PRINSIP-PRINSIP PERSEPSI UNTUK DESAIN PESAN PEMBELAJARAN

Posted: January 25, 2010 in publikasi ilmiah
Makalah, oleh Saiful Amien
PENDAHULUAN
Sebelum mendiskusikan pelbagai prinsip yang tersurat dalam handbook of Instructional Message Design[1], ada baiknya kita mengingatkan kembali beberapa terma yang berkaitan dengan pokok bahasan ini. Dengan begitu, diharapkan prinsip-prinsip persepsi di atas dapat diletakkan sesuai foldernya dalam khazanah pengetahuan kita. Beberapa istilah ini telah disinggung dalam pengantar buku ini, dan kami hanya berupaya untuk menampilkan kembali dan memberinya “catatan kaki”:
  1. Pesan (message) ialah suatu pola tanda/lambang, baik berupa kata maupun gambar, yang dimaksudkan untuk mengubah prilaku kognitif (berpikir), afektif (bersikap) dan psikomotorik (bertindak) seseorang atau kelompok[2].
  2. Rancangan (design) ialah proses analisis dan sintesis yang dimulai dengan suatu problem komunikasi dan diakhiri dengan rencana solusi operasional.[3]
  3. Pembelajaran (instuction) di sini tidak hanya merujuk kepada konteks pembelajaran formal di ruang kelas, di mana pemerolehan keterampilan dan konsep tertentu merupakan tujuan sentralnya, tetapi juga mencakup seluruh apa yang terkandung dalam istilah “komunikasi”, termasuk konteks pembelajaran informal, di mana sikap dan emosi amat diperhatikan.[4]
  4. Rancangan pesan pembelajaran (instructional message design) ialah rencana proses rekayasa (manipulasi) pola tanda dan simbol yang menghasilkan pelbagai kondisi belajar. Dalam hal ini, Asumsi yang dikembangkan oleh Fleming dan Levie adalah bahwa para praktisi pembelajaran bisa menjadi lebih efektif jika mereka memanfaatkan generalisasi (kesimpulan umum) hasil penelitian ilmu-ilmu behavioral. Generalisasi inilah di dalam buku ini disebut sebagai “prinsip”[5].
PERIHAL PERSEPSI
Pengertian persepsi
Kata “persepsi” diambil dari kata berbahasa Inggris “perception”, sebuah kata benda (noun) yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan:
The process or result of becoming aware of object, relationship, and events by means of the senses, which includes such activities as recognizing, observing, and discriminating. These activities enable organisms to organize and interpret the stimuli received into meaningful knowledge.”[6]
Senada dengan pengertian itu Kamus Psikologi terbitan Indonesia mengartikan persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimiliki.[7]
Melengkapi definisi di atas, Atkinson juga menyebut persepsi sebagai proses dimana kita mengorganisasi dan menafsirkan pola stimulus ke dalam lingkungan.[8]
Sedangkan Davidoff seperti yang dikutip oleh Walgito mengartikan persepsi sebagai stimulus yang diindera oleh individu, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera itu.[9] Hal ini seperti pengertian kata “percept” dalam bahasa Inggris, yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan: “the product of perception: stimulus object or event as experienced by the individual”.[10]
Lebih lanjut Kartono memberikan pengertian tentang persepsi sebagai pengamatan secara global, belum disertai kesadaran, sedang subyek dan obyeknya belum terbedakan satu dari lainnya (baru ada proses “memiliki” tanggapan).[11]
Imanuell Kant seperti yang dikutip oleh Mahmud MD. mengatakan “kita melihat benda-benda itu tidak sebagaimana adanya benda-benda itu sendiri, tetapi sebagaimana adanya diri kita” atau dengan kata lain persepsi itu merupakan pengertian kita tentang situasi sekarang dalam artian pengalaman-pengalaman kita yang telah lalu. Karena itu apa yang kita persepsi pada waktu tertentu akan tergantung bukan saja pada stimulusnya sendiri, tetapi juga pada latar belakang beradanya stimulus itu, misalnya pengalaman-pengalaman sensoris terdahulu, perasaan kita pada waktu itu, prasangka-prasangka, keinginan-keinginan, sikap dan tujuan kita. Lebih lanjut Mahmud mendefinisikan persepsi sebagai penafsiran terhadap stimulus yang telah ada di dalam otak.[12]
Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa persepsi adalah proses kategorisasi. Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek luar, peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dengan menghubungkan masukan itu dengan salah satu kategori atau golongan obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa, proses menghubungkan ini adalah proses yang aktif dimana individu yang bersangkutan dengan sengaja memberikan kategori yang tepat sehingga ia dapat mengenali (memberi arti) kepada masukan tersebut.[13]
