AL-QUR`AN BERBAHASA ARAB (Memoar Belajar Wawasan Dasar Al-Qur’an, Bagian 4)

Posted: March 2, 2010 in wawasan al-Qur`an
Tags: , , ,

“Masih ingatkah engkau kasus Kyai Roy?” tanya Mehdi dalam perjalanan pulang kuliah.

“Kyai Roy, siapa?” kata Fayas balik bertanya.

“Mantan petinju yang mengajarkan shalat dwibahasa itu lho?”

“Buat apa pula kamu menanyakan itu?”

“Ini penting”

“Penting apanya?”

“buat saya ini memunculkan suatu tanya: Mengapa hal ini bisa terjadi? Terlepas kontroversi, boleh atau tidaknya, bukankah ini akan memunculkan Roy-Roy yang lain ketika mereka merasa lebih mengerti, lebih sreg, saat ayat al-Qur`an yang mereka baca di dalam shalat diterjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka?” urai Mehdi

“Mehdi,” kata Parto yang dari awal hanya menyimak, “jelasnya, kamu ini ingin mengatakan apa sih? Konkritlah?”

“Mengapa al-Qur`an harus diturunkan berbahasa Arab? Padahal pesan yang disampaikan, katanya, universal: untuk semua umat manusia. Termasuk pak Roy kan…. yang Jawa, yang orang Malang, yang tidak mengerti bahasa Arab sama sekali karena kebetulan nenek moyangnya bukan keturunan Arab?” jawab Mehdi

“Waduh, waduh… pertanyaanmu semakin membuatku bingung aja” kata Parto tidak menjawab.

“Saya kira pertanyaan kamu tadi menarik untuk dicari jawabnya, Med. Sayangnya, kita harus berpisah dulu. Tetapi kita sepakat ya, untuk mendiskusikan itu. Tolong teman yang lain dikontak juga. Da.. assalamu’alaikum..” kata Fayas sambil masuk pelataran kostnya, dan kemudian masuk kamar.

Waalaikum salam” jawab Mehdi dan Parto sambil terus berjalan menuju kostnya masing-masing yang hanya beda gang saja.

Di dalam kamar, Fayas langsung mencari buku yang baru dibelinya di Islamic Book Fair kemarin. Judulnya Ulumul Qur`an karya M. Baqir Hakim[1]. “Nah ini dia” kata Fayas dan kemudian membukanya.

“Mengapa al-Qur`an mesti berbahasa Arab? Nah ini kayaknya tentang itu deh!” ujar Fayas ketika membuka halaman 27. Lalu sambil rebahan di atas tempat tidur yang hanya berukuran 2X1 meter ia mulai membaca:

“Al-Quran diturunkan dengan berbahasa Arab, tidak dengan bahasa dunia lainnya. Hal inilah yang menjadikan bahasa Arab memiliki suatu keistimewaan khusus jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya, yaitu bahwasanya ia merupakan bahasa yang paling mulia dan bahasa yang memiliki keluasan makna. Hal itu dibuktikan dalam beberapa riwayat yang terdapat di dalamnya dan dibuktikan juga melalui penelitian tentang ilmu tata bahasa Arab dan keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya.

Hal yang juga dapat diambil manfaat dari al-Qur`an adalah bahwasanya penafsiran dalam al-Qur`an memiliki keterkaitan yang erat dengan kejadian-kejadian tertentu yang terjadi pada masa kenabian. Meskipun demikian hal itu tidak menghilangkan sama sekali kemuliaan yang terkandung dalam bahasa Arab dan keistimewaan yang terkandung dari segi balaghahnya.

Meskipun al-Qur`an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh makhluk di muka bumi ini, dan juga untuk memberikan gambaran langkah yang harus ditempuh oleh umat manusia tanpa mengkhususkan kaum tertentu dan mengabaikan kaum yang lainnya, akan tetapi sebenarnya kaum yang menjadi objek  al-Qur`an pertama kali adalah bangsa Arab. Hal itu adalah karena al-Qur`an memiliki tujuan untuk menjadikan bangsa Arab sebagai contoh yang dapat dijadikan titik tolak bagi perjuangan ajaran Islam, maka al-Qur`an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Jika tidak memiliki tujuan seperti itu, maka niscaya al-Qur`an diturunkan dengan bahasa lain selain bahasa Arab. Hal ini semua tentunya memiliki kesesuaian dengan tujuan untuk mengadakan suatu perubahan pada umat manusia. Jika tidak demikian maka bisa jadi petunjuk untuk menyeru umat manusia (baca: al-Qur`an) akan diturunkan dengan menggunakan bahasa lain selain bahasa Arab.

