EMPAT ALTERNATIF PEMBELAJARAN: KOOPERATIF, DISKOVERI, KONSTRUKTIVIS & LANGSUNG [Resume Chapter 8 buku The Act of Teaching, Donald R. Cruickshank dkk.]

Posted: January 4, 2010 in publikasi ilmiah

Makalah, oleh Saiful Amien

PENDAHULUAN

Tulisan ini akan mereview chapter 8, buku The Act of Teaching karya Donald R. Cruickshank dkk. (halaman 237-277), yang membahas tentang empat alternatif model pembelajaran, yakni kooperatif, diskoveri, konstruktivis, dan langsung.

I. PEMBELAJARAN KOOPERATIF: Membelajarkan Peserta Didik untuk Menyayangi dan Berimpati Kepada Sesamanya

Pembelajaran kooperatif, atau secara formal disebut student-team learning, adalah istilah untuk mendeskripsikan prosedur pembelajaran yang menfasilitasi para peserta didik agar bekerjasama di dalam kelompok-kelompok kecil, biasanya terdiri dari 4 sampai 6 pebelajar, dan di sini setiap prestasi kolektif mereka dihargai.

Tujuan pembelajaran ini secara umum tidak jauh berbeda dengan model pembelajaran yang lain, yaitu mendorong peserta didik agar belajar. Cuman bedanya, model ini mendorong mereka agar bekerjasama untuk kebaikan kelompok dan pribadi sekaligus.

Sedangkan karakteristik atau atribut dari sistem pembelajaran kooperatif adalah:

  1. Cara pembentukan kelompok. Di sini kelompok atau tim harus bersifat heterogen dari sisi gender, kemampuan akademis, ras, dan ciri lainnya. Ada beberapa alasan pentingnya keberagaman ini. Pertama, pembelajaran kooperatif dilandasi oleh madzhab pemikiran humanistik yang amat memperhatikan pentingnya perkembangan personal dan sosial. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk menjadikan peserta didik merasa lebih baik tentang dirinya dan lebih menerima terhadap yang lain. Kelompok campuran menawarkan instrumen utama untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, agar setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, karena “talenta” telah didistribusikan di setiap kelompok secara merata. Dan terakhir, heteroginitas itu “mendidik”, karena peserta didik yang berkemampuan lebih rendah terdorong untuk lebih meningkatkan prestasinya di dalam kelompok campuran daripada di dalam kelompok homogen (Fashella & Slavin, 1997; Hoffer, 1992; Slavin, 1995)

  2. Jenis tugas yang peserta didik kerjakan. Kebanyakan tugas yang diminta pada setiap kelompok adalah menguasai materi yang telah dipresentasikan oleh pembelajar sebelumnya, atau meminta tim untuk mengerjakan satu proyek tertentu.

  3. Aturan main dalam kelompok. Seperti tanggungjawab individu anggota terhadap diri dan kelompok, saling mendukung, saling membantu dan saling berkolaborasi antar anggota kelompok.

  4. Sistem pemberian motivasi dan penghargaan. Keunikan sistem ini tercermin pada penilaian yang tidak bertumpu pada kerja individu, tetapi lebih pada kerja bersama.

Ada beberapa varian metode pembelajaran kooperatif yang populer, di antaranya adalah:

1. Student Teams – Achievement Division (STAD)

STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Model ini terdiri atas lima komponen/prosedur utama: (1) presentasi kelas oleh pembelajar, (2) belajar dalam tim, (3) kuis individual, (4) menentukan skor tim, dan (5) rekognisi tim.

2. Team, Games, Tournamen (TGT)

Secara umum TGT sama saja dengan STAD, kecuali satu hal: TGT menggunakan turnamen akademik, kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara. TGT amat sering dikombinasikan penggunaannya dengan STAD dengan menambahkan turnamen tertentu pada struktur STAD yang biasanya.