Saleh dan Wahab mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri. Definisi persepsi lainnya menurut Saleh dan Wahab menyebutkan bahwa persepsi adalah kemampuan membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan perhatian terhadap satu objek rangsang dan dalam proses pengelompokkan dan membedakan ini persepsi melibatkan proses interpretasi berdasarkan pengalaman terhadap satu peristiwa atau objek.[14]
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.[15]
Adapun pengertian persepsi menurut Desiderato, seperti yang dikutip Jalaludin Rahmat, adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).[16]
Dari pelbagai definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian makna atau interpretasi yang mencakup pemahaman, mengenali dan mengetahui suatu objek melalui panca indera (sensasi) sehingga individu menyadari apa yang ia lihat, apa yang di dengar dan sebagainya.
Untuk lebih memperjelas pengertian persepsi, ada baiknya kita membedakannya dengan sensasi (proses menangkap stimuli) seperti dalam pemisalan Jalaluddin Rahmat berikut ini:
Suatu hari Anda menyaksikan kawan Anda sedang melihat-lihat etalase toko. Anda menyergapnya dari belakang, “Bangsat lu. Udah lupa sama aku, ya!” Orang itu membalik. Anda terkejut. Ia bukan kawan Anda, tetapi orang yang belum pernah Anda kenal seumur hidup Anda. Ini bukan kesalahan sensasi, tetapi kekeliruan persepsi. Bila dosen mengatakan “Bagus”, tetapi Anda mendengar “Agus”, Anda keliru sensasi. Tetapi bila saya mengucapkan “Anda cerdas sekali, lalu Anda menerima pujian saya berang, karena Anda kira saya mempermainkan Anda, Anda salah mempersepsi pesan saya.[17]
Proses terjadinya persepsi
Persepsi dapat terjadi bila tiga komponen utama berikut terpenuhi, yaitu :
  1. Seleksi atau sensasi, yaitu proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
  2. Interpretasi yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.
  3. Interpretasi ini kemudian di terjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi.[18]
Jenis-jenis persepsi
Menurut Irwanto,[19] setelah individu melakukan interaksi dengan obyek-obyek yang dipersepsikan maka hasil persepsi dapat dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Persepsi positif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya.
  2. Persepsi negatif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang tidak selaras dengan obyek yang dipersepsi.
Dapat dikatakan bahwa persepsi itu baik yang positif ataupun yang negatif akan selalu mempengaruhi diri seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Dan munculnya suatu persepsi positif ataupun persepsi negatif semua itu tergantung pada bagaimana cara individu menggambarkan segala pengetahuannya tentang suatu obyek yang dipersepsi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, antara lain:
  1. Psikologi. Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi, sebagai contoh, terbenamnya matahari di waktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna.
  2. Famili. Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus di dalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya.
  3. Kebudayaan. Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat di dalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini.[20]
Sedangkan menurut Krech dan Crutchfield faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:
  1. Faktor-faktor fungsional. Objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Contohnya pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang terhadap persepsi.
  2. Faktor-faktor struktural. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya.[21]
Ciri-ciri umum persepsi
Ciri-ciri umum dari persepsi menurut Shaleh dan Wahab diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Modalitas: rangsangan yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap-tiap indera, yaitu sifat sensoris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk penglihatan; bau untuk penciuman; suhu bagi perasa; bunyi bagi pendengaran; sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).
  2. Dimensi ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang); kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, latar depan-latar belakang, dan lain-lain.
