REKONSTRUKSI BUKU AJAR DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KARAKTERISTIK BIDANG STUDI DAN PESERTA DIDIK

Posted: February 5, 2010 in publikasi ilmiah
Makalah, oleh Saiful Amien

PENDAHULUAN

Tulisan ini berupaya mengkaji problem buku ajar kita dan bagaimana melakukan konstruksi ulang buku-buku tersebut agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan kualitas pendidikan kita bisa meningkat. Pembahasan dalam tulisan singkat ini meliputi: (1) peran sentral buku ajar; (2) problem buku ajar di lapangan, (3) analisis permasalahan; (4) karakteristik bidang studi; dan (5) karakteristik peserta didik.

Peran Sentral Buku Ajar

Tidak dapat dinafikan, buku ajar di dalam praktik pendidikan kita masih merupakan sumber belajar yang paling dominan bahkan paling sentral. Studi Dedi Supriadi (2000) menunjukkan bahwa buku ajar merupakan satu-satunya buku rujukan yang dibaca oleh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru.

Hal ini setidaknya menunjukkan masalah sekaligus peluang. Ketergantungan siswa dan guru yang begitu besar kepada buku ajar merupakan kelemahan mendasar dunia pendidikan nasional, tetapi pada sisi lain menginspirasikan treatment strategis bagi  pengembangannya. Untuk yang terakhir, fenomena ini sesungguh-nya menyodorkan sesuatu yang urgen bahwa buku paket pembelajaran bisa menjadi katalisator (baca: jalan pintas) peningkatan mutu pendidikan Indonesia yang sedang terpuruk.

Hal ini setidaknya menunjukkan masalah sekaligus peluang. Ketergantungan siswa dan guru yang begitu besar kepada buku ajar merupakan kelemahan mendasar dunia pendidikan nasional, tetapi pada sisi lain menginspirasikan treatment strategis bagi  pengembangannya. Untuk yang terakhir, fenomena ini sesungguh-nya menyodorkan sesuatu yang urgen bahwa buku paket pembelajaran bisa menjadi katalisator (baca: jalan pintas) peningkatan mutu pendidikan Indonesia yang sedang terpuruk.

Ada dua alasan mengapa buku ajar menjadi alternatif strategis-akseleratif pembangunan kembali dunia pendidikan Indonesia yang sudah bangkrut. Pertama, kualitas guru yang sebagian besar tidak memadai. Sudah menjadi pengakuan umum bahwa rendahnya kualitas guru Indonesia karena beberapa sebab yang memang tidak kondusif bagi mereka untuk berkembang dan profesional dalam bidangnya adalah salah satu titik lemah pendidikan nasional.

Rendahnya mutu guru salah satunya disebabkan oleh masih adanya angka guru mismatch dan underqualified yang relatif tinggi. Beberapa usaha telah dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru seperti inservice training, sertifikasi, atau bahkan program pascasarjana. Tetapi usaha semacam ini, di samping sulit menjamin kualitas hasilnya, juga membutuhkan biaya besar dan waktu lama.

Di tengah kondisi yang demikian, perlu dicari alternatif yang paling mungkin untuk menolong siswa dalam jangka pendek, dan tanpa membutuhkan waktu terlalu lama. Dalam hal ini, kehadiran buku pelajaran berkualitas yang dirancang dengan asumsi ‘bisa dipahami dengan baik tanpa guru sekalipun’ dan, tentunya, relevan terhadap temuan terbaru menjadi sangat mendesak.

Kedua, seperti yang diungkap di atas, buku paket merupakan satu-satunya buku rujukan yang dapat diakses (baca: dibaca) oleh hampir seluruh siswa, bahkan juga oleh sebagian besar guru. Tragis sekali bila satu-satunya sumber belajar yang bisa diakses siswa ini tidak ditangani secara serius. Di samping itu, seperti yang ditunjukkan oleh laporan International Education Achievement tahun 1999, minat baca siswa di sekolah-sekolah Indonesia menempati nomor dua terakhir dari 39 negara yang disurvei. Tentunya, keadaannya akan semakin parah bila minat baca siswa yang minim tersebut diperburuk oleh rendahnya kualitas buku pegangan yang menjadi satu-satunya buku bacaan mereka. Mereka bisa jadi kehilangan minat terhadap buku.

Problem Utama Buku Ajar Kita

Lalu apa kelemahan buku ajar kita? Jamaludin mencatat ada lima, yaitu dari aspek: isi, bahasa, desain grafis, metodologi penulisan, dan strategi indexing (www.mediaindonesia.com, 7/12/2009).

