SEKOLAH

Posted: June 28, 2009 in celetukan

painting-art-2“Eh, Dul… Pak Hendru, tetangga kita itu…” kata Kang Ri membuka pembicaraan saat Ronda tadi malam.
“Mau ngerasani ya kang? Nggak mau ah!” jawabku.
“Nggak Dul, ini nggak ngegosip” kilahnya
“lalu apa? Apalagi ini dah bawa nama seseorang lagi!”
“He he he, kamu dengarkan dulu dong. Pak Hendru bilang, kok di kota kita ini gak ada sekolah menengah Islam, setingkat SLTP dan SLTA, yang benar-benar unggulan. Benar Dul?”
“Gak tahu ya Kang…”
“Kok gak tahu sih? Kamu kan orang sekolahan?” tanya Kang Ri
“Ya.. mungkin karena saya tidak tertarik dengan sesuatu yang diunggul-unggulkan begitu..” Jawabku sekenanya.
“Lho?” komentar Kang Ri bengong. Mungkin karena Kang Ri tidak mau pembicaraan ini berhenti begitu saja, ia melanjutkan: “terus.. pak Hendru juga bilang, sebenarnya kota kita ini kondusif lho… untuk sekolah Islam seperti itu, dan kayaknya… Muhammadiyah atau NU bisa mewujudkan itu. Kalau perlu yang mahal sekalian nggak papa, daripada murah tapi tidak berkualitas”
“Lalu sampean komentar apa kang di depan beliau?” tanyaku cepat.
“Ya.. aku ngangguk-ngangguk aja Dul. Sebenarnya sih aku tidak setuju dengan yang mahal-mahal begitu.. anakku gak bisa dong sekolah di situ..”
“lha kok sampean diam aja, tanpa komentar? Malah di sini, dibelakangnya sampean ungkapkan ketidaksetujuan”
“Lha yo… sungkan toh Dul. Saya nih wong cilik, beliaunya kan…”
“he hehe he, persis…persis..” kataku cengengesan.
“Persis persis. Persis apane toh?” tanya Kang Ri penasaran.
“Sampean itu lho kang, persis dengan para calon presiden kita saat ini” jawabku
“walah.. persis apane?” kata kang Ri sambil jidatku dikeplak, “Jo ngenyek!!!”.
“Lha iyo toh Kang, persis tenan dengan mereka saat debat kemarin. Ewuh pakewuh, sungkan. Ketika saling berhadapan mereka pada bilang setuju bin sepakat antar mereka, tanpa ada komentar dan penolakan. Namun di belakang, mereka pada saling kritik habis-habisan”
“lha namanya juga orang timur, Dul hehehe” Kang Ri berapologi, “tapi kalau kamu sendiri bagaimana?”
“Kalau saya, ya… paling sama karo sampean hehehe” jawabku cengengesan.
“Dasar cah gemblung!!” ujarnya, “tapi pendapatmu bagaimana Dul, tentang sekolah yang mahal-mahal itu?”
“Anak sampean sekolah di mana sekarang?” ujarku balik bertanya.
“SDN Merjosari” jawabnya
“Gratis kan?”
“Ya.. gak sepenuhnya Dul, masih ada bayarnya sedikit-sedikit”
“Ya… wajarlah Kang, walaupun tiap kepala siswa dijamin pemerintah dengan BOS yang tidak seberapa itu, mana mungkin bisa mencukupi biaya operasional sekolah?”
“Iya ya”
“Tapi anake sampean sekolah di situ, senang tidak?”
“senang”
“Stress nggak?”
“wah semprul awakmu, Dul. Masak anakku stress? Ya enggak lah…”
“Maksudnya, terbebani nggak dengan tugas-tugas dari sekolah?”
“Ya enggaklah…”
“Sampean dan isteri sampean sebagai orang tua, terbebani nggak dengan sekolah dan tugas-tugas anake sampean?”
“ya jelas nggak dong…”
“kelas berapa sekarang anaknya sampean?”
“Kelas enam. Barusan ujian akhir kemarin. Mau ngelanjutin di SMP”
“Lulus ujian akhir, kemarin?”
“yo.. Lulus dong. Sapa dulu bapaknya? He hehehe” jawabnya kemelinti.
“Anaknya pingin ngelanjutin sekolah ke SMP nggak?”
“Wow pingin banget dul. Malah dia yang sangat menggebu-gebu. Akunya yang pusing belum dapat pinjaman untuk bayar pendaftarannya”
“terus… anaknya sampean banyak nggak temannya?”
“Yo… banyak dul!”
