LEBAY

Posted: February 24, 2010 in celetukan
Tags: , , , , , ,

Kang Ri datang malam ini dengan wajah murung. Tidak seperti biasanya ia begitu.

“ kayak onta!” komentarku begejekan saat menyambutnya

Untoe mbahmu!” balasnya sengit

“Abis, sampean sih Kang. Datang-datang wajah ditekuk begitu. Persis onta!”

“Lagi mangkel aku!” ujarnya singkat.

“Okey-okey, piss man, piss.. ” lalu kupesankan segelas kopi pada mas Andi, pemilik warung.

“Apa gerangan yang membuatmu jadi onta begini, sobat??” kataku masih begejekan..

“Edan koen!”

Nek ra edan ra keduman, Kang hehehe” balasku

Uedan tenan, uedan tenan..” gerutunya.

Mas Andi datang… secangkir kopi tersuguhkan di depan Kang Ri. Ngepul-ngepul asapnya. Khas rasanya.

Monggo Kang, diseruput.. biar jadi onta hitam hehehhe”

Kang Ri tidak mereaksi guyonan saya. Ia mulai menuangkan kopi di lepek, lalu sedikit demi sedikit disruputnya itu cairan hitam dalam-dalam. Aku hanya melihatnya saja..

“Dul” ujarnya tiba-tiba, “manusia itu memang begitu ya?”

“Begitu bagaimana?”

“kecenderungannya untuk berlebih-lebihan”

“ya, mungkin karena itu kang, Rasululllah selalu mengingatkan kita ‘wala tusrifu’, jangan berlebih-lebihan”

“bahkan dalam kebaikan, Dul?” tanyanya menohok

“Entahlah, Kang. Kalo menurut sampean sendiri bagaimana?” kutanyakan balik.

“Ini perasaan saya, sebagai orang awam. Tukang batu. Bukan ahli hukum” jawab Kang Ri, “suatu kebaikan itu kadarnya pas, tengah-tengah, nggak ekstrim. Kalau berlebihan kok kayaknya tidak lagi baik toh jadinya.. lebay gitu kata anak sekarang hehehe” mulai tersenyum dia, walaupun garis-garis kemangkelan masih menyelimuti wajahnya.

“Contohne piye, Kang?”

“Merayakan kenikmatan sebagai ungkapan syukur itu apa Dul, sebutan dalam al-Qur`annya?”

“Tahadduts bin ni’mah, maksud Kang Ri?”

“Ya ya benar, itu kan baik dan disuruh oleh Tuhan. Tetapi kalau berlebihan.. jadinya kan pamer”

“benar juga, Kang. Namun dalam jenis kebaikan yang lain, bagaimana?”

“Contohnya, apa?”

“Memberi, misalnya”.

“Lho kan sama” jawab Kang Ri, “Kita hanya punya duit Rp. 10.000, lalu kita berikan semua pada pengemis. Itu kan lebay. Karena kita sendiri terus mau makan pake duitnya siapa?? Memberi ya memberi tapi yang rasional dong”.

“Itulah yang membedakan kita dengan para sufi” kataku menimpali

“suka film, maksud kamu? Hehehe” celetuknya sepontan. Dah mulai lebar dia tersenyum..

“Mereka itu konon dalam kebaikan, berakhlaq, tidak lagi mempertimbangkan rasionalitas, Kang. Karena selama masih ada pertimbangan akal, maka katanya, itu bukanlah akhlaq sejati ”

“Lha kalau bukan akhlaq, terus apa?” kejarnya sewot.

“kepentingan!” jawabku sepontan.

“Itu namanya ideot, Dul. Mana mungkin sekarang ada orang yang bisa berlepas dari kepentingan?”

“Kang Ri benar, orang sufi memang seringkali disebut ideot. Namun ideot yang berkearifan. Eh, Kang.. Jan-jane hubungannya apa omongan ini dengan perasaan dongkol sampean??”.

“Iya ya.. apa ya??” ia balik bertanya.

“Eh, dasar wong geblek!” kataku sewot, memaksanya mencari kaitan. Dan berceritalah Kang Ri tentang kajadian di mushalla, saat kumpul takmir magrib tadi. Ia dimarah-marahin di depan sidang oleh Abah Saleh. Orang sepuh yang sebelum haji bernama Bambang itu mengatainya sebagai takmir bidang kebersihan yang kurang bertanggungjawab.

“Mangkelnya lagi, Dul” lanjut Kang Ri, “masak dia bilang bahwa kalau bukan karena dia, mushala itu tak kan terbangun. Dari itu, ia memintaku mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk memakmurkannya.. lebay sekali wak kaji satu itu!…”

“Udah, Kang. Jangan dilanjutin, Kang!” kataku menghentikannya

“Mengapa? Kamu kan tadi yang memintaku ngomong”

“Iya sih… hanya saja kalau Kang Ri terus ngomong, itu ngerasani Kang, namanya. Jadinya sampean sama dong dengan beliau”

“Kok bisa? Sama apanya?”

“Sama L-E-B-A-Y-nya!”

Kang Ri pun diam, lalu nyeruput kopinya dalam-dalam[]. Joyosuko Metro, 24/2/2010.

Comments
  1. endah 08110012 says:

    memang kalo orang lalu bermasalah bisa di lihat dari sikap dan raut mukanya……
    kita sebagai manusia harus pandai untuk mengatasi emosi dan permasalahan yang berada di sekeliling kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s