Menapaki Haji dalam kehidupan sosial

Posted: November 20, 2009 in naskah khutbah

Khutbah Jum’at, Saiful Amien.

Khutbah I:

Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas setiap nafas yang hingga kini masih bisa kita hembuskan, atas setiap daya yang masih bisa kita gerakkan, dan atas setiap waktu yang masih bisa kita manfaatkan, sehingga kita masih bisa bersuah dengan ritual jum’atan pekan ini..

Shalawat dan salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan dan panutan kita,Nabi Muhammad SAW, karena atas bimbingan beliaulah kita bisa bersiteguh dalam kelezatan hidayah iman dan Islam.

Dari atas mimbar, tidak lupa khatib mengingatkan diri sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita, karena itulah bekal terbaik yang bisa kita bawa saat kembali kepada-Nya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah..

Sejak akhir bulan Syawal hingga awal Dzulhijjah kita dengan rasa cemburu yang baik, menyaksikan dari segala penjuru dunia, berbondong-bondong kaum muslimin menuju satu wilayah yang disucikan di bumi ini, yakni al-masjid al-Haram, untuk memenuhi panggilan Allah sebagai Dluyuf ar-Rahman, sebagai tetamu Allah-penempuh ibadah haji. Sebagaimana Allah SWT firmankan di dalam QS. QS. Al-Baqarah: 197:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (( الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ))

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.

Kamus otoritatif dalam bahasa Arab, Lisan al-Arab, mencatat kata haji atau al-Hajj secara bahasa dari kata hajja-yahujju yang berarti qadima dan qashada, menuju dan menyengaja. Ini karena memang ketika seseorang berhaji sesungguhnya ia bersengaja melakukan perjalanan menuju Allah semata di rumah-Nya, baitullah. Sebagaimana firman-Nya di dalam QS. Ali Imran: 97 yang berbunyi:

وَِللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Hanya untuk Allahlah, kewajiban haji atas manusia, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Dan QS. Al-Baqarah: 196:  ((وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ِللهِ  )) “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.”.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah…

Ibnu Arabi dalam bukunya al-Futuhat al-Makiyyah (keterbukaan di Makkah) menjelaskan bahwa kita mengenal dua cara kembali kepada Allah. Pertama, kembali dengan cara yang terpaksa, yang disebut ar-ruju’ al-idltirary. Setuju atau tidak, kita semua akan kembali kepada Allah dalam katagori ini. Dan itulah yang kita sebut mati; kedua, kembali kepada Allah dengan tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela, yang disebut ar-ruju’ al-ikhtiyari, kembali seperti inilah yang sekarang sedang dilakukan oleh para jamaah haji.

Dalam makna kembali inilah, maka haji tidak ubahnya adalah gladi bersih terutama olahjiwa dan olahruh untuk memenuhi panggilan Allah yang sesungguhnya yakni kematian. Bukankah mereka yang berhaji adalah mereka yang rela meninggalkan semua yang dimilikinya: sanak keluarga, harta-benda, kemewahan, pangkat dan sebagainya untuk menjadi manusia papa yang hanya berbalutkan kain ihram nan lusuh berjalan kaki di hamparan padang Arafah menuju muzdalifah dan Mina. Di sana ia beratapkan langit dan bertikarkan bumi. Begitu juga kematian. Orang yang mati adalah dia yang tidak bisa membawa segalanya. Ia terkuburkan hanya dengan balutan kain kafan.

Sebagai olahjiwa dan olahruh, tentunya hakikat berhaji tidak berhenti pada simbol-simbol ritual semata, tetapi lebih dari itu sebagaimana bentuk ibadah yang lain, juga menembus dimensi sosial. Ada process of learning untuk menjadikan kita semestinya tidak hanya shaleh ritual, tetapi juga shaleh sosial. Keseimbangan inilah yang menjadikan perjalanan haji menjadi sempurna. Dan tersandanglah satu prediket di dalam diri: haji, manusia sejati, yakni manusia yang telah kembali ke fitrah kemanusiaannya, lahir-batin. Bukan hanya wujud lahirnya semata yang manusia tetapi wujud batinnya juga. Tidak sebagaimana yang digambarkan dalam satu riwayat di buku, al-haj fi al-Kitab wa as-Sunnah, untuk menutup khutbah pertama, berikut ini:

Arafah, sembilan Dzulhijjah, pada paruh kedua abad pertama Hijriyah. Ratusan ribu kaum Muslimin berkumpul di sekitar Jabal Rahmah, bukit kasih sayag. Segera setelah tergelincir matahari, terdengar gemuruh suara zikir dan do’a. Ali bin Husein, cicit Rasulullah SAW bertanya kepada sahabatnya, Zuhri: “berapa kira-kira orang yang wukuf di sini?”.

