60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 4)

Posted: February 19, 2010 in catatan perjalanan

HARI KETIGA, SENIN, 26 NOPEMBER 2007

Hari ini merupakan hari pertama saya untuk belajar di kelas. Pembelajaran dimulai pukul 8.30. Saya dan 14 peserta lainnya dengan background keilmuan yang berbeda-beda menjadi satu kelas tersendiri. Selain kelas kami ternyata ada kelas lain, program shortcourse juga, yang pesertanya dari aneka ragam bangsa seperti Cina, Pantai Gading, Nigeria, Kenya dan Tanzania. Matakuliah yang pertama adalah Tafsir Tematik dengan pokok bahasan Cosmology in Islamic Perspective oleh Jabir Chandoo asal Tanzania dengan pengantar bahasa Inggris. Pukul 10.00 dilanjutkan matakuliah The Foundation of Irfan oleh Abbas Ahmed Virjee asal London, dengan pengantar bahasa Inggris dan diselingi bahasa Arab.

Pada jam 12.00 saya menuju ruangan yang telah didesain menjadi mushalla (tempat shalat) untuk melaksanakan dhuhur-ashar berjama’ah. Di sinilah saya baru “mengalami” langsung bagaimana tatacara shalat menurut madzhab Syi’i. Dalam jumlah shalat, tetap 5 kali sehari seperti Sunni. Cuman waktunya yang berbeda. Mereka melakukan shalat lima kali pada tiga waktu. Yakni Shubuh pada waktunya, Dhuhur dan Ashar dilakukan pada waktu dhuhur, sedang Maghrib dan Isya’ dilakukan pada waktu maghrib. Pemahaman ini merujuk pada ayat QS. 17:78 yang berbunyi: aqimish shalata liduluukisy syamsi ila ghasaqil laili wa qur`anal fajri…(Dirikanlah salat dari sesudah mata hari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh…).

nun lawosJumlah rakaat pada setiap shalat tidak berbeda, yang membedakannya adalah pada posisi tangan saat berdiri. Kalau menurut Sunni, terutama madzhab Syafi’i, kedua tangan bersedekap di dada, sedang di Syi’i tangan terlepas lurus setelah takbiratul ihram (persis dengan madzhab Maliki). Juga ada beberapa bacaan yang berbeda seperti pada saat duduk tahiyat. Selain itu, ini yang amat mencolok, mereka membaca qunut pada setiap rakaat kedua sebelum ruku’ pada setiap shalat. Dan pada setiap sujud, dahi harus menyentuh tanah atau segala sesuatu yang tidak bisa menjadi makanan, sandang, dan bukan dari barang tambang. Jadinya tanah itu dipadatkan dan didesain sedemikian rupa, ada yang bulat sebesar koin atau kotak sebesar kotak korek api atau lebih besar lagi. Mereka menyebutnya dengan turbah. Dan turbah yang paling mulia, dalam kepercayaan Syi’ah adalah dari tanah Karbala, tempat di mana Imam Husain, cucu baginda Rasulullah saw dan Imam ketiga bagi Syi’ah, beserta keluarganya dibantai oleh pasukan Yazid, rezim kedua Bani Umayyah.

Bakda shalat, beberapa “petugas” membagikan mushaf al-Qur`an Rasm Utsmani, seperti milik orang Sunni, lalu satu orang membaca satu halaman dengan suara lantang dan yang lainnya menyimak secara seksama. Setelah itu, saya menuju ruang makan, dan “berjuang” menyantap jatah siang berupa nasi berkuah yang rasanya begitu asing bagi lidah Indonesia.

Jam dinding menunjukkan pukul 13.00, waktunya istirahat. Baru pada pukul 15.30 sampai 17.00 ada kuliah lagi. Kali ini matakuliahnya adalah asy-Syi’a wat Tasyayyu’ oleh Sayyid Muhammad Hadi al-Hakim dari Iraq dengan pengantar bahasa Arab. Malamnya, setelah shalat maghrib (plus Isya’) saya “berjuang lagi” menyantap menu malam berupa roti yang berbentuk, maaf, seperti keset. Orang Iran menyebutnya  Non Lawos, setelah itu berdiskusi secara informal (tidak wajib) di kamar dengan Ustadz Hasan. Banyak hal yang ditanyakan, utamanya adalah tentang Nikah Mut’ah atau nikah tamattu’. Menarik dalam wacana, namun ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan. Dari sisi persyaratan dan prosesnya, persis dengan nikah daim (permanen). Maharnya juga amat mahal. Dan, aspek kulturalnya, hanya sedikit sekali perempuan di sini yang mau dimut’ah, apalagi izin keluarganya. [Bersambung..]

Comments
  1. Raye Schehr says:

    vitiligo essential

  2. Peng'an says:

    para mulia??? Yakin ?

  3. benramt says:

    kalau dengan berkunjung justru kita bisa melihat dan mempelajari langsung perbedaan kita dengan mereka, bagaimana mas deddy? apa sekadar bangga saja, tidak bolehkah? hehehe
    Dalam mencari kebenaran informasi, lebih baik mana: sekadar mempercayai omongan orang bahwa di perempatan sana ada kecelakaan atau kita datang ke perempatan dan membuktikan langsung bahwa memang di sana ada kecelakaan? kalau saya pilih yg kedua mas deddy..

  4. Deddy Riswanto says:

    Sadar Ngga sih kalau syi’ah itu sesat dan sudah keluar dari Islam ? Koq sampeyan bangga toh mas bisa berkunjung ke negeri kafir ?

  5. benramt says:

    makasih, om. kayaknya saya perlu belajar ngeblog nih dr antum..

  6. Imtihan says:

    tambah mantab aja senior satu ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s