KURBAN DAN PEMBEBASAN

Posted: November 27, 2009 in naskah khutbah

Khutbah Idul Adha 1430H, Saiful Amien:

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd

Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas setiap nafas yang hingga kini masih bisa kita hembuskan, atas setiap daya yang masih bisa kita gerakkan, dan atas setiap waktu yang masih bisa kita manfaatkan, sehingga kita masih bisa bersuah dengan idul adha pada tahun ini.

Shalawat dan salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan dan panutan kita,Nabi Muhammad SAW, karena atas bimbingan beliaulah kita bisa bersiteguh dalam kelezatan hidayah iman dan Islam.

Jama’ah shalat idul adha rahimakumullah..

Ada satu kisah di dalam literatur tasawuf yang hendak khatib ceritakan untuk mengawali khutbah ini.  Dikisahkan ada orang yang jauh-jauh datang ke Makkah untuk bertemu Allah di Baitullah mengikuti seruan Nabi Ibrahim. Yakni berhaji, seperti yang terjadi saat ini. Tetapi setiba di Masjidil Haram malaikat menyuruh pulang karena Tuhan tidak berkenan menemuinya. Malaikat berkata: “Tuhan tidak di sini. Kau orang kaya namun tidak pernah peduli dengan fakir miskin. Temui dan bantu orang-orang terpinggirkan itu, karena Tuhan bersama mereka. Kalau kau ke sana dan membebaskan mereka, niscaya Tuhan akan keluar dari kerumunan itu dan menyapamu”.  Mendengar nasihat malaikat, orang itu pulang. Sekalipun di kampung ia dipanggil “haji”, tetap saja ia selalu ingin kembali ke Makkah, karena merasa belum pernah menunaikan haji. Ia selalu merasa kehadiran dan do’anya belum didengar oleh Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd

Cerita di atas tentu hanya sebuah kisah yang sulit dibuktikan kebenarannya, bahkan mungkin cenderung fiktif belaka. Namun di dalamnya terdapat pesan yang mendekati kebenaran. Bila kita perhatikan, hampir seluruh ibadah ritual di dalam Islam selalu memberi pesan penguatan pada gerak kesalehan sosial. Serasa keduanya (habl min Allah dan min Nas) merupakan satu paket “perjalanan menuju Tuhan” yang tak terpisahkan. Sehingga setiap kali ibadah ritual dilaksanakan seakan tidak memberikan efek sedikitpun pada pemuasan dahaga spiritual-personal, karena belum diterjemahkan dalam amal kesalehan sosial.

Ibadah shalat umpamanya, di dalam al-Qur’an surat al-Ma’un, Allah tidak segan-segan mengancam para pelakunya dengan istilah “syahun” (yang lalai), karena mereka lebih terjebak pada formalitas simbolik tata-laku shalat (yura’un) dan melupakan hakikatnya, yaitu al-ma’un: sebuah keberpihakan dan pendampingan pada orang-orang terlantar untuk bebas dari segala penindasan sosial-ekonomi-politik dan budaya yang menjeratnya. Bahkan kata ‘iman’ di dalam al-Qur`an senantiasa disandingkan dengan ‘amal shaleh’, lagi-lagi mengajarkan kita bahwa kesalehan ritual dan sosial adalah satu kesatuan gerakan yang tidak dapat ditawar lagi, di mana cita-cita idealnya adalah terwujudnya keadilan dan kedamian di bumi ini.

Atas dasar itulah, idul adha yang kita rayakan seperti saat ini, dengan mendirikan shalat ‘id dan menyembelih hewan kurban juga harus kita maknai dalam semangat menerjemahkan kesalehan ritual-sosial yang tidak berhenti hanya pada saat pembagian daging kurban kepada faqir miskin semata, tetapi mesti diperluas radiusnya pada penguatan jiwa pengorbanan dan perlawanan terhadap setiap prilaku penindasan dan ketidakadilan sepanjang masa. Mengapa demikian?

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari,

Jama’ah shalat idul adha yang dirahmati Allah .

