MERANCANG PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA: Studi Kasus di MAM I Malang

Posted: February 5, 2010 in publikasi ilmiah

Makalah, oleh Saiful Amien

Pendahuluan

Tidak salah jika Robert E. Slavin pada bab pertama dari bukunya Educational Psychology: Theory and Practice menulis bahwa mengajar sebagai pelaksanaan profesi seorang guru merupakan urusan yang tidak mudah. Hal ini karena mengajar terkait dengan banyak pihak. Ada siswa, kurikulum, administrasi sekolah, sarana-prasarana, wali murid, kepala sekolah, dan sebagainya yang semuanya menuntut perhatian dan “kebaikan” seorang guru.[1] Terutama adalah peserta didik (siswa) karena merekalah subjek utama pembelajaran diadakan. Dari itu guru mesti memahami karakteristik (khususnya psikologi) siswa di samping karakteristik bidang studi yang ia ajarkan sebagai kondisi pembelajaran yang mesti diterima apa adanya.[2]

Tulisan ini dimaksudkan untuk merancang satu proses pembelajaran ektrakurikuler di Madrasah Aliyah Muhammadiyah I Malang (MAM I Malang) yang partisipatoris dan menyenangkan sebagai solusi kurangnya minat belajar siswa akibat dari problem ekonomis-sosiologis dan psikologis yang menjadi karakteristik siswa-siswinya. Pertama-tama, akan diuraikan kondisi peserta didik di MAM I Malang untuk melihat permasalahan dan karakteristik mereka, selanjutnya berdasar hal tersebut dirancang pola pembelajaran ekstrakurikuler yang menjadi fokus tulisan ini.

Kondisi peserta didik MAM I Malang

MAM I Malang berlokasi di Tlogomas, tepatnya di Jalan Baiduri Sepah 27 Tlogomas, di atas area tanah seluas 3000 m² yang meliputi bangunan (kantor, ruang kelas, masjid, dan laboratorium) seluas 804 m², lapangan olahraga 150 m², kebun 125 m², dan lain-lain seluas 221m². Sekolah ini milik persyarikatan Muhammadiyah, tepatnya di bawah binaan Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang.

Madrasah ini telah berdiri sejak 1953 dengan nama semula Sekolah Guru Bawah (SGB) dan telah mengalami pasang surut hingga saat ini. Entah sejak kapan sekolah ini kemudian menjadi muara terakhir bagi anak-anak yang, maaf, “terpinggirkan”.

Mereka ini sebagian besar secara ekonomi berasal dari keluarga miskin, dan secara sosial berpendidikan rendah. Latar belakang keluarga ini sangat mempengaruhi perjalanan belajar mereka di madrasah. Sejak kecil mereka hidup dalam kemiskinan, sehingga menjadikan mereka harus terlibat dalam menghidupi dirinya sendiri. “Sampai sekarang, di antara mereka ada yang bekerja sebagai Satpam di Universitas Islam Negeri Malang; pengangkut gerobak sampah, dan bahkan ada yang jadi pengamen jalanan” kata Saiful Arif, S. Ag., Kaur. Bidang Humas dan Sarana-Prasarana.[3]

Selain itu, karena rendahnya pendidikan keluarga, membuat orang tua tidak memiliki kepedulian terhadap pendidikan mereka. Akibatnya mereka tidak memiliki motivasi atau minat bersekolah. Salah satu alasan mereka untuk bersekolah, walaupun dengan rasa berat dan terpaksa, adalah sekadar formalitas untuk mengantongi ijazah. Keadaan ini menjadikan siswa tidak “at home” di lingkungan madrasah, easy come easy go (seenak kemauannya sendiri)  dan kurang tertarik dengan pelbagai kegiatan kesiswaan. Coba kita simak penuturan dari Bapak Bambang, S. Pd, guru olahraga di madrasah ini:

