Persepsi Warga Muhammadiyah terhadap TK Aisyiyah di Kota Malang

Posted: September 20, 2009 in publikasi ilmiah

Publikasi Hasil Penelitian, Saiful Amien.

Abstract:

tk abaThis paper study about perception of Muhammadiyah Community on TK Aisyiyah at Kota Malang. In this article, the author describes that the Muhammadiyah community have varies perceptions on TK Aisyiyah as Muhammadiyah Preschool Education. Based on understanding that perception is a process or result of becoming aware of object, so the Muhammadiyah community’s choices of preschool for their children are divided into three categories: pragmatic, rational, and ideological.

Kata Kunci: Pendidikan, Persepsi, Muhammadiyah, TK Aisyiyah, Prasekolah

I. PENDAHULUAN

Salah satu amal usaha kependidikan yang menjadi fokus dakwah Persyarikatan Aisyiah sejak awal berdirinya adalah Taman Kanak-kanak Aisyyiah Bustanul Athfal atau yang populer dengan singkatannya TK ABA (untuk selanjutnya ditulis: TK Aisyiyah).[1] Di hampir setiap Ranting Aisyiah di seluruh persada nusantara memiliki wadah pendidikan prasekolah ini. Disinyalir saat ini terdapat kurang lebih 5365 TK Aisyiyah di seluruh Indonesia.[2] Karenanya, keberadaan lembaga pendidikan nonformal ini tidak dapat dinafikan di satu sisi sebagai sumbangsih Muhammadiyah, dalam hal ini Aisyiah, untuk mendidik anak-anak umat Islam pada masa-masa dini usia mereka, dan di sisi yang lain sebagai wadah pengkaderan awal di tubuh Muhamadiyah-Aisyiah.

Di Kota Malang, saat ini terdapat 32 TK Aisyiyah yang tersebar di 5 kecamatan yakni: Sukun, Klojen, Kedungkandang, Lowokwaru, dan Blimbing. Dengan sebaran sebagaimana berikut: di kecamatan Sukun ada 6 sekolah, di kecamatan Klojen ada 9 sekolah, di kecamatan Kedungkandang ada 10 sekolah, di Lowokwaru ada 4 sekolah, dan di kecamatan Blimbing ada 3 sekolah. Sedangkan jumlah siswa dari 32 lembaga prasekolah tersebut sebanyak 2593 anak, dan jumlah guru sebanyak 190 orang.[3]

Secara struktural, hak milik TK ABA adalah Persyarikatan Aisyiah, di mana pembinaannya ditangani oleh Pimpinan Daerah Aisyiah Kota Malang, dalam hal ini Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Aisyiah sebagai penyelenggara. Di bawah Dikdasmen Aisyiah ada Pimpinan Cabang Aisyiah (PCA) di tingkat kecamatan yang ditunjuk sebagai pembina rutin. PCA inilah yang memiliki tanggungjawab dan hak dalam mengambil kebijakan untuk pengeloaan atau pengembangan TK ABA, di mana pelaksana operasionalnya adalah Pimpinan Ranting Aisyiah.[4]

Dalam perjalanan pendidikan prasekolah Muhammadiyah ini, di banyak daerah kuantitas lembaga yang demikian menjamur kurang mampu membuat warga Muhammadiyah sendiri mejadikannya sebagai alternatif pendidikan awal bagi anak-anak mereka. Padahal TK ABA sepenuhnya dikelola dan dikembangkan dari hulu hingga hilir secara mandiri. Akibatnya dalam beberapa kasus, banyak di antara TK ABA yang “kembang-kempis”, la yamutu wa la yahya, enggan hidup matipun tak mau. Bahkan terpaksa ada yang gulung tikar, di antaranya karena tidak adanya peserta didik yang masuk. Maka alih-alih menjadi sumbangsih pendidikan bagi anak bangsa, mempertahankan diri sebagai wadah pengkaderan Muhammadiyah di ranah ranting pun tidak mampu.

Kasus seperti di atas juga terjadi di Kota Malang. Dalam interview dengan peneliti, Dra. Rukmini, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiah (PDA) Kota Malang dan diamini oleh Dra. Umi Achsana, Ketua Dikdasmen PDA Kota Malang, menunjukkan bahwa pada kepengurusan yang lalu ada dua TK ABA di Kecamatan Blimbing, tepatnya TK ABA 14 dan TK ABA 15, yang terpaksa ditutup karena kekurangan peserta didik.[5]

Itulah yang mendorong adanya penelitian ini. Yakni untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang persepsi warga Muhammadiyah/ Aisyiyah terhadap eksistensi TK Aisyiyah di Kota Malang. Diharapkan dari kaji persepsi ini akan muncul kritik dan saran mereka untuk pengembangan lembaga prasekolah Muhammadiyah ini ke depan.[6]

Pembahasan di dalam artikel ini bersifat kualitatif  dengan memanfaatkan metode observasi, dokumentasi dan wawancara untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan lalu dianalisis secara induktif.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian persepsi

Kata “persepsi” diambil dari kata berbahasa Inggris “perception”, sebuah kata benda (noun) yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan:

The process or result of becoming aware of object, relationship, and events by means of the senses, which includes such activities as recognizing, observing, and discriminating. These activities enable organisms to organize and interpret the stimuli received into meaningful knowledge.”[7]

Senada dengan pengertian itu Kamus Psikologi terbitan Indonesia mengartikan persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimiliki.[8]

Melengkapi definisi di atas, Atkinson juga menyebut persepsi sebagai proses dimana kita mengorganisasi dan menafsirkan pola stimulus ke dalam lingkungan.[9]