“akur dan saling membantu?”
“yo jelas dong. Persahabatan kan bagai kepompong kayak di sinetron itu he he he” jawabnya gak nyambung.
“hehehe maksud Kang Ri?”
“ya.. si Tole dan kawan-kawannya sering pulang bersama dari sekolah. Main bersama. Kamu kan tahu sendiri, mereka sering main layang-layang, sepakbola, hujan-hujanan bahkan petak umpet di sawah sekitar rumahmu”
“Itulah kang, indahnya belajar di sekolah yang tidak mahal dan tidak diunggul-unggulkan”
“Maksudnya?”
“Karena mahal bayarnya, maka sekolah itu harus unggul. Harus berkualitas. Kualitas ukurannya seringkali nominal atau yang dapat dilihat. Seperti nilai ujian, hasil lomba ini itu, olimpiade ini itu dan sebagainya. Untuk bisa begitu, peserta didik harus digenjot belajarnya. Di sekolah misalnya dikasih jam tambahan dan tugas-tugas rumah yang tiada habis-habisnya. Di rumah, orangtua mesti nyarikan guru privat untuk membantu menggarap tugas-tugas tersebut. Karena kalau nggak bagus nilainya, murid akan malu, terutama sama teman-temanya. Suasana persaingan antar mereka biasanya, baik disengaja oleh sekolah ataupun tidak, telah tercipta demikian rupa”
“lho itu kan bagus, Dul”
“Sampean mau, anaknya sekolah di situ?”
“Mana mungkin? Saya nggak mau berhayal deh. Dari mana uang pendaftaranya, belum lagi harus bayar guru privatnya. Melamunkannya aja bikin saya stres”
“Kita bisa bayangkan sesetress itulah kira-kira anak-anak kita. Masih belia tapi hidupnya senantiasa dikejar tuntutan tugas sekolah dan rasa takut kalah bersaing melebihi hidup orang dewasa. Kapan mainnya, kapan mengalami hidup bersosialnya, kapan bersenang-senangnya…”
“Ah, jangan-jangan itu hanya pikiran kamu aja, dul yang terlalu membesar-besarkan?”
“Bisa jadi Kang. Namun teatangga kita juga, Pak Rohim yang anaknya dulu di sekolah unggulan mengatakan demikian. Anaknya seakan mengalami semacam trauma sekolah. Dan sekarang dimasukkan di homeschooling. Masih untung trauma sekolah, lha kalau trauma belajar. Wah bisa tidak berkembang Dul, hidupnya.”
“Kok bisa?”
“Lha wong, manusia itu animal educandum jhe. Tidak berkembang potensinya kalau tidak belajar. Tidak seperti anak ayam, keluar dari telur langsung bisa jalan dan matuk-matuk cari makan. Nah bersekolah kan hanya bagian kecil saja dari proses belajar. Kalau semangat belajar mati, ya udah matilah potensinya”
“teng, teng, teng…” terdengar tiang listrik dipukul sebanyak duabelas kali oleh peronda RT sebelah.
“Kang. Udah jam duabelas malam nih. Tolong pukul Kang, tiang telepon itu”
Bergegas Kang Ri ambil martil dan terdengarlah bunyi serupa yang memekakkan telinga. Baru satu kali pukulan, tiba-tiba pintu rumah di sebelah tiang telpon itu terbuka. Seorang ibu keluar sambil mulutnya mengeluarkan berondongan kata-kata kemarahan dan tangannya menunjuk-nunjuk Kang Ri. Setelah kata kemarahan terakhir, ibu itu cepat-cepat masuk rumah dan pintunya ditutup kembali. Kang Ri bengong, tidak sempat berapologi. Ia memandangi kami yang ada di gardu dengan wajah memohon belaskasihan. Namun kami justru tertawa terpingkal-pingkal yang membuat para kucingpun tak kan berani keluar rumah. Bahkan ibu yang tadi sekalipun, he hehehe…[]

Comments
  1. Fake A Lange & Sohne watches are wonderful collections of wrist watches, attractive, dignified, and elegant accessory for fashion.

  2. Massachusetts cable providers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s