Kami pernah mencoba membentuk tim Sepakbola siswa MAM I. Biasanya kan remaja begitu tertarik jenis olahraga ini. Pertama-tama sih, banyak siswa yang ikut dan hadir pada jadual latihan yang disepakati, tetapi  pada hari-hari terjadual berikutnya semakin ‘mrotoli‘, dan kemudian kita bubarin. Demikian juga dengan tim bola basket![4]

Masalah moral, juga merupakan akar penyebab yang ikut mewarnai kurangnya minat siswa pada pembelajaran. Yang masuk dalam katagori masalah moral di sini adalah kenakalan remaja seperti minum-minuman keras. Memang siswa yang terlibat dalam hal ini tidak banyak, tetapi akses pergaulan yang mereka ciptakan di lingkungan sekolah dapat mempengaruhi teman-temannya. Akibatnya, mereka ikut-ikutan nakal dan sering bolos sekolah.

Masalah ini di MAM I Malang terkesan dilematis dalam penanganannya. Di satu sisi, “kenakalan” ini harus dihilangkan dengan memberikan sangsi semacam skorsing atau pengeluaran dari madrasah, di sisi yang lain, justru siswa senang dengan sangsi tersebut, dan ditakutkan kenakalannya akan semakin menjadi mengingat lingkungan mereka di luar sekolah sudah sedemikian tidak kondusif.

Sebenarnya, tidak semua kegiatan kesiswaan di madrasah ini macet atau tidak diminati siswa. Ada sebagian kecil siswa yang tetap berpartisipasi dalam kegiatan tertentu. Kegiatan jurnalistik siswa umpamanya. Ketika Tim Fakultas Agama Islam-UMM dalam program PAR 1 ikut menfasilitasi kegiatan dalam bidang reportase dan tulis-menulis itu, ternyata hasilnya bisa dibilang sukses. Hal itu dapat dilihat pada pertama, antusiasme dan intensitas siswa dalam praktik magang jurnalistik di kantor redaksi Koran Kampus UMM, Bestari; kedua, terbitnya Jurnal MAM I Malang yang cukup bagus dan promotif. “Setelah melihat jurnal MAM I, bahkan ada beberapa Madrasah Aliyah Negeri di kota Malang ini yang akan studi banding di bidang pengelolaan jurnal sekolah ke sini, mereka sudah pada ngebel membuat konfirmasi…” kata Wakil Kepala Madrasah, Bapak Slamet, S. Pd.[5]; dan ketiga, pada program PAR-2, mereka yang pernah magang telah mampu menjadi instruktur Pelatihan Jurnalistik Siswa, dalam rangka kaderisasi redaksi jurnal madrasah.[6]

Semangat Home Based School

Permasalahan kesiswaan di atas tentunya tidak boleh membuat pihak madrasah pesimis apalagi putus asa. Setidaknya dilihat dari kegiatan jurnalistik yang terbukti dapat berjalan dengan baik, menunjukkan bahwa masih ada titik terang yang dapat dijadikan pintu masuk dalam meningkatkan minat belajar siswa, utamanya pada pembelajaran ekstrakurikuler. Pilihan jatuh pada pembelajaran non-formal ini Karena menurut penulis, itulah pintu yang lebih fleksibel dimana materi dan metode pembelajarannya dapat direkayasa sekehendak guru/pembelajar.

Tekad madrasah yang ingin menjadikan sekolah ini berbasis pesantren atau asrama adalah pilihan yang tepat[7], tetapi tentunya membutuhkan pendanaan yang luar biasa, padahal itu [dana] juga merupakan masalah tersendiri bagi operasionalisasi madrasah selama ini. Oleh karena itu, ada baiknya kalau “semangat” berbasis asrama tersebut dapat diadaptasi dalam mengkonstruk bidang kesiswaan yang di dalamnya terdapat pembelajaran non-formal. Di sini dibutuhkan keberanian dan komitmen yang kuat dari pihak madrasah, karena secara tidak langsung ini berkaitan dengan penafsiran ulang posisi (reposisi) madrasah ke depan. Reposisi yang saya maksudkan tersebut adalah bagaimana mengarahkan kegiatan pembelajaran dan kesiswaan MAM I Malang menjadi madrasah yang “berbasis rumah” (Home based school).[8]

