PENGAJIAN

Posted: July 1, 2009 in celetukan

art-6“Bilangnya mau ikut tabligh akbar? Eh, ditunggu gak datang. Piye toh Kang?” kataku saat ketemu Kang Ri tadi malam.
“sory, Dul” jawabnya, “Adike Tole nggak bisa ditinggal jhe. Badannya panas dan batuknya saling bersinambung”
“Udah dibawa ke dokter?”
“Udah. Ke puskesmas pembantu. Eh, Dul. Bagi-bagi dong, hasil tablighnya. Pak Amien Rais ngomong apa sih? Pasti tentang pilpres ya? Itu yang sebenarnya menarik kan..”
“Nggak, beliau ngggak mau ngomong tentang itu..”
“lha terus? Ngomong opo dong?”
“tentang topik umum aja. Dunia Islam dan percaturan peradaban, posisi Indonesia, dan terakhir otokritik pada Muhammadiyah” jawabku.
“itu aja Dul? Ah masak pak Amien bisa puasa ngomong politik nasional?” kata Kang Ri nggak percaya.
“Terserah sampean, Kang. Dibilangin kok nggak percaya!”
“Banyak hadirin yang kecewa dong”
“Ya… nggak tahu, Kang. Saya belum tanya-tanya pada mereka, jhe hehehe”
“Mestinya kan begitu, Dul. Musim pilpres begini saya yakin warga Muhammadiyah di akar rumput pingin mengerti lebih banyak informasi tentang ketiga kandidat dari para elitnya. Sehingga tidak salah nyontreng gitu.. walaupun secara kelembagaan Muhammadiyah tetap menyerahkan pilihan pada ijtihad warganya masing-masing… kalau kamu sendiri kecewa tidak?”
“Ya, kecewa Kang. Tapi saya kira Pak Amien ada benarnya untuk tidak ngomong tentang pilpres di pengajian itu ”
“Alasannya?” tanya Kang Ri.
“Setidaknya ada dua alasan, Kang. Alasan tradisional dan strategis bagi Muhammadiyah sebagai lembaga dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar” jawabku.
“Pertama?”
“Biarlah warga Muhammadiyah tetap pada tradisinya untuk tidak bertaqlid pada para elitnya. Biarlah mereka tetap pada kemandiriannya dalam visi politiknya masing-masing. Sebagai persyarikatan da’wah, dengan pelbagai keberbedaan warganya ini Muhammadiyah terlihat indah. Ibaratnya seperti taman yang mampu mewadahi seluruh bunga dengan warna dan karakternya yang berbeda-beda.”
“Alasan yang kedua apa Dul?”
“Siapapun yang menjadi presidennya, Muhammadiyah harus bisa menjadikannya mitra dalam berdakwah. Karenanya, sungguh kurang strategis kalau sekiranya para pimpinan teras Muhammadiyah mengarahkan atau bahkan menginstruksikan warganya untuk memilih pasangan tertentu. Iya kalau terpilih. Kalau tidak, Muhammadiyah sebagai persyarikatanlah yang merugi sebab telah mencitrakan dirinya sejak awal bukan sebagai mitra bagi presiden yang terpilih”.
“Bagaimana dengan pilpres 2004 dahulu Dul, di mana Pimpinan lingkaran satu Muhammadiyah secara institusional menginstruksikan warganya untuk mencoblos pasangan Amien-Sarwono?” tanya Kang Ri.
“Dilihat dari logika politik, itu adalah kewajaran mengingat ada kader terbaik Muhammadiyah yang mencalonkan diri. Namun, tetap saja secara strategis, konon banyak orang mengatakan hal itu sebagai ‘kecelakaan sejarah’ bagi Muhammadiyah yang tidak perlu terulang kembali”.
“kecelakaan sejarah atau kesalahan strategi? hehehe”
“terserah sampean Kang” jawabku, “lha wong keduanya hanya istilah, intinya toh sama hehehe”
“terus… dalam pengajian tadi, poin-poinnya boleh dibagi dong?”
“Boleh boleh aja, tapi…sepurane Kang, lain kali aja ya… aku baru inget kalau tadi aku keluar rumah disuruh ibue arek-arek untuk beli tahu campur di perempatan sana. Sepurane Kang…” kataku sambil berlari meninggalkan Kang Ri sendirian. Ya… pasti mereka pada menunggu lama nih, batinku.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s