Masalah isi mengandung dua cacat pokok, yakni terlalu banyak dan kadaluwarsa. Hal ini tentu bisa menyesatkan, sebab sudah tidak sesuai dengan penemuan-penemuan mutakhir. Sebuah riset yang dilakukan oleh Sri Redjeki (1997), misalnya, menunjukkan bahwa buku-buku pelajaran yang dikonsumsi pelajar Indonesia tertinggal 50 tahun dari perkembangan terbaru sains modern. Ini juga bisa dilihat dari referensi lama yang dipergunakan. Pengakuan para penyusun buku seperti diungkap Supriadi patut mendapat catatan: Para penyusun bukannya ‘menulis buku baru dengan referensi yang baru pula’, melainkan ‘menata ulang’, ‘mengemas kembali’, atau ‘merakit kembali’ materi-materi yang telah ada dalam buku-buku sebelumnya. Maka yang terjadi sebenarnya adalah reproduksi ulang kesalahan-kesalahan sebelumnya dengan kemasan baru.

Dari segi bahasa dan ilustrasi, kelemahan yang menonjol adalah penggunaan bahasa dan ilustrasi yang tidak komunikatif sehingga tidak berhasil menyampaikan pesan inti buku.

Dari segi metodologi penulisan, kelemahan tampak pada nihilnya nuansa yang bisa menggugah kesadaran afektif-emosional siswa, terutama dalam buku-buku sosial, moral, dan keagamaan. Pendekatan yang dipakai terlalu materialistik, kering, dan membosankan sehingga gagal menyampaikan pesan isi (content provision) sebuah buku.

Sedangkan dari aspek strategi kemudahan untuk membaca, indexing hampir tak pernah ada dalam buku ajar anak-anak kita. Tidak seperti di Singapura dan Amerika yang kaya dengan indeks. Buku-buku ajar kita miskin inisiatif bahkan untuk sebagian buku di perguruan tinggi. Dalam beberapa studi disebutkan, ketersediaan indeks dalam buku ajar akan menaikkan tingkat analitis dan daya kritis anak terhadap setiap persoalan. Karena, dengan indeks seorang anak akan belajar bagaimana melihat kebutuhan pokok bahasan yang sesuai dengan minat dan keinginannya tanpa perlu waktu lama dalam memperolehnya (Baedlowi, www.mediaindonesia.com)

Kurang Mempertimbangkan Karakteristik Bidang Studi & Peserta Didik

Kelima kelemahan utama buku ajar di atas tampaknya menguatkan apa yang pernah dikeluhkan oleh Degeng (1989) bahwa buku ajar kita dalam penyusunannya seringkali tidak mempertimbangkan karakteristik bidang studi dan juga karakte-ristik peserta didik. Akibatnya, selain materi yang begitu padat, pilihan materi dan bagaimana pengorganisasian-penyampaiannya juga tidak sesuai dengan psikologi belajar siswa.

Secara teoritis, Reigeluth mengidentifikasi kedua karakteristik tadi sebagai subvariabel kondisi pembelajaran yang tidak bisa dimanipulasi dan mesti diterima apa adanya oleh perancang pembelajaran, yang dalam hal ini adalah penyusun buku ajar. Dengan mempertimbangkan kedua karakteristik di atas, penyusun buku ajar dapat merekayasa secara tepat variable metode yang meliputi 3 strategi: pengorganisasian isi, penyampaian isi, dan pengelolaan pembelajaran yang difasilitasi oleh buku ajar.

Strategi pengorganisasian (organizational strategy) berkaitan dengan metode mengorganisir isi bidang studi yang dipilih untuk dimuat di buku ajar. Hal ini mengacu pada tindakan seperti pemilihan dan penataan materi secara proporsional. Strategi penyampaian (delivery strategy) berkaitan dengan bagaimana materi yang dimuat di dalam buku ajar itu dapat disampaikan kepada pembaca secara mudah. Di sinilah desain media, terutama ilustrasi gambar, grafis dan pewarnaan mejadi penting untuk diperhatikan. Sedangkan strategi pengelolaan pembelajaran (management strategy) berkaitan dengan bagaimana buku ajar itu mampu mengelola interaksi pembaca (siswa) dengan dua strategi sebelumnya, utamanya untuk meningkatkan dan melestarikan motivasi belajar mereka.

Dari itulah, diperlukan pemahaman yang baik tentang dua karakteristik di atas, terutama bagi kita yang hendak menulis buku ajar.

Karakteristik Bidang Studi

Yang dimaksud dengan karakteristik bidang studi adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mempreskrepsikan strategi pembelajaran (Degeng, 1989: 16). Karakteristik bidang studi ini dapat diacukan pada dua hal: struktur bidang studi dan tipe isi bidang studi. Berikut ini adalah deskripsi tentang kedua hal tersebut sebagaimana yang diuraikan oleh Degeng (1989: 50-59).

