PILIHAN

Posted: October 4, 2009 in opini

memilih“Hidup adalah kesediaan menerima akibat pilihan” kata seorang teman. Tidak salah. Karena dalam hidup ini kita senantiasa dihadapkan kepada pelbagai pilihan. Mulai bangun tidur hingga kembali ke peraduan kita mesti menentukan banyak pilihan. Dari urusan yang remeh-temeh seperti baju apa yang hendak kita pakai sampai urusan yang paling prinsipil: kepada siapakah mesti menyembah.

Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan ada akibatnya. Besar kecilnya akibat itu bergantung kepada bobot sebuah pilihan, dan –sekali lagi- kita harus ikhlas menanggung akibat tersebut: baik-buruk, ringan-beratnya. Al-Qur`an mencatat hal ini dalam surat Al-Zalzalah [99] ayat 7-8:

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula“.

Masalahnya, kita adalah makhluk sosial, di mana kita juga kadang dituntut untuk membuat pilihan yang bersifat kolektif di samping yang personal. Di sinilah kemudian ada pemilahan: selama pilihan itu bersifat pribadi, maka akibatnya pun ditanggung secara pribadi, dan tidak dapat dipikulkan kepada orang lain. Allah SWT menunjukkan hal ini di dalam al-Qur`an surat Al-Zumar [39] ayat 7: “… dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain“, dan diulangnya lagi di 4 surat yang lain dengan redaksi yang agak sama (QS. 6:164, 17: 15, 35: 18, dan 53: 38).

Sedangkan yang bersifat kolektif, maka komunitas itulah yang menanggung akibatnya. Al-Qur’an mengingatkan bagaimana pilihan orang dhalim di dalam suatu kaum akibatnya juga ditanggung oleh semua orang di dalam kaum itu, termasuk orang-orang shalih dan anak-anak yang tidak berdosa:

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfal [8]: 25).

Oleh karenanya, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa ‘eling lan waspodo‘. Tidak main-main dalam menentukan pilihan. Hati-hati dan selalu mempertimbangkan baik-buruk resiko yang akan ditanggung. Hatta dalam kondisi kebingungan memilih antara dua yang baik pun kita dianjurkan untuk beristikarah, lalu kemudian menyerahkan (bertawakkal) sepenuhnya kepada Allah SWT akan akibat yang akan datang.

Dan saat ini, hidup terasa kian susah. Jaminan rasa aman tidak ada. Investasi sulit masuk. Panen gagal terus. Di hampir setiap lini kehidupan terjadi mismanajemen. Endemi penyakit langganan belum sepenuhnya tertangani, muncul penyakit baru lagi. Plus sejak sunami Aceh, bencana alam datang serasa  silih berganti. Mari kita renungkan sejenak: jangan-jangan semua itu karena kekeliruan kita  dalam menentukan pilihan. Ya… termasuk pilihan cara berpikir, sikap dan prilaku sosial-politik-ekonomi-budaya hingga keberagamaan kita. WaAllahu a’lam![] Malang, 8/2/2007.

Comments
  1. benramt says:

    sefakat bro..

  2. Nur Hadi says:

    tapi gini mas biar agak berimbang; , katanya ketika kita berijtihad meskipun salah kita dapat pahala, ijtihad akan sangat di namis di iklim yang demokratis, ( seperti di jelaskan di paragra ke 4) , cuma memang instrumen dan kendali indikatornya yang harus dekat dengan Al-qur an, biar ngak jadi dosa kolektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s