  3. Dimensi waktu: dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat lambat, tua-muda, dan lain-lain.
  4. Struktur konteks, keseluruhan yang menyatu: objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu.[22]
Syarat terjadinya persepsi
Menurut Moskowitz dan Orgel agar individu dapat menyadari dan dapat mengadakan persepsi, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi yaitu :
  1. Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai alat indera (reseptor), dapat pula datang dari dalam langsung mengenai syaraf penerima (sensoris), yang bekerja sebagai reseptor.
  2. Alat indera atau reseptor, yaitu merupakan alat untuk menerima stimulus. Disamping itu harus ada pula syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons diperlukan syaraf motoris.
  3. Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi sesuatu diperlukan pula adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi. Tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi.
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengadakan persepsi ada syarat-syarat yang bersifat fisik atau kealaman, fisiologis, dan psikologis[23]
PRINSIP PERSEPSI DAN DESAIN PESAN
Prinsip dasar (pernyataan umum) persepsi
Fleming dan Levie menyebutkan beberapa prinsip dasar persepsi, yaitu:
  1. Persepsi itu bersifat relatif (prinsip relativitas)
  2. Persepsi itu bersifat selektif (prinsip selektifitas)
  3. Persepsi itu terorganisir (prinsip pengorganisasian)
  4. Persepsi itu amat dipengaruhi oleh kecenderungan seseorang (prinsip kecenderungan)
Prinsip dasar di atas telah dibahas pada pertemuan yang lalu (kelompok pertama), dan pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pada beberapa prinsip persepsi berikutnya, walaupun kadang masih terkait dengan prinsip-prinsip sebelumnya.
Keterbatasan kapasitas persepsi
Kadang, kita sebagai guru atau desainer pembelajaran, kurang sabar dalam membina pembelajaran. Keinginan kita menggebu-nggebu untuk memberikan sebanyak mungkin materi pelajaran kepada peserta didik dalam satu waktu. Akibatnya, terasa pesan yang kita sampaikan menjadi mubadzir. Terlalu banyak dan rumit pesan (stimuli) yang bisa dipersepsi oleh peserta didik. Kita lupa bahwa kemampuan mempersepsi seseorang, tidak terkecuali para siswa kita, amatlah terbatas.
Dari itu, Flaming dan Levie mengingatkan tentang beberapa dalil pada prinsip keterbatasan ini yang bisa dimanfaatkan dalam mendesain pesan pembelajaran, di antaranya:
Pertama, karena sistem pengelolaan informasi (mempersepsi, menandai, dan menyimpan) pada diri seseorang itu terbatas kapasitasnya, maka besarnya energi yang dibutuhkan untuk menandai suatu stimuli juga terbatas dari pengelolaan informasi lainnya.
Implikasinya bagi desainer pembelajaran ialah semakin banyak pesan yang disampaikan, semakin besar energi yang dibutuhkan, dan semakin sedikit pesan yang diterima.
Kedua, banyaknya informasi yang dikelola bergantung pada dua hal, tingkat keabstrakan objek atau kejadian dan tingkat kedalaman setiap objek itu dikelola.
Ketiga, kita mampu mempersepsi, dengan sekilas, sekitar 7 item atau objek yang familiar seperti angka dan nama. Sama halnya kita juga bisa menyimpan dalam memori sementara sekitar 7 item.
Keempat, seseorang yang mempersepsi, biasanya memisah-misahkan informasi yang diterima ke dalam katagori besar atau rata-rata berdasarkan banyaknya stimuli, pengalaman dan maksud yang menyertainya. Hal ini biasanya disebut dengan istilah “mengelompokkan” (to chunk, cluster, group).
Kelima, semakin tertata atau terpola suatu pesan itu dipersepsi, semakin banyak informasi yang dapat diproses dalam sekali waktu.
Keenam, semakin familiar suatu pesan bagi seseorang, semakin mudah untuk dipersepsi.
Kapasitas saluran (channel) tunggal
Ketujuh, untuk pesan verbal pada situasi saluran tunggal, semakin sulit atau komplek suatu pesan verbal, semakin besar keunggulan (persepsual) saluran-visual (tertulis) daripada saluran-auditori (terucapkan).
Kapasitas saluran majmuk
Kedelapan, di mana suatu presentasi audio-visual berlangsung terlalu cepat, peserta dalam mempersepsi mesti memilih antara kedua saluran tersebut. Bisa jadi ia lebih memilih informasi-auditori daripada visual, atau sebaliknya. Hanya pada tingkat kecepatan yang lebih lambat ia mampu menghubungkan informasi dari kedua saluran.
