SHALAWAT

Posted: February 26, 2010 in celetukan
Tags: , , , , , ,

“Pa, besuk aku ada lomba mewarna di sekolah” kata anak perempuanku menjelang tidur tadi malam

“Oh ya” kataku menanggapi, “kalau gitu, mewarnanya tidak boleh keluar garis ya..”

“Aku loh udah berlatih tadi siang. Bagusss sekali. Nggak keluar garis”

“Kalo aku besuk  ada maulid nabi, pa” ujar anak lelakiku.

“Apa acaranya mas?” tanyaku.

“Bagi-bagi kue”

“Pa pa, besuk itu hari kelahiran Nabi Muhammad ya?” tiba-tiba anak perempuanku bertanya lagi.

“Iya”

“Kalau begitu, sekarang Nabi udah besar dong??” tanyanya lugu.

Saya ingin menjawabnya dengan bahasa yang pas, mudah dipahami oleh anak TK seperti dia, namun tiba-tiba masnya menjawab: “Ya, sudah mati dik. Kan Nabi Muhammad nabi yang terakhir..”.

“Iya, Nabi Muhammad telah mati, dik” kataku, “tapi ajaran dan keteladanannya senantiasa hidup untuk kita tiru dan jalankan”. Entahlah mereka berdua paham atau tidak. Yang jelas, ajaran dan keteladanan adalah dua konsep yang abstrak bagi mereka. Tentunya juga tidak mudah untuk dipahami oleh anak seumuran dia.

“Huaaaa” anak perempuanku menguap.

“ngantuk ya, dik??” tanyaku.

“Iya. Cerita dong Pa..” pintanya.

“Iya, Pa” Masnya menguatkan.

“Cerita apa ya…” aku berupaya mencari-cari. Kalau Kancil Nyolong Timun, sudah. Kancil menyelamatkan Kerbau, sudah pernah. Kancil dan Gajah, baru kemarin…

“Ya, terserah Papa..” kata Masnya.

“Okeylah” kataku menanggapi. Aku ingin mendongengkan kembali cerita Kyai Zawawi Imran, Budayawan Madura yang didengar oleh Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Rindu Rasul (Rosdakarya, 2001: 31-33). Entahlah, apakah kedua anakku yang masih duduk di bangku TK ini memahaminya atau tidak. Saya tidak ambil peduli. Yang penting sebagai pengantar agar mereka cepat tidur, dan bapaknya bisa ngenet kembali…

Dahulu, di sebuah kota di Madura” saya memulai cerita, “ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudlu, masuk masjid dan melakukan shalat dhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman…”.

Huaaa” anak lelakiku mulai menguap, “ngapain Pa, nenek itu membungkuk-bungkuk?” tanyanya, dan kulirik mata adiknya sudah mulai mengatup.

Nenek itu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid” aku melanjutkan,” Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya”.

Huaaaa, mengantuk pa..” ujar anak lelakiku, sedang adiknya udah terlelap terbawa mimpi..

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepada nenek itu. Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu telah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. ‘jika kalian kasihan kepadaku,’ kata nenek itu, ‘berikan kesempatan padaku untuk membersikannya’”.

Kilirik anak lelakiku telah terlelap dalam dekapan bantal gulingnya. Entah mengapa, aku tidak mau beranjak pergi dan melanjutkan selancarku di dunia maya. Ada yang menahanku untuk tetap melanjutkan kisahku: “Singkat cerita, nenek itu dibiarkan oleh takmir dan jama’ah untuk mengumpulkan dedaunan seperti biasanya. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan. Perempuan itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang nenek itu telah meninggal dunia, dan kalian anak-anakku dapat mendengarkan rahasia itu”.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai” tutur nenek itu, “saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan solawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya”

Allahumma  shalli ‘ala Muhammad wa `ali Muhammad..” saya mengakhiri cerita pengantar tidur ini. Kupegang dua kepala anakku dan kubacakan shalawat Nabi berulang kali. Entahlah, dari mana datangnya pemahaman ini, namun saya berkeyakinan walaupun jasad kedua anakku itu tertidur pulas namun ruhnya pasti mendengar apa yang aku ceritakan. Aku berdoa, semoga ceritaku bisa menginspirasi ruh mereka untuk menjadi orang-orang yang amat sangat mencintai Rasulullah SAW. Allahumma  shalli ‘ala Muhammad wa `ali Muhammad..[]

Joyosuko Metro, 26/2/2010.

Comments
  1. Aris Suhadi says:

    Terima kasih..telah mengingatkan..kita tidak bosan2nya melakukan ini…hingga menjadi kebiasaan dalam hidup yan sekali ini. Allahumma sholli ‘ala Muhammad..

  2. benramt says:

    makasih ya, usdah, atas motivasinya. doa saya mengiringi semoga menjadi guru yang inspiratif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.. amien

  3. usdha maryana says:

    cerita ini sangat menginspirasi saya selaku calon pendidik, khususnya pendidik bagi anak sendiri kelak dan bagi calon murid-muridku umumnya …..hmmmmmmmmmmm, smoga cita-citaku jadi guru yang ku inginkan dapat tercapai….amiiiiin. Cerita di atas dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para orang tua, lebih-lebih bagi mereka yang masih sangat kurang dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya.
    Jangan berhenti memberikan inspirasi pada orang-orang melalui gaya cerita seperti di atas,ya… ustadz Amin!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. benramt says:

    bagus tu da, inspiratif. sapa tahu bisa jadi cerpen hehehe

  5. isdah ahmad says:

    huwaaaaaaaaaaah… *kelilipaaan*

    jadi inged dulu waktu bekpekeran ke suatu kota di jawa tengah.. ada orang tua yang juwalan kacang rebus.. dia selalu mengambil satu persatu kacang itu, trus menaruh kembali ke tempatnya… ealaaah… ternyata dia sedang dzikir dengan kacang itu… huwaaaaaaaaaaah… *kelilipan lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s