Kuyakin Tuhan Pun Tidak Akan Marah

Posted: October 2, 2009 in opini

senyumKEMARIN, di awal-awal bulan penuh berkah ini saya mudik sebentar. Kebetulan saya bersua dengan Kang Tejo di sebuah Colt yang akan membawa kami ke desa. Sebagaimana tradisi pesisiran, saya memanggilnya “kang” karena umurnya lebih tua dari saya. Kami akrab karena ketika kecil, sama-sama suka tidur di mushalla yang sekarang sudah menjadi masjid.

Setelah ngomong ngalor-ngidul, Kang Tejo curhat, katanya di awal Ramadlan ini ia merasa tidak kerasan lagi sembahyang di rumah Tuhan itu. “Bagaimana mau kerasan?” ujarnya, “lha wong setiap tarawih atau kuliah subuh saya senantiasa ‘dimarahi’ oleh para khatib,”.

“Dimarahi piye toh kang?” tanyaku.

“Memang benar sih, kalau saya ini seneng tuak (minuman memabukkan, khas Tuban. Diolah dari buah pohon siwalan yang diawetkan), aku ngerti itu dilarang Agomo. Tapi kalau di setiap ceramah aku dimaki terus yo.. loro atiku! Apa ya… Gusti Allah itu pemarah seperti yang digambarkan para muballig itu?”

“Kayaknya sih, nggak Kang.” Kataku.

Tiba-tiba saya teringat dengan apa yang dikatakan Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain, bahwa tidak ada orang yang suka dikritik, apalagi dicaci walaupun ia tahu dirinya salah. Demikianlah Kang Tejo. Nelayan tulen yang kasar dan temperamental. Tentu ia tidak bisa terima.

Tampaknya, dalam menyerukan al-ma’ruf (kebaikan) dan mencegah al-munkar (kemungkaran) sampai saat ini kita belum sepenuhnya arif. Kita lebih memilih cara mengkritik dan mencaci daripada membimbing. Dalam mengekspresikan keberagamaan juga tak jauh beda. Kita terkesan sangat kaku, saklek, dan kering. Lebih suka menghakimi daripada mengayomi. Akibatnya, kita senang bersikap hantam kromo saja terhadap segala yang berbeda dengan kita. Maka wajar, kalau secara teologis Kang Tejo dengan keberimanannya yang sederhana mempertanyakan tentang (gambaran) Tuhan sebagai lokus asal dan muara kehidupan ini.

Kalau boleh meminjam analisis Karen Amstrong bahwa sejarah Tuhan sesungguhnya lebih banyak diwarnai oleh pergulatan persepsi para pemeluk agama tentang Tuhan, daripada hakikat Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Maka kita seringkali dalam mengejahwantahkan keberislaman kita lebih menampakkan persepsi wajah Tuhan yang garang daripada yang welas asih. Tuhan yang maskulin (jalal) daripada yang feminin (jamal). Tentunya ini bertolak belakang dari arti `islam itu sendiri. Berasal dari kata `aslama, maknanya amat feminin, yakni “keberserahan diri”. Satu akar kata dengan `islam adalah salam yang berarti “damai/kedamaian”. Mengapa kita tidak lebih menunjukkan sikap dan pola keberagamaan yang damai dalam berdakwah? Di sinilah Aa’ Gym menjadi demikian fenomenal saat ini. Barakallah fik ya Aa’ Gym!

“Saya suka sufisme”, kata Mohammad Sobary dalam bukunya Kang Sejo Melihat Tuhan (1995:38), karena di sana Tuhan dilukiskan serba ramah (Dan bukannya marah melulu macam gambaran kita. A’u dibaca angu, tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh). Di sini para peminum, penjahat, pemerkosa kalau memang ingin berdekatan dengan Allah, mengapa kita mesti pasang wajah garang? Atau jangan-jangan kita memang sedang terserang penyakit ‘ujub, sok suci sendiri. Padahal bisa saja justru Allah tersenyum senang dengan kehadiran dan ketulusan  mereka.

Dalam sebuah cerita sufi yang masyhur, disebutkan tentang seorang gaek penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih. Tapi di usia ke-70 ia punya kebutuhan penting. Do’apun diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek kecewa. Ia minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.

Bukan urusan sang kakek bila masalah kemudian timbul, sebab Allah-lah yang diprotes oleh para malaikat.

“Mengapa ya, Allah, Kau kabulkan do’a si kakek? Lupakah Engkau bahwa ia penyembah patung? Bukankah ia kafir yang nyata?”

Allah senyum. “Betul,” jawab-Nya, “Tapi kalau bukan Aku, siapa akan mengabulkan do’anya? Kalau Aku pun diam, lalu apa bedanya Aku dengan patung?

Dari cerita ini, siang malam saya ucapkan subhanallah (Maha Suci Allah) dan berdo’a, semoga saya dijauhkan dari perangai ujub dan syu` al-dhon (buruk sangka; negative thinking) terhadap Tuhan. Bahkan Tuhan pun senantiasa tersenyum mengapa kita persepsikan sebagai pemarah?

Kini, saya melihat kang Tejo mendirikan shalat tarawih dan berdiskusi tentang keberislaman di gudang yang terasi bersama kawan-kawannya yang senasib: para pecandu tuak, dan sama-sama dipinggirkan oleh pola keberagamaan yang garang di desaku. Mereka lalu membentuk sebuah jama’ah, yang disebutnya: Jama’ah Saridien. “Sari itu inti,” katanya, “Dan dien itu, kata orang, dari bahasa Arab, artinya agama”. Saya tersenyum. Dan kuyakin, haq al-yaqin: Tuhan pun tidak akan marah. Kataballah fik el-najah, Kang Tejo! []

Landungsari, 21/11/2002

Comments
  1. ferdi says:

    masya allah ustad, kemudian bagaimana jika dengan kita bersikap ” longgar” terhadap setiap permasalahan misalnya ada pemabuk kemudian kita seperti tidak terlalu mempermasalahkan kelakuannya, dan kita di cap sbg liberal, bagaimana kita menjawab sangkalan yang seperti itu.?

  2. I have to express some appreciation to the writer just for rescuing me from this type of dilemma. Just after looking out through the search engines and obtaining techniques that were not pleasant, I believed my life was over. Existing without the presence of answers to the issues you’ve sorted out through your entire guideline is a crucial case, as well as those which could have in a wrong way damaged my career if I hadn’t come across the website. The talents and kindness in touching all the details was very helpful. I don’t know what I would have done if I had not encountered such a point like this. I can at this point look ahead to my future. Thank you very much for the high quality and results-oriented help. I won’t be reluctant to recommend your site to anyone who needs guidelines about this matter.

  3. benramt says:

    maaf, maksud saya gudang terasi. terimakasih koreksinya.

  4. Wahono says:

    Mungkin maksudnya -”di gudang yang terisi …”. Tapi, terimakasih telah menambah bekal untuk perbaikan diri . Semoga Allah tersenyum lebar kepada hamba-Nya yang berbagi ilmu nan bermanfaat.

  5. Wahono says:

    Mungkin maksudnya -“di gudang yang terisi …”. Tapi, terimakasih telah menambah bekal untuk perbaikan diri . Semoga Allah tersenyum lebar kepada hambanya yang berbagi ilmu nan bermanfaat.

  6. Nur Hadi says:

    Matap mas, asli. saya ingat waktu baca ukunya cak nun yang markesot. oh iya mas itu yang di paragraf terahi kayaknya kebanyakan “yang” – “di gudang yang terasi””

    mantap mas salut. aku siap jadi investor untuk menerbitkan mas. he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s