ANALISIS DESAIN PESAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DALAM BUKU AJAR AL-‘ARABIYAH BAINA YADAIK LEVEL 1

Posted: January 30, 2010 in publikasi ilmiah

Makalah, oleh Saiful Amien

PENDAHULUAN

Manusia adalah animal educandum. Makhluk yang terus belajar. Ia tidak bisa berkembang tanpa belajar. Aneka potensi (inderawi, akli, nurani) yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya akan terasa sia-sia, tidak menjadi modalitas pengembangan diri, bila ia tidak belajar. Karenanya belajar merupakan suatu keharusan bagi manusia. Di dalam Islam, banyak sekali ayat Qur`an maupun hadits Nabi yang mempertegas hal itu.

Ditilik dari konteks pembelajaran, belajar merupakan suatu peristiwa yang terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati, diubah dan dikontrol. Robert M. Gagne (1977) menyebut ada lima kemampuan manusia yang dikembangkan melalui belajar yaitu: ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap. Sedangkan Blomm mengkatagorikannya dalam tiga ranah: kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dari itu, pendidik dituntut mampu menyediakan kondisi belajar agar peserta didik dapat mencapai kemampuan-kemampuan tertentu yang dipelajarinya. Di sinilah desain pesan pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting, karena desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan suatu pola signal atau lambang (kata, gambar) yang dapat digunakan untuk menyediakan kondisi belajar (Fleming & Levie, 1981: xi).

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan analisis desain pesan pembelajaran bahasa Arab dalam buku ajar al-Arabiyah baina Yadaik. Permasalahan yang akan dijawab di sini dirumuskan dalam pertanyaan: Apakah pesan yang ingin disampaikan telah didesain secara efektif dan efisien sehingga memudahkan peserta didik dalam memahaminya? Di manakah letak kelebihan dan kekurangan dari desain pesan tersebut?

Pertama-tama tulisan ini menyajikan gambaran umum buku teks di atas, selanjutnya melakukan analisis singkat terhadap isi pesan yang dimuat, dan analisis lebih detail terhadap desain pesan tersebut. Dengan demikian, diharapkan dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dari sisi rancangannya. Dan bersama makalah ini, penulis lampirkan tayangan power point isi/desain buku ini (lihat VCD).

Udar Isi Buku

Buku ajar ini berjudul al-‘Arobiyah baina yadaik: Silsilatun fî ta’lîm al-lughoh al-‘arobiyyah li ghoir an-nâthiqîn biha (Seri Pembelajaran Bahasa Arab untuk Penutur Asing). Ditulis oleh Dr. Abdurrahman bin Ibrahim al-Fauzan, al-Ustadz Mukhtar ath-Thohir Husein dan al-Ustadz Muhammad Abdul Kholiq Muhammad Fadl. Ketiganya dosen di Ma’had al-Lughoh al-Arabiyah (Institut Bahasa Arab) King Saud University Riyadh Saudi Arabia.

Buku ini diterbitkan oleh Mu`assasah al-Waqf al-Islami Riyadh (cetakan I) pada tahun 1422H/2001M. Tujuan penulisan buku seri pembelajaran bahasa Arab ini adalah untuk menghantarkan peserta didik memiliki: kemampuan berbahasa (kifâyah lughowiy-yah), kemampuan berkomunikasi (kifâyah ittishôliyyah), dan kemampuan berbudaya (kifâyah tsaqôfiyyah).

Kifâyah lughowiyyah mencakup dua hal: 1) empat keterampilan bahasa, yaitu: al-`istimâ (mendengar), al-kalâm (berbicara), al-qirô`ah (membaca), dan al-kitâbah (menulis); dan 2) tiga unsur bahasa, yaitu: al-ashwât (bunyi), al-mufrodât (perbendaharaan kata), dan at-tarôkîb an-naħwiyyah (struktur gramatikal).

Kifâyah ittishôliyyah dimaksudkan sebagai kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi langsung, baik lisan maupun tulisan, dengan pemilik bahasa dalam konteks pergaulan sosial mereka.

Sedangkan kifâyah tsaqôfiyyah dimaksudkan sebagai kemampuan peserta didik dalam memahami ragam aspek budaya bahasa, yakni budaya bahasa Arab dan Islam.

Sasaran pengguna buku seri ini adalah pebelajar dewasa (bukan anak-anak), baik yang sedang belajar di lembaga formal, nonformal maupun informal (pebelajar mandiri). Apakah itu diajarkan melalui program intensif maupun reguler. Selain itu, buku ini juga layak digunakan baik bagi pemula yang belajar bahasa Arab dari nol, ataupun bagi mereka yang telah memiliki dasar berbahasa.

