KETIKA NUGRAHA TIDAK MAU BEKERJASAMA

Posted: January 14, 2010 in publikasi ilmiah

Makalah, oleh Saiful Amien

Undzur ma qala wala tandzur man qala (elMahfudzat)[1]

Focus on the problem, not the person (Susan & Tim Hill)

Prolog

Republika, Minggu 24 Mei 2008 menulis:

Fikri merasa amat senang ikut belajar berkelompok. Belajar bersama teman-teman, ia rasakan seakan lepas dari kekakuan. Tak ada perasaan yang menuntut ia mesti duduk manis di dalam kelas, mendengarkan penjelasan guru. Tak ada aturan yang tegas untuk menerima pelajaran. Semua saling memberi dan menerima. Kebersamaan baginya amat membantu pemahamannya terhadap pelajaran. “Pokoknya senang, deh,” ucap siswa kelas V salah satu SD di bilangan Pondok Aren, Tangerang itu.

Fikri berbeda dengan Nugroho. Siswa kelas II SMP Negeri di Jakarta ini mengakui tidak bisa menikmati belajar bersama teman-temannya baik di dalam maupun di luar kelas. Belajar berkelompok ia rasakan bagai siksaan. Siswa pendiam ini benar-benar tidak menikmati suasana belajar yang biasa diwarnai dengan keramaian, kegembiraan bahkan terkadang senda gurau itu. “Mendingan belajar sendiri. Tidak bergantung pada orang lain!” ucapnya[2].

Di dalam ruang pembelajaran ada banyak siswa seperti Fikri, namun tidak jarang kita juga menemukan ada siswa seperti Nugraha yang tidak mau bergabung dalam suatu kelompok untuk belajar bersama atau hanya sekadar mengerjakan tugas. Ia lebih senang bekerja sendiri, atau mungkin bergabung dalam suatu kelompok dengan terpaksa dan karenanya ia lebih banyak menjadi troblemaker yang “mengganggu” kegiatan kelompok. Banyak teman sekelasnya yang tidak berharap sekelompok dengan pebelajar seperti ini. Akibatnya, ia tidak bisa memperoleh proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan keterampilan kooperatifnya.

Tulisan ini berupaya membedah topik kedelapan dari buku Susan Hill & Tim Hill, The Collaborative Classroom:  a Guide to Co-operative Learning. Topik ini mengkaji tentang kasus siswa seperti Nugraha, yang memiliki kesulitan-kerjasama dalam kelompok. Apa dan bagaimana seharusnya kita, sebagai fasilitator pembelajaran, merekayasa strategi dan prosedur yang memperlakukannya secara adil dalam kelas kolaboratif[3].

Siswa berkesulitan Kerja dalam kelompok

Kebanyakan kita mudah mengenali anak-anak seperti Nugraha. Mereka biasanya “terkenal”, setidaknya menjadi bahan rasan-rasan di antara teman-temannya (bukankah sesuatu yang berbeda, lain daripada yang lain, itu amat mudah jadi bahan perbincangan?). Satu strategi agar anak seperti ini bisa bekerja di antara teman-temannya adalah menyediakan satu program individualisasi (penyendirian) secara total. Dengan begitu, kelompok bisa melanjutkan kerjanya secara produktif, sedangkan siswa ala Nugraha yang memiliki kesulitan kerja dalam kelompok –paling tidak- dapat menghasilkan sesuatu dari kerja pribadinya. Inilah strategi pembelajaran yang bisa mengurangi “gangguan” terhadap kelas kolaboratif.

Menurut Hill, ketika anak seperti Nugraha disendirikan untuk mengerjakan tugasnya, dalam jangka panjang strategi pembelajaran ini akan menjadi semacam “penaklukan diri” (self-defeating).  Ini akan membuatnya melihat kembali siapa dirinya dan juga teman-teman kelasnya. Ini juga menghentakkan kesadarannya tentang pengalaman sebaya yang mana ia juga membutuhkannya. Sejak keterampilan-keterampilan sosial diperkenalkan kepadanya, sebenarnya perilaku anak ini menunjukkan bahwa dia membutuhkan lebih banyak praktek kerja-koperatif dengan teman sebayanya.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak seperti Nugraha sangat  mungkin menderita karena merasa kesepian. Penelitian itu juga menyatakan bahwa kurangnya kemampuan bersosial pada anak usia 7 tahun, kemungkinan terburuknya, ia akan berkembang menjadi anak yang nakal atu remaja putus sekolah (Hill, 1999; Burton 1987).

