PENGERTIAN “AL-QUR`AN” (Memoar Belajar Wawasan Dasar Al-Qur’an, Bagian 2)

Posted: February 26, 2010 in wawasan al-Qur`an
Tags: , , , , , , , , , , ,

Hari yang disepakati oleh Fayas dan Mahdi tiba. Mereka berdua sepakat bertemu di Perpustakaan Studi Islam UMM ba’da asyar untuk mengkolaborasikan apa yang mereka baca tentang topik pertama, yakni pengertian al-Qur`an.

Dalam diskusi mereka, Fayas yang pertama membagikan apa yang telah ia  baca. Ketika membaca Mabahits fi Ulum al-Qur`an karya Dr. Subhi as-Shalih, katanya ia mendapatkan bahwa di kalangan ulama ada perbedaan pengertian etimologis (bahasa) mengenai al-Qur`an. “Mereka berbeda pendapat setidaknya dalam dua hal” kata Fayas. Pertama, apakah lafadz al-Qur`an itu musytaq (diambil dari akar kata tertentu) atau tidak. Asy-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa al-Qur`an tidak berasal dari akar kata apapun, dan tidak pula ditulis dengan hamzah. Lafadz tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalam Allah (firman Tuhan) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Asy-Syafi`i beralasan, kalau lafadz tersebut berasal dari akar kata qara`a (membaca), maka setiap sesuatu yang dapat dibaca dapat dinamai al-Qur`an. Baginya lafadz tersebut memang nama khusus bagi al-Qur`an, sama halnya dengan nama Taurat dan Injil.

Kedua, bagi ulama yang berpandangan bahwa lafadz al-Qur`an adalah musytaq berbeda pendapat pada apakah akar kata al-Qur`an penulisannya dibubuhi huruf hamzah atau tidak. Al-Farra[1] misalnya, menyebut bahwa lafadz Qur`an tidak dibubuhi hamzah di dalamnya. Ia berasal dari kata qara`in, jamak dari kata qarinah yang berarti “kaitan”, karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat al-Qur`an itu satu sama lain saling berkaitan. Sama halnya dengan al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafadz itu diambil dari akar kata qarn. Ia mengemukakan contoh kalimat qarnusy-syai bisysyai yang berarti “menggabungkan sesuatu atas yang lain”, Jadi kata qarn dalam hal itu bermakna: gabungan atau kaitan, karena surah-surah dan ayat-ayat saling bergabung dan saling berkaitan[2].

Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa lafadz itu ditulis dengan hamzah di antaranya ialah az-Zajjaj[3] dan al-Lihyani[4]. Az-Zajjaj mengemukakan bahwa lafadz al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata (wazn) fu’lan. Lafadz tersebut pecahan (musytaq) dari akar kata qar’ un yang berarti jam’un. Ia mengetengahkan contoh kalimat quri’al ma’u fil-haudhi yang berarti: air dikumpulkan dalam kolam. Jadi dalam kalimat itu kata qar’un ber­makna jam’un yang dalam bahasa Indonesia bermakna “kumpul”. Alasannya al-Qur’an “mengumpulkan” atau menghimpun intisari Kitab-­kitab suci terdahulu.

Sedangkan al-Lihyani, mengatakan bahwa lafadz al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola-kata ghufran dan merupakan pecahan (musytaq) dari akarkata qa-ra-a yang bermakna tala (membaca). Lafadz al-Qur’an digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni objek, dalam bentuk mashdar.

