DEMOKRASI

Posted: October 1, 2009 in cerpen

DEMOKRASICerpen, Saiful Amien

“Maaf, pak! Belum selesei.” Jawab Kiko singkat ketika ditanya dosennya perihal tugas midle mata kuliah  Pengantar Filsafat di ruang kelasnya.

“Loh, sekarang kan deadline. Akhir pengumpulan tugas!” jelas pak Dosen dengan raut muka ditekuk, serius.

“Saya tahu, pak.”

“Kalau sudah tahu, mengapa tidak diseleseikan?!”

“Maaf, pak. Barangkali Bapak akan memarahi saya. Saya rela. Dengan sepenuh hati akan saya terima kemarahan Bapak…”

“Tidak. Saya tidak akan marah. Toh, buat apa saya marah? Karena perihal demikian, saya pikir, andalah yang merugi. Anda sudah membayar dan anda tidak gunakan biaya itu untuk belajar.”

“Biarlah kerugian itu saya tanggung. Saya telah siap menerima resiko itu.”

“Tetapi ingat, saudara. Meskipun secara materiil antara saya dan anda terikat kontrak, dan andalah yang mengingkari kontrak itu, tetapi secara moril, sebagai pembina mata kuliah ini, saya harus tegas menjalankan disiplin kelas ini.”

“Saya siap menerima segala konsekuensi dari apa yang sengaja saya perbuat”.

“Anda telah melanggar kesepakatan komunitas kelas ini. Dengan anda tidak mengumpulkan tugas hari ini berarti anda tidak memenuhi kesepakatan yang telah anda buat sendiri. Bagaimana pendapat saudara-saudara?”

“Betul, pak. Itu namanya mengingkari janji. Tambah aja pak, tugasnya!” jawab teman-teman Kiko dengan tidak serius. Bercanda. Karena dalam pandangan mereka, Kiko mahasiswa yang lurus, tidak neko-neko, tidak pernah berbuat sesuatu kecuali dengan pertimbangan yang matang. Tetapi mengapa sekarang Kiko dengan sengaja mengambil keputusan tidak menyeleseikan tugasnya?.

“Maaf, pak. Saya kok, kurang bisa menerima keputusan Bapak, bahwa saya telah melanggar kesepakatan yang telah saya buat sendiri…” sela Kiko tenang.

“Apakah anda anggota komunitas kelas ini?” tanya pak Dosen dengan arif.

“Ya!”

“Dua pekan yang lalu, komunitas kelas ini telah membuat kesepakatan demokratis, bahwa hari ini adalah deadline pengumpulan tugas. Benar tidak saudara-saudara?”

“Benaaaaaaaaar” jawab seisi kelas kompak, masih dengan tertawa-tawa cengengesan, tidak serius.

“Karena anda adalah anggota komunitas kelas ini, maka anda dengan sendirinya telah membuat kesepakatan itu.” Jelas pak Dosen dengan berdeduksi, “bagaimana menurut anda?”

Tenang sekali Kiko menjawab: “ saya membetulkan logika forma yang Bapak pakai, tetapi secara meteria, harap Bapak ketahui bahwa…saya termasuk di antara anggota komunitas kelas ini yang tidak menyepakati hari ini sebagai batas akhir pengumpulan tugas.”

“Bagaimana menurut saudara-saudara?” bapak Dosen kita ini tidak segera menanggapi argumentasi Kiko, tetapi ia lebih senang melibatkan para peserta didiknya dalam menganalisa persoalan, guna menciptakan suasana pembelajaran yang liberal dan demokratis, seperti yang sering ia praktikkan. Karena sistem pembelajaran yang demikianlah, pak Dosen ini disenangi oleh peserta binaannya.

“Menurut saya, argumentasi tadi hanyalah sikap apologis semata untuk membungkus kemalasan saudara Kiko, he..he..” Mahasiswa di deretan kursi paling belakang dengan nada cengengesan angkat bicara, “lagi pula, dalam sistem musyawarah yang demokratis, suara minoritas terkubur oleh suara mayoritas adalah kewajaran”.

“Kewajaran yang demikianlah,” Kiko angkat bicara “menurut saya, merupakan salah satu penyelewengan dalam prinsip keadilan sistem demokrasi. Karena di sana suara minoritas tidak pernah didengar, meski –bisa jadi- lebih mencerminkan kebenaran…”

“Di mana-mana yang namanya demokrasi juga begitu. Saudara Kiko ini agaknya telah melupakan fenomena ini” Mahasiswa berambut gondrong angkat bicara.

“Karena itulah, saya tidak senang dengan demokrasi. Dan maklum saja kalau saya hari ini tidak mengumpulkan tugas.”

“Ya.. itu terserah saudara Kiko. Mau cinta kek, mau benci kek, sama itu demokrasi. Tetapi yang jelas saudara Kiko telah melanggar kesepakatan yang demokratis di komunitas ini” kata mahasiswi berjilbab hitam mengingatkan, “maka lagi-lagi sesuai dengan kesepakatan kelas, saudara Kiko sudah sepantasnya mendapatkan tugas tambahan. Bagaimana saudara-saudara?”

“Betuuuuuuul. Sepakaaaaaaat.” Teriak para mahasiswa, mendukung.

Akhirnya, kesepakatan baru yang “demokratis”, setidaknya dianggap demikian, terbentuk. Yaitu penambahan tugas buat Kiko!.

***

Waktu terus berlalu. Hari berganti hari. Poster film “Beth” dengan paras manis Ikke Febrianti-nya dicopot. Spanduk KKN-Terpadu dipasang. Mahasiswa turun di jalan memprotes kenaikan BBM dan tarif listrik. Harga kebutuhan bahan pokok naik. Ongkos angkutan juga. Ibu-ibu penjual tusuk sate juga ikut menaikkan harga dagangannya. PKB pecah. PPP juga. Di Pilipina seorang WNI putra  Madiun, al-Gozi ditangkap. Abubakar Baasyir dimintai keterangan polisi dan wartawan. Sopan Sopiaan mengundurkan diri dari Fraksi PDIP di DPR-MPR. Akbar Tanjung kabur, pergi haji. Doktor M di Malaysia mengancam akan memulangkan para TKI ke Indonesia. Pengangguran semakin bertambah. Suporter sepakbola tetap saja adu jotos, anarkhis. Medan banjir. Bojonegoro dan Lamongan tetap berlangganan luapan air Bengawan Solo. Jakarta, Sampang, Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi juga ikut-ikutan tenggelam. Antrian pengungsi bertambah panjang. Adzan tetap berkumandang. Shalat tetap ditegakkan. Judi togel semakin semarak. Nasib kecoa tetap diinjak. Bis oleng terserempet becak. Polisi main tilang. Para mahasiswi semakin berani saja pakai baju adiknya. Pemuda-pemudi terang-terangan pacaran di alaun-alun. Putri berjilbab hitam anggun sekali….

Tetapi Kiko tetap tidak mengumpulkan tugasnya. Sementara bapak Dosen dan teman-temannya di kelas diam saja, cueks. Suara mayoritas mereka menyepakatinya. Maklum. Namanya juga demokrasi![]

Karang Besuki,  Pebruari 2002

Comments
  1. Dede Flakne says:

    what is a cataract surgery

  2. benramt says:

    hehehe, benar juga bung Asmon, suatu ending yang pas hehehehe

  3. Asmon says:

    dan dosen tetap tidak memberi nilai untuk Kiko……..dan Kiko harusnya cuek juga ndak dikasih nilai…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s