SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DEFINISI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Posted: February 3, 2010 in publikasi ilmiah

Apalah arti sebuah nama?

Bunga Sedapmalam  akan tetap mewangi,

Walaupun engkau menyebutnya bunga Bangkai!

Iftitah

Untuk membahas tentang tren dan isu teknologi pembelajaran yang berkembang saat ini terasa kurang lengkap jika kita tidak memahami latar sejarah bidang keilmuan ini dan perkembangan definisinya. Dengan memahami sejarah tersebut, paling tidak kita bisa menempatkan kecenderungan dan pokok permasalahan yang sedang berkembang dalam khazanah pengetahuan yang tidak tercerabut dari akar historisnya. Selain itu, kita juga bisa menempatkan satu perspektif kesejarahan dalam menilik konteks definsi terbaru dari keilmuan tersebut.

Tulisan ini berupaya untuk mengkaji perkembangan definisi teknologi pembelajaran mulai dari awal mula kemunculannya hingga pengertian yang terbaru. Namun sebelum itu, tidak ada salahnya jika menilik terlebih dahulu tentang term “definisi” dan tujuan mengapa definisi dibuat.

Ada banyak pengertian tentang definisi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli, namun di sini penulis mencukupkan pada beberapa saja, di antaranya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan dengan 1) kata, frase atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, preses atau aktivitas; batasan (arti); 2) rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi[1].

Menurut Solomon, definisi adalah suatu pernyataan yang memberikan arti pada sebuah kata atau frase.[2] Senada dengan itu  Rescher menyebut definisi sebagai sebuah penjelasan tentang arti sebuah kata. Penjelasan harus membuat jelas definisi yang dimaksudkan dan definisi berhubungan dengan kata bukan benda.[3] Sedangkan menurut Poespoprodjo, definisi adalah perumusan yang singkat, padat, jelas dan tepat yang menerangkan ‘apa sebenarrnya suatu hal itu’ sehingga dapat dengan jelas dimengerti dan dibedakan dari semua hal lain.[4]

Dari beberapa pengertian di atas jelaslah bahwa definisi mempunyai tugas untuk menetukan batas suatu pengertian dengan tepat, jelas dan singkat. Maksudnya menentukan batas-batas pengertian tertentu sehingga jelas apa yang dimaksud, tidak kabur dan tidak dicampuradukkan dengan pengertian-pengertian lain.

Maksud orang membuat definisi, bagi Rescher dikatagorikan ke dalam dua  dua tujuan, yaitu: tujuan umun dan tujuan khusus. Tujuan umum, antara lain: a) Memfasilitasi komunikasi dengan membantu proses komunikasi yang berlangsung menjadi sederhana dan lebih tepat, atau dengan kata lain mempersingkat ekspresi suat pernyataan yang panjang dan kompleks sifatnya. Contoh: WHO, singkatan dari World Health Organization; b) Definisi dibuat untuk memperkenalkan kata baru dalam bahasa; c) Definisi juga dapat memberikan suatu arti baru terhadap kata yang sudah lama, contoh: kata Bibi, dahulu didefinisikan sebagai adik kandung ayah atau ibu perempuan, namun saat ini bisa mempunyai arti “pembantu rumah tangga”; dan d) Definisi adalah suatu cara yang terbaik dan paling efektif untuk menjamin ketepatan dan kebenaran dari penggunaan kata tersebut.

Sedangkan tujuan khusus, terdiri dari: a) Definisi yang tepat (Precising definition), yaitu definisi yang biasa digunakan dalam bahasa mempunyai arti dan tujuan khusus atau tertentu, contoh: Dewasa adalah orang yang berusia 21 tahun keatas, dan definisi ini berimplikasi atau mempunyai tujuan khusus pada penetapan hukuman dalam peradilan; b) Definisi yang bersifat teoritis (Theoritical definition). Definisi ini tidak saja merupakan penjelasan sederhana dari suatu kata tetapi juga merupakan suatu penjelasan yang bersifat teoritis yang didapat dari ilmu pengetahuan/penelitian dan juga kehidupan sehari-hari. Pada yang terakhir inilah tampaknya, definisi TP yang pernah menghiasi sejarah keilmuan ini bisa kita duduk-maksudkan.