Untuk itu, pertama-tama marilah kita tilik dari arti bahasa yang dikandung dalam rangkaian “Idul Adha”. Al-‘iid berasal dari kata ‘aada-ya’uudu-awdatan wa’iidan yang berarti kembali. Sedangkan `adha adalah kata kerja yaitu: Adha-Yudhi-udhiyatan” yang berarti berkurban. Dengan demikian, ‘idul `adha adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh umat Islam sebagai tekad untuk kembali kepada semangat pengorbanan dengan melakukan penyembelihan hewan kurban.

‘Idul `adha seringkali juga disebut sebagai ‘idul qurban. Kata kurban yang sering kita ucapkan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurbanan, artinya kedekatan yang sangat. Kata qurbaan adalah bentuk tafdhil yang menunjukkan penguatan terhadap sifat yang dikandung kata tersebut. Dengan  demikian, qurbaan atau kurban adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi. “Kedekatan yang amat sangat” (taqarrub ‘ila Allah) inilah yang seharusnya menjadi pengharapan dan kebutuhan spirituil setiap Muslim dalam ketaatannya melakukan penyembelihan hewan kurban atau bentuk ibadah lainnya.

Artinya, secara ruhaniah kitalah yang membutukan kedekatan (qurbaan) dengan Allah. Dengan dekat kepada-Nya, maka ruh kita menjadi damai, muthmainnah, dan terobati rasa rindu kita untuk dapat bersua dengan-Nya (liqa` bi Allah). Sebagaimana Allah firmankan dalam QS.  al-Ra’d: 28.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dengan kata lain, Allah tidak membutuhkan qurbaan (kedekatan) kita. Di sini mesti kita pahami bahwa ada perbedaan konsep yang mendasar tentang kedekatan atau pengorbanan antara agama kita dengan agama-agama primitif. Pada agama-agama jenis kedua “kedekatan” para dewa seakan dibeli dengan  pengorbanan melalui berbagai macam media sesajian bahkan pada zaman dahulu dengan mengorbankan manusia. Pada agama kita, tentu konsepnya bukan begitu. Kedekatan Allah dengan hambanya sudah merupakan karakter-Nya. Sudah dengan sendiri-Nya, tanpa dimohon. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Bahkan saking dekatnya, Allah mengibaratkan diri-Nya lebih dekatan dari urat leher kita. Sebagaimana Allah berfirman.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd

Dari itu, perlu kita camkan dalam diri kita bahwa Allah SWT telah demikian dekat dengan hamba-Nya, maka bagaimana mungkin Ia membutuhkan qurban atau kedekatan kita. Apalagi dengan sekadar hewan sembelihan yang kita kurbankan hari ini untuk membeli kedekatan-Nya. Tentu Allah SWT akan terkerdilkan dengan itu semua. Karena selain telah teramat dekat dengan hamba-Nya, Allah juga memang sudah teramat kaya- tidak menginginkan apapun dari hamba-Nya sebagaimana yang Ia firmankan dalam QS. Al-Haj ayat 37:

لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Maka -sekali lagi- manusialah yang sudah selayaknya berkurban dan mendekatkan diri dengan penuh ketundukan dan keberserahan diri hanya kepada Allah SWT. Seperti yang telah dicontohkan oleh Ibrahim dan Ismail (‘alaihima al-Salam). Bahwa anak tercinta, jiwa yang paling berharga di sisi seseorang pun bukanlah sesuatu yang berarti jika -seandainya- Allah memintanya.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il dalam kisah Ibrahim di atas adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il kita yang karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya: “Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24)

Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari,

Jama’ah shalat idul adha yang dirahmati Allah .

Demikianlah sejenak renungan kita pada hari raya ini, semoga bisa menginspirasi kita untuk menjadi orang-orang yang siap berkurban kapanpun, dimanapun dan dengan apapun yang kita cintai untuk kebaikan, keadilan dan kemaslahatan sosial kita. Amien… ya Rabbal alamin..

(naskah khutbah disampaikan di Pesma al-Hijrah, Merjosari Malang, 27 November 2009M)

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s