60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 5)

Posted: February 22, 2010 in catatan perjalanan

belajar bersama virjeeHARI KEEMPAT, SELASA, 27 NOPEMBER 2007

Pada hari ini, saya hanya kuliah di kelas. Pada jam pertama, Tafsir Maudlu’i oleh Chandoo. Jam kedua, Irfan oleh Virjee. Dan sorenya oleh al-Hakim tentang Tasyayyu’. Kuliah di sini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, metode penyampaian materinya lebih banyak dengan ceramah dan diakhiri dengan dialog sebelum jam studi berakhir. Seperti biasa.. bila kebosanan datang, kantukpun ikut menyerang.

HARI KELIMA, RABU, 28 NOPEMBER 2007

Pagi hari, kami belajar di kelas sebagaimana biasa. Kali ini hanya ada 2 matakuliah. Jam pertama, Philosophy of Jurisprudence, oleh Mahdi Ali al-Zubdani dari Pakistan. Dan jam kedua, Irfan oleh Virjee. Siangnya, kami diberitahu oleh bagian administrasi bahwa tidak ada matakuliah. Bak anak sekolah yang justru gembira ketika sekolah libur, dalam hati sayapun begitu, mungkin juga teman-teman yang lain, buktinya mereka pada mengucapkan alhamdulillah... Tanpa banyak berdiskusi, saya pun bersepakat dengan yang lain untuk jalan-jalan. Kali ini ke toko buku Anshariyan.

Kami menghubungi Baqir, mahasiswa Indonesia asal Pekalongan yang telah tiga tahun belajar di Qum, untuk mengantar. Kami berjalan menyusuri trotoar kota Qum hingga singgah ke kompleks pemakaman Sayyida Fatimah al-Ma’shuma yang banyak diziarahi oleh komunitas Syi’ah. Di komplek ini kami hanya melihat-lihat sejenak sambil mengambil photo pada bagian komplek yang amat indah untuk dilewatkan, juga pada beberapa momen, suasana para penziarah, maupun guyonan-guyonan di antara kami. Lalu kami bergegas menuju toko yang kami tuju. Sebuah toko yang hanya memasarkan buku berbahasa Inggris dan Arab. Tampaknya, toko ini menjadi tempat favorit bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Persia. Utamanya anak Indonesia atau melayu. Ini bisa dilihat pada ucapan selamat Idul Fitri berbahasa Indonesia yang tertempel indah di dinding di atas kasir.

Tidak terasa, waktu berjalan demikian cepat. Magrib mulai tiba. Dalam benak, harus cepat pulang, karena waktu makan malam tidak mengenal terlambat. Kami pun bergegas untuk kembali, namun ternyata ada beberapa teman yang tidak terlihat dalam rombongan. Kamipun mencoba menghubungi HPnya, dan kami tunggu di bundaran Shuhada. Lalu kami berjalan ke tempat pemberhentian bus kota. Beli karcis, menunggu sejenak dan tancap. Kami turun, dan ganti bis lagi hingga sampai dekat asrama. Ketika sampai depan asrama, ternyata ada satu orang teman yang tidak terlihat. Kami baru menyadari, bahwa sejak keluar dari komplek pemakaman memang ia tidak terlihat. Sebagian dari kamipun agak gusar. Ada yang hendak kembali ke pemakaman lagi untuk mencarinya, namun ada juga yang tertawa-tawa sambil berseloroh: “kalo yang satu ini, saya tidak kawatir. Dia kan doktornya tentang makam. Pasti dia menikmati ziarah ha ha ha”. Sebagian besar dari kami pun masuk asrama, hanya ketua rombongan dan Bagir yang menunggu di luar, karena merasa bertanggungjawab.

Kami langsung menuju ruang makan karena perut memang udah tak tertahankan. Ketika kaki melangkah memasuki pintu, terlihat ternyata teman yang dikawatirkan telah menikmati santap malamnya dengan lahap, kami pun tertawa-tawa. Ia bercerita, ketika ia tersadar bahwa telah kehilangan rombongan, ia memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki menyusuri trotoar yang tadi dilewati, subhanallah… padahal jaraknya lumayan jauh terutama bagi kita yang terbiasa bermotor. Ya kalau dibandingkan, kira-kira kampus III UMM ke Pertigaan Gajahyana lah.

HARI KEENAM, KAMIS, 29 NOPEMBER 2007

Pagi hari kami kuliah seperti biasa. Jam pertama oleh al-Zubdawi tentang the Phylosophy of Jurisprudence. Jam kedua oleh Shahriar Shojaeepour tentang Islamic History.

masjid jamkaronUsai makan malam, pukul 19.00, kami mengikuti kegiatan budaya yaitu kunjungan (ziarah) ke masjid Jamkaron di pinggiran kota Qum. Sebuah masjid yang dipercaya oleh penganut Syiah didirikan atas perintah Imam Mahdi, Imam keduabelas mereka.