Sedangkan Davidoff seperti yang dikutip oleh Walgito mengartikan persepsi sebagai stimulus yang diindera oleh individu, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera itu.[10] Hal ini seperti pengertian kata “percept” dalam bahasa Inggris, yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan: “the product of perception: stimulus object or event as experienced by the individual”.[11]

Lebih lanjut Kartono memberikan pengertian tentang persepsi sebagai pengamatan secara global, belum disertai kesadaran, sedang subyek dan obyeknya belum terbedakan satu dari lainnya (baru ada proses “memiliki” tanggapan).[12]

Imanuell Kant seperti yang dikutip oleh Mahmud MD. mengatakan “kita melihat benda-benda itu tidak sebagaimana adanya benda-benda itu sendiri, tetapi sebagaimana adanya diri kita” atau dengan kata lain persepsi itu merupakan pengertian kita tentang situasi sekarang dalam artian pengalaman-pengalaman kita yang telah lalu. Karena itu apa yang kita persepsi pada waktu tertentu akan tergantung bukan saja pada stimulusnya sendiri, tetapi juga pada latar belakang beradanya stimulus itu, misalnya pengalaman-pengalaman sensoris terdahulu, perasaan kita pada waktu itu, prasangka-prasangka, keinginan-keinginan, sikap dan tujuan kita. Lebih lanjut Mahmud mendefinisikan persepsi sebagai penafsiran terhadap stimulus yang telah ada di dalam otak.[13]

Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa persepsi adalah proses kategorisasi. Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek luar, peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dengan menghubungkan masukan itu dengan salah satu kategori atau golongan obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa, proses menghubungkan ini adalah proses yang aktif dimana individu yang bersangkutan dengan sengaja memberikan kategori yang tepat sehingga ia dapat mengenali (memberi arti) kepada masukan tersebut.[14]

Saleh dan Wahab mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri. Definisi persepsi lainnya menurut Saleh dan Wahab menyebutkan bahwa persepsi adalah kemampuan membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan perhatian terhadap satu objek rangsang dan dalam proses pengelompokkan dan membedakan ini persepsi melibatkan proses interpretasi berdasarkan pengalaman terhadap satu peristiwa atau objek.[15]

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.[16]

Adapun pengertian persepsi menurut Desiderato adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).[17]

Dari teori-teori di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian makna atau interpretasi yang mencakup pemahaman, mengenali dan mengetahui suatu objek melalui panca indera sehingga individu menyadari apa yang ia lihat, apa yang di dengar dan sebagainya.

Jenis-jenis persepsi

Menurut Irwanto,[18] setelah individu melakukan interaksi dengan obyek-obyek yang dipersepsikan maka hasil persepsi dapat dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Persepsi positif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya.
  2. Persepsi negatif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang tidak selaras dengan obyek yang di persepsi.

Dapat dikatakan bahwa persepsi itu baik yang positif ataupun yang negatif akan selalu mempengaruhi diri seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Dan munculnya suatu persepsi positif ataupun persepsi negatif semua itu tergantung pada bagaimana cara individu menggambarkan segala pengetahuannya tentang suatu obyek yang dipersepsi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, antara lain:

  1. Psikologi. Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu dialam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi, sebagai contoh, terbenamnya matahari di waktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna.
  2. Famili. Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus di dalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya.
  3. Kebudayaan. Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat di dalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini.[19]

Sedangkan menurut Krech dan Crutchfield faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:

  1. Faktor-faktor fungsional. Objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Contohnya pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang terhadap persepsi.
  2. Faktor-faktor struktural. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya.[20]

Ciri-ciri umum persepsi

Ciri-ciri umum dari persepsi menurut Shaleh dan Wahab diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Modalitas: rangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap-tiap indera, yaitu sifat sensoris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk penglihatan; bau untuk penciuman; suhu bagi perasa; bunyi bagi pendengaran; sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).
  2. Dimensi ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang); kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, latar depan-latar belakang, dan lain-lain.
  3. Dimensi waktu: dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat lambat, tua-muda, dan lain-lain.
  4. Struktur konteks, keseluruhan yang menyatu: objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu.[21]

Syarat terjadinya persepsi

Menurut Moskowitz dan Orgel agar individu dapat menyadari dan dapat mengadakan persepsi, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi yaitu :

  1. Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat dating dari luar langsung mengenai alat indera (reseptor), dapat datang dari dalam, yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris), yang bekerja sebagai reseptor.
  2. Alat indera atau reseptor, yaitu merupakan alat untuk menerima stimulus. Disamping itu harus ada pula syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons diperlukan syaraf motoris.
  3. Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi sesuatu diperlukan pula adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi. Tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi. Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengadakan persepsi ada syarat-syarat yang bersifat :
    1. fisik atau kealaman
    2. fisiologis
    3. psikologis[22]

Proses terjadinya persepsi

Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponen utama yaitu :

  1. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
  2. Interpretasi yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.
  3. Interpretasi dan persepsi kemudian di terjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi.[23]

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

Di Kota Malang terdapat 32 TK Aisyiyah yang tersebar di 5 kecamatan yakni: Sukun, Klojen, Kedungkandang, Lowokwaru, dan Blimbing. Dengan sebaran sebagaimana berikut: di kecamatan Sukun ada 6 sekolah, di kecamatan Klojen ada 9 sekolah, di kecamatan Kedungkandang ada 10 sekolah, di Lowokwaru ada 4 sekolah, dan di kecamatan Blimbing ada 3 sekolah. Sedangkan jumlah siswa dari 32 lembaga prasekolah tersebut sebanyak 2593 anak, dan jumlah guru sebanyak 190 orang (lihat tabel 1 dan tabel 2). [24]

