RONDA

Posted: August 15, 2009 in celetukan

ACPosterwebMPekerjaan itu kalau dipikir akan berat, tapi kalau dikerjakan terasa kurang. Demikianlah petuah Kyai waktu di pesantren dulu. Dan ternyata memang begitu. Seringkali pikiran kitalah yang hiperbolik. Terlalu membesar-besarkan sesuatu. Terlalu mendramatisir persoalan. Sehingga memunculkan bayangan yang menakutkan. Padahal kalau ditindaklajuti kenyataannya, belum tentu demikian. Karena pikiran kita memang selalu mempertimbangkan segala kemungkinan bisa saja terjadi, tetapi seringkali ia lupa bahwa kemungkinan-kemungkinan itu juga bisa saja tidak terjadi. Dari itu, orang yang tidak mengerti resiko akan sesuatu biasanya lebih berani, tepatnya mungkin lebih nekat, dari pada mereka yang mengetahuinya. Dalam hal inilah pikiran kita telah menciptakan penjara bagi kita.
“contohnya, ya… ronda ini” ujar Kang Ri.
“maksud Kang Ri?” kataku mempersoalkan.
“ini lho dul. Menurut koordinator keamanan Rt kita, warga RT 03 sekarang ini sudah pada malas datang jaga malam”.
“Pada sibuk paling kang…”
“Ya, kalo dihitung sibuk, semua juga tidak ada yang nganggur, Dul. Sampai Mbah Mo yang sudah tua pun juga sibuk. Sibuk menghabiskan masa tua hehehe. Tapi ini serius lho Dul. Sampai-sampai Mas Wondo harus meng-SMS satu persatu, bahkan ada yang ditelpon, karena diSMS tidak dibalas jhe. Ini kan udah kebangeten tho Dul”.
“Tapi… tiap malem Sabtu, kan jama’ah rondanya full kang?”
“Kalo jadual kita sih… nggak masalah Dul. Kebetulan aja jama’ah kita orangnya giat dan rajin”.
“Kok, pakai istilah jama’ah sih Kang? Nanti dinggap jama’ah islamiyah lho?” kataku ngguyoni.
“Biarin lha! Aku nggak pateken.Mau dicap JI kek atau apa. Yang jelas memang orang Islam harus berjama’ah kok! Itulah Dul, kadang aku merasa terenyu… sekarang ini kok banyak sekali stigma jelek yang diarahkan ke orang Islam..”
“ceileh.. Kang Ri rek, sekarang ngomongnya pake istilah orang sekolaan segala. Apa tadi stigma? hehehhe”
“Jo ngenyek, Dul. Ngene-ngene yo moco koran rek. Walaupun bekas hehehhe. Tapi kok jadi ngomong JI sih, topik kita tadi kan ronda? Kamu sih Dul, yang mancing-mancing hehhee”
“lha terus gimana, Kang?” tanyaku menyusul.
“Kalo begini terus… usulan pak RW, di awal rapat dahulu, bahwa ronda akan dipekerjakan pada orang, jadi terlaksana nih”
“Kalo itu alternatif terakhir, mengapa tidak Kang?”
“Wah, itu musibah Dul!”
“Kok bisa?”
“Ya itu pertanda hilangnya jiwa sosial kita. Diganti dengan duit lagi. Ujung-ujungnya, kita terkalahkan jua dengan kapitalisme!” kata Kang Ri bersemangat empat lima.
“Jangan terlalu bombastis gitu dong, Kang..” ujarku sedikit bercanda.
“Jo guyon Dul, ini serius!!!” matanya mendelik, “apa yang paling bermakna yang membedakan antar manusia adalah jiwa kesalehan sosialnya. Lha kalau itu sudah mulai menghilang… apalagi yang bisa dinilai dari kemanusiaan ini?” Waduh, Kang Ri rek. Benar-benar mengeluarkan tajinya. Aku hanya terdiam, takut kena semprot lagi, hehehe
“Dul, ayo ngomong… Jo mbideg tok!!” Ujarnya juga dengan mendelik, setelah lama tidak mendapatkan komentar dariku hehehe.
“Aku harus ngomong apa Kang? Lha udah sampean habiskan semua jhe hehehe” kataku nyengir, “Tapi saya tertarik dengan melihat.. kenapa kok setiap malam sabtu, semua mau datang?”
“Karena kita bertujuh melihat ronda malam bukan sebagai beban, tetapi sebagai hiburan” ujar kang Ri.
“Apalagi sekarang ini, gardu kita juga ada free hotspotnya hehhee, ngenet gratis. Gak nanggung-nanggung langsung tiga laptop terpasang setiap ronda hehehe” kataku menambahi.
“Kalau saya melihat itu hanya bagian kecil aja Dul, dari “carapandang” yang kita punya”
“Apa itu Kang?”
“Ya… itu tadi. Menjadikan ronda sebagai hiburan. Nyatanya toh dulu saat jaringan internet belum kesasar ke gardu ini, kita bisa berkreasi untuk menciptakan jagamalam yang mengasyikkan. Bisa dengan bakar-bakar ikan kek, bakar-bakar ketela, dan apalah… yang penting happy hehehe”
“Iya, ya. Bagaimana kalau kita usulkan pada pak RW untuk nyediakan di Gardu semacam meja pimpong, karambol, LCD plus layarnya, atau setiap peronda mendapat fasilitas laptop satu-satu…”
“Wis wis.. ngaco kamu, emang pak RW embahmu?????” []
Joyosuko, 15/8/2009.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s