PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM PEMBELAJARAN Resume Chapter 8 Buku Educational Psychology karya Robert E. Slavin

Posted: January 3, 2010 in publikasi ilmiah
Makalah, oleh Saiful Amien

PENDAHULUAN

Tulisan ini akan membahas pelbagai pokok pikiran di dalam Chapter 8 buku Educational Psychology karya Robert E. Slavin (halaman 240-273), yang membahas tentang pembelajaran berpendekatan konstruktivistik dan berpusat peserta didik. The main ideas tersebut dirumuskan dalam pertanyaan berikut:

  1. Pandangan konstruktivis mengenai belajar. Di sini akan diuraikan:
    1. Akar sejarah Konstruktivisme;
    2. Pemrosesan atas-bawah (Top-down processing);
    3. Cooperative learning;
    4. Discovery learning;
    5. Self Regulated Learning;
    6. Scaffolding;
    7. Prinsip-prinsip psikologi berpusat-pebelajar dari APA;
  2. Memanfaatkan Cooperative Learning untuk pembelajaran. Di sini akan diuraikan beberapa metode Cooperative Learning
  3. Mengajarkan problem-solving dan keterampilan berpikir. Pembahasan ini menyangkut:
    1. Proses kegiatan problem-solving
    2. Mengajarkan problem-solving yang kreatif
    3. Mengajarkan keterampilan berpikir kritis.

PANDANGAN KONSTRUKTIVIS MENGENAI BELAJAR

Satu prinsip terpenting dalam psikologi pendidikan yang melandasi teori belajar konstruktivis adalah bahwa guru tidak bisa memberikan pengetahuan kepada peserta didik dengan begitu saja. Peserta didiklah yang mesti membangun sendiri pengetahuannya. Guru bisa saja menfasilitasi proses ini dengan pelbagai cara mengajar yang membuat informasi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Misalnya dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk menemukan sendiri informasi dan mengaplikasikannya, atau dengan pembelajaran yang mengupayakan peserta didik memiliki kesadaran untuk menggunakan strateginya sendiri dalam belajar. Di sini guru hanya memberikan kepada mereka tangga-tangga menuju pemahaman yang lebih tinggi, dan peserta didiklah yang harus menaiki tangga-tangga tersebut dengan sendirinya.

Hakikat teori belajar Konstruktivis terletak pada gagasan bahwa pebelajar sendiri yang menemukan dan mengolah pelbagai informasi atau ide-ide yang kompleks menjadi miliknya sendiri. Menurut teori ini, pebelajar selalu memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama, dan memperbaiki aturan-aturan tersebut jika tidak berfungsi lagi.

Pandangan konstruktivis ini memiliki implikasi pada pembelajaran untuk mengupayakan peserta didik sebagai pebelajar aktif. Karenanya strategi konstruktivis ini seringkali disebut student-centered instruction, pembelajaran yang terpusat pada peserta didik.

Akar Sejarah Konstruktivisme

Teori konstruktivisme memiliki akar sejarah yang berujung pada Piaget dan Vygotsky, dua tokoh yang menekankan bahwa perubahan kognitif niscaya terjadi ketika konsepsi lama berlalu dalam proses ketidakseimbangan dengan informasi baru. Selain itu, keduanya juga menekankan pentingnya pembelajaran sosial (social nature learning) dan pemanfaatan pembelajaran berbasis kemampuan campuran (mixed-ability learning) untuk mendukung terjadinya perubahan konseptual.[1]

Pemikiran konstruktivis modern tergambar indah dalam teori-teori Vygotsky yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, dan penemuan.