Zuhri menjawab: “saya perkirakan ada empat atau lima ratus ribu orang. Semuanya haji, menuju Allah dengan harta mereka dan memanggil-Nya dengan teriakan mereka”.

Ali bin Husein berkata: “Hai Zuhri, sedikit sekali yang haji dan banyak sekali teriakan”

Zuhri keheranan, seraya berkata: “Semuanya itu haji, apakah itu sedikit?”

Ali meminta Zuhri mendekatkan wajah kepadanya, lalu cicit Rasulullah SAW itu mengusap wajah Zuhri dan memintanya untuk melihat sekelilingnya. Zuhri terkejut. Kini ia melihat monyet-monyet berkeliaran dengan menjerit-jerit. Hanya sedikit manusia di antara kerumunan monyet. Ali mengusap wajah Zuhri kedua kalinya. Ia menyaksikan babi-babi dan sedikit sekali manusia. Pada kali yang ketiga, ia mengamati banyaknya srigala dan sedikitnya manusia. Zuhri berkata: “Bukti-buktimu membuat aku takut. Keajaibanmu membuat aku ngeri”.

Demikianlah, haji yang mabrur membuat penempuhnya kembali ke kesejatihan diri, yakni manusia yang sesungguhnya, yang dijamin surga oleh Allah sebagai pahalanya.

بارك الله لنا ولكم في القرآن العظيم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات و الذكرالحكيم فاستغفروا الله فإنه هو الغفور الرحيم

Khutbah II:

الحمد لله الذى جَعَلَنا مِنْ عِبادِهِ الْمُخْلِصِيْْنَ ووَفَّقَنا لِلْعَمَلِ بِما فيهِ صَلاحُ الاسْلامِ والمسلمين.  أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الهادى الى الصراط لمستقيم . اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ، أما بعد،،

Sungguh berbahagialah bagi mereka yang tahun ini bisa memenuhi panggilan ilahi sebagai tetamunya di tanah suci, karena satu kesempatan emas telah ia miliki untuk berlatih dan berolahruh dalam rangka kembali ke fitrah kemanusiaannya yang sejati. Dan kita semua tentunya senantiasa berharap, berdoa dan berusaha, suatu saat juga mampu berangkat menghampiri Allah di bait-Nya nan suci.

Namun demikian bagi kita yang saat ini belum mampu memenuhi panggilan-Nya untuk berhaji, ada baiknya kita menyimak kisah berikut ini:

Seorang sufi baru saja usai menunaikan ibadah haji. Dengan kemampuan mukasyafahnya, segera ia dikejutkan oleh perbincangan dua malaikat di depannya. Kedua malaikat itu sedang mebicarakan para jamah haji tahun ini.

“Wah banyak sekali jama’ah haji tahun ini. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Allah. Menakjubkan!” kata malaikat yang satu.

“Betul” kata malaikat yang satunya lagi, “tapi haji mereka tidak satupun yang diterima di sisi Allah, kecuali haji seorang tukang sepatu di Baghdad” lanjutnya seraya menyebutkan ciri-ciri orang yang hajinya di terima tersebut.

Betapa kagetnya sufi tadi. Tentu saja ia merasa bahwa hajinya juga tidak diterima oleh Tuhan. Karena rasa penasaran, lalu ia mencari-cari tukang sepatu yang beruntung itu untuk menemui dan menanyakannya. Darinya lantas ia mengetahui bahwa sebenarnya tukang sepatu itu tidak jadi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Betul bahwa ia telah mempersiapkan perbekalan haji dengan sangat susah payah dan lama, tetapi begitu saat keberangkatan tiba, seluruh perbekalan itu tidak jadi digunakan untuk berhaji. Melainkan untuk menolong tetangganya yang baru saja tertimpa musibah berat: rumahnya kebakaran.

Cerita ini tentu kebenarannya sulit dibuktikan, mungkin pula hanya fiktif. Namun terlepas dari itu, ia mengandung pesan moral yg amat luhur, yang bisa kita renungkan. Di dalamnya ada kebenaran. Yakni, apa yang orang bilang sebagai “haji sosial”. Yaitu kembali ke fitrah kemanusiaan kita melalui upaya menebar kasih-sayang, membela yang tertindas,  dan banyak memberi kebaikan kepada sesama kita, minimal dalam lingkungan terkecil kita. Dengan demikian kita juga telah menapaki hakikat haji sebagai perjalanan kembali kepada Allah sebelum benar-benar kita kembali dalam makna yang sesungguhnya.

Demikianlah sejenak renungan kita pada jum’at ini, semoga kita termasuk orang yang kembali kepada-Nya dengan khusnul khotimah.

(disampaikan di Masjid AR. Fakhruddin, Kampus Universitas Muhammadiyah Malang, 20 November 2009)

Comments
  1. locksmith deer park houston

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s