TERAPUNG

Posted: July 5, 2009 in celetukan

MH5021~Destination-I-Posters“Ayo naik Dul..” Haji memintaku untuk naik kelotok, perahu motor yang kami sewa. Sejak habis subuh memang dia telah menjemputku dari hotel dan membawaku ke dermaga, tempat penyewaan kelotok. Kami merencanakan untuk mengunjungi pasar terapung. Itu tuh yang sering nongol sebagai backgroud iklan RCTI. Asyik juga, pikir saya. Ini tentunya akan menyenangkan untuk dijadikan bahan bacaan.
“Itu Dul. Kita akan kesana…” ujar Haji menunjuk dalam keremangan pagi hari pada sampan-sampan yang didayung oleh ibu-ibu membawa pelbagai kebutuhan kuliner, buah-buahan dan jajanan. Ada juga perahu motor yang menjajakan barang pecahbelah dari tanah liat seperti periuk dan sejenisnya. Dan ada pula perahu motor yang disulap oleh pemiliknya menjadi restoran terapung. Menyediakan pelbagai kuliner tradisional seperti soto banjar, ketupat kandangan, lontong dengan ikan haruannya yang maknyuss..
Kelotok kami terus melaju dengan cepat mendekati sampan-sampan penggerak ekonomi rakyat tersebut. Tampaknya tukang kelotok di sini memang jago-jago dalam mengemudikannya. Kapan harus cepat, kapan harus melambat. Sehingga walaupun ramai dengan pelbagai kelotok dan sampan, tampak jarang terjadi tabrakan. Walaupun mungkin sebagai kecelakaan pasti ada saja yang tidak dapat dihindarkan.
“Ini anti gores lho ya, dan anti marah” kata Haji, “walaupun sering bersenggolan antar kelotok, itu biasa dan nggak marah, beda dengan mobil”.
“ya… jelas Ji” komentarku
“Tukang kelotok di sini tidak sembarangan beroperasi. Ada izinnya”
“Kayak BBKB dan SIM ya?” tanyaku bergurau
“hehehe” Haji hanya meringis. Dan kelotok kami mulai melambat untuk berhenti di antara bidak-bidak terapung tersebut.
“Ruar biasa…” ucapku, “indah sekali pasar seperti ini. Sebuah perpaduan yang berkarakter. Tidak hanya berupa kegiatan ekonomi, tetapi juga budaya dan wisata. Sampai kapan ini bisa bertahan?”
“Dulu waktu aku kecil, pasarnya lebih besar dari ini, Dul. Lalu kemudian mulai mengecil dan bahkan menghilang” kata Haji.
“Apa sebabnya Ji?”
“Mungkin ya banyak faktor, Dul” katanya memprediksi, “bisa internal, bisa eksternal. Internalnya ya.. kesadaran untuk mempertahankan mulai terkikis dari generasi berikutnya. Mungkin lebih banyak karena kurang praktis aja…Mau jual-beli aja kok susah berdayung sampan segala hahaha”.
“Kalau itu alasannya, ada satu tampaknya yang saya lihat terus dipertahankan di sini Ji” kataku.
“Apa itu?” tanya Haji.
“Parade mandi bersama di subuh hari hehehe..” jawabku bercanda sambil menunjuk pada pemandangan penduduk, laki perempuan, besar kecil, tua muda, sedang mandi dalam keremangan subuh di ruang terbuka di belakang rumah panggung mereka yang didesain berdiri di atas sungai, “Praktis. Tidak butuh PDAM. Tinggal bawa gayung dan bisa jebar-jebur”.
“Dan kalau mau buang hajat, sekalian dituntaskan di situ. Cemplung… dan jadilah ‘tahu majrur’ ada di mana-mana hehehe” kata Haji menambahi.
“Apa itu ‘tahu majrur’?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.
“Tahu majrur, kalau dii’robkan… tahu majrur wa ‘alamatu jarrihi katsirotun fi nahrihi hehehe” jawab Haji, lalu kamipun tertawa. Paman tukang klotok kulirik hanya senyam-senyum. Mungkin ia bingung ‘ngemeng epe dua orang ini?’ hehehe
“Di sinilah bisa jadi terletak perbedaan konsep mandi antara orang kota dan orang di perkampungan” kata Haji.
