Hiburan

Posted: September 27, 2009 in cerpen

Cerpen, Saiful Amien

muslimah3“Pacarmu?”
“Entahlah”
“Yang tegas. Kongkret. Jangan plintat-plintut. Kayak kentut, tahu?!”
“Nggak tahu ”
“Saya nggak mau tahu: kamu tahu atau tidak tahu, yang pingin saya tahu adalah ini pacarmu apa bukan?”
“Kan sudah saya bilang, saya tidak tahu!”

Ia memasang tampang garang. Wajah ditekuk persis kayak onta. Diangkatnya kaki kiri di atas kursi. Disodorkan wajahnya dekat sekali di depan wajahku. Kurasakan dengusan nafasnya ngos-ngosan, bukan karena habis berlari dikejar hantu, tetapi karena marah sekali, kayaknya. Satu hal yang paling berkesan dalam fail (inggrisnya: file) penciumanku adalah abab’e bacin banget. Tiba-tiba dipukulnya meja di depanku keras sekali, bikin aku hampir setengah “keseper”, jantungan.
Kembali ia sodorkan kepadaku penggalan sebuah photo: bergambar cewek, berjilab hitam. Kulitnya putih bersih. Parasnya ayu. Klop banget dengan warna jilbabnya, hingga terkesan anggun. Mau deh rasanya saya dijodohkan dengannya. Tapi aku kenal nggak, ya??

“Hai, sekali lagi: pacarmu?”
“Entahlah”
“Masih plintat-plintut. Yang tegas!”
“Nggak tahu!”
“Apa perbendaharaan katamu hanya entah dan nggak tahu?”
“Entahlah”.

Dipukulnya meja sekali lagi, lebih keras. Serasa ruangan berajojing. Kurang seperempat porsen lagi barangkali aku jadi “keseper” betulan.

“Saya hanya ingin yang keluar dari moncongmu itu kata ya atau tidak!!” bentaknya. Seketika aku menangkap mulutku.
“Sekali lagi: Pacarmu?”
Aku diam saja.
“Pacarmu?!”
Aku masih diam.
“Pacarmu?!!”
Aku terus diam.
“P-A-C-A-R-M-U ???!!!”
Aku tetap diam seribu bahasa.
“Jhangkrikk!! Krik Krik Krik!” ia mengumpat fasih sekali.

Kasihan, makhluk Tuhan yang kecil itu. Tidak mengerti apa-apa, tidak berdosa apa-apa diumpat-umpat. Seandainya binatang itu tiba-tiba oleh Tuhan dikaruniai power untuk protes, barangkali akan ia kumpulkan semua bangsanya, mulai dari jangkrik gangsir, pecundon, jaliteng, abangan, kliring sampai jangkrik upo untuk unjuk rasa, d-e-m-o-n-t-r-a-s-i. Tidak bisa aku bayangkan. Seluruh jangkrik di atas bumi ini berkumpul menimbuni bumi Indonesia. Menguasai ruang dan waktu Indonesia. Menyatroni semua lahan dan lapangan Indonesia. Menyabotase udara Indonesia. Wah, bisa kacau Indonesia. Semua orang pusing dan bingung dikerubuti atau barangkali digigiti binatang-binatang lemah itu. Maskapai penerbangan macet total, karena udara Indonesia tertutup jangkrik. Semua dokter berfatwa agar diberlakukan pemakaian masker biar kalau bernafas tidak menghirup jangkrik atau tainya, atau kalau menguap tidak kemasukan jangkrik. Pemerintah pusing menyediakannya. Dananya siapa yang sanggup menutupi semua hidung dan mulut penduduk Indonesia yang jumlahnya…sekarang sudah meningkat berapa ya? Waktu bang haji Oma Irama nyanyi sih..sudah seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia. Terus…siapa yang mau mengeluarkan dana sebesar itu? Wis, pokok’e pusing!. Belum lagi kalau seluruhnya mengerik. Bisa pecah gendang telinga penduduk Indonesia. Wah, gawat ini!.