Model TGT terdiri atas lima komponen juga: (1) presentasi kelas, (2) belajar dalam tim, (3) kompetisi tim vs tim, (4) menentukan score tim, dan (5) rekognisi tim.

3. Team-Assisted Individualization & Team-Accelerated Instruction (TAI)

TAI mengkombinasikan dua gagasan: pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran (drill). Komponen atau prosedurnya adalah (1) tes kecakapan peserta didik untuk penempatan tim; (2) belajar individual di bawah dampingan tim; (3) kuis individual; (4) mengukur score tim; (5) rekognisi tim.face to face

4. Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif di mana siswa ditempatkan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan enam orang untuk mengerjakan bahan akademis yang telah dipecah menjadi beberapa bagian untuk masing-masing anggota.

Komponen atau prosedurnya: (1) kerja individual (membaca topik yang ditentukan) dalam kelompok utama; (2) diskusi dalam kelompok ahli; (3) laporan tim: presentasi dalam kelompok utama; (4) kuis individual ; (5) mengukur skor tim; dan (6) rekognisi tim.

5. Cooperative Integarated Reading and Composition (CIRC)

Program komprehensif untuk mengajar membaca dan menulis di kelas-kelas atas Sekolah Dasar; peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil.

Unsur utama CIRC adalah: (1) kerja berpasangan; (2) tim; (3) kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita; (4) kuis individual; (5) mengukur skor tim; dan (6) rekognisi tim.

Prosedur pembelajaran kooperatif menuntut kerja maksimal pembelajar: bertanggungjawab atas presentasi informasi, membentuk tim yang tepat dan menentukan tugas-tugas mandiri mereka, menetapkan kerjasama kelompok, monitoring kemajuan individual dan kelompok, memberikan penghargaan dan sebagainya. Semua itu membutuhkan pembelajar yang memiliki keterampilan organisasional dalam merencanakan, memonitor, menfasilitasi dan menjembatani kerja pelbagai kelompok yang berbeda-beda.

Kapan sebaiknya pembelajaran kooperatif digunakan? Tidak ada yang salah jika model pembelajaran ini sering dimanfaatkan, cuman tidak selamanya. Pertama, karena variasi dalam pembelajaran sangat diperlukan. Peserta didik memang terlihat tidak merasa letih, namun kemungkinan terjatuh dalam kebosanan bisa saja terjadi. Kedua, keberbedaan ragam tujuan pendidikan menuntut digunakannya alternatif pembelajaran yang bervariasi. Stallings dan Stipek (1986) misalnya, menunjukkan bahwa TGT kurang cocok dimanfaatkan untuk pembelajaran ilmu sosial.

Pembelajaran kooperatif yang berhasil bergantung pada beberapa kondisi. Pertama, antar anggota tim tidak hanya sekadar berbagi jawaban, namun yang lebih penting dari itu adalah saling menjelaskan bagaimana jawaban itu diambil dan mengapa jawaban itu dikatagorikan shahih.

Kedua, setiap anggota mesti bertanggungjawab kepada tim.

Ketiga, agar pembelajaran kooperatif berhasil, setiap anggota tim harus berkomitemen pada tugas, karena waktu mengerjakannya amat terkait dengan kesadaran belajar mereka. Di sinilah dibutuhkan monitoring rutin pembelajar terhadap kerja individual maupun kelompok selama pembelajaran kooperatif berlangsung.

Keempat, pada setiap kelompok, anggota-anggotanya mesti selalu bersama dan akur antar mereka.

Terakhir, perencanaan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk saling memberi dan menerima asistensi mampu meningkatkan ketergantungan sesama mereka.

