Nordin Top-Markotop

Posted: September 18, 2009 in celetukan
Tags: , , , ,

nordin“Negeri Dongeng!!” ujar Kang Ri tiba-tiba menyentak. Mengagetkan.

“Ada apa sih, Kang?!” tanyaku agak mangkel. Bagaimana tidak? Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba kuli bangunan ini berteriak. Di depan telingah saya lagi..

“Negeri kita ini benar-benar telah menjadi negeri dongeng!” jawabnya tidak kalah keras.

“Maksud sampean, negeri ini memiliki banyak dongeng?” kataku, “Lha memang begitu Kang adanya. Ada dongeng Malin Kundang, Kancil Nyolong Timun, Misteri Gunung Berapi dan masih banyak lagi..”

“Bukan itu maksud saya, Dul. Sok tahu!” katanya sengit. Weleh-weleh, kesurupan jin mana nih Kang Ri kok tidak seperti biasanya. Hari ini kok sensi amat…

“Lalu apa dong Kang?” tanyaku mencoba menahan diri. Bersabar. Inni shoim bro!

“Dul, menurut kamu benar tidak, bahwa hanya di dalam dongenglah segala ekstrimitas diejahwantahkan?”

“Mungkin, Kang! Tapi kayaknya di film kartun juga begitu…” Jawabku asal-asalan sambil menebak-nebak apa yang dimaui oleh orang di depanku ini.

“Negeri kita ini, Dul telah menjadi negeri dongeng!”

“Maksud sampean?”

“Hanya di negeri kita tercinta inilah pelbagai bentuk kesaktian yang ekstrim bisa kita nikmati sebagai dongeng yang menarik. Ceritanya bisa tanpa akhir. Ataupun kalau berakhir, menyisakan misteri yang kata siapa tuh Dul… “

“Yo emboh Kang!” kataku asal-asalan, nggak tahu hendak kemana sih omongan temenku ini.

“Oh ya, kritikus sastra” katanya dengan senyum persis anak kecil yang baru menemukan mainannya, “Kata mereka, akhir cerita diserahkan sepenuhnya pada para pembaca untuk menebaknya sendiri…”

“Sik toh Kang. Jan-jane Sampean ini ngomong opo toh? Kok nyangkut-nyangkut kritikus sastra segala..” ujarku memotong.

“Dasar cah geblek! Katanya anak sekolahan, dari tadi saya ngomong kok gak paham juga!” Jawabnya nyemprot. Saya bingung ia serius, atau guyon. Tetapi terus terang hati ini dongkol juga, dari tadi saya disemprotin terus. Ya Allah, Inni shoim… paringi kulo kesabaran…

“Dul, denger baik-baik” kayaknya Kang Ri memang serius, “Awakmu paham opo pura-pura gak paham terserah. Negeri kita ini adalah negeri dongeng. Di dalam dongeng apapun bisa terjadi. Mau yang sebenarnya atau rekayasa ceritanya, gak ambil pusing. Yang penting pembaca disuguhi sesuatu yang ekstrim dan melegenda…”

“Paham Kang, paham” kataku menyenangkan hatinya,”contohnya apa Kang?”

“Inget Edi Tansil? Ia benar-benar  ekstrim, melegenda. Larinya ruarrrbiasa cepat dan bisa raib tanpa jejak. Sang Ratu Ekstasi Zarima juga tidak kalah sakti, melegenda. Berulang kali kabur dari tahanan. Bahkan di dalam tahanan bisa hamil dan melahirkan anak yang sampai sekarang tidak diketahui siapa bapak biologisnya. Pangeran cendana, Tomi juga memiliki kesaktian yang tidak kalah legendaris. Terbukti sebagai kriminil, dalang pembunuhan hakim agung, dipenjara,kabur, ketangkep lagi. Dan sekarang malah digadang-gadang menjadi ketua umum partai Golkar. Dan yang terakhir, kesaktian Nordin juga mendapatkan posisi yang top-markotop. Dikepung di Temanggung oleh enamratus personil terlatih dari Densus 88 plus peralatan canggihnya, Nordin bisa berubah wujud menjadi Ibrohim alias Boim, sang perangkai bunga di hotel Ritz Carter. Benar-benar ekstrim toh kesaktiannya..”

“Tapi,Nurdin kan sekarang sudah tewas, Kang” kataku menyela.

“Kata siapa?” tanyanya seakan mengejek.

“Lho Kang Ri tidak lihat berita kemarin tah? bersama Purwa, Aji dan Susilo, ia tewas adu tembak dalam penggerebekan Densus 88 di rumah Susilo di Solo”.

“Gak percaya!! Pernah lihat mayatnya?”

“Gak sih.. tetapi menurut Kapolri ada 14 titik kesamaan sidik jari dengan yang diberikan oleh polisi Diraja Malaysia. Secara yuridis itu tak terbantahkan. Jadi cerita Nordin sudah tamat Kang. kesaktiannya tidak lagi nge-top!”

“Aku tetap tidak percaya!! Lha wong di negeri dongeng ini ia memiliki kesaktian ekstrim jeh. Punya ilmu pancarona!”

“Apa itu Kang?” tanyaku terprovokasi..

“Ilmu pindah jasad. Bahkan memancar ke ribuan jasad sekaligus” Jawabnya bersemangat, “ Bukankah di negeri dongeng ada hukum yang mengatakan: hilang satu tumbuh seribu. Satu Nordin M. Top-Markotop mungkin dipastikan tewas, tetapi nanti akan lahir Nordin-nordin baru. Ada Nordin M. Sipp-Markisip, Nordin M. Joss-Markijos, Nurdin M. Pol-Markimpol… selama keadilan dan ketidakadilan terus ada di muka bumi ini!”

“Wis Kang, wis… tambah sue tambah ngawur, sampean!!!” kataku memaksakan pembicaraan ini berhenti di sini. Dan Kang Ri hanya tertawa ala Mbah Surip “Hah hah hah hah”[]

Tuban, 18 September 2009.

Comments
  1. I went over this internet site and I believe you have a lot of superb information, saved to fav (:.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s