Dengan sebaran yang demikian merata, diharapkan secara ideologis TK Aisyiyah mampu menampung hasrat para orangtua, warga Muhammadiyah Malang untuk menjadikan TK Aisyiyah sebagai wahana pendidikan prasekolah bagi anak-anaknya. Namun, realitasnya ternyata tidak seperti yang diidealkan. Persepsi yang terbangun di kalangan warga Muhammadiyah terhadap eksistensi TK Aisyiyah di Kota Malang demikian beragam dan cenderung “kurang bagus”. Sehingga wajarlah kalau sekiranya partisipasi warga Muhammadiyah menurut perkiraan kasar Dra. Umi Ahsana, Ketua Majlis Dikdasmen PDA Kota Malang, dalam menyekolahkan anaknya di TK Aisyiyah hanya sekitar 20% dari seluruh jumlah siswa TK Aisyiyah.[25]

No Perseption! Kurang Populer

Bahkan lebih ironis lagi, ada beberapa informan yang tidak memiliki persepsi (proses menyadari dan menginterpretasi) tentang TK Aisyiyah sedikitpun. Artinya, secara kognitif, TK Aisyiyah tidak tergambar sama sekali dalam kesadaran memilih pendidikan prasekolah untuk anak-anaknya. RL (45 tahun) misalnya, staf pengajar di UMM yang lebih memilih TK Asy-Syahriyah Tlogomas sebagai alternatif  pilihan bagi anak kedua dan ketiganya. Ketika ditanya apa yang diketahui tentang TK Aisyiyah, dengan cepat ia menjawab: “Maaf, saya tidak punya persepsi tentang itu sama sekali!”.[26] Atau HAF (40 tahun), juga staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang, dalam suatu bincang informal peneliti ajukan pertanyaan: mengapa tidak memilih TK Aisyiyah untuk anak-anaknya? Dengan spontan, ia menjawab: “Di mana ada TK Aisyiyah? Kok kayaknya, tidak ada TK Aisyiyah di dekat rumah?” Ketika diberitahu bahwa TK Aisyiyah yang terdekat ada di kompleks Masjid al-Khairat Gajahyana atau juga di Jl. Sumbersari, ia malah bertanya: “Iya tho? Maaf saya tidak tahu”.[27]

Tabel 1: Sebaran TK Aisyiyah di Kota Malang

No.

TK Aisyiyah

Alamat

Kecamatan

I

Jl. Ir. Rais I/44 Tanjung Sukun

II

Jl. Pattimura 4/247 Klojen

III

Jl. Aris Munandar 7a/711 Klojen

IV

Jl. Laks. Martadinata I/1129 Kedungkandang

V

Jl. Bareng Tenes 4A/637 Klojen

VI

Jl. Kol. Sugiono 7/19 Kedungkandang

VII

Jl. Ki Ageng Gribig II/146 Kedungkandang

VIII

Jl. Manyar 29 Sukun Sukun

IX

Jl. Arjuno 19 Klojen

X

Jl. Tumenggung Suryo 5 Klojen

XI

Jl. Bauksit 45 B Blimbing

XII

Jl. Sumpil I/53 Blimbing

XIII

Jl. L. Adi Sucipto Gg. Pesantren Blimbing

XVI

Jl. Watu Gilang 43 Lowokwaru

XVII

Jl. Bareng Tengah 5F/815 Klojen

XVIII

Jl. Kopral Usman I/402 Klojen

XIX

Jl. KH. Hasyim Asyari II/1313 Klojen

XX

Jl. Kyai Sofyan Yusuf 32 Kedungkandang

XXI

Kebon Jeruk V/7 Lowokwaru

XXII

Jl. Letjen S. Parman V/D 11 Kedungkandang

XXIII

Jl. Raya Kepuh 9/2 Sukun

XXIV

Klampok Kasri IIF/276 Klojen

XXV

Jl. Sumbersari Lowokwaru

XXVI

Jl. D. Sentani 1E No. I Kedungkandang

XXVII

Jl. Muharto VB No. c-5-6 Kedungkandang

XXVIII

Jl. Pelabuhan Bakahuni Sukun

XXIX

Jl. Hasyim Kedungkandang Kedungkandang

XXX

Jl. Kemantren (Masj. Firdaus) Sukun

XXXI

Jl. Klayatan I/39 Sukun

XXXII

Jl. Gadang II/35 Kedungkandang

XXXIII

Perum Griya Santa Lowokwaru

XXXIV

Jl. Arjowinangun Kedungkandang

Tabel 2:

Data Murid dan Guru TK Aisyiyah di Kota Malang Tahun 2006-2007

No

Nama TK

Jumlah Murid

Jumlah Semua

Jumlah Guru

Jumlah Semua

L

P

YY

DPK

1.

TK ‘Aisyiyah 1

45

45

90

4

4

2.

TK ‘Aisyiyah 2

16

28

44

1

2

3

3.

TK ‘Aisyiyah 3

19

25

44

2

1

3

4.

TK ‘Aisyiyah 4

12

24

36

3

3

5.

TK ‘Aisyiyah 5

17

20

37

3

3

6.

TK ‘Aisyiyah 6

91

67

158

8

8

7.

TK ‘Aisyiyah 7

68

57

125

8

8

8.

