SYUKUR 2

Posted: June 24, 2009 in celetukan

Jum’at malam, saycalligraphyrounda kebagian ronda di RT saya. Memang sejak banyak rumah dibobol maling, warga RT saya tergerak untuk bersama-sama saling menjaga lingkungannya dari tamu tak diundang tersebut. jadilah ada piket jaga malam. “Saya senang kalau ronda” kataku suatu ketika pada mitra hidupku, “selain untuk menjaga keamanan, juga untuk silaturrahim dan bersosial sesama tetangga”. Dan sejak saat itu, istriku mempersiapkan makanan ala kadarnya untuk bekal ronda setiap jum’at malam.

“Bagaimana dul?” tanya Kang Ri malam itu. Ia memang salah satu teman rondaku.
“Bagaimana apanya, Kang?” jawabku, balik bertanya.
“Pertanyaanku kemarin”
“Pertanyaan apa?”
“Ya… masih muda kok sudah pikun, kamu ini dul. Ituloh… makna syukur. Kamu dah buka kamus belum?”
“Sudah”
“Terus apa artinya?”
“Sabar kang, sabar…”kataku sambil menyeruput kopi yang mulai dingin
“mumpung rasa ingin tahuku sedang muntup-muntup nih…” katanya sambil mengupas kacang yang dari tadi tak mau berhenti.
“Ternyata…” kataku memulai…
“ternyata apa? ternyata kamu belum buka kamus gitu? ujar Kang Ri penasaran.
“Ya.. Kang Ri ini bagaimana sih. Saya mau mulai ngomong dipotong”
“abis kelamaan sih… memulainya”
“ya.. bergaya orang pintar gitu lho Kang. ngomongnya mesti pelan-pelan, diatur agar bisa runtut he hehe”
“runtut koyok kentut!” wah Kang Ri, rasa ingin tahunya memang sedang tak tertahankan…
“Ternyata di dalam al-Qur`an, kata syukr itu disebut banyak sekali Kang” kataku, “sebanyak 64 kali”.
“wah, itu artinya… syukur itu penting sekali ya?” kata Kang Ri menyimpulkan.”terus?”
“ya begitulah kira-kira. Nah menurut Al-Raghib al-Ishfahany dalam bukunya, al-Mufradat fi Gharib al-Qur`an, kata ini mengandung arti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya di permukaan”.
“terus… terus?” tanya kang Ri nggak sabar.
“kayak parkir aja kang, terus..terus he he he”
“kan belajar harus ngotot he he he” ujar Kang Ri, mulai ada senyumnya.
“Menurut al-Ishfahany, kata ini berasal dari kata syakara yang berarti “membuka” lawan dari kafara (kufur) yang berarti “menutup”. Pengertian ini diperkuat dengan beberapa ayat al-Qur`an yang menghadap-hadapkan antara syukur vs kufur, seperti QS. Ibrahim [14]:7 dan QS. An-Naml [27]:40″.
“kamsude (maksudnya) apa?”
” Intinya, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat” dan hakikat kufur adalah “menyembunyikannya”. Menurut banyak ulama, menampakkan atau menyembunyikan di sini mencakup tiga sisi: dengan hati, dengan lisan, dan dengan perbuatan”.
“terus…terus?”
“ya… terus terus lagi. udah dulu kang. Nanti saya kulaan dulu, baca-baca dulu”
“janji lho ya??…” kata Kang Ri merasa diiming-iming.
“janji sih nggak, Kang. Tapi Kang Ri juga baca-baca juga dong. biar bisa berbagi gitu lho”.
“baca-baca apa dul, dul. mana mungkin saya baca buku? dari jam 7 sampai jam 4 sore saya nukang batu. kapan bacanya? trus buat beli buku pake apa?”
“iya ya, baca alam aja deh!”
“atau baca kehidupan aja”
“benar kang, sumber bacaan kan bisa banyak hal. hei ini udah jam 1 malem. ayo keliling…”
“ayo… berangkat” dan kamipun berajak, tidak lupa memukul tiang listrik samping gardu satu kali pukulan pertanda jam satu malam.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s