1. Struktur Bidang Studi

Struktur bidang studi mengacu kepada hubungan-hubungan di antara bagian-bagian bidang studi tersebut. Struktur ini penting sekali bagi pemilihan dan pengembangan strategi pengorganisa-sian pembelajaran yang optimal, yaitu yang berkaitan dengan pemilihan, penataan urutan, pembuatan rangkuman, dan sintesis bagian-bagian bidang studi yang terkait. Secara umum, struktur bidang studi dapat diklasifikasikan menjadi tiga: (1) struktur orientasi; (2) struktur pendukung/pelengkap; dan (3) struktur ganda.

Struktur orientasi adalah suatu struktur yang amat inklusif, yang di dalamnya tercakup semua atau sebagian besar dari isi bidang studi yang akan diajarkan. Fungsinya adalah memperkenalkan semua bagian bidang studi yang penting, yang nantinya dapat dijadikan kerangka untuk mengaitkan bagian-bagian isi yang lebih rinci. Struktur ini sejalan dengan tujuan umum orientasi.

Karena struktur orientasi mencakup semua atau sebagian isi bidang studi maka struktur ini bisa berupa struktur konseptual, struktur prosedural atau struktur teoritik. (a) Struktur konseptual adalah struktur yang menunjukkan hubungan lebih tinggi/setingkat/lebih rendah di antara konsep-konsep yang diajarkan. Ada tiga tipe penting dari struktur konseptual ini, yaitu: taksonomi bagian, taksonomi jenis, dan matriks atau tabel. (b) struktur prosedural adalah struktur yang menunjukkan hubungan lebih prosedural di antara bagian-bagian bidang studi. Struktur ini memuat isi bidang studi untuk mencapai tujuan orientasi prosedural. (c) struktur teoritik adalah struktur yang menunjukkan rangkaian hubungan kausal di antara konsep-konsep atau prinsip-prinsip.

Struktur pendukung adalah suatu struktur yang tidak inklusif jika dibandingkan dengan struktur orientasi. Struktur ini dapat berisi fakta, konsep, prosedur atau prinsip yang dimasukkan dalam struktur orientasi. Karena itu struktur ini bisa berupa struktur konseptual, prosedural, teoritik, maupun struktur belajar. Yang dimaksud terakhir, struktur belajar adalah suatu struktur yang menunjukkan hubungan prasyarat belajar di antara fakta, konsep dan prinsip. Struktur belajar di sini sepadan dengan hirarkhi belajar yang dikemukakan oleh Gagne (1985: 272-276).

Sedangkan struktur ganda adalah suatu struktur yang menunjukkan kaitan di antara struktur-struktur suau bidang studi. Struktur ini akan melibatkan struktur orientasi dan struktur pendukung. Oleh karena itu, struktur ini akan memasukkan hampir semua isi bidang studi yang penting mulai dari fakta, konsep, prosedur, sampai prinsip.

2. Tipe Isi Bidang Studi

Reigeluth dan Merril (1979) menganalisis isi bidang studi menjadi empat tipe, yang disebutnya sebagai konstruk isi bidang studi, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. (a) Fakta adalah asosiasi satu-ke-satu antara objek, peristiwa atau simbol yang ada, atau mungkin ada, di dalam lingkungan riel atau imajinasi. Misalnya, Jakarta ibukota Indonesia; (b) Konsep adalah sekelom-pok objek, peristiwa atau simbol yang memiliki karakteristik umum yang sama dan yang diidentifikasi dengan nama yang sama, umpamanya konsep hewan; (c) Prinsip adalah hubungan sebab-akibat antara konsep-konsep. Umpamanya prinsip penawaran dan permintaan dalam ekonomi; sedangkan (d) Prosedur adalah uru-tan langkah untuk mencapai suatu tujuan, memecahkan masalah tertentu atau membuat sesuatu. Misalnya prosedur penelitian.

Karakteristik Peserta Didik

Yang dimaksud dengan karakteristik peserta didik di sini adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan dari peserta didik (Degeng, 1989: 63), yang dalam hal ini adalah para pembaca buku ajar yakni siswa sekolah dalam tingkat atau jenjang tertentu.