Ada beberapa alasan tentang hakikat jangka panjang dari permasalahan ini:

  1. Anak-anak yang kurang terampil secara sosial, pada umumnya, memiliki kesempatan yang teramat sedikit untuk mempelajari pelbagai keterampilan sosial tersebut. Mereka cenderung bekerja sendiri dalam ruang kelas dan tidak banyak mengambil peluang untuk berinteraksi sosial dengan teman-teman sebayanya.

  2. Bahkan ketika prilaku mereka berubah, reputasi atau sikap yang dikembangkan oleh masyarakat sering membuat penerimaan sosial  dengan teman sebaya itu sulit.

  3. Pengalaman tentang pengucilan dan penolakan sosial berperan penting dalam mengembangkan gambaran diri yang negatif.

Perasaan rendah diri atau gambaran diri yang negatif dapat menjadi faktor terpenting yang membuat perubahan ini begitu sulit. Anak-anak memang belajar menentukan tingkat penerimaan sosial dirinya yang rendah dengan mengalir begitu saja, sehingga mereka seringkali terjebak dalam suatu lingkaran kehidupan yang minim pengalaman, miskin reputasi dan rendah konsep diri. Agar kita tidak semakin memperburuk keadaan mereka, kita dapat melakukan tiga cara berikut:

Pengalaman:

Berikan anak-anak berbagai pengalaman sosial yang positif bersama teman-teman sebaya. Anak-anak ini membutuhkan kesempatan belajar keterampilan sosial lebih banyak daripada yang lain.

Reputasi :

Kedepankan suatu kelas yang kohesif (padu/bersatu) dengan pelbagai sikap positif dari yang lain.

Penerimaan diri:

Berikan pelbagai pengalaman yang mendorong dan meningkatkan penerimaan diri yang positif.

Pada umumnya strategi mengajar keterampilan sosial untuk anak seperti Nugraha tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia perlu disadarkan akan apa yang dibutuhkannya seperti keterampilan sosial, praktik dan juga umpan balik. Bagaimanapun juga, kita perlu memperhatikan hal berikut:

  1. Pengalaman anak-anak itu diorganisasikan, karenanya mereka tidak boleh merasa terancam atau terlalu banyak tuntutan. Anak-anak ada baiknya mendapatkan pengalaman sukses.

  2. Tanggung jawab untuk berpartisipasi sebagian terletak pada individu dan sebagian pada kelompok. Ini penting bahwa kelompok mengambil tanggung jawab terhadap seluruh anggota atas apa yang seharusnya dilakukan.

  3. Anak tidaklah selalu ada dalam kelompok aktivitas yang sama. Akan lebih baik kalau sekiranya anak-anak senantiasa berpindah kelompok. Anak yang kurang adaptasi sosial ditempatkan pada kelompok yang berisi anak-anak kurang keterampilan sosialnya.

Kesuksesan guru dalam mencapai hal-hal di atas amat bergantung pada kekohesifan dan suasana kelas. Kekohesifan mempengaruhi secara langsung pada kecenderungan anak-anak untuk mau berkerja secara kooperatif.

Beberapa Strategi:

  1. Bangunlah kelas kohesif yang mendorong tumbuhnya rasa percaya dan rasa memiliki pada suatu kelompok.

  2. Miliki suatu kelas besar yang mendiskusikan tentang toleransi. Setiap orang di dalam kelas dapat mencoba untuk menyebutkan sesuatu tentang diri mereka yang sulit dimaklumi. Ini menampilkan secara sosial pada anak-anak yang terisolasi bahwa permasalahan prilaku tidak hanya mereka yang memiliki.

  3. Keterampilan berempati terhadap yang lain sebaiknya didiskusikan dalam kelompok ini. Anak-anak diminta untuk melakukan brainstorming tentang pelbagai tindakan spesifik yang dapat mereka kerjakan atau ucapkan untuk berempati kepada yang lain.

