60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 3)

Posted: February 17, 2010 in catatan perjalanan
HARI KEDUA, AHAD, 25 NOPEMBER 2007
Nampaknya, apa yang saya rasakan juga dialami oleh para peserta lain. “Indonesian sense” begitulah. Yakni keinginan untuk mengabari keluarga bahwa telah sampai di negeri tujuan. Namun hampir semua HP yang dibawa tidak bisa mengenali jaringan. Akhirnya, mumpung masih belum ada kegiatan, sebagian peserta memutuskan keluar asrama, jalan-jalan. Sambil berniat membeli kartu perdana juga menikmati suasana kota Qum.
Dengan berbusana yang serba tebal, karena memang lagi musim dingin, saya dan lima peserta yang lain mampir ke konter kecil di pojok jalan pada sebuah bundaran perempatan. Entah, jalan apa namanya. Karena semuanya serba tertulis dengan bahasa Persia, sedang kami tidak ada yang bisa membacanya. Begitupun dengan pemilik konter, seorang lelaki setengah baya. Ia hanya bercakap Persia. Inggris atau Arab tidak bisa. Dapat ditebak kami bertransaksi dengan bahasa isyarat dan dibumbui dengan bahasa angka. Lima orang dari kami masing-masing membeli kartu perdana dan minta langsung diaktifkan oleh sang penjual. Untuk ukuran Indonesia, perdana di sini masih amat mahal. Yakni 150.000 rial Iran, sebanding dengan 150.000 rupiah dengan pulsa 47.000.
Bak seperti anak kecil yang dapat mainan baru, kami pun mencoba kartu masing-masing, menghubungi keluarga. Dan bisa. Alhadulillah. Semua bergembira. Rindupun tertumpahkan. Lalu satu dari kami, pak Aziz dari UMJ mengajak kami masuk konter yang lebih besar untuk membeli HP baru. Kamipun tanya harga berbagai HP kepada penjualnya. Kali ini perempuan. Senang juga rasanya hati ini bisa berkomunikasi, walaupun memakai bahasa tarsan, dengan perempuan Persia, yang memang harus diakui tercipta “cuantik”. Karena selain, watak orang sini yang cuek, kesan “tertutup” pada cadur hitam yang senantiasa menyelimuti mereka ketika keluar rumah juga menambah “kepengecutan” untuk berkomunikasi.
Di toko ini berbagai merk HP tersedia, mulai dari Nokia, Samsung, Motorola, hingga Sagem, yang di Indonesia tidak begitu diminati. Ketika kami sedang bertanya harga ini itu, masuklah rombongan peserta yang lain dengan dipandu oleh Ustadz Hasan Abu Ammar, calon Hojjatul Islam (mujtahid) yang telah menimba ilmu di negeri Imam Khumaini ini selama 25 tahun. Jadilah transaksi jual beli itu lancar. Dan pak Aziz mendapatkan Motorola lipat dengan harga 130.000an Tuman (Rp. 1.300.000an), lebih mahal sedikit dari harga Indonesia.
Selanjutnya, kami berlimabelas orang dengan tetap dipandu ustadz Hasan berjalan menyusuri jalanan kota Qum. Masuk satu toko ke toko yang lain. Ada yang membeli krem pelindung kulit dari hawa dingin, ada juga yang membeli penutup kepala ala Joshua, slayer, atau sarung tangan. Selebihnya, hanya sekadar lihat-lihat harga jaket atau switer. Dan di sini untuk barang konfeksi memang teramat mahal. Jaket yang di Indonesia hanya seharga Rp. 100.000an bisa empat kali lipat dengan harga Rp. 400.000an.
Setelah dirasa cukup lelah, kamipun memutuskan pulang. Kali ini ustadz Hasan mengajak naik bis kota. Rupanya beliau memang tidak biasa jalan kaki. “maaf, abis ini saya punya jadwal rekaman, selain itu saya juga punya reumatik” katanya beralasan, dan kamipun hanya tersenyum. Di kota spiritual Qum ini (entah di kota yang lain) tatacara naik bisnya khas. Penumpang terlebih dahulu harus membeli tiket di semacam gardu di setiap pemberhentian dengan harga 250 rial (Rp. 250,-). Tiket itu berupa kertas kecil sederhana selebar jempol orang dewasa yang kalau di Indonesia kemungkinan besar akan dipalsukan. Jauh dekat, tiket itulah yang berlaku. Lalu naik bis. Posisi kursi bis terbagi menjadi dua bagian yang menjadikan penumpang laki-perempuan tidak bercampur. Lelaki tempat duduknya di setengah bis bagian depan, sedang setengah bagian belakang bis untuk perempuan yang dipisah pintu tengah. Jangankan untuk duduk laki-perempuan berduaan, seperti di negeri kita, untuk saling sapa saja terlihat janggal dan aib. Uniknya lagi, bis ini tidak memiliki kernet, sehingga karcis langsung diberikan ke sopir ketika berhenti. Jadinya teramat mudah, bagi yang mau nakal, untuk tidak membayar karena pasti tidak ketahuan terutama saat penumpang ramai. Cuman tampaknya di sini, rasa percaya dan bisa dipercaya menjadi pondasi hidup yang utama.
Bis berhenti di tempat pemberhentian, lalu kami berjalan sedikit menuju asrama. Dan istirahat total. Tepat pada pukul 15.00 waktu Iran, dimulailah acara pembukaan program ini. Silih berganti para “pejabat” Markaz Johane ini memberikan sambutan selamat datang, ucapan terima kasih, atau penjelasan tentang program ini setelah dibacakan ayat suci al-Qur`an dan diperdendangkan kedua lagu kebangsaan masing-masing. Di sinilah kelucuan terjadi, ternyata lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan adalah lagu versi controversial yang pada agustusan lalu dicuatkan oleh Roy Suryo. Akibatnya lagu itu terasa asing di telinga kami dan terasa amat lama bagi orang Iran. Acara ini kemudian dipamungkasi dengan sambutan dan ucapan terima kasih dari kami yang diwakili oleh “amirus safar” pak Abdul Aziz. [bersambung…]
Comments
  1. Sayyidah says:

    Bapak/Ibu/Sdr./Sdri. –assalaamu’alaikum. Mohon sy diberi info alamat kantor Bapak Ustadz Hassan Abu Ammar. Sy mau konsultasi mslh khumus. Sy sekeluarga pengikut baru ajaran syiah. Tksh, wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s