Buku seri ini dicetak dalam 2 ragam. Pertama sebagai panduan belajar peserta didik (kitâb ath-thôlib), dan kedua untuk pegangan fasilitator (kitâb al-mu’allim). Masing-masing ragam terdiri tiga level pembelajaran sesuai dengan tingkat penguasaan calon peserta didik terhadap pengetahuan prasyarat yang dimilikinya. Level pertama untuk tingkat dasar (mustawâ asâsî), level kedua untuk tingkat menengah (mustawâ mutawassith) dan level ketiga untuk tingkat lanjut (mustawâ mutaqoddim).

Level pertama dari buku pegangan siswa, terdiri dari 16 topik yang dijabarkan dalam 383 halaman. Topik-topik tersebut adalah:

  1. At-taħiyyah wat ta’âruf (ucapan selamat dan perkenalan)

  2. Al-`usroh (famili)

  3. As-sakan (tempat tinggal)

  4. Al-ħayât al-yaumiyyah (aktivitas sehari-hari)

  5. Ath-tho’âm wasy-syarôb (makanan dan minuman)

  6. Ash-sholâh (sholat)

  7. Ad-dirôsah (studi)

  8. Al-‘amal (pekerjaan)

  9. At-tasawwuq (berbelanja)

  10. Al-jaww (cuaca)

  11. An-nâs wal amâkin (manusia dan tempat asalnya)

  12. Al-hiwâyât (hobi)

  13. As-safar (perjalanan)

  14. Al-ħaj wal-‘umroh (haji dan umroh)

  15. Ash-shiħħah (kesehatan)

  16. Al-‘uthlah (liburan)

Sebagai buku teks, isi pesan buku ini tampaknya telah dipersiapkan dengan matang. Hal ini dapat dilihat pada pilihan topik bahasan di atas yang bersifat universal, populer atau familiar, dan memiliki kedekatan hubungan dengan kebutuhan belajar peserta didik. Universal, karena siapapun pebelajarnya, dari manapun ia pasti mengetahui tentang tema tersebut. Populer, karena pembahasan tersebut amat familiar dan menjadi perbincangan keseharian mereka. Dan memiliki kedekatan hubungan dengan kebutuhan belajar, karena isi pesan pembelajaran tersebut langsung berkenaan dengan konteks (hajat) kehidupan sosial mereka. Langsung bisa dipraktikkan. Misalnya, topik ucapan selamat dan perkenalan, peserta didik langsung bisa menggunakannya dalam konteks perjumpaannya dengan orang yang baru dikenal maupun teman lama. Begitu juga dengan topik pekerjaan, hobi, kuliner dan sebagainya.

Unsur kedekatan isi pesan pembelajaran ini akan terasa memudahkan peserta didik dalam mempelajarinya. Sebagaimana yang kita pahami tentang principles of similarity dalam psikologi Gestalt, di mana Kretch dan Crutchfield (dalam Rakhmad, 2001: 60-61) pernah menunjukkan suatu dalil dari prinsip tersebut bahwa objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Dari itu, kedekatan isi pesan dengan skemata (modal pengetahuan) pebelajar membuatnya mudah dalam mempersepsi dan mengingat pengetahuan baru berupa kata, percakapan atau kaidah bahasa Arab.

Udar Desain Buku

Sedangkan dari aspek desain pesannya, buku setebal 383 inipun dirancang dengan desain yang bagus. Jenis huruf hijaiyah yang digunakan adalah naskhi. Ragam kaligrafi Arab yang familiar di mata peserta didik, karena memang bentuknya yang bersahaja dan mudah dibaca. Dengan jenis font inilah banyak sekali naskah Arab di tulis, termasuk mushaf al-Qur`an. Besar fontnya juga cukup representatif, yakni ukuran 18, di atas standar biasanya (ukuran 14-16) dengan harakat lengkap (tidak gundul) sehingga pebelajar akan mudah membacanya.

Di samping jenis hurufnya yang mudah dibaca, pesan yang disampaikan dalam buku ini juga disertai dengan pelbagai gambar atau photo dan tabel yang berwarna-warni. Sehingga kesannya seperti buku bergambar. Namun demikian justru di sinilah salah satu kelebihan buku ini yang dimungkinkan dengannya pebelajar akan mudah memahami isi pesannya.

