NAMA DAN SIFAT AL-QUR`AN (Memoar Belajar Wawasan Dasar Al-Qur’an, Bagian 3)

Posted: February 27, 2010 in wawasan al-Qur`an
Tags: , , , , , , ,

“Sungguh tepat penamaan al-Qur`an oleh Allah sendiri, yang secara harfiah berarti ‘bacaan sempurna’, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi al-Qur`an”

Mehdi penasaran dengan apa yang ia baca dari catatan kecilnya itu. Sebagai seseorang yang menerima Islam karena warisan orang tua, ia tidak pernah menyadari bahwa kitab suci yang ia imani sehebat itu. Benarkah al-Qur`an sebagai bacaan tidak ada yang menandingi? Mehdi mencoba membuka kembali buku kasykulnya. Di sana tertulis buku referensi: Wawasan al-Qur`an, Quraish Shihab, halaman 3. Seketika ia pergi ke perpustakaan Studi Islam UMM, dan memburu buku yang ditulis oleh Doktor ilmu-ilmu al-Qur`an dari al-Azhar University itu. Ia mendapatinya di rak bagian ulum al-Qur`an. Dibukanya buku itu dan dibaca dengan perlahan:

“Tidak ada bacaan semacam al-Qur`an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal oleh orang dewasa, remaja dan anak-anak.

Tiada bacaan pun melebihi al-Qur`an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja dari sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.

Tiada bacaan pun seperti al-Qur`an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosa katanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid, buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecendrungan mereka, namun semua mengandung kebenaran. Al-Qur`an layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

Tiada bacaan seperti al-Qur`an yang diatur tata cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya…

Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk seperti itu? Al-Qur`an menantang : “Katakanlah, ‘Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam al-Qur`an ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya, walaupun mereka bekerja sama’ ” (QS. Al-Isra` [17]:88)

Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa, tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan “alat” bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (al-Qur`an). Demikian terpadu dalam al-Qur`an keindahan bahasa, ketelitian dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya” [1].

Tulisan itu Mehdi baca sekali lagi. Ia berdecak kagum dibuatnya. “Saya sependapat” katanya dalam hati, “memang sudah sepantasnya kitab suci ini dinamai oleh Allah dengan al-Qur`an, yang berarti bacaan mulia”. Ia teringat bahwa hal itu pernah dibacanya di dalam surat al-Isra` [17] ayat 9:

إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar

Tiba-tiba Mehdi merasa ada yang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang. Benar saja, ternyata Tania, teman sekelasnya. Ia memberitahu Mehdi bahwa ia sedang mencari nama-nama yang disematkan pada al-Qur`an. “Kalau boleh berbagi, apa yang kamu temukan, Nia?” tanya Mehdi. Dengan senyumannya yang khas, lalu Tania menguraikan apa yang ia catat. Bahwa dalam berbagai ayatnya, al-Qur`an juga menyebut dirinya dengan berbagai nama, di antaranya:

  1. al-Kitab, seperti yang tersebut dalam QS. al-Anbiya` [21] ayat 10:

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”

  1. al-Furqan dalam QS. Al-Furqan [25] ayat 1:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada sekalian alam ( jin dan manusia)”.

  1. al-Dzikr dalam QS. Al-Hijr [15] ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

  1. at-Tanzil[2] dalam QS. Al-Syu’ara` [26]: 192:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”

Itulah nama-nama al-Qur`an yang dikenal oleh umat Islam, dan yang paling populer di antara sebutan itu ialah al-Qur`an dan al-Kitab[3]. Namun demikian, ada sementara ulama yang berlebihan memberi nama al-Qur’an hingga banyak sekali jumlahnya. Zarkasyi menyebut 55 nama yang dikutipnya dari al-Qadhi Syaidzalah. Menurut As-Shalih dalam bukunya Mabahits fi Ulum al-Qur`an, penamaan yang banyak itu dapat dipastikan akan mencampuradukkan antara nama dan sifat. Ia mencontohkan penamaan al-Qur’an dengan al-‘Aliy (Tinggi) yang diambil dari firman Allah:

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Kitab (Lauh Mahfudz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (`aliyyun) dan penuh hikmah (QS. az-Zukhruf: 4).

Nama al-Majid (Mulia) juga diambil dari fitman Allah :

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ

“Bahkan ia adalah al-Qur’an yang mulia (majid)(QS. al-Buruj, 21).

Nama al-‘Aziz (Jaya) dari ayat :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

“Dan sungguhlah bahwa al-Qur’an adalah Kitab yang Jaya (`Aziz)” (QS. Fushshilat, 41).

Ada pula yang memberi nama al-‘Arabi, diambil dari firman Allah: Qur’anan `Arabiyyan, Qur’an berbahasa Arab (QS. Az-Zumar: 28). Bahkan semen­tara ulama ada yang memberi nama al-Qur’an lebih dari 90 buah nama[4].

“Oh… begitu ya? bagaimana kalau sekarang kita mulai membahas sifat-sifat al-Qur`an saja?” sela Mehdi. Lagi-lagi dengan tersenyum, Nia mengatakan bahwa selain yang disebutkan sebelumnya itu, sifat al-Qur`an yang populer di kalangan umat Islam, di antaranya adalah:

1. An-Nur (cahaya) sebagaimana al-Qur`an menyebutkannya dalam QS. An-Nisa` [4]:174:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”.

