Dosa

Posted: June 27, 2009 in celetukan

“Apa yang bisa kamu bagi dari khutbah Jum’at tadi, dul?” tanya Kang Ri ketika bertemu dalam perjalanan pulang dari 12047~Symphony-in-Red-and-Khaki-II-Postersmasjid.
“Kenapa Kang, emang sampean nggak mendengarkan tadi?” kataku balik tanya.
“Enggak, dul. Makanya saya tanya”
“Lha terus, jum’atan tadi ngapain?”
“Numpang tidur, hehehe” jawabnya polos, “habis nguantuk pol jhe. Capek, dul. Tadi ngecor lantai dua rumah juraganku. Itu aja belum kelar, habis ini dilanjutin lagi. Hitung-hitung bisa nyimpen tenaga hehehe. Kok tadi senyap-senyap saya dengar, khatib nyebut-nyebut dosa gitu dul?”
“Iya, memang itu topiknya”
“terus, ada apa dengan dosa? Apa ada kaitannya dengan suasana kampanye pilpres kali ini? Dengan kampanye negatif, misalnya? Kan itu dosa juga dul!” tanyanya nerocos..

Weleh-weleh Kang Ri, Kang Ri… makanya toh jangan tidur saat jum’atan, kataku dalam hati, jadinya gak nyambung deh… Tapi simpatik juga saya sama temanku yang tukang batu ini. Ituloh pingin tahunya selalu meledak-ledak. Kalau bertemu, selalu bertanya terus. Bukankah itu memang modal utama untuk maju. As-su`âlu miftâhul ‘ulum, kata orang bijak. Pertanyaan itu adalah kunci pengetahuan. Namun seringkali modal itu justru tidak saya temukan pada peserta didik yang saya dampingi. Bahkan dah saya beri kesempatan pun mereka tidak mau bertanya, atau mungkin tidak bisa bertanya. Yang saya takutkan kalau modal ini telah termatikan ketika mereka masuk sekolahan. Naudzubillah min dalik, itu artinya there is some thing wrong with our education.
Bertanya dan mempertanyakan, ternyata memang tidak mudah. Butuh keberanian untuk keluar dari zona kenyamanan. Dan itu seringkali mendatangkan problema. Utak-atik gatuk menunjukkan ternyata pertanyaan dan problema dalam bahasa Arab memiliki akar kata yang sama, yaitu sa-`a-la: sa`ala, yas`alu, su`âlun, sâ`ilun wa mas`alatun. Pertanyaan su`âlun dan problema mas`alatun. Artinya, untuk bisa bertanya, orang harus punya masalah dan merasa kebingungan untuk mencari solusinya. Bagaimana mungkin orang bisa bertanya kalau ia tidak memiliki masalah. Ironinya seringkali yang kita temukan adalah seseorang di mana jelas-jelas punya masalah tetapi merasa tidak bermasalah. Sense of problemnya dah mati. Kalau dah begini… bagaimana lemari ilmu bisa dibuka, dan kemajuan bisa digapai. Salut Kang Ri… “Hei!” Kang Ri mengejutkan lamunanku, “ditanya kok malah bengong. Kesambet loh he hehe..”

“Apa tadi Kang?” tanyaku
“Khatib tadi loh membahas dosa apa?” teriak kang Ri.
“Oh, ya. Khatib tadi mengajak kita untuk tidak meremehkan dosa atau kemaksiatan sekecil apapun yang kita lakukan. Secepatnya kita beristighfar dan bertobat” jawabku.
“Lha memang berbahaya ya, dul?”
“Katanya sih begitu Kang”
“Apa akibatnya”
“Kayaknya, tadi khotib mengutip hasil temuan Ibnu Qoyyim al-jauziy, ada 22 akibat dosa”
“woy banyak sekali dul!”
“Lha iyalah, masak ya iya dong!”
“di antaranya apa?”
“Sebagai penghalang terpancarkannya ilmu Allah kepada kita; Penghalang Rizki; matinya hati nurani, dan banyak deh!”
“Itu logikanya bagaimana dul. Masak pendosa jadi terhalang untuk mendapatkan ilmu? Lihat tuh orang-orang Barat sukanya minum yang memabukkan tapi kok ilmunya banyak, bisa sampai ke bulan segala?’
“Waduh kang, pertanyaanmu itu tak jauh beda dengan… mengapa sih orang yang kentut kok yang dibasuh mukanya dalam wudlu, kok bukan bokongnya hehehe”
“Ya.. gimana ya? Ya karena begitulah tuntunannya” jawab kang Ri
“Ya.. begitu juga kiranya… jawaban pertanyaan sampean tadi”
“Masak begitu?” tanyanya tidak puas.
“Ya emang begitu!”
“Ya enggaklah, kalau wudlu kan udah mahdlah, nggak boleh ditambah-tambahin. Sedangkan yang masalah pendosa tadi kan bukan ibadah mahdlah”
“Itulah kang… masalahnya kalau cara berpikir kita udah terkotak dalam dualisme seperti itu: mahdlah dan tidak mahdloh. Susah jadinya. Ada dimensi lain dalam berislam yang hilang.”
“Apa itu dul?”
“Ketundukan dan keberserahan diri secara total kepada-Nya”
“Kalau udah begitu, yo wis gak iso dilogikakan dul”
“Ya emang begitu. La wong, Islam itu agama yang rasional, tetapi ia bukan rasionalisme jhe…”
“maksud lohhh?” tanyanya sambil tangannya dibuat-buat seakan orang penasaran
“Islam itu agama yang menjunjung tinggi akal pikiran sebagai instrumen penggapai kebenaran, tetapi standar kebenaran Islam bukan satu-satunya kalau ia bisa diterima dengan akal pikiran”
“Gak Paham dul”
“Kang Ri pernah dengar tidak tentang ayat yang menyebutkan kalau orang yang menafkahkan kekayaannya di jalan Allah akan dibalas berlipat ganda (QS. Al-Baqarah: 245, Al-Hadid: 11 dan 18, At- Taghaabun: 17, dan Al- Muzzammil: 20) sebanyak sepuluh kali lipat (QS. Al An`am: 160)?”
“Iya, seringkali muballigh membacakan itu”
“Bagaimana melogikakan kasus tersebut?”
“Yo… embo, dul. Menyakininya aja!”
“Begitulah kang… kiranya ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan termasuk konsep barokah dalam rizki dan umur. Juga termasuk akibat perbuatan dosa tersebut”

“Yah, lagi ngomongin apa sih… dari tadi kok berdiri di situ aja?” teriak istriku dari dalam rumah, “Mbok Kang Ri diajak masuk, sekalian makan bersama…” Tidak sadar, ternyata kami berdua telah lama berdiri di depan rumah.
“Ayo Kang, makan..” ajakku
“Rizki gak boleh ditolak, iya kan dul?” jawabnya terus terang, “tapi, jam istirahatku dah habis jhe dul, piye iki?”
“Ayo wis… makan dulu. Makannya gak pake lama Kang, tapi pake ikan he hehe”
“Iya, deh!” Dan kamipun makan bersama. Maknyusss enak tenan… sayur asem plus ikan asin! Tapi… Kang Ri kelihatan makannya seperti kesetanan, dikejar waktu. Juragannya ngebal-ngebel Hpnya, kacihan.. de lu Kang Ri![]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s