Spirit dari Home Based School di sini adalah “sekolahku rumahku”. Sebagaimana rumah, tentunya merupakan tempat orang berteduh; yang tinggal selalu betah di dalamnya dan senantiasa ingin kembali. Spirit ini tentunya tidak akan pernah tercapai kalau tidak diterjemahkan dalam lingkungan sekolah yang kondusif-representatif. Seperti interaksi guru-murid-karyawan yang aktif-kekeluargaan, kegiatan kesiswaan yang memahirkan namun mengasyikkan, dan sebagainya.

Karena ruang yang terbatas, tulisan ini hanya memfokuskan pada kegiatan kesiswaan yang berspirit home based school tersebut:

Pertama, paradigma yang mendasari kegiatan ini ialah pandangan  yang melihat seluruh kegiatan kesiswaan merupakan bagian dari kurikulum madrasah yang akan dialami oleh peserta didik. Oleh karenanya, kegiatan-kegiatan ini harus dipandang secara integral bersama anasir pendidikan yang lain. Selain itu, kegiatan ini mesti bersifat total-kontekstual dalam pengertian mencerdaskan segala domain kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik, apakah itu yang termasuk kecerdasan kognitif, afektif, maupun yang psikomotorik.

Kedua, dari kerangka pandang di atas, dapat dilihat sebuah kegiatan kesiswaan yang memberikan kebebasan dan keaktifan kepada peserta didik untuk bereksplorasi. Kebebasan di sini tentunya adalah kebebasan yang tetap dalam koridor moral. Artinya, walaupun bebas, namun masih ada batasan etika yang menjadi rambu-rambu, disepakati bersama, dan madrasah layaknya sebagai orang tua tetap memiliki otoritas untuk memberikan punishment bagi yang melanggarnya. Masih termasuk dalam kebebasan ini adalah kebebasan untuk tidak formal dalam beberapa hal. Seperti bebas berpakaian dan tidak harus bersepatu (yang penting sopan).

Ketiga, tugas madrasah hanya menfasilitasi, mendinamisir, dan mengarahkan mereka. Karenanya, keterlibatan guru yang ditunjuk menjadi pembimbing (guru wali atau guru pamong) harus benar-benar intens. Merekalah yang senantiasa terlibat langsung dalam setiap perkembangan peserta didik. Dan sebagai perpanjangan tangan dari madrasah, merekalah yang menjadi orang tua kedua bagi peserta didik.

Dari semangat di atas, terbayang kegiatan kesiswaan yang non-formal, mengasyikkan, mengembangkan minat, bakat dan keterampilan peserta didik baik dalam bidang seni, olahraga, maupun intelektual. Banyak kegiatan yang bisa dibreak down dari ketiga bidang itu, di antaranya: (1) Muhadloroh (presentasi) dan munaqosah (diskusi) untuk melatih keterampilan berpikir dan berbicara; (2) Jurnalisme untuk melatih keterampilan berpikir dan menulis; (3) Kepanduan untuk mengembangkan kecerdasan sosial; (4) Keorganisasian untuk mengasah keterampilan memimpin; (5) Basket, sepakbola, futsal, silat, dan lain-lain untuk mengembangkan keterampilan olahraga; (6) Pelatihan komputer; (7) Pelatihan sablon atau pelatihan keterampilan berkreasi dari bahan daur ulang; dan sebagainya, yang semuanya berawal dari pilihan siswa (button-up).