TK ‘Aisyiyah 8

40

36

76

6

6

9.

TK ‘Aisyiyah 9

52

42

94

8

1

9

10.

TK ‘Aisyiyah 10

48

36

84

6

6

11.

TK ‘Aisyiyah 11

65

58

123

7

7

12.

TK ‘Aisyiyah 12

55

57

112

4

1

5

13.

TK ‘Aisyiyah 13

49

57

106

5

1

6

14.

TK ‘Aisyiyah 16

63

58

121

8

8

15.

TK ‘Aisyiyah 17

33

37

70

4

1

5

16.

TK ‘Aisyiyah 18

20

20

40

2

2

17.

TK ‘Aisyiyah 19

14

11

25

2

2

18.

TK ‘Aisyiyah 20

38

40

78

3

3

19.

TK ‘Aisyiyah 21

24

18

42

3

3

20.

TK ‘Aisyiyah 22

26

31

57

4

1

5

21.

TK ‘Aisyiyah 23

78

95

173

10

1

11

22.

TK ‘Aisyiyah 24

59

36

95

5

1

6

23.

TK ‘Aisyiyah 25

26

39

49

4

4

24.

TK ‘Aisyiyah 26

60

79

139

6

6

25.

TK ‘Aisyiyah 27

15

14

29

3

3

26.

TK ‘Aisyiyah 28

61

39

100

4

4

27.

TK ‘Aisyiyah 29

13

16

29

3

3

28.

TK ‘Aisyiyah 30

32

39

71

5

5

29.

TK ‘Aisyiyah 31

62

62

124

6

6

30.

TK ‘Aisyiyah 32

75

66

141

8

8

31.

TK ‘Aisyiyah 33

31

28

59

5

5

32.

TK ‘Aisyiyah 34

9

13

22

3

3

Selain itu, gambaran kognitif warga Muhammadiyah tentang TK Aisyiyah di antaranya identik dengan sekolah yang lokasinya tidak strategis dan kurang populer atau kurang informatif, sebagaimana yang diutarakan oleh UJ (36 tahun), ibu dari 2 anak, staf pengajar UMM dan berdomisili di Jl. Kapi Minda Sawojajar. Ia lebih memilih TK Kartika untuk kedua anaknya, selain karena jaraknya dekat dengan rumah, murah, juga ada ikatan historis yang bersifat “turun-temurun”, dimana sejak ayahnya dahulu, seorang pensiunan TNI hingga dirinya menempuh pendidikan prasekolah juga di TK tersebut, sehingga ia amat akrab dengan pengurus dan guru-gurunya. Selain itu kualitas pembelajarannya  juga lumayan dengan fasilitas yang standard, “di sana penerimaan siswanya dibatasi. Sehingga kelasnya kecil dan perhatian guru-gurunya menjadi lebih maksimal. Dan output lulusannya sudah bisa membaca” katanya. Ketika peneliti ajukan pertanyaan mengapa tidak memilih TK Aisyiyah, dengan cepat ia menjawab bahwa dia dan suaminya dulu pernah survey sekilas di beberapa TK sebelum memilih TK Kartika untuk anaknya. Ada TK Aisyiyah yang ia datangi, namun lokasinya jauh. “Dan kayaknya kurang populer, serta informasi tentangnya hampir tidak ada” ujarnya mengakhiri.

Senada dengan itu, AY (25 tahun), seorang ayah muda yang aktif sebagai karyawan perpustakaan UMM dan tinggal di Jl. Ranu Glati Sawojajar, ketika diajukan pertanyaan yang sama, ia berujar:

“Alasan saya dan istri memilih TK al-Huda untuk anak saya, pertama karena jaraknya dekat dari rumah; kedua, kualitas pembelajarannya bagus, paling tidak itu ditunjukkan dengan adanya fasilitas komputer dan juga sarana bermain yang memadai; dan ketiga, ini tambahan aja, kebetulan istriku guru di TK tersebut”

Sedangkan HMN (34 tahun) ibu dari 3 anak, mantan ketua Aisyiyah Cabang Istimewa Mesir, aktif sebagai pengajar di UMM dan sekarang tinggal di Perum. Puncak Dieng, ia lebih memilih TK IT as-Salam untuk kedua anaknya, ketika ditanya mengapa tidak memilih TK Aisyiyah untuk anaknya, ia berujar:

“Saya tidak tahu sama sekali informasi tentang TK Aisyiyah. Mungkin saat itu, karena saya baru pindah ke Malang. Pas kebetulan saat itu ada teman yang kasih informasi tentang TK IT. Assalam. Katanya sih bagus. Terpadu yang menggabungkan kurikulum Islam dan Diknas. Ada jam ekstranya. TK A ekstranya bahasa Inggris dan TK B Sempoa. Sehingga pulangnya kadang sampai jam 11 siang. Ketika saya lihat, kok kayaknya cocok. Karena saya memang mencari TK yang jam sekolahnya panjang”.[28]

Kurang Strategis

Masalah popularitas memang adakalanya berkaitan dengan lokasi sekolah selain juga dengan upaya membangun image (emage building) melalui berbagai promosi dan informasi yang disebar. Tentang lokasi TK. Aisyiyah ini, TS (36 tahun), Dosen UIN Malang, tinggal di Perumahan Griyasanta dan aktif di Majlis Dikdasmen Kota ini misalnya lebih memilih TK Negeri Pembina untuk prasekolah anaknya. Ketika ditanya mengapa tidak di TK Aisyiyah padahal lebih dekat dari rumahnya, ia memiliki pencandraan:

“Kalau dilihat eksistensinya, sepertinya TK Aisyiyah yang dekat rumah baik, sarana-prasarananya bagus, proses pembelajarannya juga tidak kalah. Cuman, lokasinya yang saya kurang sreg: tidak strategis, terpencil, kurang sehat dan kurang luas. Selain itu, sepertinya titik tekannya hanya pada materi agama dan kurang memperhatikan minat anak”.[29]

Dari itulah wajar sekiranya jika sejak awal Dra. Rukmini, ketua PDA Kota Malang mengkatagorikan masalah lokasi sekolah ini sebagai salah satu tantangan pengembangan TK Aisyiyah di kota ini. “Kebanyakan memang nyelempit di gang-gang perkampungan” ujarnya.[30] Bahkan Dra. Umi Ahsana menyebut sekitar 90% lokasinya kurang strategis.[31]

Belum bisa diandalkan

Selain lokasi, kualitas juga dapat menjadi faktor popularitas sesuatu. Ibaratnya seperti restoran atau warung makan, walaupun lokasinya jauh dan tidak terlihat oleh mata tetapi jika kualitas makanan dan penyajiannya benar-benar “mak nyoos[32] membuat selera senantiasa terbangkitkan, maka secara “getuktular” imej positif akan terbangun dan konsumen akan datang dengan sendirinya. Begitu juga dengan sekolah sebagai lembaga jasa kependidikan. Kualitas manajemen pengelolaan yang efektif membentuk outcome dan lulusan yang unggul berkualitas dengan sendirinya menjadi promosi bagi lembaga tersebut.

Pada aspek mutu inilah beberapa informan memiliki persepsi tentang belum adanya TK Aisyiyah yang berkualitas di kota ini. AHR (40 tahun), staf pengajar UMM dan aktif di Majlis Dikdasmen yang menyekolahkan anaknya di TK Asy-Syahriyah misalnya, ketika ditanya mengapa tidak memilih TK Aisyiyah untuk ke dua orang putranya, dengan tegas ia menjawab:

“Mana ada TK ABA di kota ini yang bisa diandalkan? Sepengetahuan saya belum ada TK ABA yang bisa diharapkan oleh warga Muhammadiyah karena kualitasnya, yakni TK yang mampu memenuhi daya saing di masa kini. Kesan saya, sekolah itu yang penting ada, pengelolaannya nomor dua. Padahal idealnya, kan pengelolaannya harus sesuai standard pendidikan, tidak hanya semangat saja! Warga Muhammadiyah tentunya sudah pada pintar dan kebanyakan mereka tidak suka pengkotakkan. Karenanya kalau memang pendidikan Muhammadiyah tidak ada yang bisa diharapkan untuk mencerdaskan anak-anak mereka, mereka tentunya akan memilih sekolah non-Muhammadiyah yang berkualitas. Ideologi tidak menjadi jaminan!”[33]

HSN (42 tahun), staf pengajar UMM dan aktif di Majlis Tabligh PDM Kab. Malang yang lebih memilih B.A. Restu untuk anak pertama dan TK. IT. As-Salam Sigura-gura untuk anak keduanya, ketika disodori pertanyaan yang sama tentang TK Aisyiyah, juga menunjukkan jawaban yang tidak jauh berbeda:

“TK Aisyiyah belum menunjukkan kualitas lebih. Contohnya, output dari TK Aisyiyah belum dapat bersaing dengan lulusan TK lain semisal ketika masuk SD/MI favorit, kalah dalam pelbagai even lomba hafalan, dan kurang dalam kemampuan baca tulis. Itu bisa jadi karena kualitas pembelajarannya masih kalah baik. Karenanya, ketika hendak menyekolahkan anak, TK Aisyiyah saya survei pun tidak, karena kualitas belum terjamin. Selain itu, TK Aisyiyah belum menunjukkan ciri khas keunggulan tertentu. Sebagai contoh TK As-Salam umpamanya, ia menunjukkan ciri khasnya pada aspek pembelajaran agama”.[34]

Senada dengan itu, MNH (42 tahun), staf pengajar di UMM dan Wakil Ketua PDM Kab. Malang yang menyekolahkan kedua putranya di TK asy-Syahriyah, ketika ditanya mengapa di asy-Syahriyah, ia menjawab bahwa anaknya yang pilih sendiri, walaupun sejak awal ia telah kondisikan ke BA Restu, dengan mengajak jalan dan lihat-lihat ke sana. Tetapi ternyata ketika pendaftaran sang anak lebih tertarik ke asy-Syahriyah. Mungkin karena penyambutannya lebih welcome dan lebih berkesan.

Ketika disodori pertanyaan apakah saat mengkondisikan anak melihat-lihat juga ke TK Aisyiyah, dengan cepat ia memberi jawaban “Tidak. Karena menurut saya belum ada TK Aisyiyah yang menonjol atau berkualitas”.[35]

La Wong Aisyiyah, Jhe!