Berikut ini adalah empat konsep kunci dari Vygotsky yang memainkan peran penting dalam teori konstruktivisme, yaitu:  Pertama, Social Learning. Menurut psikolog asal Sovyet ini, anak belajar melalui interaksinya dengan orang dewasa atau teman sebaya yang berkemampuan lebih. Karenanya, dalam kegiatan kooperatif, anak-anak bisa ditampakkan bagaimana proses berpikir teman-teman sebayanya. Metode ini tidak hanya membuat hasil belajar terbuka bagi peserta didik, tetapi juga membuat proses berpikir peserta didik yang lain terbuka bagi seluruhnya. Vygotsky menambahkan bahwa problem-solver yang sukses berbicara pada dirinya sendiri ketika menghadapi masalah-masalah sulit. Dalam kelompok kerjasama, pebelajar bisa mendengar “suara batin” tersebut dengan keras dan darinya mampu belajar bagaimana problem-solver tersebut berpikir dengan pelbagai pendekatannya.

Kedua, zone of proximal development (ZPD), yakni  jarak antara posisi perkembangan aktual yang dicapai oleh seorang anak di mana tidak mampu menyelesaikan masalah sendirian dengan posisi perkembangan potensial yang dicapainya karena bantuan petunjuk orang dewasa atau melalui kolaborasi bersama teman-teman sebaya yang lebih mampu.[2] Vygotsky menyakini bahwa anak-anak akan belajar dengan baik ketika berada di dalam zona perkembangan proximalnya. Karenanya, proses pembelajaran adalah proses mendekatkan jarak antara kedua posisi perkembangan (aktual dan potensial) tersebut. Jika jarak antara kedunya semakin dekat, itu berarti telah terjadi perkembangan. Pada zone inilah sesungguhnya proses belajar itu terjadi pada diri seorang anak, dan perkembangan dipandang sebagai hasil belajar.

Ketiga, Cognitive Apprenticeship, yakni proses magang di mana seorang pebelajar secara bertahap memperoleh keahlian melalui interaksi dengan seorang ahli, apakah ia (ahli itu) orang dewasa, lebih tua, atau sebaya. Dari konsep ini, para teoritisi konstruktivis menganjurkan kepada guru untuk mentranformasikan model pembelajaran ini dalam aktivitas keseharian di ruang kelas dengan melibatkan peserta didik ke dalam tugas-tugas yang kompleks dan menuntun  mereka menyelesaikannya.

Keempat, Mediated Learning (scaffolding). Konsep ini menekankan gagasan dasar bahwa peserta didik sebaiknya dihadapkan pada tugas-tugas yang kompleks, sulit dan realistis kemudian diberi bantuan yang cukup untuk menyelesaikannya. Konsep ini disebut juga situated learning untuk menggambarkan bahwa belajar itu semestinya mengambil tempat pada kehidupan nyata sebagai tugas yang autentik.

Top-Down Processing (Pemrosesan Atas-Bawah)

Pendekatan konstruktivis terhadap pembelajaran lebih menekankan strategi pemrosesan informasi secara top-down daripada bottom-up. Ini artinya bahwa peserta didik dalam pembelajaran dimulai dari permasalahan yang kompleks, komplit, dan autentik untuk dipecahkan hingga berhasil menemukan, dengan dampingan/petunjuk guru, pelbagai keterampilan dasar. Berbeda dengan strategi bottom-up yang biasanya secara bertahap dimulai dari mempelajari keterampilan dasar menuju keterampilan yang lebih kompleks.

Cooperative Learning (Pembelajaran dengan Kerjasama)

Pendekatan konstruktivis secara khusus memanfaatkan pembelajaran kooperatif secara luas. Teorinya adalah bahwa peserta didik akan lebih mudah menemukan dan menguasai konsep-konsep yang sulit jika mereka bisa saling berbagi tentang permasalahan yang dihadapi. Selain itu, penekanan pada pembelajaran sosial dan penggunaan kelompok sebaya sebagai model/cara tepat untuk berpikir, mengungkapkan dan menanggulangi miskonsepsi antar peserta didik merupakan elemen kunci dari konsep Piaget dan Vygotsky tentang perubahan kognitif.