“Duaa…aarrr!” lagi-lagi meja di depanku dipukulnya. Tinggal nol koma nol-nol-nol-nol-satu porsen lagi barangkali aku akan betul-betul “keseper” alias KOMA.
“Ngelamun, ya??” ia mencoba tersenyum. Ngganteng deh, Bapak kalau tersenyum, kayak Tom Crus, pikirku. Tetapi bisa jadi ini hanya untuk menyiasatiku.
“Entahlah” jawabku enteng.
“Kalau boleh tahu. Sedang ngelamunkan apa?” masih tersenyum.
“Jangkrik!” kataku tegas. Ia terperanjat kaget. Tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Kurang ajar. Ditanya baik-baik malah mengumpatku jangkrik”
“Iya, jangkrik!”
“Anjing kurap!”
“Bukan. Tapi jangkrik! Betul loh, Pak, jangkrik!” aku menyakinkan
“Juangkrik dewe. Ngelamun apa?!!” tanyanya lantang
“jhangkrik!!” ucapku tak kalah keras.
“jadi.. jangkrik, ya??” katanya melemah.
“Entahlah”
“Makan tuh jangkrik!!” umpatnya.

***

Bapak itu sedikit-sedikit mengepalkan tinjunya sambil nggerundel sendiri dan memutari ruangan kayak orang bingung saja. Atau berpikir barangkali. Kira-kira apa yang dipikirkannya, ya?.. Oh, ya. Memikirkan jangkrik. Semoga saja begitu. Do’aku, mudah-mudahan ia sampai pada kesimpulanku tentang chaos bila jangkrik unjuk rasa, protes karena sering diumpat.
Tiba-tiba ia mendekatiku, tangan kirinya menangkap dan mengangkat leherku kuat-kuat, hampir nafasku putus dibuatnya. Sedangkan tangan kanannya masih saja memperlihatkan potongan photo cewek anggun itu kepadaku.

“Pacarmu?” bentaknya.
“Entahlah”
“Yang kongkret!”
“Nggak tahu.”
“Ya atau tidak?!”
“Kok maksa sih, Pak!?”
“Harus!”
“Mengapa harus?!”
“Jangan pakai tanya!. Jawab dulu pertanyaanku: ini pacarmu atau bukan?!”
“Loh, kan sudah saya jawab”
“Apa??”
“Entahlah”
“Sompret!” ia pergi meninggalkanku. Keluar ruangan dan mengunciku di dalam sendirian.

Ruangan kembali sunyi. Oh, ya. Aku belum perkenalkan ruangan ini pada sampean. Ruangan ini kira-kira seluas lima kali lima meter. Tidak ada jendelanya. Hanya sedikit lubang udara. Pengap sekali. Dinding-dindingnya berembun. Mungkinkah ini ruangan bawah tanah?. Entahlah, yang jelas saya juga tidak pernah mendengar suara kecuali suara Bapak yang mendesakku dengan pertanyaan yang diulang-ulangnya itu. Atau barangkali ini ruangan kedap suara. Entahlah..
Busyet, kira-kira sudah berapa lama ya.. saya disekap di sini? Sebentar, kulihat dulu Citizenku. Pukul dua belas tepat. Ini siang atau malam ya? emboh wis. Kalau tidak salah ingat, ini pukul dua belas yang kelima dalam hitunganku semenjak aku dilempar ke sini. Berarti sudah sekitar dua hari tiga malam aku di sini. Dan kalau sampeyan tidak setuju, boleh juga dibalik, tiga hari dua malam, terserah deh!, aku tidak ambil pusing. Karena selama di sini aku sudah dibikin pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak aku mengerti jawabannya, atau barangkali aku pernah tahu…emboh wis..mumet sirahku!
Terus..Bapak yang mengintrograsiku itu siapa?
Tampang sih, bersih. Berkumis tebal. Saya yakin mudanya ganteng. Badannya masih menyisakan kesan tegap dan kuat. Potongan rambutnya cepak, mungkinkah ia pensiunan militer? Atau masih aktif? Dilihat dari raut wajahnya sih..kayaknya  sudah seumur dengan mereka yang pantas pensiun. Tapi bisa saja ia sudah seharusnya pensiun, namun tidak mau. Kan banyak yang begitu. Terutama yang mempunyai jabatan tinggi di struktural militer. Lalu…hubungannya dengan cewek berjilbab dalam potongan photo itu apa? Bapaknyakah, Pakdenya, atau kakeknya? Entahlah. Atau bisa jadi Bapak itu tidak mempunyai hubungan darah dan keturunan sama sekali dengan cewek itu, kecuali hubungan kepentingan. Bukankah di masa krisis ini orang sedang kecanduan adu kepentingan?
Terus..hubungannya denganku apa? Dari pada pusing-pusing, saya bikin aja skenarionya begini (boleh sampeyan setuju. Tidak, juga boleh. Lha wong ini..bukan paksaan kok!):
Yang dicari sebenarnya adalah cewek itu. Tetapi karena kehilangan jejaknya, Bapak itu menculikku untuk mendapatkan informasi tentangnya dariku. Tapi kupikir bapak itu salah deh. Mengapa aku yang diculik? Aku bukan orang penting. Bukan orang partai. Bukan aktivis buruh. Juga bukan aktivis mahasiswa. Aku hanyalah mahasiswa biasa. Demonstrasi saja hanya ikut-ikutan kok. Apa karena tampangku punya tipe untuk jadi korban penculikan?
Atau jangan-jangan penculikan ini hanya keisengan Bapak itu. Ya..sebagai hiburanlah. Bukankah Penghilangan orang di negeri ini telah menjadi komuditas hiburan tersendiri. Kalau tidak menghilangkan orang, ya..menghilangkan diri juga boleh. Yang penting happy. Lihatlah informasi Kontras, katanya ada banyak aktivis hilang yang belum kembali. Lihat juga kasus pejabat di Surabaya yang sengaja dan suka menghilangkan diri. Jadi bisa jadi ini hanya permainan dalam dunia hiburan saja, dan bapak itu menikmati betul penculikan terhadap diriku ini.
Mudah-mudahan saja begitu, eh maksudnya hanya sekedar iseng. Kalau sudah terhibur Bapak itu akan membebaskanku kembali. Nanti kalau sudah bebas, aku akan bilang pada Kontras bahwa aku juga cukup terhibur dengan penculikan ini. Beres sudah. Tidak ada masalah. Kalau orang bertanya dimana letak hiburannya? Akan saya jawab bahwa selama diculik tercukupi sandang panganku. Dari pada di luaran, hidup terasa disekap dalam kesusahan: BBM naik terus, listrik naik terus, sembako naik terus, banjir juga naik terus…dan para petinggi negara hanya adu kepentingan sendiri, sudah tidak ambil peduli.
Tetapi kalau penculikan ini, bukan hiburan bagaimana? Bisa-bisa aku dibunuh setelah memberikan informasi. Hi…takut….