Latar Belakang Sejarah Teknologi Pembelajaran

Tidak bisa dinafikan bahwa perkembangan definisi TP yang terbaru saat ini merupakan buah dari evolusi yang terus berlangsung dari pendefinisian sebelum-sebelumnya[5]. Proses evolusi ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari latar sejarah yang mengiringi bidang keilmuan ini. Karenanya sebelum membahas evolusi definisi ini, menilik sekilas historical background TP menjadi suatu kebutuhan tersediri. Pada bagian ini, penulis mengambil rujukan utama pada Seels & Richey (1994) dalam Instructional Technology: The Definition and Domains of  the Field. Sedangkan pada bagian-bagian sesudahnya juga pada Januszewsky & Molenda (2008) dalam Educational Technology: a Definition with Comentary, dan Reiser & Dempsey (2002) dalam Trend and Issues in Instructional Design and Technology.

Saettler (1990) mengakui bahwa ada kesuliatan untuk mengidentifikasi sumber istilah ‘educational technology’. Tidak jelas, katanya, siapa yang pertama menggunakan term tersebut. Ia menemukan bukti kuat bahwa Franklin Bobbitt dan W.W. Charters memakai istilah ‘educational engineering’ pada tahun 1920an. Saettler pertama kali mendengar istilah ‘educational technology’ digunakan oleh W.W. Charters ketika diwawancarai pada tahun 1948, dan terakhir James D. Finn menggunakan istilah ‘instructional technology’ dalam tulisannya untuk publikasi pertama National Education Association (NEA) dan disponsori oleh Technological Development Project (TDP) pada tahun 1963. Namun, fokus semua istilah itu baru sebatas komunikasi audio-visual.

Teknologi Pembelajaran, sebagai satu bidang keilmuan, memang tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Terutama pasca Perang Dunia II, teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi istilah itu sinonim dengan konsep ‘mengajar berbantuan peralatan audio-visual’.

Bidang keilmuan ini merupakan hasil dari tumbuhkembang tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem dalam pendidikan. Adalah Edgar Dale dan James Finn merupakan dua tokoh yang berjasa dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran modern dan definisinya pada masa-masa awal. Edgar Dale mengemukakan tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience)  sebagaimana tampak dalam gambar berikut ini:

Gambar: Kerucut Pengalaman Dale

Gambar di atas menjelaskan analogi tingkat pengalaman  dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran.

Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme)  dengan gagasan–gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu.

Sedangkan, James Finn  seorang mahasiswa tingkat doktoral dari Edgar Dale berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi audio-visual menjadi Teknologi Pembelajaran yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi suatu profesi tersendiri. Gagasan Finn mengenai integrasi sistem dan proses mampu mencakup dan memperluas gagasan Edgar Dale tentang keterkaitan antara bahan dengan proses pembelajaran.[6]

Dari itu, sejalan dengan sejarah dan perkembangannya, rumusan pengertian TP telah mengalami  pelbagai perubahan. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan bidang keilmuan ini.

Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963

Seperti pengakuan Settler yang telah disinggung di awal, memang ada kesulitan untuk menunjuk sumber pertama istilah TP dan kapan digunakannya, namun setidaknya pengakuan AECT menunjukkan bahwa definisi 1963 tentang Komunikasi Audio-visual merupakan pengertian formal yang pertama bagi TP[7].

Definisi 1963 ini menyebutkan:

“Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna  mengendalikan  proses belajar. Ini meliputi kegiatan: (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan  dalam proses belajar; (b) penstrukturan dan sistematisasi  oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi: perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.”

Meski masih menggunakan istilah komunikasi audio-visual, definisi di atas telah menghasilkan kerangka dasar bagi pengembangan Teknologi Pembelajaran pada masa berikutnya serta  dapat mendorong terjadinya peningkatan pembelajaran.

Menurut Januszewski dan Persichitte, pada definisi ini terdapat tiga peralihan konseptual utama yang memberikan kontribusi pada formulasi pelbagai pengertian TP sebagai suatu teori: 1) Penggunaan konsep “proses” daripada konsep “produk”; 2) penggunaan istilah “pesan” dan “instrumentasi media” daripada “bahan” dan “mesin”; dan 3) pengenalan pada bagian-bagian teori belajar dan teori komunikasi. Memahami tiga gagasan tersebut dan dampaknya antara satu dengan lainnya merupakan kunci penting untuk memahami gagasan TP tahun 1963.