Gambar atau photo ditampilkan dengan tata letak sebagai berikut:

  1. Bersamaan dengan setiap tulisan judul pada halaman topik [gambar 4]

  2. Bersanding dengan setiap teks dialog (ħiwâr) pada halaman kompetensi istima’ (kemampuan mendengar) [gambar 5].

  3. Di atas setiap kata pada halaman pengenalan kata baru (mufrodât) [gambar 6]

  4. Bersamaan dengan setiap pertanyaan pada halaman latihan (tadrîbât) baik untuk kompetensi mendengar, membaca, berbicara, maupun tarkîb naħwiyyah (susunan gramatikal) [gambar 7, 8, 9 dan 10].

Sedangkan tabel ditampilkan dengan tata letak sebagai berikut:

  1. Sebagai intisari dari kaidah gramatikal yang terkandung dalam setiap latihan (tadrîbat) pada halaman mulakhkhosh at-tarôkib (ringkasan struktur kalimat) di setiap topik.

  2. Sebagai media latihan untuk praktik kefasihan bunyi huruf hijaiyah pada halaman al-ashwâth (suara) di setiap topik.

Demikianlah deskripsi umum rancangan pesan buku ini. Sebagai buku ajar, manipulasi teks dan gambar di dalamnya dapat dinilai baik, apalagi para penulis juga mendukungnya dengan media lain berupa VCD tanyangan isi buku plus audionya, semakin memudahkan pebelajar dalam menggunakan buku ini.

Namun tetap saja buku ini tidak lepas dari pelbagai kekurangan. Pertama, sebagai pegangan untuk pebelajar bahasa Arab pemula yang tentunya latarbelakang pengetahuan, agama dan ras mereka dimungkinkan berbeda-beda buku ini sedikit bermasalah. Dari mereka ada yang muslim dan bisa membaca al-Qur`an sehingga familiar dengan tulisan dan bunyi huruf Arab. Namun banyak pula dari mereka yang Muslim bahkan non-muslim yang tidak bisa membaca al-Qur`an dan tidak akrab dengan tulisan maupun bunyi huruf Arab (karenanya, mereka mulai belajar bahasa Arab). Bagi pebelajar kelompok pertama, buku ini kemungkinannya tidak bermasalah. Namun bagi kelompok kedua yang buta tutur dan aksara Arab, buku ini terasa “tidak bernyawa”. Walaupun ada dukungan gambar yang represetatif, tetap saja mereka kesusahan dalam membaca teks Arab, karena memang mereka belum memiliki pengetahuan prasyarat, yakni pengetahuan baca-tulis aksara Arab.

Di sinilah barangkali perancang buku ini lupa, padahal diantara sasaran pengguna buku ini adalah mereka yang non-penutur arab dan pemula dari nol. Karena itu, ada baiknya bila dalam buku ini juga disertakan pada setiap kata Arab teks latin bertuliskan bunyi dari kata tersebut sesuai dengan transliterasi yang disepakati. Misalnya: kata كِتَابٌ    dapat disertai dengan transliterasi bunyi [kitâb], قِرْطَاسٌ [qirthôs] dan seterusnya. Dengan begitu, pebelajar walaupun belum bisa membaca aksara Arab terbantu dengan membaca lafadh latinnya. Dengan demikian diharapkan peserta pemula dapat menangkap pesan dengan mudah sembari belajar pengetahuan prasyarat sedikit demi sedikit.

Kedua, gambar atau photo yang ditampilkan dalam buku ini seringkali kurang tepat atau dapat menyebabkan salah persepsi terhadap pesan yang diinginkan oleh teks, terutama pada pembelajaran mufrodat. Hal itu misalnya dapat ditilik pada halaman 5 sebagaimana uraian gambar berikut:

  1. Gambar kedua dari kanan, teksnya bertuliskan طَالِبَة   [thôlibah] yang bermakna mahasiswi, tetapi photo yang ditampilkan menggambarkan seorang perempuan berjilbab menghadap ke samping, tidak kelihatan wajahnya dan membawa buku. Photo seperti ini bisa memunculkan salah persepsi, misalnya ibu guru karena berdasar prinsip kedekatan photo tersebut masih berhubungan dengan photo sebelah kanan (no 1 dari kanan) yang menggambarkan tentang مُدَرِّس [mudarris], Bapak guru. Mestinya photo yang disertakan mengambarkan perempuan muda, jelas wajahnya, berpenampilan pelajar dan boleh disertai dengan background kampus salah satu universitas terkenal yang ada papan namanya.

