H. Taib

Posted: August 28, 2009 in celetukan

“Orang sini kayaknya bangga ya.. dengan mobil proton” kataku pada Umar, sahabatku yang berbaik hati mengantarku node_frameskeliling Kuala Lumpur malam ini, “buktinya, hampir kebanyakan mobil yang berpapasan dengan kita, semuanya Proton”.
“Itulah hebatnya orang sini” komentar Umar.
“Maksud kamu, mereka hebat karena bisa memproduk sendiri mobil nasional mereka?”
“Ya… begitulah. Walaupun tidak sepenuhnya hasil karya mereka sendiri”.
“Kok, bisa?” tanyaku, “apa daleman Proton bukan karya anak bangsa Malaysia?”
“Bukan, tetapi produk Mitsubisi Jepang” Jawabnya.
“benarkah? Sama dong, dengan mobil Timor zaman Orba dahulu?”
“Ya.. begitulah. Cuman bedanya mereka bangga dengan mobil yang dinasionalkan tersebut. Sedangkan anak bangsa kita sudah terlanjur kena sindrom cinta bikinan luar negeri. Padahal kreativitas orang kita jauh melebihi orang sini”.
“Tidak hanya kreativitasnya, tetapi sumberdaya alam dan budayanya juga. Cuman barangkali kitanya mungkin yang tidak memiliki sense of belonging terhadap itu semua..” kataku berkomentar suka-suka.
“Kebalikannya, orang sini memiliki sense of belonging yang luar biasa besar. Saking besarnya sampai mereka mengaku-ngaku hasil karya orang atau bangsa lain sebagai miliknya hehehe” ujar sahabatku yang hampir satu dasawarsa tingal di negeri jiran ini.
“what’s a problem with them?” kataku sok nginggresi hehehehe, ikut-ikutan orang sini yang sukanya ngomong campur-campur, melayu-inggris.
“Jangan-jangan benar apa yang diindikasikan orang selama ini [lihat: Edi Prasetyono, Kompas, 26/8/2009]” jawab sahabatku, “bahwa di tengah kemajuan sektor ekonomi yang diraih, mereka tersadarkan dengan samar-samarnya keaslian identitas mereka sebagai nation state, karenanya mereka ingin menunjukkan sebagai the Trully Asia, bangsa yang benar-benar Asia!”
“Kesannya kok kayak orang yang terserang inferior kompleks gitu sih!” kataku menyimpulkan.
“Bukan aku lho Dul, yang bilang…”.
“tapi Ente kan.. yang mancing hehehe”.
“Itu bisa jadi benar. Nenek moyang mereka sebagian besar dari Sumatra, dan sebagiannya lagi dari Sulawesi (Bugis). Terus kekhasan mereka apa?”
“Melayu Islam” jawabku sekenanya.
“Bisa jadi. Tapi itu bukan monopoli mereka”.
“Sebentar sebentar… aku ingin menikmati dulu..” kataku menghentikan omongannya.
“Menikmati apaan sih?” katanya penasaran…
“Stttt!!!” jari telunjuk kutaruh di depan bibir sambil mataku menatap keluar jendela mobil. Saat itu Kancil yang kami tumpangi masuk kawasan perbelanjaan Law Yat.
“Di sini kok banyak orang Arab ya… weleh weleh, kontras banget. Perempuannya ada yang berjubah serba hitam dan bercadar, namun tidak jarang banyak pula yang wow pamer kulit pundak dan betis, pakai yukensi mai kelek hehehe”
“Oh.. itu. Iya sekarang nih di sini lagi Arab season”
“Apaan tuh?”
“Musim Arab. Kalau di Timur Tengah lagi musim panas, orang-orangnya kan pada keluar negeri, liburan. Termasuk ke sini. Ya.. kayak ke Puncaklah di Indonesia”.
“tapi kan tidak sebanyak ini?”
“Iya, mungkin karena Kuala Lumpur lebih aman, tertib dan bersih di banding Jakarta”
“Iya, ya. Saya dari tadi kok tidak menemukan ada pengemis, gelandangan dan kupu-kupu malam di sini? Apa segini makmurnya negeri Jiran ini?”
“Nggak juga. Itu pasti ada, walaupun tidak sebanyak di Jakarta. Itulah hebatnya negara ini?”
“Hebat apaan?” kataku, yang dari tadi hanya bertanya dan bertanya saja kayak balita yang baru bisa ngomong. Mudah-mudahan aja temanku ini nggak bosan hehehe.
“Hebat dalam hal menutup-nutupi hehehe. Nantilah pasti akan kamu temukan.. Eh, kita makan malam dulu ya..”
