan untuk pesantren atau panti asuhan, sehingga saat ini tampak saya kesulitan membedakan antara pengemis betulan dan jadi-jadian.

(more…)

HARI KETIGABELAS, KAMIS, 06 DESEMBER 2007

Hari ini saya habiskan waktunya untuk mengikuti kuliah seperti biasa. Hanya saja sorenya ada kuliah tambahan mengenai Methode Menghafal al-Qur`an yang disampaikan oleh Ghulam Hosein, seorang Hafidz Qur`an. Di Iran, walaupun pembelajaran bahasa Arabnya bisa disebut tidak sukses, namun penghafal Qur`an amatlah banyak jumlahnya. Di sini, penghafal Qur`an tidak hanya hafal ayat-ayat kitab suci itu, tetapi juga beserta halaman, nomor ayat dan juznya.

(more…)

Masjid AR. Fachruddin, Kampus III UMM, 5/3/2010

Khutbah 1:

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah..

Saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk menggali nilai dalam ilustrasi kisah berikut ini. Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudlu, masuk masjid dan melakukan shalat dhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman. Nenek itu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari itu sungguh menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

(more…)

“Masih ingatkah engkau kasus Kyai Roy?” tanya Mehdi dalam perjalanan pulang kuliah.

“Kyai Roy, siapa?” kata Fayas balik bertanya.

“Mantan petinju yang mengajarkan shalat dwibahasa itu lho?”

“Buat apa pula kamu menanyakan itu?”

“Ini penting”

“Penting apanya?”

“buat saya ini memunculkan suatu tanya: Mengapa hal ini bisa terjadi? Terlepas kontroversi, boleh atau tidaknya, bukankah ini akan memunculkan Roy-Roy yang lain ketika mereka merasa lebih mengerti, lebih sreg, saat ayat al-Qur`an yang mereka baca di dalam shalat diterjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka?” urai Mehdi

(more…)