Di luar persepsi tentang TK Aisyiyah yang kurang strategis dan belum bermutu di atas, ternyata masih ada ruang kesadaran bagi warga Muhammadiyah/Aisyiyah untuk memilih preschool education ini bagi putra-putrinya. SRH (65 tahun) misalnya. Perempuan yang pernah diamanahi menjadi ketua PDA Kota Malang beberapa periode dari 1980 hingga 2005 ini lebih mengutamakan TK Aisyiyah untuk semua anak dan cucunya. Ketika disodori pertanyaan mengapa lebih memilih TK Aisyiyah, dengan tegas dan singkat ia menjawab: “La Wong Aisyiyah jhe!”[36]

Senada dengan itu, UAS yang aktif di majlis Dikdasmen PDA kota Malang periode saat ini, di mana menyekolahkan semua anaknya di TK Aisyiyah 23 Sukun memberikan alasan:

“Yang pertama bagi saya adalah masalah pondasi agama. Pada masa TK, tuntunan agama yang kita yakini benar mesti ditanamkan pada anak. Dan TK Aisyiyah memberikan itu. Yang kedua, mutu beberapa TK Aisyiyah tidak kalah dengan yang lain. TK 23 Sukun misalnya, lulusannya tidak kalah bersaing dengan yang lain ketika masuk di SD/MI favorit di kota Malang, dan itu menjadi promosi tersendiri. Sehingga 80 porsen murid TK tersebut justru dari luar Sukun. Dan yang ketiga, karena saya warga Aisyiyah, tentunya saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga eksistensi TK Aisyiyah, salah satu caranya ya memilih TK Aisyiyah untuk anak-anak saya”[37]

Manajemen Sekolah

Walaupun kebanyakan informan penelitian ini tidak menyekolahkan anaknya di TK Aisyiyah, namun mereka tidak putus harapan agar prasekolah Muhammadiyah ini terus berkembang dan semakin berkualitas. HMN misalnya, ia melihat bahwa akar tidak berkembangnya TK Aisyiyah lebih karena persoalan menejerial, di mana secara eksistensiil sebenarnya TK Aisyiyah memiliki potensi yang besar untuk berkembang karena sumber dayanya sudah ada seperti SDM, finansial, dan sosial. artinya masyarakat sudah pada tahu. Tetapi mengapa tidak berkembang? Menurut bapak beranak dua ini, pertama, lebih karena persoalan manajemen. Belum ada leader yang benar-benar mampu memanfaatkan potensi sumber daya itu, serta mengetahui dari mana harus memulai. Kedua, kepercayaan masyarakat tidak ada. Hal ini mungkin karena lulusan TK Aisyiyah belum terbukti mampu bersaing dengan lulusan TK unggulan yang ada dalam seleksi masuk SD/MI favorit di kota ini”[38]

Masalah manajemen sekolah memang tidak hanya disayangkan oleh HMN semata tetapi juga disadari oleh segenap pimpinan Aisyiyah. Dra. Rukmini misalnya ketika ditanya tentang tantangan pengembangan TK Aisyiyah ke depan, ia menyebut selain masalah geografis yakni lokasi sekolah yang kurang strategis, juga ada problem penataan ke dalam (manajemen internal) dan tantangan eksternal.

Problem manajemen internal, jelas Ketua PDA Kota ini, menyangkut lemahnya pendataan (data base) yang dimiliki oleh TK Aisyiyah, sehingga informasi tentang TK Aisyiyah tidak bisa dikelola dengan baik. Selain itu ada problem SDM pelaksana dan pengelola. Rata-rata guru TK Aisyiyah lulusan SMA dan masih ada yang hanya lulusan SMP. Juga SDM pengurusnya (PCA), kebanyakan mereka tidak memahami fungsi kepengurusan karena tampaknya menjadi pengurus hanyalah kerja sambilan semata, sehingga di lapangan terlihat kurangnya sinergi antar mereka. Ditambah lagi dengan adanya kesan ketidakpercayaan Muhammadiyah terhadap institusi Aisyiyah.

Sedangkan tantangan eksternalnya adalah di satu sisi ada problem imej yang telah berkembang di masyarakat bahwa yang mahal itu pasti bagus, sehingga TK-TK Plus yang begitu mahal diserbu oleh kalangan menengah ke atas, di sisi lain muncul banyak TK saingan dari lembaga sosial-keagamaan lain yang karena memiliki akses lebih terhadap penyandang bantuan terutama dari Departemen Agama sehingga mampu menggratiskan murid-muridnya.[39]

Merjer, pilot project, atau biarkan mengalir?

Dari itulah, harapan yang berkembang di benak para informan adalah adanya upaya pengelolaan TK Aisyiyah yang lebih profesional. Menurut MNH, paling tidak ke depan ada upaya pengelolaan TK Aisyiyah yang dimaksudkan untuk membidik putra-putri warga Muhammadiyah kelas menengah ke atas. Karenanya, ia mengusulkan perlu ada pilot project membangun beberapa TK Aisyiyah non-Ranting, sebuah TK Aisyiyah yang dikelola dan ditangani langsung secara professional dengan manajemen pendidikan dan leadership yang efektif oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang, tidak diserahkan pelaksanaanya ke Pimpinan Ranting Aisyiyah sebagaimana yang sekarang ada.[40]

Harapan MNH ini tampaknya juga telah disadari oleh segenap pimpinan Aisyiyah terutama Majlis Dikdasmen PDA, karena menurut Dra Umi Ahsana dan diamini oleh Dra. Rukmini, ke depan memang telah dipersiapkan beberapa TK Aisyiyah unggulan semisal TK Aisyiyah 10 di Jl. Temenggung Suryo 5 Klojen, TK Aisyiyah 23 di Jl. Raya Kepuh 9/2 Sukun, dan TK Aisyiyah 26 di Jl. Danau Sentani 1E No. I Kedungkandang.

Ketika disodori wacana tentang upaya memerjer beberapa TK Aisyiyah yang kurang bermutu, hampir semua informan tidak setuju. MNH misalnya memberikan alasan karena setiap TK Aisyiyah itu memiliki pangsa pasar tersendiri hatta yang ada di gang nyelempit sekalipun. Karenanya, ia cenderung membiarkan TK-TK itu mengalir, sambil terus dibenahi.