Karena pentingnya mencapai perubahan umat manusia yang menjadi tujuan al-Qur`an, di mana perubahan tersebut memerlukan suatu titik tolak, maka jazirah Arablah yang dipandang tepat untuk mewakili titik tolak perjuangan ajaran Islam. Berikut ini penyebab pentingnya menjadikan al-Qur`an berbahasa Arab:

  1. Bahasa Arab memiliki daya tarik khusus bagi bangsa Arab generasi pertama untuk menerima ajaran al-Qur`an. Jika saja seandainya al-Qur`an diturunkan tidak dengan menggunakan bahasa Arab, niscaya bangsa Arab tidak akan menerima petunjuk dan cahaya ajaran yang terdapat dalam al­-Qur`an. Hal itu disebabkan karena tingkat keegoisan dan kefanatikan yang begitu tinggi dari penduduk bangsa Arab Jahiliah. Hal itu juga dijelaskan dalam al-Qur`an (QS. asy-Syu’ara [26]:198-199) :

وَلَوْ نَزَّلْنَاهُ عَلَى بَعْضِ الأَعْجَمِينَ فَقَرَأَهُ عَلَيْهِم مَّا كَانُوا بِهِ مُؤْمِنِينَ

Dan kalau al-Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.

Dan firman-Nya (QS Fushshilat [41]:44):

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

Dan jikalau Kami jadikan al-Qur`an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab, tentulah mereka akan mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat­-ayatnya?” Apakah (patut al-Qur`an) dalam bahasa asing sedangkan (Rasul adalah bangsa) Arab? Katakanlah, “Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang­orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

  1. Respon batin akan lebih baik jika dakwah menggunakan bahasa kaum yang menjadi target dakwah itu. Hal itu disebabkan karena dakwah akan dapat berhasil menyentuh perasaan melalui bahasa yang digunakan oleh juru dakwah. Adapun isi kandungan ajaran tersebut akan berhasil dipahami dan diserap dengan menggunakan akal dan pemikiran yang logis. Mungkin karena sebab inilah maka Sunah Ilahi memilih para rasul bagi setiap kaum yang berasal dari kaum itu sendiri yang memiliki bahasa yang sama. Sehingga dalil yang disampaikan oleh para rasul dalam memberikan suatu keyakinan kepada kaumnya akan menjadi lebih baik dan kuat, serta agar mereka dapat lebih memberikan pengaruh kepada kaumnya. Firman Allah Swt (QS. Ibrahim [14]:4):

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللهُ مَن يَشَاء وَيَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Bijaksana.

Dan firman-Nya yang lain (QS. asy-Syura [42]:7):

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul qura (penduduk Mekkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan lain akan masuk neraka.

  1. Kekuatan tertentu akan didapat dengan menggunakan bahasa dari kaum yang menjadi target dakwah itu sendiri. Sesungguhnya al-Qur`an memiliki mukjizat dalam hal keterangan dan gaya bahasa (ushlub)—selain mukjizat kandungan isi al-Quran itu sendiri—mukjizat ini tidak akan terasa melainkan dengan menggunakan bahasa kaum yang menjadi objek dakwah.

Karena kekuatan—yang juga merupakan salah satu bagian dari mukjizat—akan lebih terasa jika bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipakai oleh manusia. Jika tidak demikian; mungkin dakwah kepada suatu kaum yang menggunakan bahasa tertentu akan sama sia-sianya dengan kita memberikan mereka sebuah kitab yang menggunakan bahasa yang bukan bahasa mereka. Allah Swt berfirman (QS. al-Baqarah [2]:23):

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Firman-Nya dalam ayat yang lain (QS. Yunus [10]:38):

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Atau (patutkah) meneka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benan yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-onang yang benar.”

Firman-Nya yang lain ( QS. Hud [11]:13):

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan meneka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur`an itu.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh sunah yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang­-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Kemenangan yang dicapai adalah dikarenakan bahwa pada saat itu masyarakat Arab pada umumnya sangat menghargai pentingnya kemampuan dan kekuatan sastra dalam suatu bahasa. Karena sebab inilah maka al-Qur`an dapat memberikan pengaruh yang sangat besar sekali dalam menjadikan bangsa Arab tunduk dan patuh serta mengagumi kekuatan sastra yang dimiliki oleh al-Qur`an. Akan tetapi meskipun demikian, kekuatan sastra yang dimiliki al-Quran di mata sebagian bangsa Arab yang masih Jahiliah dan buta huruf malah membuat mereka menuduh bahwa al-Qur`an adalah syair dan juga sihir karena keagungan dan keindahan bahasanya.

