VALENTIN DAN NILAI ISLAM

Posted: February 13, 2010 in naskah khutbah

Masjid Ad-Da’wah, Kampus II UMM, 12/2/2010

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Kasih sayang merupakan satu nilai yang universal. Semua orang di dunia menyetujui bahwa itu adalah nilai yang agung. Dan semua orang di dunia suka akan hal tersebut. Sebagai agama dunia, Islam juga sangat menaruh perhatian terhadap kasih sayang itu, karena Islam memang agama kasih sayang. Banyak untaian ujaran yang berasal dari al-Qur’an maupun al-Hadits yang menunjukkan tuntunan untuk berbagi kasih-sayang. Misalnya “Barangsiapa yang tidak menyayang, tidak akan disayang”, “Barangsiapa tidak menyayangi yang di bumi, maka tidak akan disayangi oleh yang di langit” dan Allah, Sumber kita berasal dan Tujuan kita bermuara, pun menghiaskan diri-Nya dengan nama indah al-Rahman al-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Mengingat tingginya nilai kasih sayang dalam pandangan Islam, maka hal itu dituntunkan kepada kita untuk diberikan kepada siapapun, di manapun dan dirayakan kapanpun sepanjang waktu. Karenanya, tidak ada saat-saat tertentu untuk mencurahkannya, misalnya pada tahun kasih sayang, bulan kasih sayang, atau hari kasih sayang. Di dalam Islam rasa kasih dan sayang mesti diejahwantahkan sepanjang hari, sepanjang kehidupan. Kalau terjadi peristiwa seperti itu, berarti bukan dari Islam.

Selain itu kasih sayang Islam untuk seluruh makhluk Allah. Bahkan Rasullah saw melebeli orang yang tidak menyayangi si kecil dan si besar (dengan menghormatinya) bukan termasuk umatnya. Sehingga Islam tidak mengenal kasih sayang hanya untuk orang tertentu saja, apalagi hanya kepada lawan jenis semata. Kalau demikian yang terjadi maka motivasinya bukan lagi kasih sayang tetapi nafsu seksual.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Di tengah-tengah masyarakat kita-khususnya diperkotaan-telah muncul perayaan hari kasih sayang yang disebut dengan valentine’s day. Muda-mudi merayakannya dengan menghabiskan hari bersama orang terkasih. Makan malam bersama di tempat yang romantis, sambil menikmati iringan lagu My Valentine. Saling memberikan kado, coklat, yang disertai kartu ucapan. Hari itu dianggap hari yang special. Mall, supermarket atau pusat perbelanjaan pun disulap dengan desain romantis penuh pernak-pernik berbentuk hati, rangkaian bunga indah, coklat, pita yang kesemuanya didominasi dengan warna pink. Kartu ucapan sayangpun marak dijual di emperan toko-toko.

Perayaan seperti ini jelas bukan berasal dari Islam karena seperti yang disebutkan di atas, Islam hanya mengenal bahwa kasih sayang itu dilakukan setiap hari. Lalu darimana asal mula perayaan seperti ini? Banyak orang bercerita tentang asal muasal valentine’s day itu, namun beberapa ahli mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan St. Valentine. Ia adalah seorang pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya. Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksaan ‘undian cinta’. Legenda juga mengatakan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : “Dari Valentinemu”.

Sementara itu sebuah cerita lain mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi Valentine.

Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar surat cinta dan St. Valentine menjadi idola para pecinta. Datangnya tanggal itu ditandai dengan pengiriman puisi cinta dan hadiah sederhana, semisal bunga. Sering juga untuk merayakan hari kasih sayang ini dilakukan acara pertemuan besar atau bahkan permainan bola.  Acara Valentine mulai dirayakan besar-besaran semenjak tahun 1800 dan pada perkembangannya, kini acara ini menjadi sebuah ajang bisnis yang menguntungkan.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Nah, ternyata benar, valentine’s day itu bukan dari Islam, bahkan merayakannya akan menyeret pelakunya kepada perbuatan yang bisa mencederai ketauhidan kepada Allah. Ini tentu menjadi masalah besar dalam Islam.

Masalah besar lainnya adalah berkurangnya nilai kasih sayang, yang oleh Islam dijunjung tinggi. Terkesan bahwa kasih sayang itu hanya terbatas hubungan laki-laki dan perempuan, padahal sejatinya kasih sayang itu lebih luas dari yang dipraktekkan. Bahkan kasih sayang-yang mulia itu-dipraktekkan dengan perzinahan. Dipraktekkan dengan pergaulan bebas. Sungguh praktek kasih sayang yang jauh dari ketinggian Islam.

Selanjutnya valentine’s day akan memunculkan dan membentuk akhlak baru yang mengkhawatirkan, diantaranya: tertanamnya akhlak tasyabbuh pada diri generasi Muslim yaitu akhlak meniru-niru tradisi lain tanpa proses adaptasi yang cerdas, serta tanpa mengetahui dan mempertimbangkan sebab dilakukannya prilaku tersebut. Dengan meniru praktek berkasih sayang yang buruk akan membuat ketinggian kasih sayang Islam menjadi pudar dan secara perlahan akan sirna. Untuk itu Rasulullah saw memagari umatnya dengan sebuah hadits:

مَن تَشَبَهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنهُم  (رواه الترمذي

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” [HR. Tirmidzi.]

Selain itu, meniru-niru merupakan prilaku kaum lemah, tertindas dan terjajah. Dengan meniru orang lain secara buta menunjukkan ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya bisa membuatnya meninggalkan karakter dasar dan ketinggian nilai-nilai Islam, bahkan bisa terjatuh pada penanggalan identitas keislaman. Kalau sudah demikian, umat Islam menjadi apa yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah sebagai bui di lautan. Jumlahnya besar namun tidak memiliki kekuatan penawar, diombang-ambingkan oleh arus gelombang budaya populer yang lagi ngetrend. Karena dengan mengikuti Valentine bukan saja sekedar pesta untuk menyatakan kasih sayang, tetapi juga pesta yang mau-tidak-mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, dansa-dansa, dan mengumbar nafsu lainnya. Kalau sudah demikian, lengkaplah sudah kemerosotan umat Islam. Islam akan menjadi agama yang hanya tersisa sebagai tulisan di KTP, tersudutkan di pojok-pojok Masjid dan mushollah, namun tidak menjadi the way of life, jalan hidup bagi pemeluknya. Naudzubillah min dzalik.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah,

Di kala seperti ini, kita pegang saja kuat-kuat Sabda Nabi Muhammad saw: “katakanlah: aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah!” Dengan iman yang menancap di lubuk hati, sampai pada cinta kepada keimanan dan iman itu menghiasinya, maka akan benci kepada bentuk kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sebagaimana yang difirman oleh Allah SWT di Surat al-Hujurat ayat 7 yang berbunyi:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأَمْرِ لَعَنِتُّمْ  وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,”

Inilah benteng yang kuat untuk menangkis pelbagai serangan kefasikan yang kuat sekali menerpa nilai-nilai Islam yang kita miliki. Setelah kita menggenggam keimanan dengan erat, bertahanlah, istiqamahlah, berjalan terus di atas jalan yang lurus. Tidak lupa kita pelajari ilmu dan tidak pula pernah jemu. Orang berilmu akan mengetahui terang di dalam kegelapan, dan akan mengetahui jalan keluar dalam kesesatan, akan mengetahui kebenaran diantara kebatilan.

Demikianlah sekilas renungan pada khutbah pertama ini… mudah-mudahan ada hikmahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s