KATROK

Posted: September 14, 2009 in celetukan

IMG_0775“Kang, kadang aku kok merasa iri dengan sampean” kataku pada Kang Ri di suatu sore menjelang buka puasa.
“Jo ngenyek, Dul! Tak keplak koen!”
“Benar nih, Kang. Saya serius!” ujarku mantap.
“Dasar cah geblek!, aku  gak ngereken!”
“Suwer Kang!” kataku sambil kuacungkan dua jari, telunjuk dan tengah hingga membentuk huruf V.
“Jidatmu asin! Plak!” katanya sambil memukul jidatku yang botak ini, “rasain, biar tambah rontok tuh rambut. Ramadhan begini kok masih bisa-bisanya menghina orang!”
“Sumprit, Kang. Saya tidak bermaksud menghina..” ucapku sambil menjaga jarak agar kalau dipukul lagi saya bisa menghindar, “tenan ki, saya kadang ingin bisa seperti dirimu”
“Gak gubris!”
“Katrok alias ndesit” kataku datar.
“Tenan tho… memang kamu ingin menghinaku, Dul!” sambil tangannya beraksi kembali, tapi dengan jurus ngelesot saya mampu menghindarinya, “untung saya berpuasa…” lanjutnya sambil menghela napas pendek.
“Jangan salah sangkah dulu, Kang. Saya tidak bermaksud begitu…” kataku sambil mencoba menenangkan.
“Tidak bermaksud bagaimana? Sudah jelas buktinya, kamu bilang saya katrok alias ndesit”
“Ya… karena memang kenyataannya demikian tho Kang. Sampean memang katrok. Dan saya ingin seperti itu”
“Oh… jadi kamu merasa elit, hingga bilang saya ndesit. Lha wong kamu juga orang ndeso kok Dul. Jo kemenyek tho!”
“itulah masalahnya Kang. Saya ini orang ndeso, tetapi tidak bisa ndesit seperti sampean”
“lha iya tho…, memang kamu kemenyek, kok Dul!”
“Tenan iki Kang”
“Maksudmu apa?”
“Saya ingin bisa berinteraksi dengan Tuhan secara ndesit seperti yang sampean lakukan. Sederhana, bersahaja, luwes dan apa adanya. Tidak memerlukan simbol, formalitas, apalagi publikasi yang tak jarang seringkali direkayasa. Semuanya berjalan dalam aliran yang katrok. Persetan orang lain mau tahu atau tidak, sampean menjalankan puasa, bertarawih dan membaca al-Qur`an dengan tumakninah. Tidak memerlukan alasan ini itu yang kadang dibuat-buat engkau taat bangun malam dan beriktikaf. Suatu hubungan Tuhan-hamba yang ikhlas…”
“Cukup Dul! Cukup! Tidak perlu diomongkan!” ucapnya memotong pembicaraan.
“Mengapa, Kang?” tanyaku.
“Itu tidak perlu dibicarakan, tapi dilakukan!!” jawabnya singkat.
“Katrok banget!!” kataku dalam hati[]

Joyosuko, 14 Sept 2009

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s