SYUKUR 3

Posted: June 25, 2009 in celetukan

pear“Piye, dul?”, ujar Kang Ri ketika bertemu dalam acara Wisuda Pelepasan Lulusan TK dan Playgroup Nafilah di RT saya.
“yo apik-apik wae, kang. sehat walafiyat, alhamdulillah” jawabku singkat.
“bukan itu?” kata kang Ri
“lha apa toh Kang?”
“masak lupa?”
“apa?”
“syukur, syukur?” ia mencoba mengingatkanku
“oh, pak syukur… kemarin ketemu beliau baik-baik saja, sehat-sehat. memang kenapa dengan pak Syukur? he hehe” kataku mencoba memalingkan topik pembicaraan.
“walah, kamu nih. Dah kulaan tentang syukur belum?”
“udah, tapi sedikit Kang, abis modalku sedikit deh, jadinya gak bisa kulaan banyak-banyak”
“emang dagangan?” katanya sewot
“lha hidup memang, saling kulak mengulak eh Kang?”
“memang sih… kita nih memang makhluk pemamah biak” komentar Kang Ri.
“kayak binatang pemamah biak wae kang?”
“lah memang begitu toh dul. kita seringkali hanya bisa mendengar informasi atau kulaan pengetahuan dari buku lalu kita cerna dalam pikiran kita dan kemudian kita omongkan lagi ke orang lain, atau kita tulis… itu kan namanya pemamah biak pengetahuan he hehe”
“wah, kang Ri hebat juga, dari mana dapat istilah itu?” kataku takjub.
“ya kamu ini dul. kan dah saya bilang: saya kan juga termasuk makhluk pemamah biak he hehe, tapi… syukurnya, mana hasil kulaanmu?” waduh, inget lagi dah dia tentang si syukur.
“begini kang. seperti yang ditulis oleh al-Isfahany kemarin, syakara itu bermakna membuka. Lawan dari kafara artinya menutup. senada dengan itu, Kamus Lisanul Arab juga menyebut begitu. Saya kemarin mencoba buka-buka itu kamus, tapi dari lawan maknanya yaitu kafara”.
“terus…”
“Bentuk subjek dari kafara adalah kafir. Di Lisanul Arab, petani atau fallach itu disebut kafir, karena ia menggali lubang, memasukkan biji dan menutupnya kembali. Lautan yang dalam disebut juga dengan kafir, karena airnya yang begitu banyak menutupi dasarnya hingga tidak terlihat”
“lalu…”
“Mengapa orang yang tidak mau mengimani Allah sebagai Tuhannya disebut kafir?..”
“ya… karena ia menutup diri dari kebenaran itu” jawab Kang Ri. wah, encer juga tukang batu ini punya otak, pikirku.
“ya, begitulah kang. jadi secara bahasa, kita bisa termasuk kafir, jika kita tidak pandai bersyukur”
“kok bisa?” tanya Kang Ri
“ya karena… ketika kita mendapatkan nikmat Allah dan tidak disyukuri, ibaratnya kita menutup-nutupi seakan-akan nikmat itu tidak pernah kita dapatkan. sama halnya dengan ibarat begini… seseorang memberi kita hadiah. kita ambil hadiahnya tetapi kita tidak berterima kasih kepada yang memberi. itu kan sama saja dengan meniadakan pemberian itu, padahal ada. nah, menafikan pemberian sama halnya dengan menafikan yang memberi”
“iya..ya, jadi intinya mensyukuri itu adalah mengakui. Mengakui adanya pemberian yang berarti mengakui adanya yang memberi. seseorang disebut kafir, karena ia tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhannya, padahal kenyataannya begitu. Jadi… kalau sering tidak pernah mensyukuri nikmat itu bisa terjatuh dalam kekafiran, begitu ya dul?”
“itu sampeyan lho kang yang ngomong, bukan saya lho ya..”
“tapi kan benar begitu kan, dul?”
“kayaknya sih… he hehehe”[]

Comments
  1. Appreciate you sharing. My momma used to say “The key to immortality is first living a life worth remembering”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s