MENGENALI PARADIGMA PENDIDIKAN, MENELISIK PERKEMBANGAN KURIKULUM

Posted: December 31, 2009 in publikasi ilmiah

Makalah, oleh Saiful Amien

MUKADDIMAH

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan pelbagai sistem pemikiran pendidikan yang melatarbelakangi lahir dan berkembangnya keanekaan kurikulum. Asumsinya, tiada sesuatu yang hadir dari ruang hampa. Demikian juga gagasan dan desain kurikulum. Tiada yang berkembang kecuali ada sistem pemikiran yang melahirkannya. Sistem pemikiran ini, biasanya, disebut dengan paradigma dan bahkan ideologi, yang pada mulanya berakar dari refleksi filosofis khususnya tentang hakikat manusia (sebagai individu maupun kelompok), dan kemudian mewujud dalam konsepsi tentang manusia dari pelbagai perspektifnya[1].

Makalah ini membatasi uraiannya hanya pada pelbagai paradigma atau ideologi pendidikan dan bagaimana pengaruhnya pada perkembangan kurikulum yang digagasnya. Itupun terfokus hanya pada sistem pemikiran yang berkembang di Barat. Di sini penulis membagi pembahasan pada dua konteks pemetaan pemikiran yang menurut hemat kami, baik langsung maupun tidak, terjadi “saling sapa” antara satu dengan lainnya dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang pernah ada: pertama, pemetaan dalam konteks studi psikologi komunikasi mengenai manusia yang melahirkan teori Psikoanalisis, Kognitif, Behaviorisme, dan Humanisme; dan kedua, dalam konteks relasi kuasa (ekonomi, politik, sosial, budaya) manusia.

Pada bagian kedua tersebut, penulis mengadapsi pemetaan paradigmanya Henry Giroux & Aronowitz yang secara lebih sederhana mengkatagorikan dalam: konservatif, liberal dan kritis.[2]

KONSEPSI TENTANG MANUSIA

Membahas tentang pendidikan, tidak bisa dilepaskan dari upaya pemaknaan terhadap hakikat manusia. Karena memang manusialah “subjek” sekaligus (maaf) “objek” dalam pendidikan. Ironisnya, misteri tentang siapa sesungguhnya manusia belum pernah selesai terungkap. Sehingga ada hadits (atau atsar?)[3] yang masyhur mengatakan “man arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, siapa yang mengenali dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya. Tentu perkataan ini bisa saja bersifat multitafsir, namun ada tantangan berat terselip di dalamnya. Ibaratnya, mengenali hakikat manusia itu sama sulitnya dengan mengenali hakikat Tuhannya[4].

Walaupun demikian, sejak zaman baheula manusia telah melakukan pengkajian terhadap dirinya. Sehingga kita menemukan banyak ulasan perseptual tentang manusia dilihat dari pelbagai aspeknya. Mulai dari aspek filosofis sampai aspek neurologis. Dari aspek manusia sebagai makhluk biologis sampai ia sebagai makhluk sosial dan berbudaya. Semuanya bak pecahan mozaik yang saling menyempurnakan.

Karena keterbatasan ruang, dan agar lebih fokus pada topik ini -yang melihat manusia sebagai makhluk yang berkomunikasi (intra/interpersonal), dan pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi- maka di sini hanya ditampilkan persepsi tentang manusia dari aspek psikologi komunikasi.

Ada banyak persepsi psikologi tentang manusia, namun yang paling populer ada 4 pendekatan. Pertama, psikoanalisis yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Kedua, behaviorisme yang memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan (Homo Mechanicus). Ketiga, kognitif yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengola stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens). Dan terakhir, humanisme yang menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens)[5].

Persepsi Psikoanalisis

Penggagas awal teori ini adalah Sigmund Freud. Ia memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut bapak psikoanalisis ini, prilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia Id, Ego dan Superego.

Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia –pusat instink (hawa nafsu). Ada dua instink dominan: 1. Libido, instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk keinginan-keinginan manusia yang konstruktif; 2. Thanatos, instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink kehidupan (eros) yang menurut Freud tidak hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri (narcisism). Sebaliknya yang kedua disebut juga instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), dan ingin segera memenuhi kebutuhannya; bersifat egoistis, tidak bermoral, dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.

Walaupun Id mampu melahirkan keinginan, ia tidak mampu memuaskan keinginannya. Subsistem yag kedua (Ego) berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang normal). Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle).