  1. Bahasa merupakan sarana yang paling sempunna bagi sebuah risalah. Gambaran yang sempurna tentang isi kandungan al-Qur`an tidak akan mungkin dapat dijelaskan— khususnya pada masa permulaan risalah—dengan menggunakan bahasa lain selain dengan menggunakan bahasa Arab. Hal itu disebabkan karena mayoritas isi kandungan al­-Qur`an berkaitan erat dengan beberapa permasalahan yang jauh dari pemikiran manusia biasa, apalagi pemikiran bangsa Arab Jahiliah yang menjadi objek al-Qur`an pertama kali ketika itu. Bisa jadi karena kisah-kisah dalam al-Quran memuat berita tentang alam gaib, maupun apa yang disampaikan dalam al­-Qur`an berkaitan dengan permasalahan akidah, sosial, dan kemanusiaan yang manusia memiliki keterbatasan dalam hal itu semua dan keterbatasan dalam hubungan sosial dan kemanusiaan.

Jika kita perhatikan bahwa seningkali al-Qur`an harus menggunakan beberapa cara atau mengulang-ulang satu cara tertentu dengan menggunakan teknik yang berlainan dalam rangka untuk menjelaskan atau setidaknya dapat meringankan bangsa Jahiliah ini untuk dapat memahami apa yang diinginkan oleh al-Qur`an.

Oleh karena itu maka penggunaan bahasa merupakan suatu keharusan dalam rangka menciptakan kaidah tertentu, meskipun hal itu hanya bersifat relatif bagi sebuah risalah dan apa yang terkandung di dalamnya. Karena hal itu nantinya akan dapat dijadikan suatu tolok ukur dalam menyebarkan risalah tersebut kepada umat-umat dan kaum yang lain.

Diturunkannya al-Qur`an dengan menggunakan bahasa Arab adalah menunjukkan akan pentingnya suatu bahasa dalam memberikan suatu penjelasan tentang hakikat suatu kebenaran, hujjah, dan juga agar dapat memberikan pengaruh positif bagi jiwa manusia.

Allah Swt berfirman (QS. al-Ahqaf [46]:11-12):

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ.  وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَانًا عَرَبِيًّا لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Kalau sekinanya dia (al-Qur`an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.” Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata, “ini adalah dusta yang lama.” Dan sebelum al-Qur`an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (al-Qur`an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberikan peringatan kepada orang-­orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Bahwasanya yang dimaksud dengan orang-orang zalim pada ayat di atas adalah orang-orang musyrik dari penduduk Hijaz, karena al-Qur`an seningkali mengungkapkan kemusyrikan dengan menggunakan kata kezaliman. Allah Swt berfirman (QS. Luqman [31]:13):

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah Swt, sesungguhnya mempersekutukan (Allah Swt) adalah benar-benan kezaliman yang besar.”

Demikian pula hal itu sama seperti apa yang dialami oleh kitab Nabi Musa dan tuduhan bahwa kitab itu adalah kitab yang bohong.

Hal di atas dapat kita ketahui dengan lebih jelas jika kita memperhatikan bahwa lafazh-lafazh dalam al-Qur`an yang menceritakan bahwa al-Qur`an menggunakan bahasa Arab terdapat dalam surah-surah Makkiah saja. Sehingga dapat kita yakini bahwa proses perubahan memang lebih ditekankan pada saat itu di kota Mekkah, karena di kota Mekkah-lah mulai dibangun kaidah-kaidah dan tolok ukur dalam melakukan proses perubahan.

Bukan hanya itu saja, al-Qur`an juga disebut sebagai ucapan yang jelas (mubin). Allah Swt berfirman (QS. asy-Syu’ara [26]:192-195):

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

Dan sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.

Demikian pula pada ayat-ayat yang lain disebutkan bahwa al-Qur`an merupakan kitab yang jelas, atau dengan sebutan al­-Qur’an al-Mubin (jelas).[2] Hal ini memperkuat penjelasan bahwa al-Qur`an memang kitab yang jelas. Kesemuanya itu dimaksudkan agar ada suatu kesesuaian antara bahasa al-­Qur`an dengan perubahan-perubahan yang hendak dicapai.

Keempat poin yang telah disebutkan di atas seluruhnya berkisar tentang tujuan al-Qur`an akan pentingnya perubahan. Kesemuanya benar-benar memberikan perhatian akan kaidah-­kaidah sebagai tolok ukur dan sentral yang asasi dalam mencapai tujuan-tujuan yang lainnya yang juga menjadi perhatian al-Qur`an. []


[1] M. Baqir Hakim. 2006. Ulumul Qur`an. Penerbit al-Huda. Jakarta

[2] Perhatikan kembali OS. al-Ma’idah:15, al-An’am:59,Yunus:61, Hud:6, Yusuf:1, asy-Syu’ara:2, an-Naml:1, al-Qashash:2, Saba: 3, Yasin: 69, az-Zukhruf:2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s