60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 2)

Posted: February 16, 2010 in catatan perjalanan
MENUJU BANDARA SUKARNO HATTA
Jum’at 23 Nopember 2007, tepatnya pukul 17.00 saya bersama teman-teman (15 orang dari perbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia) berangkat dari tempat kami menginap semalam, Rusunawa Univ. Muhammadiyah Jakarta, dengan mini bus menuju bandara. Perjalanan demikian membosankan. Biasa di Jakarta, bus kami harus ikut menyemut dalam kemacetan total. Akibatnya, kira-kira pukul 20.00 WIB kami tiba di sana.
Di bandara, kami tidak perlu repot karena segala keperluan perjalanan telah diurus oleh pak Zuhdi dan pak Ali dari ICC serta dibantu oleh beberapa orang dari kepolisian bandara. Ternyata, birokrasi di bandara kita demikian njelimet dan “mahal”.
PERJALAN MENUJU BANGKOK DAN IRAN
Tepat pukul 21.30, kami dipersilahkan memasuki pesawat Garuda yang akan membawa kami hingga bandara Swarna Bumi Bangkok. Kira-kira pukul 01.00 dini hari, kami tiba di bandara Bangkok dan transit agak lama  hingga kira-kira pukul 07.00.
Sesuatu yang tidak terduga oleh kami dan juga kawan-kawan, bahwa tiket Bangkok–Iran ternyata masih belum terbeli. Bungkusan kecil yang dititipkan ICC kepada ketua rombongan yang semula diduga tiket ternyata dolar yang harus digunakan untuk membeli tiket itu. Dan nama orang yang diberikan ICC kepada Ketua Rombongan yang sebelumnya diduga perwakilan ICC ternyata orang Mahan Air. Karenanya, ketika diharapkan dapat banyak membantu justru sebaliknya. Harga tiket yang telah ditetapkan oleh penjaga counter ternyata lebih rendah dari  yang ditetapkan orang Mahan Air itu. Hingga dolar yang dititipkan kami oleh ICC setelah dihitung dengan hitungan mata uang setempat (Tailand) yang memang kurang justru semakin tidak cukup dengan datangnya orang ini. Tetapi alhamdulillah hal itu dapat teratasi dengan menggunakan uang ketua Rombongan yang disepakati untuk di tanggung bersama setelah sampai di Iran nanti.
Pukul 07.00 (waktu Bangkok) Sabtu 24 Nopember 2007, saya dan kawan-kawan memasuki pesawat “MAHAN AIR” yang akan menerbangkan kami menuju Iran. Kira-kira 8 jam, perjalanan Bangkok – Iran itu saya lalui dengan kepenatan sekaligus harapan cepat sampai tujuan dengan selamat.
Hari pertama,
Sabtu, 24 Nopember 2007
Mahan Air, pesawat mendarat di Imam Khumaini International Airport pinggiran Tehran. Jam dinding menunjukkan pukul 12.30 waktu Iran, sedang jarum jam di tangan berhenti pada angka 15.30 WIB -waktu Iran lebih tertatih 3,5 jam dari waktu Indonesia- ketika saya ikut berbaris mengantri untuk pemeriksaan passport.
Setelah menunggu beberapa lama, syeik Javad, sang penjemput tiba dan memastikan rombongan untuk berangkat menuju kota Qum dengan minibus sewaan. 1,5 jam bus kecil itu, tepatnya seperti Bison yang kursinya didesain ala bus, melaju menikmati tol Tehran-Qum nan lebar. Di kanan kiri terhampar padang pasir dengan pelbagai gundukan bebatuan yang membentuk pegunungan kecil indah nan kokoh dan bersahaja. Pukul 14.30an minibus berhenti di depan gerbang yang di atasnya terpampang papan nama bertuliskan Markaz Johane Ulum Islami, the International Center for Islamic Studies.
Inilah tempat di mana shortcourse akan dilaksanakan. Sebuah bangunan besar berlantai lima yang didesain untuk asrama, kelas, perpustakaan, dapur, kantor, mushalla dan ruang pertemuan dengan fasilitas yang lengkap. Di sampingnya, kampus Imam Khumaini International University, orang sini menyebutnya Madrasa Imam, yang indah dan luas. Kami dipersilakan masuk, disambut dengan penuh kehangatan dan ketulusan oleh para mulla. Di antara orang berjubah itu ada satu yang perawakannya Asia Tenggara: pendek, agak pesek, dan mata agak sipit. “Antum dari Malaysiakah?” tanya saya pada beliau untuk mengawali pembicaraan saat menuju asrama. “Bukan, bukan” jawabnya, “saya seperti antum, dari Indonesia”. “Indonesia mana?” saya melanjutkan. “Jawa Timur, Jember” jawabnya singkat. “Saya Saiful Amien, ustadz” kataku memperkenalkan diri, “saya dari Malang-Jawa Timur”. “Oh ya, panggil saya Abu Ammar, Hasan Abu Ammar”.
Setelah meletakkan koper di kamar masing-masing, rombongan dipersilakan menuju dapur untuk menikmati santap siang yang telah disediakan, nasi putih berminyak dengan kuah dan lauk yang rasanya “tidak dikenali” oleh lidah Jawa saya. Minumannya, selain air putih dingin juga yogurt kental yang hanya sempat diseruput sedikit lalu ditolak mentah-mentah oleh kedua bibir saya. “Kayaknya, perlu belajar nyeruput terus nih, agar bisa menyesuaikan diri!” kataku dalam hati.
Sambil “menikmati” santap siang, Hojjatul Islam Sayyid dengan penerjemah Ustadz Abu Ammar memberi ucapan selamat datang, dan menjelaskan secara singkat tentang program dan tatahidup di asrama ini. Setelah itu, rombongan dipersilakan untuk istirahat total hingga besok [bersambung..].
Comments
  1. coq10 and cholesterol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s