  2. Empat gambar pada lajur kedua, teksnya bertuliskan أَخ  [`akh] berarti saudara laki-laki; أُخْت [`ukht], saudara perempuan; صَديْق [shodîq], sahabat laki-laki; dan صَدِيْقَة [shodîqoh], sahabat perempuan. Namun photo-photo yang ditampilkan semuanya bermasalah. Yang perempuan keduanya tidak tampak wajahnya, sedang yang lelaki, parasnya terlihat tetapi tidak menggambarkan apapun karena backgroundnya tidak memberikan petunjuk yang terperinci. Tentunya potret seperti ini  dapat memunculkan persepsi yang meleset dari makna aslinya. Photo-photo dengan desain sama banyak tersebar di buku ini, di antaranya pada halaman 26 (pembelajaran mufrodat) yang menggambarkan tentang anggota keluarga.

  3. Pada deretan gambar di atas, teksnya bertuliskan: وَالِدٌ [wâlid], ayah; وَالِدَة [wâlidah], ibu; جَدّ  [jadd], kakek; جَدَّة [jaddah], nenek; اِبْن [ibn], anak lelaki; اِبْنة [ibnah], anak perempuan; عَمّ  [‘amm], paman; عَمَّة [‘ammah], bibi; dan أَولاَد  [awlâd], anak-anak.  Namun bila diperhatikan semuanya bisa mengundang salah persepsi yang menyebabkan pemaknaan yang tidak tepat seperti diinginkan teks. Untuk photo perempuan, semuanya tidak kelihatan wajahnya. Apakah mereka berparas remaja, ibu-ibu, atau nenek-nenek tidak jelas. Tentu yang demikian akan merepotkan  pebelajar untuk  bisa membedakan ini ibu, bibi atau nenek dari photo-photo tersebut. Selain itu photo bapak, anak dan paman tidak kentara perbedaannya, karena semuanya terkesan berparas muda semua layaknya kakak-beradik. Akan lebih efektif pesan yang disampaikan bila perancang dalam mendesainnya dengan menggunakan gambar pohon silsilah dimana pada akar ada photo kakek dan nenek yang representatif. Di atasnya ada photo bapak, ibu yang representatif. Di sampinya dengan garis sejajar photo ibu/bapak, ada photo paman dan bibi. Di bagian daun ada photo anak lelaki dan perempuan yang representatif. Atau bisa juga mendesainnya dengan sistem garis hirarkhi yang representatif. Dengan demikian, pebelajar akan dimudahkan dalam memahami pesan mufrodat yang disampaikan.

PENUTUP

Demikianlah, analisis desain pesan buku al-Arabiyah baina Yadaik ini. Banyak kelebihan yang dimiliki oleh buku ini. Terutama pada isi pesan yang disampaikan, dimana topik bahasannya bersifat universal, familiar dan berkenaan langsung dengan kebutuhan hidup pebelajar. Buku ini juga mempertimbangkan seluruh kompetensi (kifâyah) dan unsur berbahasa. Selain itu, tampilan gambar/photo fullcolor juga telah menyertai setiap teksnya.

Masalahnya, buku ajar ini terasa masih miskin dalam memanipulasi photo dan tataletaknya. Photo/gambar hanya diletakkan secara berjajar begitu saja dan banyak photonya yang dapat menyebabkan salah persepsi dalam menangkap pesan yang diinginkan. Wa Allahu a’lam![]

DAFTAR PUSTAKA

Fleming, Malcolm  & W. Howard Levie. 1981. Instructional Message Design: Principles from the Behavioral Sciences. New Jersey: Educational Technology Publications.

Al-Fauzan, Abdurrahman bin Ibrahim, Mukhtar ath-Thohir Husein & Muhammad Abdul Kholiq Muhammad Fadl. 1422H/2001M. Al-‘Arobiyah baina yadaik: Silsilatun fî ta’lîm al-lughoh al-‘arobiyyah li ghoir an-nâthiqîn biha. Riyadh: Mu`assasah al-Waqf al-Islami Riyadh.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Comments
  1. Chong Vause says:

    Hi, Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.

  2. website and css3 code generator for free

  3. courier insurance quotes

  4. kiky says:

    walah pak sekjen keren euy

  5. benramt says:

    maaf ust. saya belum tahu cara mengaktifkan table transliterasi dari internet (saya juga baru dengar dari antum kalau itu bisa diaktifkan). selama ini saya pakai program word, di bagian symbol dengan ngetik satu-persatu secara manual…

  6. syarifuddin says:

    Assalamu alaikum ustadz.

    Dengan senang selalu referensi yang dapat kita baca, untuk menambah informasi dan pengetahuan tentang bagaimana membaca dan menulis al-qur’an atau bahasa arab.
    satu pertanyaan yang saya lontarkan melalui blog ini yaitu Bagaimana memuncul atau mengaktifkan transliterasi dalam bentuk table (di internet)???
    Yang paling mendasar untuk saya dapatkan adalah transliterasi lengkap dengan tanda harakat termasuk mad 5-6 karakat.

    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s