PENDAHULUAN (Memoar Belajar Wawasan Dasar Al-Qur’an, Bagian 1)

Posted: February 25, 2010 in wawasan al-Qur`an
Tags: , , , , ,

Sepulang dari pertemuan pertama Mata Kuliah Wawasan Dasar al-Qur`an, Fayaz termotivasi dengan gaya perkuliahan Pak Mahmudi. Tidak seperti biasanya, katanya dalam hati, dosen yang satu ini mencoba melibatkan mahasiswa-mahasiswanya dalam merumuskan sendiri apa yang ingin mereka pelajari. Ia masih ingat bagaimana dalam pertemuan tadi Pak Mahmudi mengajak peserta didiknya untuk melakukan assessment terhadap kebutuhan belajarnya (learning need).

Semula semua mahasiswa terdiam. Mungkin karena mereka terbiasa dengan menerima begitu saja, tanpa kritik, apa yang diberikan oleh dosen. Walaupun mungkin apa yang mereka dapat tidak seperti yang mereka harapkan, atau tidak mereka butuhkan untuk hidup dan kehidupan, mereka he`e saja. Sehingga ketika mereka diminta untuk mengungkapkan apa yang mereka hendak pelajari, mereka menjadi kagok. Terlanjur terbisa bergantung. Terlanjur terbiasa pasif, menerima apa saja.

“Begini,” kata pak Mahmudi saat menyadari kondisi para mahasiswanya, “saat ini kita akan mempelajari tentang wawasan dasar al-Qur`an. Kira-kira dalam materi itu yang ingin anda semua pahami, apa?”

Semua mahasiswa masih diam. Tiba-tiba dari mereka Fayas mengangkat tangan. Setelah dipersilakan, ia mengatakan bahwa mungkin pembahasan tentang pengertian al-Qur`an akan lebih baik kalau bisa mengawali perkuliahan ini. Okey, kata Pak Mahmudi, saya setuju. Itu akan terkesan sistematis kalau kita mengenal terlebih dahulu apa sih definisi al-Qur`an itu, sambil tangannya menuliskan materi tersebut sebagai topik pertama. “Selanjutnya, apa?” tanya dosen muda ini. Lalu, bermuncullah usulan materi seperti: Fungsi al-Qur`an; Pewahyuan al-Qur`an; Sejarah Kodifikasi al-Qur`an; Kandungan al-Qur`an; Ulum al-Qur`an dan sebagainya.

Dari itulah, Fayas dalam perjalanan pulang kuliah, menawarkan ajakan kepada Mehdi, temannya, untuk berkolaborasi dalam mengaktifkan diri di perkuliahan tentang al-Qur`an ini. Mehdi setuju saja. Karena diam-diam ia juga termotivasi dengan cara mengajar pak Mahmudi. Selain itu, seperti yang ia yakini selama ini, bahwa dengan bekerja sama dalam belajar, hasilnya akan lebih maksimal. Kemudian, terjadilah jalan cerita tentang kesepakatan dua mahasiswa ini untuk berkolaborasi dalam membaca, mencatat, berdiskusi dan memberikan apa yang mereka ketahui kepada yang lainnya.

Catatan ini merupakan rekaman proses perjalanan mereka dalam melakukan collaborative learning pada materi Wawasan Dasar al-Qur`an, yang dalam cerita sederhana ini kemudian terlibat pula beberapa tokoh lain seperti Tania, Momtaza, dan Parto. Mereka mewakili karakter masing-masing. Fayas memiliki performa yang berwibawa, serius, sedikit pendiam dan “kutu buku”. Mehdi seorang yang bersemangat dan sedikit meledak-ledak dalam mengekspresikan diri. Tania seorang cewek yang lincah, antusias, pandai bergaul dan agak cueks. Momtaza seorang gadis yang pemalu, pendiam, “keibuan” tetapi tidak tertutup. Sedangkan Parto mempunyai karakter yang “mbanyol“, cueks, agak slengean tetapi antusias. Karakter yang berbeda-beda itu bisa menyatu dalam kesamaan kebutuhan yaitu keingintahuan yang menggelora tentang al-Qur`an, Kitab Suci yang mereka imani sejak lahir.

Karena itu, catatan ini lebih pas kalau ditempatkan “mirip-mirip” sebagai memoar belajar beberapa anak manusia tentang pengetahuan dasar ulum al-Qur`an. Walaupun sepenuhnya jalan cerita (plot) yang dibangun adalah imajinatif dari penulis, tetapi isi kajiannya tidaklah fiktif. Seluruhnya memiliki marja’ (referensi) yang jelas. Hal itu dapat ditelaah dari catatan kaki yang sengaja ditampilkan oleh penulis agar dapat dirujuk bila pembaca ingin mengetahui lebih jauh.

Selamat membaca, tentu catatan ini jauh dari sempurna, kritik dan masukan antum sangat penulis harapkan agar bangunan pengetahuan ini tidak menyesatkan tetapi justru mendekatkan kita kepada Dia SWT Yang Maha Benar, amin..

Comments
  1. benramt says:

    konon, metode lebih penting dari materi yg disampaikan, tetapi sang guru tentunya tetap lebih penting dari metodenya, karena metode, strategi, teknik, cara dsj. adalah turunan dari paradigma, perspektif dan pendekatan yang ada dlm diri guru tersebut..

  2. usdha maryana says:

    Menarik sekali tulisan ini. Memang tidak semua orang itu mempunyai kemampuan yang sama. Sebagai seorang pendidik,siapapun itu harus bisa memahami kemampuan ataupun krakter peserta didiknya dan dapat memberikan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didik, sekali lagi……. karena tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s