  4. Gunakan cerita untuk mendemonstrasikan bagaimana kerjasama itu merupakan prilaku yang utama/esensial jika setiap orang mampu hidup bersama dalam keluarga dan bekerja bersama di sekolah.

  5. Gunakan pelbagai permainan kooperatif untuk menyediakan suatu konteks yang nir-ancaman  di mana ketrampilan sosial dapat dipraktikkan oleh keseluruhan kelas. Di sana ada beberapa permainan yang secara spesifik fokus pada keterampilan berempati kepada yang lain.

  6. Anak-anak yang membutuhkan manfaat dari praktik keterampilan sosial usahakan kerja berpasangan atau bertiga. Anak-anak seperti Nugraha upayakan untuk berpasangan (sekelompok) dengan anak-anak yang secara sosial mampu memberikan suatu model yang baik.

  7. Bermain peran sebagai pengamat dalam suatu kegiatan kelompok kooperatif memberikan seorang anak suatu kesempatan untuk mengamati yang lain tanpa banyak menuntut partisipasi aktif. Mengamati perilaku sosial yang positif dari yang lain dan kemudian memberikan umpan balik adalah suatu pengalaman belajar yang penting.

  8. Kegiatan bermain peran bisa banyak bermanfaat. Kunci untuk memaksimalkan efektifitas permainan peran ini adalah dengan mendiskusikannya kemudian.  Setelah anak-anak mempraktikkan tema tertentu, mereka kemudian sebaiknya mendiskusikan dengan pertanyaan seperti, “apa yang akan kau lakukan dalam situasi ini jika itu kau?” atau bagaimana respon ayahmu jika kau….?

Bermain peran dapat termasuk situasi seperti ini:

  • Menjadi orang baru dalam kelompok

  • Menjadi orang yang diolok-olok

  • Menjadi orang yang ditolak

  • Setiap orang  berbicara satu kali dan tidak didengar

  • Menjadi seorang guru dengan kelas yang tidak mau mendengar

  • Melukai perasaan seseorang

  • Membuat seseorang bahagia

  • Berkomunikasi dengan seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris

  1. Diskusikan masalah perilaku di dalam kelas.

Epilog

Demikianlah, bertindak adil pada setiap tipe pembelajar memang merupakan tantangan tersendiri bagi guru kelas kolaboratif. Membiarkan siswa yang memiliki kesulitan kerja bersama kelompok untuk menyelesaikan tugasnya sendirian seakan terkesan adil. Selain memberikan kesempatan kerja sesuai tipenya juga merupakan cara yang aman untuk menyingkirkan “gangguan” terhadap kerja kelompok kelas kolaboratif. Namun, sejatinya justru cara demikian membuat siswa seperti ini tidak mampu mengembangkan pelbagai keterampilan sosialnya, padahal kesuksesan hidup manusia di antaranya teramat membutukan kecerdasan sosial ini. Karenanya strategi dan prosedur pembelajaran kolaboratif mesti terus dikembangkan terutama untuk menyeleseikan kasus seperti ini. Mari kita diskusikan lebih lanjut![]

Referensi:

Hill, Susan & Tim Hill. 1993. The Collaborative Classroom: a Guide to Co-operative Learning. Eleanor Curtain Publishing, Australia

http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=UANXCFpXXAYB, diakses 3 April 2009


[1]Perhatikan apa yang dikatakan, dan jangan bias pada siapa yang mengatakan”. Ujaran yang memuat ajaran tentang akhlaq, biasa disampaikan di pesantren-pesantren untuk dihafal (mahfudzat) dan diamalkan oleh para santri. Ada yang menyebut ujaran ini dari Imam Ali bin abi Thalib karramallah wajhah.

[2] Disadur dari http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=UANXCFpXXAYB, diakses 3 April 2009 dengan sedikit perubahan redaksi.

[3] Susan Hill & Tim Hill. 1993. The Collaborative Classroom: a Guide to Co-operative Learning. Eleanor Curtain Publishing, Australia. Halaman 96-99.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s