Kang Karmono

Posted: August 26, 2009 in celetukan

New22Bagi Kang Karmono, Ramadlan adalah bulan yang menggembirakan, penuh pengharapan namun sekaligus menyedihkan.
“Kok bisa, Kang?” tanyaku saat kongkow sebentar di serambi musholla seusai tarawih.
“Bagaimana tidak gembira?” ujar Kang Karmono, “Kata Kyai Sholeh, Ramadlan itu bulan istimewa. Setan dibelenggu. Pintu surga dibuka lebar-lebar. Dan semua kebajikan diberi pahala berlipat…”
“Bener Kang” kataku nimpali sok pintar, “Kanjeng Nabi pernah bersabda, sepuluh hari pertamanya berisi rahmat. Sepuluh hari pertengahannya berisi ampunan (maghfirah). Dan sepuluh hari terakhirnya berisi pembebasan dari api neraka (’itqun min an-nar)”.
“Makanya saya senang berjumpa bulan puasa ini. Saya kan hanya tukang becak. Sehari-hari ya di atas sedel becak. Ibadah yang saya lakukan terasa kurang. Mumpung ini ada bulan bonus ya… saya berharap mengisinya sebaik mungkin”
“Lha terus, yang menyedihkan dari Ramadlan, apa Kang?” tanyaku bak reporter infotainment.
“Hampir semua harga kebutuhan naik. Sedangkan penghasilanku tetap saja tidak beranjak. Akibatnya… ya saya harus bekerja lebih ekstra lagi dari hari biasanya. Kalau tidak begitu, tidak cukup Dul. Belum lagi nanti mendekati lebaran: keluarga pingin mudik, anak-anak ingin pakaian baru, dan sebagainya deh! Buru-buru ingin nambah ibadah, bertahan agar tetap berpuasa aja sudah satu perkara sendiri!”
“Iya kang, ya!” komentarku pasrah, tidak berbuat apa-apa. Bisanya hanya bertanya dan berwacana tanpa menyelesaikan problema, “Lalu, kalau sudah begitu, jalan keluarnya bagaimana kang?”
“alternatif terakhirnya ya… gali lubang, pinjam juragan dulu. Bayarnya nyicil sehabis lebaran!” jawab kang Karmono, “sudah ya, saya mau narik becak lagi!”
“Oh ya, makasih kang!” jawabku lirih, terenyuh. Ternyata Ramadlan belum juga bisa melawan dan membebaskan saudara-saudaraku, dluafa’-mustadla’fin dari kondisi sosial-ekonomi yang menindas. Bahkan kecenderungannya, syahwat kapitalisme anak bangsa kita justru menguat menjelang Ramadlan dengan menjadikan bulan suci itu sebagai even penting untuk komersialisasi agama. Meminjam analisis Walter Armburst, sosiolog University of Oxford (lihat Kompas, 3/10/2006), Ramadlan bahkan menjadi peristiwa yang dapat dipergunakan untuk tujuan yang bersifat multiguna; mewujudkan agenda yang berbeda-beda, dari jualan produk dan merangsang konsumsi (mumpung harga melambung tinggi) hingga promosi sikap politik mereka yang haus kekuasaan. Dan alih-alih nasib para karmonowiyin terentaskan menuju lebarnya pintu surga yang dijanjikan di bulan ramadlan, justru semakin terkorbankan, terbakar neraka kapitalisme-konsumerisme yang kita ciptakan.
Ramadlan, tulis Quraish Shihab (2004: 170) terambil dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”. Ia dinamai demikian, karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus habis terbakar, akibat kesadaran dan amal shalehnya. Atau disebut demikian karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.
Untuk lebih mendalami ramadlan dalam makna membakar atau mengasah itu, mari kita berguru pada para sufi. Mereka menyebutnya dengan istilah takhalli-tahalli-tajalli. Pertama, seharusnya selama Ramadlan kita mampu menciptakan proses pembelajaran (Jalaluddin Rakhmat: madrasah ruhaniyyah) yang benar-benar efektif untuk membakar habis segala ego (ananiyah: kedirian), kerakusan (Jawa: kadunyan), dan libido menindas yang bersemanyam di jiwa kita.
Kedua, Lalu kita dengan sungguh-sungguh mengasah ketajaman batin kita dengan menginternalisasikan nilai-nilai ketuhanan yang ada pada nama-nama indah-Nya (al-asma` al-husna) ke dalam diri kita. Misalnya ar-Rahman ar-Rahim (Maha Welas-Asih) dapat kita hiaskan pada diri kita menjadi daya mencinta untuk mampu peduli dan berempati. Al-Wahhab (Maha Memberi) menjadi daya altruistis untuk mampu memberi dan berbagi. Al-Adl (Maha Adil) menjadi daya partisipatoris untuk mampu melawan segala realitas penindasan.
Ketiga, dengan melakukan “pembakaran” dan “pengasahan” tersebut, diharapkan pasca Ramadlan kita dapat mengejawantah menjadi manusia yang terbaharukan, yakni manusia yang kembali ke fitrahnya, manusia yang lebih manusiawi. Dan itulah khalifatullah fil ardli. Kumpulan manusia dengan kualitas demikian inilah barangkali yang disebut oleh al-Qur`an sebagai Khairah Ummah (QS. 3:110). Meminjam penafsiran Kuntowijoyo (1994: 338), merekalah yang mampu membebaskan manusia dari segala realitas penindasan dengan jalan humanisasi-emansipasi, liberasi dan transendensi.
Kalau sekiranya takhalli-tahalli-tajalli tersebut adalah sebuah pentahapan yang harus kita lalui, maka ramadlan kita kali ini belumlah kita posisikan hatta pada tahapan yang pertamapun. Kalau sudah demikian, jauh panggang dari api, alih-alih ingin membebaskan para karmonowiyyin dari jerat penindasan yang memiskinkan dengan spirit puasa, justru masa berpuasa kita telah dijadikan arena baru kekuatan kapitalisme dengan cara komersialisasi agama. Na’udzu billah min dzalik! [] Joyosuko, 7/8/2008. diedit kembali 26/8/2009.

Comments
  1. You really make it appear really easy together with your presentation however I to find this topic to be actually one thing that I feel I would by no means understand. It seems too complex and extremely extensive for me. I’m taking a look ahead on your next put up, I will attempt to get the hold of it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s