Subsistem yang terakhir disebut Freud dengan Superego. Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Ia adalah hati nurani (concience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultral masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke alam bawah sadar. Baik Id maupun Superego berada dalam bawah sadar manusia. Ego berada di tengah, antara memenuhi desakan Id dan peraturan Superego. Untuk mengatasi ketegangan ia dapat menyerah pada tuntutan Id, tetapi berarti dihukum oleh Superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik, atau frustasi ego secara tidak sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, dengan mendistorsi realitas.

Secara singkat, dalam Psikoanalisis prilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (ego), dan komponen sosial (superego); atau unsur animal, rasional, dan moral (hewani, akali, dan akhlaqi).

Persepsi Behaviorisme

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisa hanya prilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan dan diramal. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh prilaku manusia, kecuali instink, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan prilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana prilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dari sinilah muncul istilah “manusia mesin” (Homo Mechanicus).

Watson sering dianggap sebagai tokoh utama behaviorisme, namun jejak pendekatan ini sebenarnya dapat dilacak sampai pada Empirisme dan Hedonisme pada abad 17-18 M, bahkan sampai pada Aristoteles. Filosof klasik ini berpendapat bahwa jiwa manusia ketika dilahirkan tidak memiliki apa-apa. Ibaratnya seperti meja lilin (tabula rasa)yang siap dilukis oleh pengalaman.

Dari Aristoteles, John Locke (1632-1704M), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak memiliki “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukannya idea yang menghasilkan pengetahuan. Tetapi kedua-keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis ini mengindikasikan bahwa selruh prilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab prilaku tetapi disebabkan oleh prilaku masa lalu.

Salah satu kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berprilaku tertentu. Hedonisme, salah satu faham filsafat etika, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan dan menghindari kesengsaraan. Dalam utilitarianisme, seluruh prilaku manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan utilitarianisme dan hedonisme maka itulah behaviorisme.

Singkatnya, pendirian kaum behavioris adalah bahwa organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; prilaku adalah hasil pengalaman; dan prilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi ini ditambah lagi dengan sumbangan biologi abad 19: manusia hanyalah kelanjutan dari organisme yang lebih rendah. Karenanya manusia dapat dipahami dengan meneliti prilaku organisme yang bukan manusia. Misalnya, merumuskan teori belajar dengan mengamati bagaimana tikus belajar.

Persepsi Psikologi Kognitif

Pada akhir tahun 60an dan awal 70an, asumsi-asumsi Behaviorisme diserang habis-habisan dan psikologi sosial bergerak menuju paradigma baru. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya: makhluk yang selalu berpikir (Homo Sapiens). Ini menunjukkan kecenderungan pada rasionalisme daripada empirisme, dan psikologi kognitif memang dapat dirujukkan muasalnya pada rasionalisme Immanuel Kant (1724-1804), Rene Descartes (1596-1650) bahkan sampai ke Plato, filosof klasik Yunani.

Kaum rasionalis mempertanyakan apakah betul bahwa peginderaan, melalui pengalaman langsung, sanggup memberikan kebenaran. Hal itu karena alat indera seringkali gagal menyajikan informasi yang akurat. Descartes juga Kant menyimpulkan bahwa jiwalah (mind) yang menjadi alat utama pengetahuan, bukan indera. Jiwa menafsirkan pengalaman inderawi secara aktif: mencipta, mengorganisasikan, menafsirkan, mendistorsi dan mencari makna. Tidak semua stimuli yang ditangkap oleh indera diterima. Sensasi dan pikiran adalah pelayan, tidak hadir kecuali kalau dibutuhkan. Dan tuannya adalah jiwa manusia.

Rasonalisme ini tampak pada aliran psikologi Gestalt di awal abad 20. Menurut para psikolog ini, manusia tidak memberikan respons kepada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkungan. Sebelum memberikan respons, manusia menangkap dulu “pola” (gestalt) stimuli secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna.

Konsepsi tentang manusia yang terkenal dari psikologi ini adalah manusia sebagai pengolah informasi (the person as information processor). Di sini manusia didudukkan sebagai makhluk yang secara sadar memecahkan masalah dengan rasionalitasnya. Atau dengan kata lain, bahwa prilaku manusia merupakan produk strategi pengolahan informasi yang rasional, yang mengarahkan penyandian, penyimpanan, dan pemanggilan informasi.