Selain itu, UAS memberikan alasan bahwa orientasi adanya TK Aisyiyah adalah Dakwah. Karenanya, bila upaya merjer dilakukan maka instrumen dakwah pendidikan usia dini di masyarakat menjadi berkurang, padahal yang diinginkan adalah perkembangan yang tidak hanya secara kualitatif juga kuantitatif.[41]

Untuk itulah, menurut SRH, dari pada dimerjer lebih baik ditingkatkan pengelolaannya dan disinergikan seluruh potensi Aisyiyah di cabang, ranting dan daerah untuk menggarap lahan dakwah ini. Juga Muhammadiyah Kota diharapkan mau turun tangan, ikut membantu menangani banyak hal yang belum mampu diselesaikan oleh Aisyiyah, seperti sertifikasi lahan misalnya.[42]

Lain dari itu, di antara informan juga ada yang berharap bahwa TK Aisyiyah harus mampu menunjukkan karakter yang khas Muhammadiyah dimana membedakannya dengan TK-TK yang lain, utamanya dalam muatan, lingkungan, dan proses pembelajaran keagamaannya.

V.    KESIMPULAN DAN SARAN

Dari paparan hasil pembahasan di atas dapat ditalkhis bahwa persepsi yang berkembang di kalangan warga Muhammadiyah terhadap eksistensi TK Aisyiyah di Kota Malang sebagai Muhammadiyah preschool education amat beragam dan cenderung “kurang”. Di antaranya kurang informatif, kurang populer, lokasi kurang strategis, kurang menunjukkan karakter dan keberbedaannya dengan TK lain, hingga kurang berkualitas dari sisi menajemennya, proses dan sarana pembelajarannya, sampai lulusan-lulusannya.

Karena persepsi merupakan proses menyadari dan menginterpretasi bagi seseorang yang amat berpengaruh pada tindakannya, maka berdasar persepsi warga Muhammadiyah tersebut, ikhtiar warga Muhammadiyah dalam memilih Taman Kanak-kanak untuk putra-putrinya dapat dikatagorikan dalam tiga kelompok, yaitu pragmatis, rasional, dan ideologis.

  1. Muhammadiyah pragmatis adalah warga Muhammadiyah yang memilih TK untuk anaknya lebih karena alasan praktis, seperti kedekatan jarak sekolah dengan rumah, lokasi TK sejalur dengan sekolah anak yang lebih tua sehingga hanya sekali hantar, kebetulan ada ibu atau kerabat yang menjadi pengurus atau guru TK tertentu, kebetulan karena sebelumnya telah kenal dengan pengurus dan guru-gurunya, dan sebagainya.
  2. Muhammadiyah rasional, mereka lebih memilih TK untuk putra-putrinya lebih karena alasan kualitas pendidikannya yang tercermin dalam efektifitas manajemen dan kepemimpinan sekolah, proses dan lingkungan pembelajarannya, hingga mutu lulusan TK yang siap bersaing memasuki SD/MI yang favorit di Malang ini. Seloroh yang khas kelompok ini adalah “Buat Anak, Kok Coba-coba!“.
  3. Muhammadiyah ideologis adalah mereka yang lebih memilih TK Aisyiyah karena sense of belonging (rasa memiliki) dan ikatan emosionil dengan Muhammadiyah, sehingga seakan muncul di benak mereka paradigma right or wrong is my Aisyiyah/ Muhammadiyah atau seloroh: “La wong Aisyiyah/ Muhammadiyah jhe!

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L, Atkinson, R.C, Hilgard, E.R. (1997). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga.

Irwanto. (2002). Psikologi umum (buku panduan mahasiswa). Jakarta : PT. Prehallindo.

Kartono, K dan Gulo, D. (2000). Kamus psikologi. Bandung : CV. Pionir Jaya.

Kartono, K. (1990). Psikologi umum. Bandung : Mandar Maju.

Mahmud, M.D. 1990. Psikologi suatu pengantar. Yogyakarta : BPFE.

Majlis Dikdasmen PDA Kota Malang. 2006. Laporan  Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang Tahun 2006/2007. Dokumen tidak diterbitkan.

Pimpinan Pusat Aisyiyah, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Aisyiyah. Tth., Tt., Devisi Penerbitan dan Publikasi PP. Aisyiyah.

Rahman, H.S.. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. PGTKI Press. Yogyakarta.

Rakhmat, J. (1998). Psikologi komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Saleh, A.R dan Wahab, M.A. (2004). Psikologi suatu pengantar (dalam perspektif Islam). Jakarta : Kencana.

Sarwono, S.W. (1987). Teori-teori psikologi sosial. Jakarta : Rajawali.

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Bima Aksara, Jakarta.

Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung : Pustaka setia.

Thoha, M. (1988). Perilaku organisasi, konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Rajawali.

Vandenbos, Gary R. (Editor in Chief). 2002. APA Dictionary of Psychology. Washington DC: American Psychological Association.

Walgito, B. (1990). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta : Andi Offset.


[1] Aisyiyah berdiri pada tanggal 27 Rajab 1335H yang bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1917 di Yogyakarta. Amal usaha yang dikembangkan oleh persyarikatan perempuan ini mencakup tujuh bidang, yakni: tabligh, pendidikan dan kebudayaan, pembinaan kesejahteraan umat, pendidikan paramedis, ekonomi, pembinaan kader, dan hubungan Aisyiyah dengan pihak luar.