“Apaan tuh?” tanyaku.
“Kalau orang kota ketika menyuruh anaknya mandi, ia bilang: ayo cepat mandi sana biar bersih. Tapi kalau orang sini, akan bilang: ayo cepat mandi sana biar segar. Jadi walaupun… airnya kayak susu coklat plus ada tahu majrurnya, tapi kan segar… apalagi bisa jebar-jebur hehehe”
“Bisa aja kamu Ji. Dulunya pasti kamu juga mandinya di sungai ini ya?”
“Tidak salah kamu Dul. Makanya aku tumbuh kuat dan tidak sering sakit”
“Apa hubunganya?” Tanyaku.
“Hubungannya karena sudah kebal dengan pelbagai kuman yang bertebaran di sungai ini hehehe” jawabnya ngawur, “Kayak dulu di pesantren, ingat tidak kamu, Dul. Makan kita sering pake tewel, tahu tempe. Kalau mau bikin teh atau kopi, nggak ada air panas… dengan enak aja kita pake air kamar mandi. Begitu juga kalau bikin mi. kalau gak ada gelas atau mangkoknya sekalian saja kita pake gayungnya hehehe Kalau jaga malam, inget tidak kamu, pas kebetulan jadi tukang kopinya, kita aduk itu kopi segentong dengan tongkat pramuka hehehe tapi kita waktu itu kuat-kuat dan jarang sakit kan?…”
“Hehehehe” aku nyengir saja. Teringat dengan pelbagai kenangan indah saat kami menjadi santri dahulu (saat itu mungkin penuh penderitaan hehehe) yang sering kali dibangun berdasarkan keterbatasan plus keyakinan, bukan wahm atau syak (keraguan).
“Lalu faktor eksternalnya apa, Ji?” tanyaku melanjutkan.
“Bisa jadi… karena banyaknya swalayan atau pusat-pusat perbelanjaan yang sampai masuk-masuk ke perkampungan”
“Iya, ya… turut mematikan pasar tradisional” kataku sambil mataku terfokus pada sampan yang mendekati kami. Ibu pemiliknya menjajakan buah-buahan.
“manis… jeruknya manis mas” kira-kira begitulah ibu pemilik sampan ini berucap dalam bahasa banjar.
“Berapa ini bu?” tanyaku
“sepuluh ribu aja” jawabnya, lalu saya keluarkan fulus dari kantong dan membelinya tanpa tawar. Ibu itupun kemudian mendayung sampannya berlalu mencari pembeli lainnya.
“Wah, jeruknya kecut” kata Haji setelah mengupas satu dan mencicipinya, “Monyet pun di pulau kembang gak kan mau hehehe”
“Gak papalah hitung-hitung shodaqoh” komentarku.
“Shodaqoh kok setelah merasa tertipu” kata Haji menyindir.
“Ya… sebagai penghibur hati aja agar tidak negative thinking”
“Negative thingking sih nggak… tapi kan tetap saja tidak merubah ini jeruk menjadi manis hehehe”
“Terserah kamu aja deh Ji…” kataku menyerah. Memang kawanku satu ini sejak dulu sukanya tidak mau kalah kalau adu omong.
“Man, kalau ada warung kita singgah ya..” kata Haji pada tukang klotok.
“Itu tuh” kataku sambil menunjuk pada warung terapung yang sedang meluncur. Lalu paman tukang klotok memanggilnya.
“Lho, kok tambah kencang jalannya warung itu, Man?” tanyaku. Ia menjawabnya dengan senyum aja. Oh.. ternyata warung itu dicepatkan mesinnya untuk bergegas mencari sela agar bisa berbelok dan mendekati klotok kami. Dan akhir cerita, kami ‘ngewarung’ sambil terapung. Woi.. nikmatnya, nasi kuning dan ikan haruannya yang dibungkus daun pisang, tempe goreng, dan teh manis hangat. Sederhana sih, tetapi suasananya sungguh membuatku merasa menyatu dengan keindahan tradisional[].
Banjarmasin, 5 Juli 2009.

Comments
  1. Thank you for every other informative website. Where else could I get that type of info written in such a perfect means? I’ve a mission that I’m just now operating on, and I’ve been at the look out for such info.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s