Kesembilan, ketika informasi diterima secara bersamaan dari beberapa sumber, salah satunya bisa mengurangi, menguatkan atau mempengaruhi (bias) terhadap yang lainnya. Di sini terjadi suatu interaksi.
Kesepuluh, kapasitas persepsual akan tampak lebih membesar ketika dua modalitas, pendengaran dan penglihatan, dimanfaatkan secara bersamaan. Pelibatan dua pekerjaan (auditori dan visual), misalnya akan lebih saling menguatkan daripada memanfaatkan modalitas visual secara terpisah dengan modalitas auditori.
Pembedaan (distinguishing) dan pengelompokan (grouping)
Proses mempersepsi dan membuat katagorisasi tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan yang kita terima dari lingkungan kita. Salah satu tugas primer dari desainer pembelajaran adalah menggubah terjadinya persepsi terhadap pelbagai kebiasaan tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya penguatan terhadap kebiasaan-kebiasaan itu agar tampak lebih dominan untuk dipersepsi.
Di sini kebiasaan demikian penting karena tiga alasan. Pertama, kebiasaan yang kita terima memungkinkan kita untuk membuat katagorisasi, dan darinya kita dapat menangani (melakukan sensasi/penginderaan terhadap) banyaknya informasi yang membombardir kita. Kedua, kebiasaan  yang kita terima merupakan dasar bagi sejumlah pengetahuan: fakta, konsep, opini, dan sikap. Dan terakhir, mengorganisir pesan merupakan salah satu tujuan utama desainer dalam mempengaruhi persepsi peserta didik terhadap pelbagai kebiasaan tersebut.
Medan perseptual itu diorganisir, dan kebiasaan menjadi nyata melalui proses analisis dan sintesis. Pada tindakan analisis, kita biasa melakukan pembedaan atau pemisahan. Sedangkan pada tindakan sintesis, kita melakukan pengelompokan dan pengkombinasian.
Dalam mendesain pesan pembelajaran, ada baiknya kita mempertimbangkan prinsip “pembedaan” dan “pengelompokan” ini, yang oleh Fleming dan Levie ditunjukkan dalam kaitannya dengan faktor keberbedaan (difference), kemiripan (similarity), dan kedekatan (proximity) melalui beberapa dalil berikut:
Kesebelas, objek atau peristiwa itu dimaknai berlainan karena memiliki perbedaan satu atau banyak dimensinya. Dari itu, dalam mempersepsi seseorang cenderung untuk membeda-bedakan satu objek/peristiwa dengan lainnya lalu mengelompokkannya secara terpisah.
Keduabelas, objek atau peristiwa itu dimaknai mirip karena memiliki persamaan dalam beberapa hal seperti tampilan, fungsi, jumlah, arah dan strukturnya. Dari itu, dalam mempersepsi seseorang cenderung mengelompokkan objek/peristiwa dan mengorganisirnya dalam kemiripan.
Ketigabelas, sekali suatu bentuk atau pola sangat dibedakan dari kelompoknya, maka unsur-unsur di dalamnya cenderung lebih dipersepsi sebagai sejenis daripada kenyataannya. Lebih dari itu, pembedaan antara satu pola dengan lainnya akan diperkuat.
Keempatbelas, objek atau peristiwa yang saling berdekatan, misalnya dari sisi waktu, ruang atau konteksnya, cenderung akan dipersepsi sebagai sesuatu yang saling terkait, misalnya dari sisi pembentukan, fungsi dan sebagainya.
Kelimabelas, objek yang familiar biasanya mempertahankan karakteristik perseptualnya (pencahayaan, ukuran, ketajaman, pewarnaan) dari perubahan saat menjadi stimuli. Fenomena ini disebut konstansi (ketetapan) perseptual.
Menghubungkan dan mengorganisir
Selain berdasar pada kebiasaan untuk “membeda-bedakan” dan “memirip-miripkan”, kita juga terbiasa “menghubung-hubungkan” objek/peristiwa yang hendak kita persepsikan. Dari itu, dalam mendesain pesan pembelajaran kita juga perlu menambahkan pertimbangan faktor relationship sebagaimana ditunjukkan oleh kedua penulis dalam dalil berikut:
Keenambelas, persepsi tentang hubungan akan terjadi manakala antar objek atau peristiwa -dilihat dari ide dasar, pola, ritme, struktur, atau keorganisasiannya- bertemu dan saling memberi satu sama lain.
Ketujuhbelas, variasi ruang dan waktu pada susunan, pola dan struktur mempengaruhi persepsi tentang hubungan.
Tentang hal ini, ada lima tipe susunan yang biasa dimanfaatkan dalam membuat variasi tingkatan untuk menunjukkan hubungan antar objek yang bervariasi. Yaitu: kedekatan (proximity), inklusi (inclusion), arahan (directionality), superordinasi (superordination), dan penguatan (accentuation).
Ukuran dan kedalaman