Definisi Commission on Instruction Technology (CIT) 1970

Upaya yang kedua untuk mendefinisikan bidang keilmuan ini juga dibuat oleh Commission on Instructional Technology (CIT) pada tahun 1970. Dalam laporannya, komisi ini menyatakan bahwa bidang ini juga bisa didefinisikan dalam dua cara:

“Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis…..bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya…”

“Teknologi Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan pembelajaran untuk pelbagai tujuan khusus, yang didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi manusia, dan menggunakan kombinasi sumber manusia dan non-manusia agar pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif”[8]

Ada beberapa aspek baru dalam definisi yang terakhir. Pertama, adanya gagasan bahwa TP mesti memuat tujuan khusus. Ini mungkin karena pengaruh pemikiran B.F. Skinner (1954) dan Robert Mager (1962) yang diadopsi oleh para praktisi bidang ini. Kedua, adanya gagasan bahwa metode dan teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan khusus tersebut mesti didasarkan pada penelitian. Dan ketiga, adanya prase “pembelajaran yang lebih efektif”, di mana efektifitas merupakan salah satu karakteristik teknologi.

Definisi Silber (1970)

Definisi ketiga yang banyak berpengaruh adalah apa yang dibuat oleh Kenneth Silber yang kelak kemudian pernah memimpin Komite AECT untuk definisi dan terminologi:

“Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan  (organisasi dan personil) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah pendidikan”.

Definisi ini berbeda dengan definisi sebelumnya dalam tiga hal: pertama, pandangan tentang pengembangan. Pada definisi sebelumnya yang dimaksud dengan pengembangan lebih diartikan pada pengembangan potensi manusia sedangkan pada definisi Silber, istilah pengembangan bersifat terbuka memuat perancangan, produksi, pemanfaatan dan evaluasi teknologi untuk pembelajaran; Kedua, definisi 1970, demikian pula definisi 1963, beranggapan bahwa TP bersifat man-machine system dan itu berkaitan dengan bahan. Sedangkan definisi ini tidak hanya demikian tetapi juga merubah skup TP dengan menambah komponen bidang ini seperti teknik dan latar. Dan terakhir, gagasan tentang TP sebagai upaya problem solving merupakan sumbangsih original Silber, dan itu merupakan inti dari definisi tersebut. Ide ini kemudian banyak diadopsi oleh definisi selanjutnya.

Definisi MacKenzie dan Eraut (1971)

Definisi dari Inggris ini ringkas, namun terlihat begitu luas untuk mendeskripsikan TP secara akurat:

“Teknologi Pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai”.

Definisi sebelumnya meliputi istilah, “mesin”, instrumen” atau “media”, sedangkan dalam definisi   MacKenzie dan Eraut ini  tidak menyebutkan perangkat lunak maupun perangkat keras, tetapi lebih berorientasi pada proses.

Definisi AECT 1972

Pada tahun 1972, AECT berupaya  merevisi definisi yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan sebagai berikut:

“Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut”.

Definisi ini menunjukkan bahwa TP merupakan proses sistematis dalam mengembangkan dan memanfaatkan pelbagai sumber pembelajaran. Gagasan ini diambil dari definisi 1963, 1970, dan 1971, dan nantinya banyak peran yang sama masuk dan diadopsi oleh definisi 1994 seperti pengembangan, pengorganisasian pengelolaan, dan pemanfaatan. Definisi 1972 ini didasari semangat untuk menetapkan TP sebagai satu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi.

Definisi AECT 1977

Definisi ini secara resmi sepanjang enam halaman, dan ini versi pendeknya:

“Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia”.

Definisi tahun 1977, AECT berusaha mengidentifikasi TP sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya, kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori.

Definisi AECT (1994)

AECT kemudian merevisi definisi 1977 dengan rumusan berikut:

“Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi  tentang proses dan sumber untuk belajar.”

Meski dirumuskan dalam kalimat yang lebih sederhana, definisi ini sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang dan profesi,  yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktek yang kokoh.  Definisi ini juga  berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses dan produk.

Definisi AECT (2004)

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam bidang pendidikan, psikologi dan komunikasi-informasi, TP sebagai bidang ilmu juga semakin berkembang. Demikian pula dengan definisinya juga mengalami perbaikan. Hal itu juga tidak dapat dilepaskan dari evaluasi dan kritik terhadap definisi 1994.

Kritik utama yang ditujukan pada definisi 1994 adalah bahwa TP tampak terlalu berpendakatan sistem dalam mengembangkan pembelajaran dan itu terlalu membatasi mainstrem guru, administrator sekolah, peneliti dan juga para sarjana TP. Karenanya, definisi 1994 direvisi dengan definisi 2004 sebagaimana dirumuskan berikut ini:

“Studi dan praktik yang berlandaskan etika dalam menfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan pelbagai proses dan sumber teknologi yang tepat”[9].

