TEHRAN

Posted: June 26, 2009 in celetukan

Gham copy“Sedih aku dul, sedih tenan…” kata Kang Ri saat ngopi di Warung Mas Andi, depan rumah.
“Kenapa Kang? Juraganmu belum ngasih gaji?” tanyaku asal-asalan..
“wah ini lebih dari sekadar gajian, dul..”
“lah opo, Kang?” tanyaku penasaran.
“ini masalah emosi sesama muslim, dul?” Waduh Kang Ri ini, pake emosi segala.
“Opo sih Kang?”
“Aku sedih dul, mencermati berita akhir-akhir ini tentang Iran” katanya lesu..

Weleh-weleh Kang Ri rek, walaupun hanya tukang batu ternyata tertarik juga dengan informasi global.. jadi ingat ajaran kebajikan di fabel al-`asad wa al-fa`r (Singa dan Tikus) pada pelajaran muthôla’ah waktu nyantri dulu hehehe, agar janga pernah meremehkan siapapun: “ mâ kuntu ahsibu anna ħayawânan shoghîron mitslaka tastathî’u mâ lâ astathî’u ‘alaihi anâ (sungguh aku tidak pernah memperhitungkan bahwa hewan sekecil kamu mampu melakukan apa yang tidak bisa aku kerjakan)” kata singa kepada sikecil tikus setelah menolongnya lepas dari jaring sang pemburu. Mâ kuntu ahsibu Kang, anna tukang batu mitslaka, tufakkiru mâ lâ ufakkiru fîhi anâ hehehe… salut Kang.

“Negara yang aku sendiri, walaupun bukan warga sana, merasa bangga”, lanjut kang Ri, “tapi kok warganya tidak seluruhnya seperasaan dengan saya ya terhadap Ahmadinnejad, Ayatullah Ali Khamane’i dan sistem pemerintahan di sana. Lihat tuh di Tehran, mereka pada berdemo. Bakar sana sini memprotes kemenangan Ahmadinnejad. Polisi dan paramiliter juga tak kalah keras menghadang mereka, sampai ada beberapa korban yang mati. Suara pemimpin tertinggi revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamane`i tidak lagi didengar oleh para demonstran yang mengaku proreformasi tersebut… “
“weleh-weleh kayaknya ngefan nih Kang, dengan Ahmadinnejad?” tanyaku ‘ngguyoni’.
“ini lebih dari sekadar ‘ngefan’ atau tidak dul. kalau ‘ngefan’ nanti kayak ABG aja, dul. Asal emosi tanpa pikiran”
“lha terus kalau sampean Kang?”
“Simpati, dul. Plus salut buat Ahmadinnejad dan Iran!”
“kok bisa, Kang?”
“Saya bukan orang sekolahan, dul yang mampu berpikir muluk-muluk. Pikiranku sederhana saja. Di tengah.. apa itu dul istilahnya he hege hege…”
“hegemoni, maksud Kang Ri?” jawabku cepat.
“iya, di tengah hegemoni negara Barat: pikiran, budaya, ekonomi, teknologi termasuk klaim keadilan dan kebenaran, terhadap negara-negara berkembang utamanya negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim, ada Iran dengan Ahmadinnejad dan Khamene`inya yang berani menantang dan melawan. Mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat dunia dengan berkali-kali embargo ekonomi, tetapi tetap bertahan. Alih-alih hancur, bahkan semakin tumbuh dalam kemandirian dan kedaulatan ekonomi, ilmu dan teknologi”.
“Benar juga kang, ya..” komentarku domblong he hehe
“Dalam konteks dunia Islam, ketika kepala negara-negara Islam dan Arab tidak berani berbuat apa-apa terhadap kebiadaban penjajahan Zionisme yang dibekengi AS dan sekutunya di tanah Palestina, Ahmadinejad berteriak lantang tidak mengakui kebenaran mitos holocous yang sering dijadikan alasan pendudukan tersebut, serta ingin melenyapkan negara zionis itu dari peta bumi. Luar biasa! Ibaratnya seperti Daud melawan Jalut, dul!”
“Cek cek… Nek takdelok-delok kang, sampean nek ngene, mirip tenan karo pengamat politik internasional lho kang?” kataku ngguyoni.

“Jo ngenyek…” jawabnya agak tersipu.
“lalu…” kataku sambil nutulkan tempe goreng hangat ke ujung piring petis manis dan.. maknyuusss uenak tenan…
“Saya melihat dalam diri Ahmadinejad dan bangsa Iran ada ‘keberanian Islam’ untuk melawan setiap ketidakadilan dan kemungkaran. Di mana keberanian itu saat ini telah menghilang dari kebanyakan kepala dan hati kaum muslimin…”
“termasuk kita dong, Kang?” kataku dalam hati.
“Makanya aku bersedih dengan kondisi politik dan kerusuhan di Tehran saat ini…”
“sedihnya?” kataku nggak paham.
“Aku sedih plus khawatir, jangan-jangan ini pertanda bahwa banyak warga Iran sendiri yang sudah terkontaminasi kehidupan sekuler ala Barat, pragmatis, hedonis, materialis dan kawan-kawannya, sehingga tidak mau lagi mengenali “keberanian Islam” itu dari para pemimpin mereka karena dianggap tidak menguntungkan untuk kehidupannya kini”
“Bisa jadi begitu, Kang. Bukankah yang dipimpin oleh Ahmadinejad dan Khamenei saat ini adalah kebanyakan mereka yang tidak merasakan langsung gegap gempitanya revolusi Islam Iran yang dimotori oleh Ayatullah Khomaeni dahulu? Sehingga sense of belonging terhadap cita dan visi revolusi itu tidak mereka miliki saat ini, apalagi… disadari atau tidak serangan budaya populer yang difasilitasi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dari Barat terus berusaha untuk menyapa mereka, walaupun pemerintahan para mulla itu berusaha menfilternya”.
“Itulah dul, di antaranya yang saya khawatirkan. Simbol keberanian dan perlawanan Islam itu tidak lebur dari pengucilan dan boikot ekonomi dari luar, tetapi lebur dengan sendirinya dari dalam oleh warganya yang terkesima dengan rumput di negeri sana lebih hijau dari rumput di negeri sendiri…”
“Mudah-mudahan tidak begitu, Kang” kataku menghibur…
“Iya dul, mudah-mudahan kesedihanku terlalu berlebihan saja, karena kita sendiri tidak tahu pasti keadaan sesungguhnya di Tehran. Karena apa yang kita baca dan simak tentang itu semuanya dari media yang kontra dengan pemerintah Iran…”

“Mas lan bapak-bapak” tiba-tiba suara Mas Andi terdengar, “sepurane, warunge bade tutup, sepurane nggeh…”. Bergegas kami undur diri, taklupa sebelumnya membanyar dua cangkir kopi tubruk plus sepuluh tempe-tahu goreng…[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s