DERMAGA

Posted: July 4, 2009 in celetukan

A1JenDelythCelticArtLogo“Ke mana nih kita pergi, Ji?” kataku pada Haji, teman yang memang sejak kecil telah menunaikan rukun Islam yang kelima itu.
“Kita ke pasar apung” jawabnya singkat.
“Pasar apung yang kayak di tipi itu?”
“Iya” katanya sambil terus memboncengku di atas Meonya. Melewati perkampungan Banjar dengan rumah-rumah Banjarnya yang serba kayu. Rumah panggung di atas rawa dengan genting sirapnya yang khas. Terbuat dari kayu ulin dipotong melebar 6 centian, tipis-tipis dengan ujung melancip, lalu ditancapkan diatas rumah dengan paku kecil (jawa: paku triplek/paku rujak) secara tersusun rapi dan rapat sehingga memunginkan hujan tidak tebus.
“Itu makam Pangeran Suryansyah, pembawa Islam di tanah Banjar” ujar Haji sambil telunjuknya mengarah ke kompleks rumah berpagar kayu, di pinggir sungai.
“Kita kesiangan nih” katanya. Aku melirik HP. Jam digitalnya menunjukkan pukul 5.30 Wib, 6.30 waktu sini (WITA). “Mestinya habis subuh kita kemari” lanjutnya.
“Di sini banyak usaha pemotongan kayu ya?” ucapku sambil mataku terus melirik kanan-kiri yang memang di situ ada banyak kayu bertumpuk-tumpuk. Entahlah apa nama dan jenisnya. Saya tidak begitu kenal dengan perkayuan. Tahunya hanya pring bongkotan dan glugu hehehe.
“Ya, begitulah” jawabnya singkat.
“Dari mana kayu-kayu ini Ji?”
“Ya… dari mana-mana. Biasanya masih gelondongan begitu dibawa oleh perahu melewati sungai ini”
“Spanyolkah?” tanyaku.
“Apa itu spanyol?” jawabnya balik bertanya.
“Separuh nyolong” jawabku seketika. Lalu kami pun tertawa…
“Entahlah” katanya.
“Itu sisa-sisa kayu sampai menggunung begitu. Dijualkah?” tanyaku
“Mungkin aja”
“Eman tuh kalau terbuang sia-sia. Mestinya itu laku. Bisa dibuat sebagai bahan triplek apa itu… eh.. yang dipress”
“Ya.. biasanya untuk pembuatan meja komputer, kan?” katanya sambil membelokkan Meo ke parkiran dermaga.
“Dari sinilah kalau kita mau ke pasar apung. Kita sewa perahu lalu kita bisa berkeliling ke sana” sambil tangannya menunjuk ke sungai. Di dermaga ini banyak sampan tertambat. Ada perahu juga yang di atasnya berdiri rumah kayu dan berjendela kaca. “itu kantor polisi” kata Haji.
Di dermaga itu juga terlihat tertambat perahu mesin yang sedang menaikkan penumpang dengan sepeda motornya. “hendak ke mana perahu itu Ji?” tanyaku.
“Ke seberang sana. Mengantar kebanyakan karyawan Playwood. Kayaknya telingahku tidak asing deh dengan nama perusahaan tersebut.
“Apa nama dermaga ini”
“Kuin”
“kuin?”
“Iya, ratu..ratu”
“Kalau kampungnya?”
“Kampung Alalak”
“Alalak!”
“Ya. Mungkin dulu dari bahasa Arab al-Alaq, cuman lidahnya keseleo jadi Alalak hehehe” bisa aja wakhaji satu ini.
“Banjarmasin ini memang identik dengan sungainya ya?” tanyaku.
“Benar. Dan perekonomian masyarakat sini diantaranya digerakkan melalui lalulintas sungai”.
“Ini mengingatkanku pada apa yang dahulu pernah diucapkan oleh almarhum dosenku bahwa hampir semua peradaban klasik yang pernah tumbuh dan berkembang besar lahir dari masyarakat dekat sungai atau laut” komentarku, “Mesir kuno dengan Nilnya. India klasik dengan Gangganya. Cina dengan sungai Kuningnya. Dan Islam di Baghdad Irak dengan Tigris dan Eufratnya”.
“Itulah… sebenarnya dari sisi ini kita adalah bangsa yang memiliki potensi besar untuk melahirkan peradaban. Buktinya kita dulu pernah punya Sriwijaya dan Majapahit yang kekuatannya juga tidak bisa dilepaskan dari olahperan sungai dan baharinya” kata Haji.
“Itu romantika Ji?” kataku menggoda, sabil mataku memperhatikan anak-anak bersuka ria mandi dan berenang di sekitar dermaga, padahal air sungai secoklat kopi susu hehehe.
“Romantika itu kadang penting Dul, agar kita menyadari potensi kita dan bisa percaya diri” katanya, “bangsa ini adalah bangsa yang tingkat Pedenya rendah”.
“Benar Ji. Kata profesorku , bangsa ini telah terserang penyakit keterbudakan jiwa dan ketergantungan intelektual. Masak untuk mempercayai gula itu manis saja kita mesti bertanya dulu pada orang Barat. Masak untuk mempercayai bahwa pakaian ini bagus saja kita harus mempercayai perusahaan konveksi luar negeri. Dan tragisnya, untuk bisa membangun bangsa ini kita mesti berkonsultasi kepada orang Luar. Lalu… di mana kemandirian dan kedaulatan kita?”
“Dari omonganmu, kedaulatan dan kemandirian, kok kayaknya pro JK-Win ini?” kata Haji bergurau
“Terserah katamu, Ji. Itu kan rahasia di bilik pencontrengan nanti hahaha”
“tapi, di situlah Dul. Pilihan kita menentukan arah perjalanan bangsa ini ke depan…”
“Benar Ji” kataku singkat sambil mataku melihat indahnya aktifitas manusia di dermaga ini. Ada yang mandi. Ada yang mancing. Tukang perahu menambatkan perahunya lalu turunlah para penumpang dan motor-motornya. Ada juga yang menunggu tidak sabar ingin segera naik perahu dan menyeberang ke daratan sana. Mungkin kekasihnya sedang menanti. Dan ada juga yang sekadar melihat-lihat suasana dermaga di pagi hari. Termasuk mungkin juga memperhatikan saya dan haji yang sedang mengambil photo orang-orang yang sedang mandi di pinggiran sunggi hehehehe[].
Banjarmasin, 4 Juli 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s