Discovery Learning (Pembelajaran dengan Penemuan)

Discovery learning merupakan satu komponen penting dari pendekatan konstruktivis modern yang memiliki sejarah panjang dalam inovasi pendidikan. Di dalam pembelajaran ini, para peserta didik didorong untuk leluasa belajar dengan keterlibatannya secara aktif pada pelbagai konsep dan prinsip. Di sini guru berupaya memotivasi mereka untuk memiliki pengalaman dengan melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan sendiri prinsip-prinsip tersebut. Tentang ini Bruner (1966) mengatakan:

“kita mengajarkan satu bidangstudi tidak untuk menghasilkan pelbagai perpustakaan kecil nan hidup tentang bidangstudi tersebut, tetapi lebih untuk menjadikan peserta didik itu mampu berpikir… bagi dirinya sendiri agar dapat mempertimbangkan layaknya seorang sejarawan, menjadi bagian dari proses membangun pengetahuan. Mengetahui itu proses, bukan produk”

Discovery learning memilki banyak manfaat, di antaranya: mampu menggugah rasa keingin-tahuan para peserta didik; mendorong mereka utuk terus bekerja hatta menemukan jawaban; mereka juga bisa belajar keterampilan problem-solving dan berpikir kritis secara mandiri karena pada pembelajaran ini mereka dituntut untuk melakukan analisis dan rekayasa terhadap informasi. Namun pembelajaran ini juga bisa terjebak dalam kesalahan dan pemborosan waktu. Karenanya, pembelajaran diskoveri-terbimbing (guided discovery learning) lebih dianjurkan daripada diskoveri-murni (pure discovery learning). Pada diskoveri-terbimbing guru dapat berperan lebih aktif: memberi petunjuk, membuat struktur (porsi) aktivitas, hingga menyediakan garis besar (outlines) pikiran.

Self-Regulated Learning (Pembelajaran Mandiri)

Satu konsep kunci teori konstruktivis adalah pandangan tentang peserta didik yang ideal, yakni pebelajar mandiri (Paris & Paris, 2001). Yaitu dia yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar efektif dan bagaimana memanfaatkannya di manapun dan kapanpun (Bandura, 1991; Dembo &Eaton, 2000; Schunk & Zimmerman, 1997; Winne, 1997). Misalnya, dia mengetahui bagaimana memecahkan masalah yang kompleks dengan langkah-langkah yang lebih mudah atau melalui pengujian pelbagai alternatif solusi (Greeno &Goldman, 1998); dia tahu bagaimana dan kapan harus membaca secara skiming dan kapan mesti membaca untuk pemahaman yang  mendalam; dia mengerti bagaimana tatacara menulis untuk tujuan persuasif dan bagaimana menulis untuk tujuan informatif (Zimmerman & Kitsantas, 1999). Lebih dari itu, pebelajar mandiri adalah dia yang belajar karena dorongan dari dalam diri, bukan karena ingin naik tingkat atau provokasi orang lain (Boekaerts, 1995; Corno, 1992; Scunk, 1995), dan dia mampu memancangkan tugas jangka panjang hingga benar-benar terselesaikan.

Scaffolding (Pembelajaran dengan bantuan)

Seperti telah disinggung di awal, scaffolding merupakan tindakan pembelajaran yang didasarkan pada konsep Vygotsky tentang belajar dengan bantuan (assisted learning). Menurut Vygotsky, fungsi mental tertinggi -termasuk kemampuan untuk menfokuskan ingatan/perhatian dan memikirkan pelbagai simbol- adalah prilaku hasil mediasi. Mediasi ini secara eksternal terjadi melalui budaya dan terinternalisasi dalam benak pebelajar sebagai instrumen psikologis.