II. PEMBELAJARAN DISKOVERI: Membelajarkan untuk Mencari Jawaban Sendiri

Pembelajaran Diskoveri atau Inquiri adalah pebelajaran yang menfasilitasi para peserta didik untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri. Di sini guru berupaya memotivasi mereka untuk memiliki pengalaman dengan melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan sendiri jawaban tersebut. Tentang ini Bruner (1966) mengatakan:

“kita mengajarkan satu bidangstudi tidak untuk menghasilkan pelbagai perpustakaan kecil nan hidup tentang bidangstudi tersebut, tetapi lebih untuk menjadikan peserta didik itu mampu berpikir… bagi dirinya sendiri agar dapat memper-timbangkan layaknya seorang sejarawan, menjadi bagian dari proses membangun pengetahuan. Mengetahui itu proses, bukan produk”

Model Pembelajaran ini digunakan biasanya untuk mencapai tiga tujuan pendidikan, yaitu: (1) Agar pebelajar mengerti bagaimana berpikir dan menemukan jawaban untuk dirinya sendiri; (2) agar pebelajar mengetahui bagaimana pengetahuan itu diformulasikan; dan (3) agar pebelajar terbiasa menggunakan pelbagai keterampilan berpikir tingkat tertinggi (highest-order thinking skills) mereka.

Tujuan-tujuan di atas dapat dicapai dengan beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pembelajaran ini: (1) peran pembelajar bukan sebagai pentransfer pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik untuk menemukan sendiri pengetahuan; (2) pembelajar menghargai eksplorasi dan pemikiran independen; (3) kesediaan para peserta didik menerima tantangan untuk menemukan jawaban sendiri. Ada perasaan diberdayakan; (4) tingginya partisipasi dan interaksi peserta didik; dan (5) para pebelajar mengoperasikan keterampilan berpikir tingkat tertinggi, seperti menganalisis, mesintesis, dan mengevaluasi.

Agar pelbagai tujuan di atas dapat dicapai, maka pembelajaran ini menuntut pendidik sebagai fasilitator yang baik. Untuk itu dibutuhkan beberapa kualitas tertentu, seperti kenikmatan menemukan sendiri. Di sini pembelajar mesti memiliki rasa keingintahuan yang alamiah dan ketertarikan yang kuat terhadap penemuan kebenaran melalui pendekatan “intelektual” yang empiris, kritis, dan rasional.

Terkait dengan itu, pembelajar mesti yakin bahwa peserta didiknya juga bisa memiliki rasa ingin tahu. Lebih dari itu, pembelajar mesti mampu mengasuh, padatpikiran, sabar, menerima pelbagai gagasan peserta didik, dan reflektif.

Metode Pembelajaran diskoveri sebaiknya dimanfaatkan jika tujuan utama instruksionalnya seperti berikut ini: (1) agar peserta didik berpikir sendiri; (2) membantu mereka menyingkap bagaimana pengetahuan dibangun; (3) meningkatkan keteramilan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, pembelajaran ini sebaiknya digunakan jika dirasa bisa memenuhi kebutuhan personal dan edukasional pembelajar-pebelajar; juga bila pembelajar telah mampu mengembangkan kualitas dirinya sebagai seorang fasilitator yang baik.

Ada beberapa kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran ini. Yang paling utama adalah bahwa seringkali tidak semua peserta didik bisa menerima kelas diskoveri. Mereka kebanyakan tidak bisa diharapkan untuk menemukan elemen-elemen kimia misalnya, atau menemukan pokok-pokok pikiran penulis populer. Hal ini bisa jadi karena domain pengetahuan yang mereka cari masih terlalu komplek buat pikiran sederhana mereka. Dan terkadang, ketika kemampun mereka memadai, waktu dan sumbernya yang tidak mendukung untuk kerja investigasi.

Kekurangan kedua ialah seringkali pembelajar tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk memprktikkan pendekatan ini, demikian pula peserta didiknya.

