60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 1)

Posted: February 16, 2010 in catatan perjalanan

PENGANTAR:

Keinginan berkunjung ke Iran sebenarnya telah menancap di benakku sejak aku kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Malang. Entahlah apa yang membuatku tertarik pada negeri Persia ini. Hanya saja, pada tahun 1997 hadir ke fakultas saya, Fakultas Agama Islam UMM, Hojjatul Islam Sayyid Ja’far al-Hakim untuk memberikan kuliah tamu tentang falsafah Islam. Dari kuliah ini, saya menyimpulkan bahwa api tradisi intelektual Islam pasca Ibnu Rusydi telah melemah di dunia Sunni tetapi tidak begitu di dunia Syi’i. Mungkin bermula dari sinilah, ketertarikan ini muncul. Setelah kuliah tamu berakhir, pada acara santap siang di kantor Fakultas, saya dan beberapa kawan mahasiswa melanjutkan diskusi nonformal dengan beliau, dan sebelum berpisah saya sempatkan untuk meminta alamat beliau di Iran. Beliau senang sekali dan berharap saya bisa melayangkan surat jika ada pertanyaan yang masih mengganjal. Seminggu pasca kuliah tamu itu, saya mencoba menulis surat dan mengirimkannya kepada beliau. Lama surat itu tidak berbalas, sampai saya melupakannya.

Walaupun demikian, ketertarikan pada Iran tetap tidak sirna. “Negeri ini” kata Isra Ramli (Mantan Ketua HMI Cabang Malang yang memang kutubuku) dalam diskusi santai dengan saya di Balai Kelurahan Sumbersari saat menghadiri LK1 gabungan pelbagai fakultas di KorkomUMM [kalau tidak lupa!] tahun 1999, “yang diembargo secara ekonomi berkali-kali oleh negara-negara adidaya namun tetap bisa bertahan bahkan mandiri sepenuhnya. Hutang luar negeri sepeserpun tidak punya. Negeri yang standar hidupnya amat rendah. Kalau kamu masuk ke sana dijamin tidak akan susah hidup”. Ucapan kawanku asal Banjarmasin ini semakin memupuk benih keinginan saya untuk bisa berkunjung atau lebih jauh lagi, melanjutkan studi S2-ku ke negeri Khumaeni itu.

Satu lagi yang membuat keinginan ini semakin menguat adalah kejadian di suatu malam, 5 Desember 2000. Seperti biasa di malam tertentu setiap pekan, Isra Ramli, Hosein Anies, Hani Purwanto dan saya berkumpul bersama untuk berdiskusi yang saat itu sedang menyiapkan acara bedahbuku (walaupun gak jadi!). Kali ini bertempat di rumah Hosein Anies. Setelah lama kita berbincang tentang topik yang dibahas, Hosein menanyakan sesuatu kepadaku: “Apakah di FAI ada yang bernama ustadz Saiful Amien?”. Dengan sedikit tertawa dalam hati saya terbetik: orang Arab satu ini bercanda atau serius. Itu kan namaku, masak ditanyakan padaku, diembel-embeli ustadz lagi. Lalu saya menjawab: “yang bernama itu di FAI ya saya aja Yik”. “Emang ada apa?” tanyaku balik. “Ini lho” jawab Arab satu ini, “saya dititipi bungkusan dari teman di Iran. Telah lama sekali, sampai tertimbun tumpukan buku di lemari saya. Pas kemarin bongkar-bongkar lemari, saya temukan lagi. Kayaknya itu buku deh!”. Masyaallah, dalam hati saya berucap, jangan-jangan itu memang buat saya. Lalu saya ceritakan pada Hosein tentang surat saya kepada Hojjatul Islam Sayyid Ja’far al-Hakim di tahun 1997 dahulu. “Sebentar, saya ambilkan dulu” kata Hosein, lalu masuk ke kamar. Ia keluar lagi dan menyodorkan kepadaku bungkusan kertas coklat muda di atasnya bertuliskan latin tidak terlalu indah: To Ustadz Saiful Amien, Fak. Agama Islam – Univ. Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. Cepat-cepat saya buka, isinya dua jilid buku al-Manhaj al-Jadid fi Ta’lim al-Falsafah karya al-Ustadz Muhammad Taqi Misbah al-Yazdi. Pada halaman cover dalam buku jilid pertama, ada tulisan tangan dengan font riq’ah: “al-Akh al-Ustadz Saif al-Amin, ahdi lak hadza al-kitab rajiyan qubuluh wa qiraatuh. As-Sayyid Ja’far al-Hakim, 25/2/1997”. Lalu kubuka-buka halamannya dan saya temukan amplop kecil berisi sepucuk surat balasan buat saya. “Subhanallah, Yik. Lama sekali. Kenapa tidak kamu berikan pada saya sejak dulu?” kataku pada Hosein. Dengan santai ia menjawab: “Dulu kan saya belum kenal ente, dan saya tanya temen-temen FAI, tidak ada tuh yang bernama Ustadz Saiful Amien hehehe”. “Benar sih, tahun 1997 saya kan masih mahasiswa di sana” Jawabku mengakhiri sambil tidak lupa mengucapkan rasa terima kasihku padanya.

