ABDAN SYAKURA

Posted: October 3, 2009 in opini

Suatu malam ummul mukminin, Aisyah ra terbangun dari tidurnya dan mendapati Rasulullah saw sedang menangis memberihebat dalam kesungguhan shalat lailnya hingga, konon, jenggot beliau basah kuyup oleh airmata. Tidak kuasa menyaksikan sang pujaan terlihat begitu, Aisyah pun bertanya penasaran: “Wahai Rasulullah, apa kiranya yang membuat Anda melakukan ini? Tidakkah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?”. “Engkau benar, ya Humaira” sabda Rasulullah, “tetapi salahkah aku jika menjadi abdan syakura?”

Di antara kata kunci yang menunjuk gagasan utama dalam riwayat al-Bukhari di atas ialah kata “syakur”.  Kamus otoritatif, Lisan al-Arab menyebut “syakur” sebagai abniyat al-mubalaghoh (memiliki implikasi makna “banyak” atau “lebih”) dari kata syukr. Rajul syakur artinya katsir al-Syukr, lelaki yang banyak/lebih bersyukur. Dari itu secara literlek, abd syakur bermakna hamba yang banyak/lebih bersyukur.

Di dalam al-Qur`an, kata syukr beserta ragam jadiannya disebutkan sebanyak 64 kali. Menurut Al-Raghib al-Ishfahany dalam bukunya, al-Mufradat fi Gharib al-Qur`an, kata ini mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya di permukaan”. Kata ini, tulis al-Ishfahany, bagi sementara ulama berasal dari kata syakara yang berarti “membuka” lawan dari kafara (kufur) yang berarti “menutup”. Pengertian ini diperkuat dengan beberapa ayat al-Qur`an yang menghadap-hadapkan antara syukur vs kufur, seperti QS. Ibrahim [14]:7 dan QS. An-Naml [27]:40. Intinya, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat” dan hakikat kufur adalah “menyembunyikannya”. Menurut banyak ulama, menampakkan atau menyembunyikan di sini mencakup tiga sisi: dengan hati, dengan lisan, dan dengan perbuatan.

Pengertian al-Ishfahany tentang syukur di atas sungguh amat akhlaqi dan mendalam. Atau orang Arab bilang khafif al-kalam, tsaqil al-ma’na. Amat mudah diucapkan tetapi maknanya mendalam. Dan tentunya, teramat berat untuk dilaksanakan, karena membutuhkan proses pembelajaran dalam gerak akhlaq yang mensubstansi. Yaitu gerak dari tashawwur, mempersepsi dengan indera bahwa semua adalah karunia Ilahi yang perlu disyukuri. Selanjutnya tafakkur, merenungi persepsi di atas dan menguatkannya dengan argumentasi logis-intuitif bahwa memang tiada karunia Tuhan yang sia-sia. Berikutnya ikhtiar, memilih hasil perenungan itu sebagai perspektif dan carapandang  (paradigm) dalam melihat bahwa dunia ini memang terasa indah dan nikmat yang mesti senantiasa diapresiasi. Dan terakhir, ‘amal, mengejahwantakan carapandang itu dalam tindakan nyata yang secara refleks mengekspresikan rasa syukur atas semua karunia-Nya di semua lini kehidupan. Tindakan baik ini kemudian terus diulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Ketika kebiasaan ini telah tertanam dalam di ruang bawah sadar, maka ia telah menjadi karakter seseorang. Itulah akhlaq substantifnya.

Dari itu, wajarlah sekiranya dalam, minhaj al-‘Abidin, al-Ghazali menempatkan syukur sebagai terminal (maqom) terakhir dari tujuh jalan para salik (pendaki) menuju Tuhan. Dan Said Hawwa dalam mengikhtisari Ihya Ulum al-Dinnya al-Ghazali, meletakkan syukr sebagai muara taqwa seperti dalam QS. Ali Imran [3]:123, …fattaqu Allah la’allakum tasykurun, maka bertaqwalah kepada Allah agar kalian bersyukur. Dan pantas saja jika junjungan kita, kanjeng Rasul saw yang ma’sum dan nyata-nyata telah dijamin oleh Allah SWT dengan maghfirah-Nya tetap saja bermujahadah (berjibaku) untuk menjadi abdan syakura. Tentunya selain beliau memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya kualitas diri seorang muslim yang pandai dan banyak bersyukur, juga menunjukkan ada ibrah atau kearifan lain yang perlu kita gali dalam konteksnya dengan kehidupan pribadi maupun sosial kita.

Di antara kearifan itu ialah ketika syakura telah menjadi akhlaq seseorang maka dalam konteks pribadi ia akan senantiasa hidup optimis, dinamis dan kreatif. Dalam perspektifnya, Allah terasa Maha Suci dari segala ketidakadilan. Mustahil Dia menciptakan manusia dalam kebodohan, kekurangan, atau kesia-siaan. Sebaliknya yang ada adalah kelebihan, kekayaan dan kebahagiaan. Tiada umpatan, penyesalan, atau kerendahan diri karena taqdir yang telah terjadi. Sebaliknya justru semakin cerah pandangannya, semakin luas langkahnya ke depan karena qadla (yang belum terjadi) senantiasa memunculkan ikhtiar. Baginya setiap kesulitan pasti berdamping-erat dengan kemudahan (inna ma’a al-‘Usri yusra).

Bersamaan dengan itu, secara sosial, orang yang berakhlaq syakura akan memiliki kepekaan altruistis yang luar biasa dan telah hilang rasa egonya (ananiyah). Meminjam teori piramida kebutuhannya Abraham Maslow, abdan syakura adalah dia yang telah mencapai tingkatan kebutuhan tertinggi, yakni kebutuhan aktualisasi diri. Ibaratnya seperti benda berwarna putih bersih yang mendapatkan karunia sinar dari matahari. Maka sinar (nikmat, rizki) itu tidak “diembatnya” sendiri tetapi dipantulkannya kembali ke sekitarnya. Yang ada dalam diri seorang syakura hanyalah bagaimana bisa memberi dan memberi tanpa pernah berharap kembali. Dalam katagori Erich Fromm, orang dalam karakter inilah yang pantas dimasukkan dalam modus hidup “menjadi” (to be) [lihat Erich From, To Have and To Be, terj. LP3ES].

Demikianlah di antara ciri abdan syakura, pantaslah kiranya banyak ulama tafsir ketika menguraikan kandungan interpretasi dua asma Allah, al-Rahman dan al-Rahim, dalam Bismillah al-Rahman al-Rahim, hanya menunjuk muslim yang pandai bersyukur sebagai satu-satunya penerima rahim Tuhan, baik di dunia maupun di akherat kelak, sedang rahman-Nya bisa diperoleh oleh siapapun di dunia ini. Akhirnya, mari kita persiapkan diri, bermujahadah dalam proses belajar menjadi abdan syakura seperti yang diteladankan oleh junjungan kita, Muhammad saw. (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad). Semoga kita sukses! Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s