Pada definisi yang terbaru ini, gagasan tentang etika mulai dimasukkan. Sebagaimana kritik terhadap definisi 1994, mainstrem ilmuan, teknolog, dan praktisi TP begitu dibatasi dalam pendekatan sistem yang memang demikianlah salah satu karakteristik teknologi, sehingga menyebabkan TP demikian tidak luwes dan kehilangan sisi kemanusiaan dalam pelbagai domainnya. Karenanya, diharapkan landasan etika yang menjadi sumbangsih utama definisi terbaru ini bisa menanggulangi, meminjam istilah Prof. Dimayati, “keterbudakan teknologi” dalam pembelajaran.

Iktitam

Jika kita amati isi kandungan definisi-definisi teknologi pembelajaran di atas, tampaknya dari waktu ke waktu teknologi pembelajaran mengalami proses “metamorfosa” menuju penyempurnaan. Ada beberapa catatan terakhir yang dapat digariskan di bagian akhir ini: 1) Pada definisi awal, fokus TP hanya sebagai media pembelajaran; 2) Pada definisi 1960an dan 1970an, TP dipandang sebagai suatu proses; 3) Pada definisi 1994, TP telah dipandang sebagai proses dan juga produk; 4) Pada definisi terbaru (2004) landasan etika mulai dijadikan pedoman dalam kajian dan praktik TP.

Demikianlah, sekilas “napak tilas” sejarah perkembangan definisi TP. Semoga ada manfaatnya bagi pembacaan dan keterlibatan kita lebih jauh dalam bidang keilmuan [tentunya juga praktik] teknologi pembelajaran. Mari kita berdiskusi![]

DAFTAR PUSTAKA

Januszewsky, Alan & Michael Molenda. 2008. Educational Technology: a Definition with Comentary. Lawrence Erlbaum Associates. New York.

Poespoprodjo, W. EK T Gilarso. 1999. Logika Ilmu Menalar : Dasar-dasar Berpikir Tertib, Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, cet. 1. Pustaka Grafika. Bandung.

Reiser, Robert A. & Jhon V. Dempsey (ed.). 2002. Trends and Issues in Instructional Design and Technology. Pearson Education, Inc. New Jersey.

Rescher, Nicholas. 1964. Introduction to Logic, St. Martinis Press. New York.

Seels, Barbara B. & Rita C. Richey. 1994. Instructional Technology: The Definition and Domains of  the Field. Association for Educational Communication and Technology. Washington, DC.

Solomon, Robert C.. 1985. Introducing Philosophy : A Text With Readings, 3rd ed.. Harcourt Brace Jovanovich, Inc. Florida.

Tim Penyusun-Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.


[1] Tim Penyusun-Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Halaman 216.

[2] Solomon, Robert C., Introducing Philosophy : A Text With Readings, 3rd ed., Harcourt Brace Jovanovich, Inc., Florida, 1985. Halaman 234.

[3] Rescher, Nicholas, Introduction to Logic, St. Martinis Press, New York, 1964. Halaman 30.

[4] W. Poespoprodjo, EK T Gilarso, Logika Ilmu Menalar : Dasar-dasar Berpikir Tertib, Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, cet. 1, Pustaka Grafika, Bandung, 1999. Halaman 67

[5] Seels, Barbara B. & Rita C. Richey. 1994. Instructional Technology: The Definition and Domains of  the Field. Association for Educational Communication and Technology. Washington, DC. Halaman 13. Lihat juga Januszewsky, Alan & Michael Molenda. 2008. Educational Technology: a Definition with Comentary. Lawrence Erlbaum Associates. New York. Halaman 1.

[6] Seels & Richey. Op.Cit. halaman 13-15.

[7] Januszewsky & Molenda. Op. Cit, halaman 260.

[8] Seels & Richey. Halaman 17.

[9] Januszewski  & Molenda (ed.) Loc. Cit.  Halaman 81-82.

About these ads
Comments
  1. purwanti says:

    Terima kasih bapak, tulisan bapak sangat bermanfaat bagi saya

  2. purwanti says:

    Mohon ijin Bapak… saya mengkopi tulisan bapak, saya pakai untuk referensi dalam mengerjakan tugas

  3. benramt says:

    sama2, semoga dapat bermafaat untuk perkembangan disiplin kita. knowledge for all..

  4. NOVRINI says:

    MAKASIH BANYAK pak.
    materinya saya copy sebagai salah satu
    referensi untuk UAS Landasan TP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s