Pada pembelajaran dengan bantuan atau pembelajaran termediasi (mediated learning), guru menjadi agen budaya yang menghantarkan peserta didik untuk menguasai atau menginternalisasikan keterampilan-keterampilan yang membenarkan fungsi kognitif tertinggi. Kemampuan untuk menginternalisasi instrumen budaya ini bergantung pada usia pebelajar atau tingkat perkembangan kognitifnya.

Pada tataran praktik, termasuk scaffolding adalah memberi peserta didik di awal pembelajaran struktur setting tugas pelajaran dan secara bertahap mengalihkan tanggungjawab sepenuhnya kepada mereka untuk mengerjakannya secara mandiri. Misalnya, pada peserta didik yang sedang belajar membuat pertanyaan umum mengenai materi yang sedang dibaca. Pada permulaan pembelajaran, guru memberikan model dan jenis pertanyaan yang mungkin bisa mereka rumuskan, namun pada tahap selanjutnya merekalah yang mengambil alih tugas pertanyaan umum tersebut.

Prinsip-prinsip Psikologi Berpusat-Pebelajar dari APA

Pada tahun 1992, The American Psychological Assosiation (APA) mempublish satu dokumen tentang psikologi dalam pendidikan yang disebutnya Learner-Centered Psychological Principles: Guidelines for School Redesign and Reform. Direvisi pada tahun 1997, publikasi ini menjelaskan pandangan tentang prinsip-prinsip belajar dan motivasi di antara para psikolog pendidikan yang paling menonjol terutama yang berada dalam tradisi konstruktivis.

Prinsip-prinsip tersebut melukiskan potret pebelajar sebagai pencari pegetahuan yang aktif dengan (1) melakukan penafsiran ulang terhadap informasi dan pengalaman bagi dirinya, (2) menjadi pribadi yang termotivasi karena pencarian terhadap pengetahuan (bukan karena keinginan naik tingkat atau penghargaan lainnya), (3) bekerja dengan yang lain secara bersosial untuk membangun makna, dan (4) selalu menyadari akan pelbagai strategi belajarnya dan mampu mengaplikasikannya pada setiap problem atau keadaan baru.

MEMANFAATKAN COOPERATIVE LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN

Di dalam pelbagai metode pembelajaran kooperatif, para peserta didik berkerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling memberikan bantuan belajar. Ada banyak perbedaan pendekatan dalam model pembelajaran ini. Paling banyak adalah dengan mengelompokkan peserta didik ke dalam empat orang anggota yang beragam kemampuan, namun sebagian ada juga yang mengelompokkan mereka dua-dua, dan sebagian lainnya ke dalam ukuran kelompok yang beragam. Biasanya, para peserta didik didaftar terlebih dahulu dalam kelompok-kelompok kooperatif, dan mereka diminta tinggal bersama dalam kelompoknya selama beberapa pekan atau bulan. Mereka senantiasa didorong untuk memikirkan keterampilan-keterampilan spesifik yang akan membantu mereka bekerjasama dengan baik, seperti mendengar-aktif, menjelaskan, tidak mudah merendahkan orang lain dan sebagainya.

Pelbagai aktivitas pembelajaran kooperatif ini bisa memainkan banyak peranan dalam pelajaran. Setidaknya untuk tiga tujuan berbeda: pertama, peserta didik bekerja sebagai kelompok penemu (discovery group); kedua, setelah pelajaran formal berakhir, mereka bekerja sebagai kelompok diskusi; dan terakhir, mereka memiliki satu kesempatan bekerja bersama untuk memastikan bahwa semua anggota benar-benar telah mempelajari apasaja yang ada di pelajaran tersebut.

Metode Pembelajaran Kooperatif

Banyak metode pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan, di antaranya adalah:

1. Student Teams-Achievement Divisions (STAD)/Devisi Pencapaian-Tim Peserta Didik.

Metode pembelajaran kooperatif bagi kelompok dengan kemampuan campuran yang melibatkan pengakuan dan tanggungjawab bagi pembelajaran individual.