***
Terdengar suara kunci diputar dengan kasar. Pintu ruangan terbuka, dan terlihatlah Bapak itu masuk dengan raut muka tetap ditekuk kayak onta. Dengan cepat ia menutup pintu kembali, lalu menghampiriku. Aku mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana, mungkin bibirku sudah terhegemoni dengan pikiran tentang penculikan sebagai hiburan tadi. He..lihatlah, Bapak itu juga ikut tersenyum. Ganteng deh bapak kalau demikian..
Namun tiba-tiba, ia menarik kedua kerah bajuku lalu mengangkat wajahku dihadapannya dan berteriak dengan lantang: “pacarmu?” sambil menunjukkan penggalan photo: Cewek berjilbab hitam, kulitnya putih dan parasnya ayu yang tak asing lagi bagiku. Tiba-tiba aku mengenalnya. Ya, mengenalnya begitu dalam.[]

Landungsari, 08 Januari 1999.

Comments
  1. Kelly Gaus says:

    my father have lots and lots of collectible coins that are very precious and rare.,

  2. Jay Ector says:

    private investigator greece

  3. Asmon says:

    bukan pacarnya tapi istrinya kali…………

  4. benramt says:

    Cerita di blog anda bagus-bagus. salut deh! singkat padat, mengena. Dan apapun bisa menjadi topik untuk diceritakan. Makasih ya… mau berbagi.

  5. benramt says:

    hehehe saya tidak ingin mendekte pembaca. karena pembaca dah cerdas jadi ya biarkan mereka bebas memaknainya. trims ya Vit.

  6. benramt says:

    terima kasih, semoga bisa menginspirasi..

  7. Noboru Akabara says:

    Ceritanya luar biasa karena memang temanya di luar batas kebiasaan.
    hehehehe….

    Jadi kepengen sharing cerita nih.
    visit my blog and read my stories at http://www.noboru26.wordpress.com

  8. Vita says:

    Wah..lha trus cwe ku apane jenengan pak..kok mandek..ge penasaran ki..bagus..bagus..bagus..

  9. ahmadinha says:

    bagus pak, salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s