Persepsi Psikologi Humanistik

Madzhab humanistik menghadirkan persepsi manusia yang berbeda dari aliran-aliran sebelumnya. Pada behaviorisme manusia hanyalah mesin yang dibentuk oleh lingkungannya, bak robot tanpa jiwa. Sedang pada psikoanalisis, manusia selalu dipengaruhi oleh naluri primitifnya, seperti binatang buas (savage beast). Keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta kasih, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Inilah yang diisi oleh psikologi humanistik.

Psikologi humanistik banyak merujuk pada fenomenologi, dan eksistensialisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. Pengalaman subyektif ini dikomunikasikan oleh faktor sosial dalam proses intersubjektifitas yang diungkap pada eksistensialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan diri –dengan- orang lain atau “I-thou Relationship”, bukan “I-it Relationship” (hubungan diri –dengan- benda). Di sinilah faktor orang lain menjadi penting; bagaimana reaksi mereka membentuk bukan saja konsep diri, tetapi juga pemuasan terhadap kebutuhan pertumbuhan manusia (growth needs). Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesama manusia. Yang paling penting bukan apa yang didapat dari kehidupan, tetapi apa yang dapat diberikan untuk kehidupan. Jadi hidup baru bermakna apabila melibatkan nilai-nilai dan pilihan konstruktif secara sosial.

Perhatian pada makna kehidupan merupakan hal yang juga membedakan persepsi humanistik dari madzhab yang lain. Manusia di sini didudukkan bukan saja sebagai pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Manusia menjadi manusia ketika mempertanyakan apakah hidupnya bermakna.

PARADIGMA PENDIDIKAN

Paradigma Konservatif

Bagi kaum konservatif, ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil dihindari serta merupakan ketentuan sejarah atau bahkan “takdir” Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanyalah akan membuat manusia lebih sengsara saja. Dalam bentuknya yang klasik atau awal, paradigma ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan atau mempengaruhi perubahan sosial, hanya Tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya Dia yang tahu makna di balik itu semua. Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif lama tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka.

Namun dalam perjalanan selanjutnya, paradigma konservatif cenderung lebih menyalahkan subyeknya. Bagi kaum konservatif, mereka yang menderita, yakni orang-orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang ke sekolah dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena pada akhirnya kelak semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan. Kaum konservatif sangat melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan berupaya menghindarkan konflik atau kontradiksi.

Paradigma Liberal

Golongan kedua yakni kaum liberal, berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat, tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik-ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik-ekonomi. Sungguhpun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi-politik di masyarakat dengan jalan memecahkan berbagai permasalahan pendidikan melalui usaha reformasi yang bersifat “facial” atau “kosmetik”.

Umumnya yang dilakukan adalah seperti perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memodernkan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer, multimedia, dan laboratorium yang lebih canggih, serta berbagai usaha untuk menyehatkan rasio murid-guru. Selain itu, juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran/pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik ‘learning by doing”, experimental learning, active learning, dan sebagainya. Namun usaha peningkatan tersebut tetap terisolasi dalam sistem dan struktur ketidakadilan kelas maupun gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada di dalam masyarakat.

Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik formal maupun non-formal. Akar dari sistem pemikiran ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalam tradisi liberal ini berakar pada cita-cita Barat tentang individualisme, di mana ide politik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh kapitalisme.

Jejak Liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yakni model manusia Amerika dan Eropa. Model ideal mereka adalah manusia ‘rasionalis liberal’, seperti: pertama, bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual; kedua, baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal; dan ketiga adalah “individualis” yakni adanya anggapan bahwa manusia adalah atomistic dan otonom. Menempatkan individu secara atomistic membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.

Pengaruh liberalisme ini tampak dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui persaingan antar murid. Juga pada pendekatan “andragogy” seperti dalam training managemen dan kewirausahaan. Achievement Motivation Training (AMT) yang diciptakan David McClelland adalah contoh terbaik pendekatan ini. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga adalah karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach. Oleh karena itu, syarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlunya terjangkiti virus “N Ach” yang mebuat individu agresif dan rasional.[6]

Lain dari itu, paradigma pendidikan liberal juga dipengaruhi oleh positivisme. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang memahami realitas dengan meminjam pandangan, metode dan teknik ilmu alam dalam memahami benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme dan generalisasi melalui metode determinasi, fixed law atau kumpulan hukum teori. Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tunggal dianggap ‘appropriate untuk semua fenomena. Oleh karena itu mereka percaya bahwa riset sosial ataupun pendidikan harus didekati dengan metode ilmiah yakni obyektif dan bebas nilai. Dengan kata lain, positivisme mensyaratkan adanya pemisahan antara fakta dan values dalam rangka menuju pada pemahaman yang obyektif atas realitas sosial.[7]

Paradigma Kritis

Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi kaum konservatif, pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik-ekonomi masyarakat di mana pendidikan itu berlangsung. Bagi mereka ketidakadilan dan diskriminasi sosial dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan.

Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap the dominant ideology ke arah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan sosial dapat tumbuh berkembang dan mampu melakukan dekonstruksi serta advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin bersikap netral, obyektif maupun berjarak dengan masyarakat seperti anjuran positivisme. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.[8]

PENUTUP

Demikianlah secara singkat uraian tentang beberapa sistem pemikiran atau paradigma pendidikan yang tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan tentang manusia baik secara psikologis maupun sosiologis-antropologis, dan utamanya secara filosofis. Paradigma ini tentunya amat mempengaruhi desain kurikulum dan metodologi pembelajaran yang dikembangkannya. Seperti kita pahami misalnya kurikulum Amerika bersifat utilitis karena dikembangkan berdasar paradigma liberalisme-pragmatisme.

Bagaimana dengan kurikulum pendidikan Indonesia? Secara paradigmatis mestinya dikembangkan berdasar filsafat Pancasila seperti yang sering didengungkan banyak pakar, namun kenyataannya sebagai falsafah hidup, Pancasila sendiri belum memiliki “kaki yang kokoh” untuk menjadi akar pijakan pendidikan bangsa ini.

Akibatnya, jejak sejarah pendidikan Indonesia mengindikasikan suatu spirit paedagogis yang belum jelas, sedang desain kurikulum dan metodologi pembelajarannya tidak dapat dilacak pada satu sistem pemikiran tertentu. Persisnya, seperti gado-gado, campur aduk, tidak konsisten, “asal comot”, dan amat bergantung pada mood politis pengambil kebijakan ketika sedang berkuasa. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan, apalagi ini menyangkut “memanusiakan kembali manusia”![]

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, Karen. 2001. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen dan Islam Selama 4.000 Tahun, Mizan, Bandung.

Fakih, Mansur dkk. 2001. Pendidikan Populer: Membagun Kesadaran Kritis. Insist. Yogyakarta.

Kuntowijoyo. 1994. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. (Cetakan ke VI). Mizan. Bandung.

Maliki, Zainuddin. 2003. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM). Surabaya.

Mas’ud, Abdurrahman dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam (ed. Ismail SM dkk.). Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

O’Neil, William F. 2001. Ideologi-ideologi Pendidikan (terj. Omi Intan Naomi). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, tahun 2001.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi (Cetakan ke-17). PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Tafsir, Ahmad. 2001. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Weber, Max. 2000. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (terj. Yusup Priyasudiarja). Pustaka Promethea. Surabaya.


[1] Paradigma dari bahasa Inggris paradigm berarti type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola) [Hornby, 1989:895]. Sedangkan secara terminologis berarti a total view of a problem, a total outlook, not just a problem in isolation [Hills, 1982] lihat: Abdurrahman Mas’ud dkk, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, ed. Ismail SM dkk., Pustaka Pelajar, Yogyakarta, halaman viii; Secara sederhana Ahmad Tafsir mengartikan paradigma sebagai cara pandang atau cara berpikir, Lihat: Ahmad Tafsir, 2001, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, halaman 6; Kuntowijoyo dengan meminjam “pembacaan” paradigma  dari Thomas S. Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolutions (oleh penerbit Rosdakarya, Bandung diterjemakan dengan judul Peran Paradigma dalam Revolusi Sains,  1989) juga berpandangan sama, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya realitas sosial itu dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu yang pada gilirannya akan menghasilkan mode of knowing (cara mengetahui) tertentu pula. Imanuel Kant menganggap “cara mengetahui” ini sebagai apa yang disebutnya skema konseptual. Marx menamakannya sebagai ideologi. Dan Wittgenstein melihatnya sebagai cagar bahasa, tilik: Kuntowijoyo, 1994, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Cetakan ke VI, Mizan, Bandung, halaman 327.