2. Cooperative Integrated Reading and Compositian (CIRC)

Program komprehensif untuk mengajar membaca dan menulis di kelas-kelas atas Sekolah Dasar; peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan empat orang.

3. Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif di mana siswa ditempatkan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan enam orang untuk mengerjakan bahan akademis yang telah dipecah menjadi beberapa bagian untuk masing-masing anggota.

4. Learning Together (Belajar Bersama)

Model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh David Johnson dan Roger Johnson (1999), di mana peserta didik dalam kelompok kecil, empat sampai lima orang anggota yang heterogen, bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas-tugas. Setiap kali kelompok ini menyelesaikan satu tugas dengan baik maka mereka menerima pujian dan penghargaan berdasar produk yang dihasilkan. Metode ini menekankan pada kegiatan membangun tim (team-building) sebelum peserta didik memulai kerja bersama dan diskusi reguler seputar tatacara kerja bareng yang terbaik.

5. Group Investigation (Investigasi Kelompok)

Model pembelajaran kooperatif di mana peserta didik bekerja dalam kelompok kecil dengan memanfaatkan etos penemuan bersama, diskusi kelompok, rencana dan melaksanakan proyek bersama, kemudian diakhiri dengan presentasi di depan seluruh anggota kelas tentang apa yang mereka temukan.

6. Cooperative Scripting

Satu metode kajian di mana peserta didik bekerja secara berpasangan dan bergiliran secara lisan meringkaskan bagian-bagian materi yang dipelajari.

MENGAJARKAN PROBLEM-SOLVING DAN KETERAMPILAN BERPIKIR

Peserta didik tidak dapat dikatakan belajar sesuatu yang bermanfaat kecuali jika mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan informasi dan keterampilan untuk memecahkan masalah (problem-solving).

Proses Problem-Solving

Problem solving ialah aplikasi dari pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Peserta didik dapat diajarkan beberapa strategi problem-solving yang telah diteliti dengan baik, di antaranya:

1. Strategi umum Problem-Solving

Bransford dan Stein (1993) telah mengembangkan dan mengevaluasi strategi lima-langkah yang disebut “IDEAL”:

I      Identifikasi problem dan peluang

D     Definisikan tujuan-tujuan dan representasikan

masalahnya

E     Ekplorasikan strategi-strategi yang dimungkinkan

A     Antisipasilah hasil dan tindakan

L      Lihat kembali dan pelajari

2. Analisis Instrumen-Tujuan

Teknik pemecahan masalah yang menekankan pada identifikasi tujuan yang hendak dicapai, situasi terkini, dan kebutuhan-kebutuhan apa yang mesti dipenuhi untuk mereduksi pelbagai perbedaan antara dua kondisi.

3. Penyeleksian (Extracting) Informasi yang Relevan

Teknik pemecahan masalah dengan cara mengekstrak pelbagai informasi yang terkait dengan inti masalah. Begitu diketahui informasi yang paling relevan dengan persoalan maka jawabannya akan mudah diperoleh.

  1. 4. Merepresentasi masalah. Teknik pemecahan masalah dengan cara merepresentasikan masalah tersebut dalam pelbagai bentuk yang dikehendaki, bisa berupa grafik, diagram, flowchart, outline dan instrumen lainnya yang mampu menyimpulkan dan menggambarkan komponen-komponen penting dari masalah tersebut.

Mengajarkan Problem Solving yang Kreatif

Banyak persoalan dalam hidup ini yang perlu diselesaikan secara kreatif, misalnya bagaimana mengubah atau mengakhiri satu hubungan tanpa meninggalkan hati yang terluka atau memperbaiki mesin dengan jepitan kertas yang bengkok. Berikut ini adalah satu strategi untuk mengajarkan penyelesaian masalah yang kreatif:

  1. Inkubasi. Mendiamkan masalah, untuk melakukan perenungan mendalam terhadap pelbagai alternatif solusi, sebelum memilih yang paling tepat. Dalam mengajarkan proses ini, diupayakan guru menghindarkan diri untuk memberikan tekanan waktu pada peserta didik. Bukan kecepatan yang dihargai di sini tetapi pemikiran yang seksama.
  2. menangguhkan penilaian. Di sini peserta didik didorong untuk menangguhkan penilaian dan mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum menentukan satu jawaban. Satu metode khusus yang didasarkan pada prinsip ini adalah brainstorming, bertukar pikiran. Tujuannya adalah untuk menghindari pemusatan pikiran pada satu jawaban yang terlalu dini.
  3. Memberikan Suasana yang tepat. Problem-solving yang kreatif tersemai melalui lingkungan yang santai bahkan menyenangkan. Karena itu dalam mengajarkannya, siswa didorong untuk mencoba solusi yang berbeda dan tidak boleh dicela walaupun salah.
  4. Menganalisi masalah. Inilah metode problem-solving kreatif yang sering dianjurkan, yaitu, menganalisa karakteristik utama atau bagian-bagian penting dari suatu masalah.
  5. Melibatkan peserta didik dalam masalah. Satu kunci dalam mengajarkan problem solving adalah memperdayai peserta didik dan menghadapkan mereka dalam masalah.
  6. Memberikan Umpan Balik. Barangkali cara yang paling efektif untuk mengajarkan problem solving adalah dengan memberikan umpan balik kepada peserta didik. Feedback ini tidak hanya terfokus pada kebenaran solusi yang mereka capai tetapi juga pada proses bagaimana mereka mencapai solusi tersebut.

Mengajarkan Keterampilan Berpikir Kritis

Satu dari mimpi tertua dalam pendidikan adalah menemukan cara-cara yang menjadikan peserta didik lebih cerdas, tidak hanya berpengetahuan luas atau terampil tetapi benar-benar mampu mempelajari segala macam informasi baru. Dan itu memerlukan keterampilan berpikir kritis. Yaitu kemampuan untuk membuat keputusan rasional tentang apa yang mesti dilakukan dan mesti diyakini. Keterampilan ini meliputi misalnya, perencanaan, penggolongan, pemikiran yang berbeda, identifikasi asumsi, identifikasi informsi yang menyesatkan, dan perumusan pertanyaan.

Keterampilan berpikir ini bisa diajarkan melalui pelbagai program pelatihan, dan tidak kalah bermanfaatnya adalah penciptaan budaya berpikir di dalam kelas.

Satu program  pelatihan yang terkenal dalam mengajarkan keterampilan berpikir ini adalah Instrumental Enrichment yang dikembangkan oleh pendidik Israel, Reuven Feuerstein (1980). Yaitu program di mana peserta didik melakukan serangkaian latihan  dengan menggunakan kertas dan pencil yang dirancang untuk mengembangkan pelbagai keterampilan intelektual.[]


[1] Lihat teori asimilasi-akomodasi-ekuilibirium

[2] Vygotsky mendefinisikan ZPD dalam bukunya, Mind and society: The development of higher psychological processes. Cambridge, MA: Harvard University Press, halaman 86, dengan “the distance between the actual developmental level as determined by independent problem solving and the level of potential development as determined through problem solving under adult guidance, or in collaboration with more capable peers”, lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Zone_of_proximal_development, diakses pada tanggal 23 Oktober 2009.

About these ads
Comments
  1. apa bang punya terjemahan seluruh buku itu….?

  2. rusmiyanto says:

    terima kasih banyak, mohon izin ,artikel anda saya gunakan untuk persentasi pada kuliah S2 saya, semoga Alloh memberi rizqi yang barokah buat anda amin

  3. okisolikhin says:

    thanks…artikel ini dapat membantu saya menjawab soal-soal ujian S2, yang akan saya kembangkan lebih lanjut.
    jempol untuk anda…

  4. desi says:

    Thx..tulisan Anda bnr2 bmanfaat buat kul saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s