Menurut Dr. Subhi as-Shalih, demikan Fayas menyimpulkan, pendapat yang belakangan lebih kuat dan lebih tepat karena dalam bahasa Arab lafadz al-Qur’an adalah bentuk mashdar yang maknanya sinonim dengan qira’ah, yakni “bacaan”. As-Shalih mencontohkan dengan firman Allah Swt yang berbunyi:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (ayat-ayat al-Qur’an itu di dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apa­bila telah Kami (wahyukan) bacaannya maka ikutilah bacaan itu.” (al-Qiyamah, 17-18).[5]

Setelah Fayas mempresentasikan apa yang ia peroleh, kini giliran Mehdi yang ambil bagian. Mehdi merasa bahwa apa yang ia baca tidak berbeda dengan Fayas. Ia mengatakan bahwa dalam bukunya, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur`an, Manna’ Khalil al-Qattan seakan menguatkan apa yang dijelaskan ash-Shalih dengan menyebut Qur`an sebagai isim masdar (verbal noun) dari akar qara`a, yang makna aslinya ialah “mengumpulkan dan menghimpun”. Kata ini berarti pula “membaca”, karena dalam membaca, huruf dan kata-kata dihubungkan satu sama lain menjadi susunan kalimat. Sehingga qur`an seringkali disamakan dengan qira`at (penamaan maf’ul dengan masdar), yang berarti “bacaan”, yakni himpunan huruf dan kata-kata dalam suatu ucapan yang tersusun rapi [6].

Mehdi juga menemukan Farid Esack, seorang Doktor di bidang Tafsir al-Qur`an Universitas Western Cape-Afrika Selatan, juga menyimpulkan bahwa secara harfiah  al-Qur`an berarti “bacaan”, “pengucapan” atau “kumpulan”. Dengan membuka buku al-Qur`an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, halaman 85, Mehdi membaca apa yang ditulis Esack:

“Mayoritas pemikir Arab sepakat bahwa kata qur`an adalah bentuk lampau yang berasal dari akar kata Arab qara`a yang berarti “ia membaca”, atau kata sifat dari qarana, “ia menghimpun atau mengumpulkan”. Di dalam al-Qur`an sendiri, kata qur`an dipakai dalam arti “membaca” (QS. Al-Isra` (17):93), “mengucap” (Al-Qiyamah (75): 18), dan “sebuah kumpulan” (QS. Al-Qiyamah (75): 17)…”[7].

“Bagaimana pengertian al-Qur`an dari segi istilah? Apa yang kamu temukan?” tanya Fayas. Mehdi merasa bahwa buku-buku yang ia baca memberikan pengertian yang sama. Ia memberikan contoh Abd al-Wahhab al-khallaf dalam bukunya Ilmu Ushul al-Fiqh menjelaskan bahwa al-Qur`an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, melalui Jibril dengan menggunakan lafadz bahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi Rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya. Ia terhimpun dalam mushhaf, dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawatir (berdasar sumber-sumber yang dapat dipercaya kebenarannya) dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan serta terjaga dari perubahan dan pergantian[8].

“Ya, begitulah adanya seperti yang juga saya temukan” kata Fayas menutup diskusi kali ini. Selanjutnya mereka bersepakat untuk membaca tentang nama, sifat dan fungsi al-Qur`an.[]


[1] Al-Farra, seorang ulama ahli Nahwu dan terkenal pula sebagai ahli bahasa Arab di Kufah. Nama aslinya adalah Yahya bin Ziyad al-Dailami dan dijuluki Abu Zakariyah. Ia menulis buku tentang Ma’ani al-Qur`an. Wafat 207 H.

[2] Subhi As-Shalih, 1991, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur`an (terj.), Jakarta: Pustaka Firdaus,  hal .9

[3] Nama lengkapny aaz-Zajjaj ialah Ibrahim bin as-Sirri, dijuluki Abu Ishaq, penulis buku tifa’anil-Qur’an. Wafat 311 H. (Lihat Inbahur-Ruwah, Jilid I, hal. 163).

[4] Al-Lihyani, nama aslinya Abul-Hasan ‘Ali bin Hazim, ahli bahasa Arab terkenal. Wafat 15 H. Buku-buku yang ditulisnya banyak dimanfaatkan oleh Ibnu Sayyidih dalam menulis buku berjudul al-Mukhassash.