Ukuran dan kedalaman merupakan bagian yang esensial dan seringkali mempengaruhi persepsi kita terhadap hubungan. Sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa dalil, di antaranya:
Kedelapanbelas, ketika dipersepsi, ukuran secara timbal balik berkaitan dengan jarak. Semakin besar ukuran yang ada, semakin kecil jarak yang terjadi. Sebaliknya, semakin besar jaraknya, semakin kecil ukurannya.
Kesembilanbelas, ukuran satu objek dalam suatu lahan memiliki hubungan dengan objek lainnya. Akan dipersepsi kekecilan manakala lahannya memuat pelbagai objek yang besar-besar, sebaliknya kebesaran manakala lahan itu memuat pelbagai objek yang kecil-kecil.
Keduapuluh, persepsi terhadap kedalaman dalam tampilan dua dimensi dipengaruhi oleh  hubungannya dengan ukuran (khususnya pada objek-objek yang familiar), perspektif linear, tingkat besar kecilnya susunan, dan sebagainya.
Keduapuluh satu, persepsi tentang kesolidan dan kedalaman pada suatu objek dipengaruhi oleh pencahayaan seperti proyeksi bayangan, dan oleh ketajaman gambar.
Tempat, Waktu dan gerakan
Demikian pula dengan faktor lokasi, waktu dan gerakan juga berpengaruh terhadap persepsi kita terhadap sesuatu atau peristiwa. Kedekatan lokasi bagi perorangan misalnya berpengaruh pada persepsi apakah mereka tampak sebagai orang asing atau kerabat.
Dari itu dalam desain pesan yang hendak kita rancang sebaiknya pertimbangan ini juga kita manfaatkan sebagaimana dalil berikut:
Keduapuluh dua, persepsi spasial (tempat) langsung mengarahkan hubungannya kepada vertikal dan horizontal.
Keduapuluh tiga, biasanya, persepsi tentang durasi dan interval waktu amat berhubungan dengan standard dan kerangka rujukan.
Keduapuluh empat, waktu yang padat dengan kegiatan tampak berlalu lebih cepat daripada waktu yang luang dari kegiatan.
Keduapuluh lima, persepsi tentang gerakan amat berhubungan dengan faktor waktu dan tempat.
Persepsi dan kognisi
Keduapuluh enam, sebaik-baik suatu objek atau peristiwa dipersepsikan bergantung kepada sejauh mana prinsip-prinsip perseptual itu berlaku. Semakin mudah dan dapat dipercaya suatu persepsi, akan semakin jauh kognisi mengelolanya: menyimpan, menformat konsep, menyelesaikan masalah, berpikir kreatif, dan melakukan perubahan sikap.
AKHIRUL KALAM
Persepsi sebagaimana yang kita pahami, ternyata memiliki peran amat penting dalam tata kognisi manusia. Bersama tindakan sensasi (penginderaan), memori dan berpikir, persepsi mampu “mengharu-birukan” tidak saja proses komunikasi intrapersonal (proses pengolohan informasi) tetapi juga proses komunikasi interpersonal.
Di sinilah, guru dan desainer pembelajaran mendapatkan tantangannya. Mampukah ia menghadirkan kondisi belajar yang representatif dan memudahkan peserta didik dalam mempersepsi -yakni memberikan makna pada stimuli inderawi berupa- pesan pembelajaran secara positif sebagaimana yang diinginkan sang guru/desainer.
Dari itu, memahami prinsip-prinsip perseptual dan memanfaatkannya dalam mendesain pesan pembelajaran, sebagaimana yang dianjurkan oleh Fleming dan Levie, penting untuk dilakukan. Di antara prinsip perseptual itu adalah: relatifitas, selektifitas, pengorganisasian, kecenderungan, keterbatasan, pembedaan, pengelompokan, dan hubungan.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, R.L, Atkinson, R.C, Hilgard, E.R. 1997. Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga.
Fleming, Malcolm  & W. Howard Levie. 1981. Instructional Message Design: Principles from the Behavioral Sciences. New Jersey: Educational Technology Publications.
Irwanto. 2002. Psikologi umum (buku panduan mahasiswa). Jakarta : PT. Prehallindo.
Kartono, K dan Gulo, D. 2000. Kamus psikologi. Bandung : CV. Pionir Jaya.
______. 1990. Psikologi umum. Bandung : Mandar Maju.
Mahmud, M.D. 1990. Psikologi suatu pengantar. Yogyakarta : BPFE.
Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Saleh, A.R dan Wahab, M.A. 2004. Psikologi suatu pengantar (dalam perspektif Islam). Jakarta : Kencana.
Sarwono, S.W. 1987. Teori-teori psikologi sosial. Jakarta : Rajawali.
Sobur, A. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka setia.
Thoha, M. 1988. Perilaku organisasi, konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Rajawali.
Vandenbos, Gary R. (Editor in Chief). 2002. APA Dictionary of Psychology. Washington DC: American Psychological Association.
Walgito, B. 1990. Pengantar psikologi umum. Yogyakarta : Andi Offset.