Dan yang terkhir, pembelajaran diskoveri tidak menutup kemungkinan peserta didik terjatuh dalam kesalahan dan pemborosan waktu. Karenanya, pembelajaran diskoveri-terbimbing (guided discovery learning) lebih dianjurkan daripada diskoveri-murni (pure discovery learning). Pada diskoveri-terbimbing pembelajar dapat berperan lebih aktif: memberi petunjuk, membuat struktur (porsi) aktivitas, hingga menyediakan garis besar (outlines) pikiran.

III. PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS: Memaksimalkan Pemahaman Pebelajar

Konstruktivisme adalah cara belajar dan pembelajaran yang fokus pada upaya memaksimalkan pemahaman peserta didik. Seperti pembelajaran diskaveri, model pembelajaran ini dikondisikan dengan meaningful learning (pembelajran bermakna) dari madzhab pemikiran kognitif.  Di sini Konstruktivisme diartikan sebagai pembelajaran yang menekankan pada (1) peran aktif pebelajar dalam membangun pemahaman dan memupuk kepekaan terhadap informasi (woolfolk, 2003); (2) upaya pebelajar dalam mengkonstruk pengetahuan untuk memupuk kepekaan terhadap lingkungan (McCown, Driscoll & Roop, 1995), dan (3) belajar akan terjadi ketika para peserta didik secara aktif-kolaboratif merencanakan situasi yang mencakup upaya menformulasi pertanyaan, menjelaskan fenomena, menandai isu-isu kompleks, atau menyelesaikan masalah (Gagnon & Collay, 2001).

Tujuan pembelajaran konstruktivis adalah memberdayakan peserta didik untuk memperoleh informasi dengan jalan yang membuat informasih tersebut lebih siap dipahami dan siap pakai.

Untuk itu diperlukan beberapa karakteristik berikut: (1) pembelajaran aktif; (2) pembelajaran autentik dan situasional; (3) aktivitas belajar menarik dan menantang; (4) bridging. Yakni pebelajar mesti menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan/ pengalaman yang telah dimiliki; (5) pebelajar mesti merefleksikan apa yang sedang dipelajari; (6) belajar mengambil tempat terbaik di dalam pelbagai komunitas pebelajar; (7) pembelajar tidak memberi pengeta-huan tetapi menfasilitasi pemerolehannya oleh pebelajar; (8) scaffolding, di mana pembelajar menyediakan asistensi yang mungkin dibutuhkan oleh peserta didik untuk maju.

Agar pembelajaran model ini berhasil, maka pembelajar mesti berperan sebagai fasilitator yang baik. Yaitu dia yang yakin benar akan tujuan pembelajaran konstruktivis; menginginkan pebelajarlah yang melukis sendiri konklusinya dan menformat sendiri opininya; memiliki apresiasi yang tinggi terhadap prinsip-prinsip konstruktivis seperti pembelajaran aktif, pembelajaran nyata, pembelajaran kelompok dan refleksi; siap selalu membantu pemahaman semua peserta didik dengan motivasi, support dan scaffolding yang dibutuhkan.

Yang jelas, kapanpun pembelajar ingin memastikan bahwa para peserta didiknya bisa memahami sesuatu dengan baik dan mampu merecall pemahaman itu saat dibutuhkan, maka dimungkinkan bagi pembelajar untuk memanfaatkan pendekatan konstruktivis ini.

IV. PEMBELAJARAN LANGSUNG: Mengajar dengan Cara yang lebih Efisien

Pembelajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu variasi dari alternatif metode pembelajaran yang didominasi oleh guru (a teacher-dominated instructional alternative) seperti metode presentasi. Bedanya, pembelajaran ini amat berkaitan dengan apa yang diketahui tentang pengajaran efektif dan bagaimana peserta didik belajar.

Tujuan pemanfaatan jenis pembelajaran ini adalah untuk membantu peserta didik belajar seefektif dan seefisien mungkin. Di sini ada dua aliran pemikiran tentang bagaimana menggunakannya. Aliran pertama mengarahkan bahwa cara yang terbaik adalah dengan mengamati prilaku para pembelajar efektif lalu peserta didik menirukannya. Ini disebut model “the master imitation”. Aliran kedua merasa bahwa lebih baik mengkaji apa yang diketahui tentang bagaimana peserta didik belajar, lalu pengetahuan itu diaplikasikan saat mengajar.