[5] Untuk lebih jelasnya, Shalih mencoba menelusuri pengaruh bahasa Aramiah di dalam bahasa Arab: Ketika orang-orang Arab jahiliyah mengenal lafadz qa-ra-a mereka menggunakannya tidak dalam arti tala (membaca). Misalnya kalau mereka mengatakan: Hadzihin-naqatu lam taqra’ salivyan qath (Unta betina itu tidak dapat dibuahi dan tidak dapat beranak). Jadi kata taqra’ (akarkata qa-ra-‘a) tidak mereka pergunakan dalam arti “membaca” , tetapi dalam arti yang lain. `Amr ibn Kaltsum dalam bait sya’imya menulis : Hijanul-launi lam taqra’ janina (Perempuan jalang tak da­pat mengandung janin). Jadi, kata taqra’ yang berasal dari akarkata qa-ra-a digunakan dalam arti “mengandung” atau “hamil”. Lafadz qa-ra-‘a yang bemakna tala (membaca) diambil orang-orang Arab dari bahasa Aramia dan digunakannya dalam percakapan sehari-­hari.

Sebagaimana diketahui G. Bergstrasser mengatakan, pengaruh ba­hasa-bahasa .Aramia, Ethiopia dan Persia di dalam bahasa Arab merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena bahasa­bahasa tersebut merupakan bahasa bangsa-bangsa yang telah mengenal peradaban berabad-abad sebelum hijrah, dan mereka bertetangga dengan bangsa Arab.

Kenapa kita heran dan tidak mempercayai pernyataan G. Bergstraesser itu, padahal kita tahu bahwa berbagai dialek bahasa Aramia dahulu pernah menguasai negeri-negeri Palestina, Suriah, daerah-daerah Caucasia dan sebagian negeri Irak. Juga kenyataan bahwa bangsa Arab adalah tetangga bangsa Yahudi, bangsa yang agamanya menggunakan bahasa Aramia, dan mereka itulah yang mempercepat penyebaran lafadz-lafadz keagamaan Aramia. Seorang orientalis bernama Krenkow telah menunjukkan hal itu dalam peneli­tiannya mengenai kata “kitab” di dalam Encyclopedie de I’Islam. Demikian pula seorang orientalis Blachere, ia mengutip sejumlah kata-kata yang berasal dari agama-agama Aramia, Siryani dan Ibrani untuk memastikan bahwa orang-orang Arab menggunakan kata-kata tersebut karena pengaruh hubungan tetangga dengan masyarakat Yahudi dan para penganut agama lain. Kita sebutkan saja beberapa di antara kata-kata tersebut, yaitu Qara’a (membaca), kataba (menu­lis), tafsir (tafsir), tilmidz (murid), furqan (pembeda), qayyum (man­diri, tidak bergantung pada sesuatu) dan zindiq (keluar dari rel aga­ma).

Bagaimana pun persoalannya menjadi jelas, bahwa jauh sebelum Islam, orang-orang Arab telah menggunakan kata qara’a yang berasal dari bahasa Aramia itu dengan makna tala (membaca). Kenyataan itu cukup memberi alasan untuk meng-arab-kan kata tersebut, yang kemu­dian digunakan oleh Islam untuk penamaan Kitab sucinya. Op.Cit. halaman 12. Lihat pula Taufiq Adnan Amal, 2001, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, FKBA, Yogyakarta, halaman 46.

[6] Manna’ Khalil al-Qattan, 1996, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur`an (terj.), Bogor: Litera Antar Nusa, hal. 16. Lihat juga Maulana Muhammad Ali,  1980, Islamologi (Dinul Islam), terj. R. Kaelan & H.M. Bachrun, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru – Van Hoeve,  hal. 13 .

[7] Farid Esack, 2000, Al-Qur`an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, ter. Watung A Budiman, Bandung: Mizan, hal. 85.

[8] Abd al-Wahhab al-Khallaf, 1972, Ilmu Ushul al-Fiqh, Jakarta: al-Majlis al-`Ala al-Indonesia li al-Da’wah al-Islamiyah, cet.IX, hal. 23.

Comments
  1. as'ad lumajang says:

    oke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s