“Boleh, boleh, aku ikut pak sopir ajalah..”
“Mau makan apaan nih?”
“Terserah deh, kalo bisa yang khas sini” dan mobilpun berbalik arah entah dibawa kemana oleh sahabatku ini. Lagian saya juga buta peta sini. Wis ikut aja… singkat cerita, mobilpun masuk di suatu kawasan yang kalau dilihat dari bangunannya mirip rumah melayu dengan panggungnya.
“Bolehlah kau sebut ini kampung Melayu hehehe” ujarnya.
Saya lihat dari ujung gang ke ujung lainnya berisi restoran tradisional dengan menjajakan kuliner yang beraneka ragam. Sebagian beraroma serba ikan, dan sebagian serba daging. Saya membaca plang jalan bertuliskan Jl. Raja Muda Musa. Setelah berkeliling, kamipun masuk aja ke salah satu restoran. Ramai sekali. Kebanyakan muda-mudi. Ada yang berpasangan, kayaknya lagi pacaran deh. Ada pula yang rombongan cewek-cowok. Dilihat dari dandanan dan mobil tumpangannya, kayaknya mereka anak orang-orang Melayu yang kaya. Setelah memesan makanan, saya kembali mengamati sekeliling.
Hampir semua pelanggan di sini orang Melayu. Kontras dengan di Law Yat tadi, penjual dan pembelinya kebanyakan orang Cina. Saya merasakan ada dua komunitas yang saling berhadap-hadapan di negeri ini. Konon kata temenku, sentimen ras antara keduanya menjadi potensi bom yang rawan meledak, apalagi jumlah orang Cina hampir menyamai orang Melayu. Walaupun ada kebijakan ekonomi yang mengutamakan Melayu, terutama pada rezim Mahathir, “namun karakter pribumi di sini adalah pemalas” katanya, “walaupun mereka diutamakan untuk, sederhananya, memiliki pertokoan misalnya, tetapi mereka lebih suka menjual propertinya dengan harga mahal ke orang cina daripada mengelolanya sendiri. Akhirnya, yang kaya ya orang Cina, lalu berani punyak anak banyak…”. Dimanapun ternyata sama saja, pendatang lebih beretoskerja daripada pribumi.
“Ayo Dul, makan dulu. Hentikan lamunannya hehehe” ucap Umar, ternyata hidangan telah datang. Kamipun menikmati makan malam. Belum habis nasi goreng yang kusantap, tiba-tiba ada bungkusan tisu ditaruh oleh ibu-ibu setengah baya di atas mejaku sambil berucap “beli pakcik”. Aku menatap Umar, memintanya bereaksi. Iapun angkat tangan, dan ibu itupun berlalu..
“Benarkan… ada pengemis?”katanya, dan akupun tersenyum, “habis ini kamu saya bawa ke kawasan lain di Ke-El ini. Biar ente tahu!”
“Apaan tu?” tanyaku.
“Nantilah… lihat sendiri hehehe”
Setelah membayar di kasir, kamipun meluncur meninggalkan Raja Muda Musa. Kancil terus berjalan, entah jalan apa saja yang dilewatinya, sampailah kami di sebuah kawasan. Sepertinya kalau siang kayak pertokoan. Jam di tangan menunjukkan pukul 11 malem waktu malaysia. Kulirik ada semprotan pilox besar di salah satu dinding bertuliskan H. Taib. “Orang sini menyebutnya Jl. Haji Taeb” kata Umar, bikin saya pensaran. “Nah, tu lihat!” telunjuknya dari dalam kaca Kancil mengarah ke perempuan berbodi semlohai, berkulit putih, berdandan ala india, berbedak dan bergincu tebal. “Itu.. itu ada lagi, dan itu tuh rombongan hehehehe” kali ini yang ditunjuk deretan perempuan yang berdandan cantik sambil duduk-duduk dengan gaya menjajakan. Ketika kancil kami melewati mereka, ternyata para bencong hehehe.. “ternyata Endang Bambang!” umpatku dalam hati hehehe.
“Mau tanya-tanya mereka? Ente kan biasa penelitian?” kata sahabatku menawari.
“Nggak ah, takut. Kita pulang aja!” pintaku. Dan kancilpun keluar dari kawasan. Ternyata tidak seindah namanya. Taib berarti orang yang kembali (bertaubat), dan realitanya orang-orang yang mangkal di sana, para calonya, dan para pelanggannya di malam hari, benar-benar kembali dan kembali lagi berdekapan dengan nafsu birahinya…[]
Selangor, 16/7/2009. Diedit kembali di Joyosuko, 28/8/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s