Aliran pertama disebut research-based school (aliran berbasis riset) dan yang kedua disebut learning theory-based school (aliran berbasis teori belajar). Kedua jenis direct learning tersebut sama-sama penting dan keduanya mewariskan model pebelajaran yang bermanfaat. Yang pertama memunculkan di antaranya Model Praktik Dasar (Basic Practice Model), Pembelajaran Eksplisit (Explicit Teaching), dan Pembelajaran Aktif (Active Teaching). Sedangkan yang belakangan memunculkan di antaranya Program Pembelajaran Tuntas (Mastery Teaching Program) dan Sistem Pembelajar Langsung untuk Mengajar dan Belajar (Direct Instructional System for Teaching and Learning [DISTAR]).

Pembelajaran Langsung Berbasis Riset (PLBR) biasanya digunakan untuk mendeskripsikan efektifitas tindakan para pembelajar dalam memandu belajar peserta didik yang bersifat teoritis.

Tujuan dari jenis pembelajaran langsung ini adalah untuk membantu peserta didik mempelajari materi teoritis dasar seperti pelajaran membaca, matematika dan sebagainya dengan cara yang langsung dan lebih efisien.

Karakteristik pembelajaran ini ada enam elemen, yaitu: (1) berpusat pada pembelajar (teacher centrality). Di sini pembelajar memberikan arahan dan kontrol yang kuat; (2) berorientasi pada tugas yang bersifat teoritis; (3) berpengharapan positif. Maksudnya konsen pada prestasi dan memiliki harapan yang tinggi bahwa peserta didik bisa/akan belajar dengan baik; (4) kerjasama dan tanggungjawab antar peserta didik di sini amat diperluka; (5) tidak berdampak negatif, maksudnya para peserta didik dikondisikan untuk mendapatkan rasa aman secara pskilogis; dan (6) berstruktur tetap, maksudnya semua prilaku peserta didik terkontrol dengan baik.

Ada beberapa varian PLBR, yaitu:

  1. Model Praktik Dasar (Basic Practice Model). Langkah-langkah pembelajarannya adalah: (a) memperkenalkan/ membuka pelajaran; (b) mengembangkan pelajaran; (c) mengawasi praktik; (d) memberikan umpan-balik dan perbaikan; dan (e) memberikan tugas/praktik mandiri.

  2. Pembelajaran Eksplisit (Explicit Teaching). Langkah-langkah pembelajarannya adalah: (a) mereview tugas sebelumnya atau memeriksa pekerjaan rumah; (b) memperkenalkan pelajaran; (c) mengembangkan pelajaran; (d) memeriksa pemahaman; (e) mengawasi praktik; (f) memberikan umpan-balik dan perbaikan; dan (g) memberikan praktik/tugas mandiri.

  3. Pembelajaran Aktif (Active Teaching). Langkah-langkahnya adalah: (a) membuka pelajaran; (b) mereview dan memeriksa pekerjaan rumah; (c) mengembangkan pelajaran; (d) memeriksa pemahaman peserta didik; (e) memberikan tugas mandiri di dalam kelas, dan (f) melakukan review.

Tujuan dan karakteristik jenis kedua dari Pembelajaran Langsung ini tidak berbeda dengan jenis yang pertama.

Ada dua varian yang dianggap paling baik untuk PLBTB ini, yaitu:

  1. Program Pembelajaran Tuntas (Mastery Teaching Program). Langkah-langkah pembelajarannya adalah: (a) memberikan peserta didik tatanan bagaimana belajar, (b) memberi masukan (input) dan pemodelan; (c) memeriksa pemahaman, (d) memberikan praktik terbimbing.