Kami mengendarai minibus sewaan. Sesampai di depan masjid terlihat begitu megah dengan kubah berwarna hijau menyala. Sungguh, masjid yang dibangun secara swadaya ini begitu indah. Dibangun di atas tanah yang sangat luas dan dikunjungi banyak penziarah. Oleh sayyid Mas’udi, pemandu kami, kami tidak langsung dibawa masuk ke masjid, tetapi dengan berjalan kaki justru menjauh dari masjid. Rupanya kami dibawa pada sebuah bangunan, yang di sana terlihat antrian panjang para penziarah. Sebelah kiri antrian perempuan dengan cadur mereka yang serba hitam, sedang sebelah kanan antrian lelaki. Oleh para petugas kami disambut dengan hangat dan langsung dipersilahkan untuk masuk ke dapur. Kami berjalan lewat tengah antrian bak tamu agung diiringi tatapan para pengantri sambil sesekali meneriakkan shalawat Nabi untuk kami. Kami melihat ada banyak penziarah yang berparas non-persia, wajah bulat, mata sipit dan hidung agak pesek. Kayaknya mereka kalau tidak orang Afghan, ya orang Mongol atau Uzbek. Konon memang sejak Afganistan diinvasi oleh Amerika dan sekutunya, banyak pengungsi Afghan terutama yang bermadzhab Syiih masuk ke Iran dan mereka tidak mau kembali.

Di tengah hiruk pikuk para petugas memasak dan melayani antrian, kami berlimabelas dipersilahkan untuk duduk di atas karpet yang ada dan dijamu dengan makanan yang khas mereka. Ada daun-daunan semacam lalapan yang disuguhkan dengan kuah dan dibarengi dengan semacam bubur yang rasanya kayak ada campuran minyak za’faronnya (di Indonesia, biasanya minyak za’faron dipakai untuk menulis jimat).

Setelah menyantap suguhan makan malam, tentunya dengan penuh “perjuangan” itu, kami mendengarkan penjelasan dari ketua pengelola pembagian makanan gratis bagi penziarah ini. Beliau mengatakan dalam bahasa Persia dan diterjemahkan oleh saudara Adlani, mahasiswa Indonesia asal Makasar bahwa tempat antrian ini semula bertempat di dekat masjid, akan tetapi karena semakin banyaknya antrian itu, terutama setiap hari selasa dan kamis malam jum’at maka tempat pembagian makanan itu dipindah agak jauh dan menempati gedung tersendiri. Beliau juga mengatakan, setelah ditanya, bahwa ia telah mengelola pekerjaan ini sejak 35 tahun yang lalu, dan orang-orang yang membantu mengurusi ini adalah orang-orang yang secara social maupun keilmuan bukanlah orang awam. Mereka terdiri dari para sarjana, insinyur, dokter, dan para terpelajar lainnya. Mereka ikhlas berkhidmat di sini tanpa banyaran sepeserpun. Mereka hanya berharap barakah dan syafaat dari al-Mahdi yang demikian mereka yakini keberadaannya dan keterkaitannya dengan masjid Jamkaron ini. Sedangkan makanan yang dibagikan berasal dari para para dermawan yang sengaja menshadaqakan hartanya untuk bertabarruk pada Imam keduabelas mereka itu.

sholat sunnah di masjid jamkaronSetelah dirasa penjelasan itu cukup kami beranjak mohon pamit seraya mengucapkan rasa terima kasih yang tiada berhingga pada mereka. Kami langsung kembali berjalan kaki menuju masjid. Penziara saat ini memang amat banyak. Masjid yang begitu besar terasa sesak oleh mereka bak shalat jum’atan di masjid kampus UMM. Sebagian dari rombongan ada yang masuk masjid dan sebagian yang lain cukup di halamannya saja. Setelah shalat 2 rakaat, kami mengamati para penziara, mereka berdiri dalam shalat begitu lamanya sambil tangan terus memutar tasbih.

Rupanya, setelah diberitahu oleh pemandu kami, ada  shalat sunnah khusus yang dilakukan para pengunjung masjid ini. Yakni shalat dua rakaat dengan mengulang kalimah iyyaka na’budu wa iyyaka nastain sebanyak 1000 kali dalam setiap rakaatnya. Pantas shalat mereka yang hanya dua rakaat itu begitu lama dilakukan. Karena kami belum tahu akan ritual itu, akibatnya mungkin shalat 2 rakaat yang kami niatkan dengan tahiyatul masjid terkesan amat singkat dan janggal dibanding para penziarah yang lain. Pantas saja, ada petugas masjid yang langsung mengenali kami seraya berkata dengan senyum: “Andunizy??”. Dan juga dengan senyum kami menjawab: “yes, andunizy”. Rupanya dia sejak tadi mengamati prilaku dan tatacara kami shalat. Selain tidak bersujud di atas turbah, juga tidak memegang tasbih [bersambung..].

Comments
  1. Sydney Verso says:

    Spanish Parenting Class Houston Texas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s