Banyak aspek yang bisa diidentifikasi dalam diri peserta didik, yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun buku ajar tertentu. Aspek-aspek itu bisa berupa bakat, motivasi belajar, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimiliki oleh peserta didik. Karakteristik ini tentunya amat terkait dengan latarbelakang psikologis, sosiologis dan antropologis peserta didik diantaranya terkait dengan pola asuh orang tua dan lingkungan belajarnya. Konteks keindonesiaan yang majmuk dan multikultural juga memiliki pengaruh tersendiri dan perlu dipertimbangkan secara arif. Dari itu pembahasan ini akan luas sekali, karennya di sini penulis hanya membatasi pada kemampuan awal peserta didik semata.

Reigeluth (1983) mengidentifikasi tujuh jenis kemampuan awal yang dapat dipakai untuk memudahkan perolehan, pengorganisa-sian, dan pengungkapan kembali pengetahuan baru. Ketujuh jenis kemampuan awal ini adalah: (1) pengetahuan bermakna tak terorganisasi (arbitrarily meaningful knowledge), sebagai tempat mengaitkan pengetahuan hapalan (yang tidak bermakna) untuk memudahkan retensi; (2) pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada di luar isi yang sedeang dibicarakan; (3) pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (supordinate knowledge), yang dapat  berfungsi sebagai kerangka cantolan bagi pengetahuan baru; (4) pengetahuan setingkat (coordinate knowledge) yang dapat memenuhi fungsinya sebagai asosiatif dan atau komparatif; (5) pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang berfungsi untuk mengkonkritkan pengetahuan baru atau juga penyediaan contoh-contoh; (6) pengetahuan pengalaman (experiental knowledge), yang memiliki fungsi sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah; dan (7) strategi kognitif (cognitive strategy), yang menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan baru, mulai dari penyandian, penyimpanan, sampai pada pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan.

Ketujuh jenis kemampuan awal ini dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengan (1) pengetahuan yang akan diajarkan, (2) pengetahuan yang berada di luar pengetahuan yang akan dibicarakan, dan (3) pengetahuan mengenai keterampilan generic (generic skill).

Bila dilihat dari tingkat penguasaannya, pengetahuan awal bisa diklasifikasi menjadi tiga, yaitu: (1) kemampuan awal siap pakai, (2) pengetahuan awal siap ulang, dan (3) pengetahuan awal pengenalan (Degeng, 1989: 65-68).

Penutup

Demikianlah, untuk merekonstruksi buku ajar sekolah kita, secara ideal-teoritis pertimbangan karakteristik bidang studi dan peserta didik menjadi sesuatu yang mesti ditaati oleh para penulis, sehingga problem buku ajar kita bisa diselesaikan sebaik-baiknya. Namun, secara praktik, tetap saja dibutuhkan tidak sekadar good will (“nawaitu”) dari semua kalangan yang terlibat tetapi juga tindakan nyata, karena seringkali yang terdeteksi di lapangan adalah keterjebakan para penulis dan penerbit pada spirit komersialisasi buku sekolah.

Karenanya, saya melihat (1) pemerintah perlu memperbaiki aturan dan sistem perbukuan di negeri ini, termasuk di dalamnya adalah subsidi buku murah dan peningkatan honororium penulis buku, dan (2) untuk merekonstruksi buku ajar, pemerintah atau pihak swasta yang berduit perlu membangun semacam ‘Kamp Konsentrasi Penulisan Buku Paket’ dengan membayar penulis-penulis andal dalam satu tema besar. Dengan begitu diharapkan terlahir buku-buku ajar yang berkualitas.[]

DAFTAR PUSTAKA

Baedlowi, Ahmad. “Indeks” dalam http://www.mediaindonesia.com/read/ 2009/12/07/109939/68/11/INDEKS. diakses Senin, 07 Desember 2009 00:01 WIB

Degeng. Nyoman Sudana. 1989. Teori Pembelajaran I: Taksonomi Variabel (draft). Program Magister Manajemen Pendidikan – Universitas Terbuka.

Gagne, Robert M. 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction. 4th Edition. CBS College Publishing. New York.

Jamaludin. “Rekonstruksi Buku Teks Sekolah” dalam http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/07/109938/68/11/Rekonstruksi-Buku-Teks-Sekolah. Diakses Senin, 07 Desember 2009 00:01 WIB

Supriadi, Dedi. 2000. Anatomi Buku Sekolah di Indonesia: Problematik Penilaian, Penyebaran dan Penggunaan Buku Pelajaran, Buku Bacaan dan Buku Sumber. Adicita. Yogyakarta.

Comments
  1. I am typically to blogging i really appreciate your website content continuously. The article has truly peaks my interest. I am about to bookmark your web blog and keep checking for brand new details.

  2. chiropractor bloomington il

  3. Thamrin Hidayat says:

    Ok boleh juga untuk disimak bagi pembuat buku ajar

  4. gino says:

    Trimakasih atas artikelnya yang sangat bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s