Saya membayangkan bagaimana indahnya madrasah ini jika bisa melakukan itu semua: buka dari jam 07. 00 pagi sampai malam hari. Setelah pembelajaran di kelas, siswa tetap kerasan di dalam komplek madrasah. Mereka ada yang bermain basket atau futsal, di tempat lain berdiri tenda-tenda pramuka dengan pelbagai kegiatannya yang mendidik-menggembirakan, di masjid ada berlatih muhadloroh dan berdiskusi, di laboratorium komputer ada pelatihan, di perpustakaan para siswa kutu buku kerasan membaca, di ruang yang lain ada pelatihan sablon, pelatihan melukis, pelatihan berkreasi dengan bahan daur ulang, di ruang yang lain ada beberapa siswa yang sibuk menerbitkan jurnal atau majalah dinding, dan berbagai kegiatan yang lainnya. Semuanya berjalan, bebas, informal, aktif, mengasyikkan, dan siswa kerasan di dalamnya. Bisakah?

Semuanya kembali kepada pihak madrasah, karena sekali lagi, hal itu akan menyangkut kemauan untuk melakukan reposisi, entah itu pada lembaga; komitmen, tugas dan tanggung jawab guru; interaksi guru-karyawan-murid; sampai pada pendanaan. Ada pepatah yang menyebutkan: Idza shadaqa al-‘Azm wadlaha al-Sabil, kalau kuat tekad, jalan pasti kan terbentang. Tinggal bagaimana kita, bukan? []

DAFTAR BACAAN

Degeng, Nyoman Sudana. 1989. Teori Pembelajaran 1: Taksonomi Variabel. Draft Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Terbuka.

Jurnal Madrasah Vol. I No. 4 Th. 1998

Slavin, Robert E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Allyn & Bacon. Boston.

Tim Peneliti FAI-UMM, 2005. Laporan PAR II di MAM I Malang. Dokumentasi lembaga, tidak diterbitkan.


[1] Slavin, Robert E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Allyn & Bacon. Boston.

[2] Reigeluth (1979) dalam Degeng, Nyoman Sudana. 1989. Teori Pembelajaran 1: Taksonomi Variabel. Draft Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Terbuka. Halaman 11.

[3] Disampaikan pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Program PAR ke-2, FAI-UMM, di MAM I Malang, tanggal 18 Maret 2005, di mana penulis terlibat sebagai pendamping.

[4] Seperti dituturkan oleh Bapak Bambang, S. Pd pada acara FGD, tanggal 23 Maret 2005.

[5] Seperti dituturkan Bpk. Slamet, S. Pd  pada acara FGD, tanggal 23 Maret 2005.

[6] Lihat Laporan Program PAR-2 FAIUMM di MAM I Malang, 2005.

[7] Secara umum, pendidikan pesantren memiliki keunggulan dibanding sekolah. Salah satu keunggulannya adalah model pondoknya (asrama). Para santri yang tinggal di pondok memperoleh pendidikan yang total dan integral secara kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Selain belajar ilmu-ilmu keislaman, santri juga dibiasakan dengan sikap dan prilaku yang etis (akhlaqi), dan belajar pelbagai keterampilan hidup (life skill). Keunggulan inilah yang menjadikan Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional dan pendiri Perguruan Taman Siswa, mencita-citakan model pendidikan di pesantren sebagai model sistem pendidikan nasional. Seandainya Indonesia tidak mengalami penjajahan, kata Dr. Nurcholis Madjid, maka pertumbuhan sistem pendidikan di Indonesia akan mengikuti jalur pesantren. Lihat Jurnal Madrasah, Vol. I No. 4 Th. 1998.

[8] Sebagai pendidikan alternatif, mungkin home based school ini terkesan seperti sekolah terbuka, karena memang ada beberapa kesamaan, terutama pertimbangan seperti latarbelakang siswa yang dari keluarga miskin dan berpendidikan rendah, kekurangan fasilitas pembelajaran yang dimiliki sekolah, orientasi lulusan yang ingin langsung kerja dan sebagainya.

Comments
  1. benramt says:

    hehehe, bolehlah begitu.. dimanapun kita berada, kita bisa belajar. termasuk di kelas hehehe

  2. Imtihan says:

    belajar nggak harus di kelas, makanya aq nggak pernah masuk kuliah, hehehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s