[1] Fleming, Malcolm  & W. Howard Levie. 1981. Instructional Message Design: Principles from the Behavioral Sciences. New Jersey: Educational Technology Publications. hal. 53-95
[2] Ibid., halaman ix
[3] Proses mendesain berbeda dengan proses melaksanakan. Di mana desain pesan bersifat konseptual yang membedakannya dengan kejadian suatu tindakan atau peristiwa komunikasi dan pembelajaran. Desain pesan bisa saja terjadi secara tiba-tiba (tanpa perencanaan) bersamaan dengan tindakan pembelajaran. Gagne (1965), seperti yang dikutip dalam buku ini, membedakan antara “predesign” dan “extemporaneous design”. Guru seringkali melakukan keduanya. Ia membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar (predesign) dan ia juga memodifikasinya ketika mengajar (extemporaneous design)  Ibid., halaman ix-x. Dari itu, benarlah kiranya apa yang disinggung oleh Prof. Dimyati bahwa perencanaan pembelajaran bisa saja berbeda dengan tindakan pelaksanaan sebagai dampak pengiringnya. Catatan pribadi  pada kuliah Prof. Dimyati, MK. Perencanaan Kurikulum. Tanggal 2 Maret 2009.
[4] Ibid., halaman x
[5] Secara praksis, pertanyaan yang muncul dari asumsi ini ialah bagaimana bisa prinsip (generalisasi) ilmu-ilmu behavioral diaplikasikan ke dalam desain pesan pembelajaran? Secara umum buku ini ingin menjawab pertanyaan tersebut. Ibid., halaman xi.
[6] Vandenbos, Gary R. (Editor in Chief). 2002. APA Dictionary of Psychology. Washington DC: American Psychological Association. Halaman 683
[7] Kartono, K dan Gulo, D. (2000). Kamus psikologi. Bandung : CV. Pionir Jaya. Halaman 343.
[8] Atkinson, R.L, Atkinson, R.C, Hilgard, E.R. (1997). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga. Halaman 201
[9] Walgito, B. (1990). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta : Andi Offset. Halaman 53
[10] Vandenbos, Op.Cit. Halaman 683
[11] Kartono, K. (1990). Psikologi umum. Bandung : Mandar Maju. Halaman 61
[12] Lihat Mahmud, M.D. 1990. Psikologi suatu pengantar. Yogyakarta : BPFE. Halaman 41
[13] Lihat Sarwono, S.W. (1987). Teori-teori psikologi sosial. Jakarta : Rajawali. Halaman 95.
[14] Saleh, A.R dan Wahab, M.A. (2004). Psikologi suatu pengantar (dalam perspektif Islam). Jakarta : Kencana. Halaman 88.
[15] Thoha, M. 1988. Perilaku organisasi, konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Rajawali. Halaman 138
[16] Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Halaman 51.
[17] Ibid.
[18] Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung : Pustaka setia. Halaman 447.
[19] Irwanto. (2002). Psikologi umum (buku panduan mahasiswa). Jakarta : PT. Prehallindo. Halaman 71.
[20] Thoha, Op.Cit., halaman 143
[21] Lihat Rahmat, Op.Cit., halaman 55-58
[22] Lihat Shaleh dan Wahab. Op.Cit., halaman 89
[23] Lihat Walgito. Op.Cit., halaman 54
Comments
  1. novia says:

    terimakasih pak…. nambah ilmuuu dan bantu penyelesaian KTI saya…

  2. arizona says:

    alhamdulillah, ndak payah lai do…

  3. ronald says:

    wahh . . . helpfull bgt nih
    thnkz a’lot

  4. Rizca says:

    Terima kasih,

    sayang sekali 4 prinsip presepsinya tidak dijelaskan.

  5. dida says:

    terima kasih pak

  6. benramt says:

    buat tugas desain pesan ya? hehehe

  7. riza says:

    pak..makasih ya, bantu bgt neh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s