Kejadian malam itu, membuat keinginanku semakin menjadi harapan. Namun tetap saja saya simpan rapi dalam hati. Tidak pernah saya kabarkan pada orang lain, biarlah menjadi hiasan setiap doaku sehabis sembahyang agar tetap tersemai, tidak lelah dan lalu padam. Hingga atas kehendak Allah, do’aku itu terkabulkan melalui upaya Pak Zuhdi Zaini (dosen UIN Jakarta) di Islamic Cultural Center (ICC), lembaga kebudayaan Iran di Jakarta yang memberangkatkan 15 tenaga pengajar dari pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam program Shortcourse for Islamic Studies di Markaz Johane Ulum Islame, Qom dari 23 November 2007 sampai 23 Februari 2008.

Dan inilah catatan perjalanan selama dua bulan di negeri para mulla tersebut. Tentunya tulisan ini amat subjektif, karenanya saya mohon maaf terutama pada peserta program yang lain jika ada beberapa penilaian tentang pelbagai hal yang mungkin kita berbeda. Berbarengan dengan itu pula saya sepatutkan bersembah syukur pada Allah SWT , juga menghaturkan terimakasih pada siapa saja yang turut memudahkan perjalanan ini, teramat khusus kepada Syekh Mohsen Hakimollahi (Pimpinan ICC), pak Zuhdi Zaini (staf ICC); pak Muhajir (Rektor UMM), pak Khozin (Dekan FAI-UMM), pak Parto (ketua Unit Kerjasama Luar negeri UMM); mas Arif Darmawan, mas Nur Ali (Concordian, 693); kawan-kawan sesama peserta: pak Sunarto (UMM), pak Sasmito Djati (Univ. Brawijaya), pak Badruddin, mas Helmi Saifuddin (UIN Malang), pak Abdul Aziz Muhammad, mas Syuhur Samiun, mas Romdon (UMJ), mas Said Matondang, mas Arif (Uhamka), mas Fahruddin Faiz (UIN Jogja), pak Faris Pari (UIN Jakarta), mas A. Fadhil (IAIN Banten), pak Yusuf (IAIN Ambon), dan Fauzi Fasri (Ma’arif Institute/UMY); kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Iran: Ustadz Abu Ammar, mas Adlani, mas Akmal, mas Nur, mas Ridwan, mas Baqir, pak Saiful dan lainnya yang teramat banyak untuk disebutkan. Semoga Allah membalas setiap kebaikan antum (bersambung..)[]

Comments
  1. benramt says:

    alhamdulillah, baik bang. semoga niatan abang cepat terkabulkan, amin..

  2. isra ramli says:

    halo ustad syaiful amin, apa kabar? senang membaca cerita kunjungannya ke negeri para mullah. aku sendiri belum ada jalan kesana, tapi insya allah nanti akan sampai jua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s