60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 6)

Posted: February 24, 2010 in catatan perjalanan
Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Hari ketujuh, Jum’at, 30 Nopember 2007

Hari ini, hari libur dari pembelajaran di kelas. Saya memanfaatkannya untuk bermain tenis meja di lantai bawah tanah bersama beberapa kawan. Setelah itu mencuci pakaian dan mandi Jum’at. Saat ini musim dingin, tidak lazim di sini adat Indonesia “mandi setiap hari”, apalagi tiga kali sehari. Saya mandi paling banyak dua kali seminggu. Walaupun begitu, jangan dikira badan akan dekil atau bau. Hal itu karena di udaranya kering, sehingga badan tidak pernah keringatan. Cucian cukup diperas di mesin cuci lalu digantungkan di kamar mandi dan dalam beberapa jam akan kering sendiri.

Pukul 10.00. saya dan kawan-kawan berangkat ke Harom Fathima Ma’shuma (Fathima Holy Srine), kawasan makam Sayyidah Fathima Ma’sumah. Kegiatan ini bukanlah kegiatan wajib, tetapi lebih karena rasa ingin tahu saya akan tradisi Syi’ah di Iran. Selain itu, juga untuk mengikuti shalat jum’at di masjid yang berada di komplek pemakaman itu. Kami dipandu oleh Ustadz Abu Ammar.

Di komplek ini, utamanya ada makam Fathima Ma’shumah adik Imam Ridha, imam ke delapan Syi’ah (yang makamnya ada di Kota Masyhad). Makam ini, makam yang paling disakralkan oleh para peziarah di komplek ini. Mereka berebut untuk sekedar dapat menyentuh pagar yang mengelilingi makam, berdo’a sambil bertawassul dan bertabarruk memohon terkabulnya hajat mereka dengan membaca bacaan-bacaan ziarat dari riwayat Shi’i, bahkan diantara mereka tampak menangis terisak-isak.

Selain makam Fathima yang disakralkan, di komplek ini juga terdapat makam ulama-ulama besar Syi’ah seperti Ayatullah Murtadho Mutahari, Ayatullah HuseinTaba`taba’i, dan lain-lainnya.

Menjelang waktu salat jum’at tiba, saya bersama rombongan mulai memasuki ruang utama masjid. Masjid ini bernama masjid Muhammadiyah. Letaknya bersebelahan dengan makam Sayyida Fathima. Di berbagai pojok masjid disediakan kotak besar berisi turba, tanah yang dipadatkan. Semua jamaah pasti mengambilnya, termasuk saya, ikut-ikutan. Lalu saya pun ikut berbaris bersama para jamaah lain dalam pemeriksaan yang ketat oleh Basij (paramiliter Iran, semacam Pamswakarsa kita). Segala bawaan, apalagi barang elektronik diminta untuk dititipkan ke tempat penyimpanan barang. Sampai-sampai songkok saya pun diminta untuk dilihat dalamnya. “Andunizi” kataku memecah ketegangan. Pemeriksa hanya senyum saja, sambil mengembalikan songkok saya. Tradisi pemeriksaan jama’ah ini konon masih berlanjut higga kini sejak masa Revolusi Islam Iran dahulu. Itu dipertahankan untuk mengantisipasi para teroris kontra-revolusi dalam menghabisi para ulama Iran. Karena faktanya cara terror seperti ini pada masa revolusi telah mensyahidkan banyak ulama di mimbar atau mihrab mereka.

Ketika waktu shalat Jum’at tiba, seperti di masjid-masjid kita, seseorang petugas naik mimbar mengumumkan siapa yang akan berlaku sebagai khatib sekaligus imam Jum’at. Kali ini sebagai khatib adalah ulama terkenal Ayatullah Javodi Amuli. Beliau naik mimbar dan menyampaikan khutbahnya yang amat panjang dengan bahasa Persia. Entah apa yang disampaikannya, saya tidak memahaminya. Paling saya hanya mengenali ayat-ayat yang dirujuknya. Tetapi uniknya, ini barangkali yang membedakan jum’atan di tradisi Syi’i dengan tradisi sunni seperti di Indonesia. Di sini selama Imam Mahdi (Imam Keduabelas bagi Syi’ah Itsna ‘Asyariyah) belum muncul, hukum shalat Jum’at berjama’ah di masjid bersifat wajib ikhtiary (semacam fardlu kifayah, bukan wajib ta’yini, fardlu ‘ain). Dan dalam satu kota hanya ada satu mushalla untuk diselenggarakannya shalat jum’at ini. Seperti di Qum ini misalnya, seluruh penduduk kota ini shalat jum’atnya di mushalla al-Aqsha. “Kebetulan mushalla al-Aqsha sedang di pugar, jadi untuk sementara shalat jum’atnya dialihkan di masjid ini” ujar Ustadz Abu Ammar menjelaskan. Ada penyebutan yang berbeda antara kita dengan orang sini. Jamaknya di Indonesia, yang digunakan untuk shalat jum’at adalah masjid, sedang mushalla tidak. Sebaliknya di sini justru mushalla yang memiliki area luas dan satu-satunya yang dipakai untuk jum’atan, sedangkan masjid, bisa ada di mana-mana dan untuk berjama’ah shalat wajib yang lima.

Selain itu, suasana jum’atannya juga berbeda. Kalau di tradisi kita, ibadah shalat jum’at harus tenang, hanya khatiblah yang berhak berbicara, bahkan sebelum khatib naik mimbar, petugas bilal mengingatkan: anshitu, wasma’u wa’atiu rahimakumullah (diamlah, dengarkanlah dan taatilah, Allah akan mengasihi kalian) sehingga saking begitu tenangnya terlihat banyak jama’ah yang terkantuk bahkan tertidur pulas. Sedang kalau di sini suasananya begitu atraktif. Sesekali di tengah ceramah, terutama ketika sang khatib menyinggung Amerika atau Israel, para jama’ah serempak meneriakkan yel-yel anti Amerika/Israel semisal “Marg bar America” (Mampuslah Amerika) atau “Marg bar Israel” (Mapuslah Israel) sambil berdiri dan mengepalkan tangan ke atas, mirip demontrasi di jalanan.

Banyak hal saya tanyakan pada ustadz Abu Ammar perihal yang terkait dengan tradisi jum’atan seperti ini, dan beliau dengan antusias menjawab seluruhnya hingga jum’atan selesei dan saya beserta rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke Hauzah dengan taxi yang telah menunggu [bersambung..]

Comments
  1. I discovered your blog site on google and examine a number of of your early posts. Continue to maintain up the superb operate. I simply extra up your RSS feed to my MSN News Reader. In search of forward to reading more from you later on!…

  2. leczenie endodontyncze

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s