2. Al-Huda (petunjuk) dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

3. Asy-Syifa`(obat); Ar-Rohmah (rahmat); al-Mau’idzoh (nasehat). Ketiganya termaktub dalam QS. Yunus [10]: 57:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman“.  

6. al-Mubin, yang menerangkan (QS. Al-Maidah [5]:15):

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”.

7. al-Mubarak, yang diberkati (QS. Al-`An’am [6]: 92):

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya”.

8. al-Busyro, kabar gembira (QS. Al-Baqarah [2]:97):

قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

9. al-Basyir, pembawa kabar gembira; an-Nadzir, pembawa peringatan (QS. Fushshilat [41]:3-4)[5].

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan.

Mehdi sangat berterima kasih kepada Tania atas informasi (pengetahuan) yang ia sharringkan, “tetapi” kata Mehdi, “tidakkah apa yang kamu sebut tadi sebagai sifat-sifat al-Qur`an, sebagiannya seperti al-Basyir (pemberi kabar gembira) dan an-Nadzir (pembawa peringatan) juga bisa dikatakan secara maknawi sebagai fungsi al-Qur`an?”

“Itulah yang hendak saya katakan” ucap Tania. Dari nama dan sifat-sifat di atas, sebenarnya secara maknawi sebagiannya mengandung pula tentang fungsi al-Qur`an itu sendiri. Namun, ada pula yang mengkatagorikan fungsi al-Qur`an dengan hal-hal berikut ini:Pertama, untuk menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Nabi Muhammad SAW. Al-Qur`an merupakan mu’jizat terbesar baginya[6]. Keberadaannya  hingga kini masih tetap terpelihara dengan baik, dan pemasyarakatannya dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Allah sendiri yang akan menjaganya sebagaimana Ia janjikan dalam QS. Al-Hijr [15] ayat 9 yang berbunyi:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Kedua, sebagai petunjuk bagi manusia (hudan lin nas). Yakni sebagai konfirmasi yang memperkuat-pendapat akal pikiran, dan sebagai informasi terhadap hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal. Hanya orang-orang bertaqwalah yang sesungguhnya mendapatkan petunjuk al-Qur`an ini. Karena fungsi al-Qur`an sebagai sarana mencapai kebaikan di dunia dan akherat terpenuhi. Sedangkan bagi orang yang tidak bertaqwa, al-Qur`an hanya bisa dipakai sebagai sarana untuk mencapai kebaikan di dunia semata.

Ketiga, sebagai hakim atau wasit yang mengatur jalannya kehidupan manusia agar berjalan lurus. Itulah sebabnya ketika umat Islam berselisih dalam segala urusannya hendaknya ia berhakim kepada al-Qur`an. Selanjutnya al-Qur`an berfungsi sebagai pengontrol dan pengoreksi terhadap perjalanan hidup manusia di masa lalu. Berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh Bani Israil terhadap ayat-yat Allah umpamanya dikoreksi[7].

Keempat, sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira. Di sini al-Qur`an menjelaskan mengenai janji Allah tentang balasan baik bagi orang-orang yang mentaati perintah-Nya dan menjelaskan peringatan Allah tentang hukuman bagi mereka yang melanggar dan mengingkari-Nya.

Kelima, sebagai syifa`an, obat penawar. Di sini bisa diartikan dalam dua versi, yaitu sebagai penyembuh penyakit batin dan penyembuh penyakit fisik. Penyakit batin seperti kesombongan, kerakusan, kemalasan, dengki, iri dan sebagainya. Sedangkan mengenai penyakit fisik, seperti yang tersirat dalam surat an-Nahl ayat 69, di situ dijelaskan tentang lebah dengan madunya. Dari ayat itu tentu al-Qur`an mendorong manusia untuk menyingkap misteri obat apa yang terdapat  di dalamnya.

“itulah sedikit informasi tentang fungsi al-Qur`an yang sempat saya catat” kata Tania, “bagaimana dengan kamu, Mehdi?”

“Maaf Tania, yang saya baca malahan tidak sebanyak kamu. Makasih ya atas bagi-bagi pengetahuannya… Kapan-kapan kita sharring lagi, it’s nice talking to you!

ma’asy syukr” jawab Tania sambil tersenyum

“Saya duluan ya, saya janjian sama Fayas di Kantin. Kalau mau, mari bergabung?” ajak Mehdi

“Terima kasih…kapan-kapan aja deh”

Ya udah, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam…” []


[1] Quraish Shihab, 1996, Wawasan Al-Qur`an, Bandung: Mizan, hal. 3-5

[2] Maksudnya, wahyu yang diturunkan Allah Swt ke dalam hati Rasul-Nya, Muhammad saw.

[3] Lihat al-Qattan, Op.Cit., hal. 18-19

[4] As-Shaleh, Op.Cit., halaman 14

[5] Al-Qattan, Op.Cit., hal. 20-24. Bandingkan dengan Imam as-Suyuti, 1996, Apa Itu Al-Qur`an,  Jakarta: Gema Insani Press, hal. 15-16.

[6] Untuk mengetahui bagaimana kemu’jizatan al-Qur`an. Baca  Zainal Abidin S, Op.Cit., hal. 98.

[7] Abuddin Nata, 1999, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Press, hal. 68-72.

Comments
  1. ahmaad ch says:

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s