Konsep paradigma ini sering digunakan secara bergantian dengan ideologi, baik dalam pembahasan pengetahuan sosial maupun pengetahuan sehari-hari, dan beberapa penulis tidak membedakan di antara keduanya. Alasan prinsipil dari percampuran konseptual semacam ini adalah bahwa ideologi selalu muncul dari paradigma sosial. Lebih jelasnya, bahwa paradigma dapat diubah menjadi ideologi oleh sekelompok orang dan dimanfaatkan untuk menjastifikasi tindakan mereka. Kecenderungan ini digambarkan oleh Stephen Cotgrove (1982) sebagai berikut: “Paradigma bukan hanya merupakan keyakinan tentang kata-kata yang diinginkan dan dimaksudkan menuntun tindakan; ia juga mempunyai fungsi legitimasi atau justifikasi terhadap sebab-sebab tindakan. Oleh karena itu dikatakn, paradigma berfungsi sebagai ideologi…” lihat: Zainuddin Maliki, 2003, Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik, Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM), Surabaya, halaman 19-20.

[2] Aronowitz, S & Giroux, H.A., 1985, Education under Siege, Bergin & Garvey Publisher, Inc., Massachusetts, seperti yang diulas oleh Mansur Fakih dkk. dalam Pendidikan Populer: Membagun Kesadaran Kritis, 2001, Insist, Yogyakarta. Sebenarnya ada pemetaan lain, seperti William F. O’Neil dalam bukunya Eductional Ideologies: Contemporary Expressions of Educational Philosophies, 1981, Goodyear Publishing Company, Santa Monica-California, di Indonesia diterjemahkan dalam judul: Ideologi-ideologi Pendidikan oleh Omi Intan Naomi dan diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, tahun 2001. Di sini O’neil mengkatagorikan ideologi pendidikan ke dalam dua katagori besar: Konservatif dan Liberal. Ideologi pendidikan konservatif mencakup Fundamentalisme, Intelektualisme, Konservatisme; sedangkan ideologi pendidikan liberal mencakup Liberalisme, Liberasionisme, dan Anarkisme. Di dalam makalah ini, penulis memilih pemetaan Giroux & Aronowitz karena lebih sederhana dan terasa pembedaan paradigmatisnya.

[3] Hadits ialah sesuatu yang direferensikan kepada Rasulullah SAW, sedangkan atsar direferensikan kepada para sahabat maupun tabiin.

[4] Sehingga, perbincangan mengenai Tuhan menurut Karen Amstrong dalam the History of God, seringkali berpijak pada persepsi manusia tentang Tuhannya, akibatnya seakan Tuhan itu “menyejarah”, lihat Karen Armstrong, 2001, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen dan Islam Selama 4.000 Tahun, Mizan, Bndung.

[5] Jalaluddin Rakhmat. 2001. Psikologi Komunikasi. Cetakan ke-17. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. Selanjutnya uraian tentang perbandingan keempat pendekatan ini akan banyak mengadopsi dan mengadapsi “pembacaan teoritis” dari rujukan ini pada halaman 19-32 dengan sedikit perubahan redaksi dan disesuaikan dengan topik pembahasan.

[6][6] Asumsi ini dipengaruhi oleh bukunya Max Weber, 1930,  The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, New York (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yusup Priyasudiarja dan diterbitkan dengan judul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, oleh Pustaka Promethea tahun 2000). McClelland berpendapat bahwa jika protestant ethic mendorong pertumbuhan ekonomi Barat, analog terhadap gejala yang sama harus dicari di lain tempat dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, di balik rahasia etika protestan adalah suatu mentalitas yang disebutnya dengan the need for achievement (N Ach). Lihat McClelland, 1984, “The Achievement Motive in Economic Growth” in M. Seligson (ed.), The Gap between Rich and Poor , Boulder: Wespoint.

[7] Habermas, seorang penganut teori kritis melakukan kritik terhadap positivisme dengan menjelaskan berbagai katagori pengetahuan sebagai berikut: 1. Instrumental knowledge atau positivisme dimana tujuan pengetahuan adalah untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi dan eksploitasi terhadap obyeknya; 2. Hermeneutic knowledge atau interpretative knowledge, di mana tugas ilmu pengetahuan hanyalah untuk memahami; dan 3. Critical knowledge atau emancipatory knowledge, yakni suatu pendekatan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai katalis untuk membebaskan potensi manusia. Dan paradigma pendidikan liberal pada dasarnya sangatlah positivistik.

[8] Mansur Fakih dkk.  Pendidikan Populer, Op.Cit., halaman 22.

Comments
  1. Muhammad Hasyim.A says:

    PaAaakk….Pak Amin materi tentang pengembangan kurikulum masih belum lengkap Ya….??? tambahin Ya….Pak biar tambah jg ilmunya gtu….. Jzk….khair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s