Di bidang pendidikan dan kebudayaan, keterikatan Aisyiyah pada penyelenggaraan pendidikan sejak tahun 1919, 2 tahun setelah kelahirannya, dengan mendirikan Sekolah Frobel (TK). Dan itulah Frobel pertama di Indonesia yang didirikan oleh pribumi. Landasan teologis pendirian sekolah untuk anak-anak ini adalah hadits Nabi SAW yang menyebutkan: kullu maulud yulad alal fithrah, faabawahu yuhawidanihi aw yunashiranihi aw yumajisanihi. Bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fithrah (membawa potensinya masing-masing, pen.), maka orang tualah (lingkungan) yang menjadikannya yahudi, nashrani, atau majusi. Berdasar inilah maka tujuan utama pendirian sekolah frobel tersebut diantaranya ialah menanamkan keimanan dan akhlaq budi pekerti sejak anak-anak. Lihat Pimpinan Pusat Aisyiyah, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Aisyiyah. Tth., Tt., Devisi Penerbitan dan Publikasi PP. Aisyiyah. Halaman 59

[2] Ibid., halaman 61

[3] Data Murid dan Guru TK Aisyiyah Bustanul Atfal Kota Malang Tahun Pelajaran 2006-2007. Laporan  Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang Tahun 2006/2007. Dokumen tidak diterbitkan.

[4] Interview by phone dengan Dra. Rukmini, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang tertanggal 22 Januari 2007, Pukul 06.00 WIB.

[5] Interview by phone dengan Dra. Rukmini, Ibid., dan dengan Dra. Umi Achsana Ketua Majelis Dikdasmen PDA Kota Malang tertanggal 22 Januari 2007, Pukul 06.30 WIB.

[6] Persepsi di sini dibatasi hanya pada eksistensi dan kualitas kelembagaan TK Aisyiyah di kota Malang. Sedangkan yang dimaksud warga Muhammadiyah adalah mereka yang secara formal memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA), atau sekurang-kurangnya mereka yang secara organisatoris terlibat dalam persyarikatan Muhammadiyah/Aisyiyah mulai dari kepengurusan Ranting hingga Daerah atau di berbagai amal usahanya.

[7] Vandenbos, Gary R. (Editor in Chief). 2002. APA Dictionary of Psychology. Washington DC: American Psychological Association. Halaman 683

[8] Kartono, K dan Gulo, D. (2000). Kamus psikologi. Bandung : CV. Pionir Jaya. Halaman 343.

[9] Atkinson, R.L, Atkinson, R.C, Hilgard, E.R. (1997). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga. Halaman 201

[10] Walgito, B. (1990). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta : Andi Offset. Halaman 53

[11] Vandenbos, Op.Cit. Halaman 683

[12] Kartono, K. (1990). Psikologi umum. Bandung : Mandar Maju. Halaman 61

[13] Lihat Mahmud, M.D. 1990. Psikologi suatu pengantar. Yogyakarta : BPFE. Halaman 41

[14] Lihat Sarwono, S.W. (1987). Teori-teori psikologi sosial. Jakarta : Rajawali. Halaman 95.

[15] Saleh, A.R dan Wahab, M.A. (2004). Psikologi suatu pengantar (dalam perspektif Islam). Jakarta : Kencana. Halaman 88.

[16] Thoha, M. (1988). Perilaku organisasi, konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Rajawali. Halaman 138

[17] Lihat Rakhmat, J. (1998). Psikologi komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Halaman 51.

[18] Irwanto. (2002). Psikologi umum (buku panduan mahasiswa). Jakarta : PT. Prehallindo. Halaman 71.

[19] Thoha, Op.Cit., halaman 143

[20] Lihat Rahmat, Op.Cit., halaman 55-58

[21] Lihat Shaleh dan Wahab. Op.Cit., halaman 89

[22] Lihat Walgito. Op.Cit., halaman 54

[23] Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung : Pustaka setia. Halaman 447

[24] Data Murid dan Guru TK Aisyiyah Bustanul Atfal Kota Malang Tahun Pelajaran 2006-2007. Laporan  Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang Tahun 2006/2007. Dokumen tidak diterbitkan.

[25] Interview di rumahnya tanggal  01 Pebruari 2007

[26] Wawancara tanggal 23 Januari 2007.

[27] Bincang nonformal tanggal 23 Januari 2007

[28] Interview by phone tanggal 2 Mei 2007 pukul 06.00 WIB

[29] Interview di PDM Kota Malang tanggal 27 Januari 2007.

[30] Rukmini, Op.Cit., interview by phone  tanggal 22 Januari 2007.

[31] Ahsana, Op.Cit.

[32] Ungkapan khas Bondan Winarno ketika mencicipi lezatnya makanan pada acara Kuliner di TransTV setiap hari mulai pukul 13.30 WIB.

[33] Wawancara di rumah pada hari Jum’at tanggal 25 Januari 2007.

[34] Wawancara langsung di lobi kantor tanggal  26 Januari 2007

[35] Wawancara langsung di lobi kantor, tanggal 1 Pebruari 2007, pukul 16.00-16.30 WIB

[36] interview by phone tanggal 2 Pebruari 2007.

[37] Interview by phone tanggal 2 Pebruari 2007.

[38] Op.Cit, wawancara tanggal 1 Pebruari 2007.

[39] Rukmini, Op.Cit., wawancara  tanggal 22 Januari 2007.

[40] MNH, Op.Cit.

[41] UAS, Op.Cit.

[42] SRH, Op.Cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s