DINNER

Posted: July 13, 2009 in celetukan

art_collage“Awak dari Jawa kah?” tanya ibu berjilbab yang duduk di sampingku dalam logat melayu.
“Benar” Jawabku, “Saya dari Jawa Timur. Kalau ibu sendiri dari mana?”
“Saya dari sini aja, Malaysia” ucapnya, “Saya suka bahasa Indonesia. Lebih halus. Kalau ada kesempatan di manapun saya nak cakap bahasa Indonesia”
“Pernah ke Indonesia?” tanyaku.
“Beberapa kali, untuk acara seminar. Sebenarnya kakek buyut saya dari Sumatera”
“Benarkah?”
“Dari Sumatera Barat. Tanah minang. Saya dah generasi kelima di sini”
“Oh…” aku melongo. Sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan kalau orang Malaysia dan Indonesia memiliki kedekatan budaya, karena selain sesama dari satu rumpun melayu, banyak dari mereka ternyata kakek buyutnya adalah perantauan dari suku-suku di negeri kita. Pengalaman saya memiliki kawan dari Malaysia menunjukkan adanya garis heriditas itu, baik dari Jawa, Padang, Bugis, Melayu Riau, Aceh dan sebagainya.
Lalu, kamipun berkenalan dan saling bertukar nama. Acara ini adalah Dinner Ceremony, bertempat di ruang makan hotel Shah’s Village Hotel di mana saya menginap selama dua hari. Agendanya diformat nyantai, informal sehingga memungkinkan para peserta bisa berakrab ria dengan mengalir. Mereka datang sebagai representasi dari pelbagai lembaga yang mengembangkan bioteknologi. Ada dari Pilipina, Iran, Mesir, India, Pakistan, Banglades, Indonesia dan tuan rumah Malaysia sendiri. Semuanya dipertemukan di sini dalam rangka mencari common language, bahasa yang sama antara saintis dan ulama ketika berbincang tentang agribioteknologi. Sayangnya, malam ini yang hadir kebanyakan baru merepresentasikan para saintis. Saya belum berjumpa dengan representasi ulamanya, sehingga keakraban bahasa agama belum saya rasakan di acara santap malam ini.
Acara seriusnya (formalnya) memang baru dimulai esok pagi. Walaupun secara paradigmatis temanya tampak sekularistik dengan menghadap-hadapkan ulama di satu sisi dan saintis di sisi yang lain, saya berharap pertemuan yang akrab antara Islam dan agribioteknologi di sini bisa terjalin. Sehingga perkembangan ilmu “otak-atik gen” ini tidak menjadi buntung, sebagaimana pengetahuan yang dikhawatirkan oleh Einsten, karena terlalu liar tanpa dampingan agama.
Paling tidak, perjumpaan itu terjadi pada ranah iman (tauhid) dan akhlaq Islam. Bagaimana tauhid dan akhlaq itu dapat menjadi nafas dan spirit ilmu rekayasa genetika ini mulai pada tataran ontologis, epistemologis sampai pada aksiologisnya. Tentu hal ini tidaklah mudah, mengingat kebenaran sains dan agama memiliki ukuran yang berbeda. Di sinilah tantangan itu baru dimulai. Semoga![]
Kuala Lumpur, 13/7/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s