  2. Sistem Pembelajaran Langsung untuk Mengajar dan Belajar (Direct Instructional System for Teaching and Learning [DISTAR]). Sistem ini dikatakan sebagai bentuk pembelajaran langsung yang paling manjur sekaligus kontroversial. Disebut manjur karena berlansung secara baik dengan melibatkan peserta didik, dan kontroversial karena di sini guru mesti mengikuti setiap rencana pembelajaran yang tertulis secara ketat.

Untuk mampu melaksanakan pembelajaran langsung, utamanya jenis PLBR, pembelajar mesti mampu memastikan dirinya sebagai pemimpin yang efektif. Karakteristiknya adalah: antusias, ramah, humoris, suportif, motivator, praktis/lugas/cekatan, berwawasan luas, dan memiliki harapan tinggi bahwa peserta didiknya akan sukses.

Menurut Peterson (1979), pembelajaran langsung tepat digunakan ketika tujuan pembelajarannya adalah untuk meningkatkan prestasi peserta didik pada keterampilan-keterampilan dasar yang dapat diukur melalui tes.

Masih menurut Peterson, pebelajaran langsung juga efektif digunakan untuk mengajar anak-anak dan peserta didik yang berkemampuan rendah.

Kritik yang sering dialamatkan terutama pada PLBR, di antaranya adalah: [a] kurang menghargai otonomi peserta didik (slavin, 1991); [b] struktur yang ketat di dalam PLBR dimungkinkan akan “mencekik” (kebebasan, pen.) anak-anak (Gersten & Keating, 1987); [c] pendekatan ini tidak meningkatkan prestasi peserta didik dalam kreativitas, berpikir abstrak, problem-solving atau keterampilan kognitif-tingkat tinggi (Peterson, 1979).

SUMBER BACAAN LAIN YANG TERKAIT

Slavin, Robert E., 2006. Educational Psychology: Theory and Practice. Edisi 8. Pearson. USA.

Muijs, Daniel & David Reynolds. 2008. Effective Teaching: Teori dan Aplikasi. Terj. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.

Arends, Richard I. 2004. Learning to Teach. Edisi 6. Mc Graw Hill. New York.

“Teaching Methods Direct Instruction” dalam http://www.usask.ca/education/coursework/mcvittiej/methods/direct.html. Diakses tanggal 15 November 2009.

Martella, Nancy E. Marchand, Ronald C. Martella & Kristy Ausdemore. “An Overview of Direct Instruction” dalam http://www.newhorizons.org/spneeds/inclusion/teaching/marchand martella ausdemore.htm. Diakses tanggal 15 November 2009.

Comments
  1. get help with writing your essay

  2. serotonin and premature ejaculation from physiology to patient management

  3. Hugo Seise says:

    I am always fascinated with psychology that is why i took a Bachelors Degree on psychology. ^

    <a href="Remember to take a peek at our very own internet site
    http://www.caramoantourpackage.com/caramoan-beach-resort

  4. muhajier says:

    thanks pak sngt bermanfaat

  5. junaidi says:

    Assalamu alaikum
    pa saya punya buku terkait dengan pembahasan di atas “Teori Belajar dan Pembelajaran”
    Drs. H. Baharuddin, M. Pd. I
    Esa Nur Wahyuni, M. Pd.
    penerbit AR-RUZ

  6. benramt says:

    @dian&syinnah: tulisan ini hanya review dari buku the art of teaching.. tentang TAI, coba Anda tanyakan ke mbah google, insyaallah banyak..

  7. dian says:

    maaf pak..boelh saya tahu..buku apa yang mengulas tentang TAI…terimakasih

  8. syinnah says:

    maaf pak, dimana ya saya bisa mencari buku tentang team assisted individualizatuion?

  9. benramt says:

    thanks balik, information for all

  10. m.faiq says:

    sangat bermanfaat. thanks.

  11. m.faiq says:

    sangat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s