Pola Pembelajaran Baca Qur`an Luar Sekolah di Kota Malang

Posted: September 26, 2009 in publikasi ilmiah

Publikasi Hasil Penelitian, Saiful Amien.

Abstrak:

tpaThis article studied about learning and teaching methodology of qur`anic recitation at TPAs (Taman Pendidikan al-Qur`an) in Lowokwaru Malang, and aimed to answer these questions below: 1) How are the learning methodology of qur`anic recitation at all TPA in Lowokwaru Malang?; 2) what are the uniqueness of those learning designs?; and 3) what are the problems of those learning designs?

This article found 7 methodologies of learning of qur`anic recitation at TPAs in Lowokwaru Malang. There were Baghdadi, Iqra`, Qira`ati, Tartila, Nahdliyah, and Yanbu’a.

Teaching of qur`anic recitation at TPAs in Lowokwaru, generally, developed in same design. That can be looked at goal and target of learning, input (student), curriculum design, learning time, learning strategy/method, leveling (based on module), and subject matter. Those 7 methodologies above just led to differences in any aspects of those learning designs. Like in approaches and ways of teaching, class management (formal, nonformal or informal), and teaching development. Even though like that, those methodologies brought uniqueness themselves.

Kata Kunci: Pembelajaran, Taman Pendidikan al-Qur`an, Metode

[Artikel ini telah dimuat di Jurnal Penelitian Pendidikan, Lemlit. Univ. Negeri Malang Tahun 19/Nomor 1/April 2009, halaman 68-81]

Sebagai sumber utama dalam Islam, al-Qur`an memiliki posisi istimewa bagi kaum Muslimin baik dalam struktur keimanan (teologis) maupun dalam rumusan kehidupan (sosial) mereka. Secara teologis, ini berkaitan dengan hakikat al-Qur`an itu sendiri yang merupakan kalam Allah (wahyu) yang disampaikan kepada manusia melalui Nabi-Nya, Muhammad SAW, sebagai pedoman dan petunjuk (hudan) dalam mengarungi kehidupan ini. Implikasinya, secara sosiologis, al-Qur`an menjadi sumber nilai, norma, hukum, paradigma dan inspirasi bagi seorang Muslim dalam mengkonstruk bangunan hidup dan kehidupannya, kapanpun dan di manapun sebagai wujud dari sifat al-Qur`an yang rahmatan li al-‘alamin.

Keistimewaan al-Qur`an tersebut memunculkan usaha kaum muslimin untuk mempelajari kandungannya dari berbagai aspek keilmuan yang berkembang dalam khazanah intelektualitas muslim. Karenanya, muncul berbagai lembaga/program pendidikan al-Qur`an dari tingkat pemula sampai tingkat lanjutan. Di antaranya dalam lingkungan masyarakat Muslim Indonesia ialah Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA). Sebuah institusi non-formal yang mengelola pembelajaran Qur`an untuk anak-anak seusia prasekolah hingga SD.

TPA sebagai sebuah pendidikan agama Islam luar sekolah telah demikian eksis di masyarakat Muslim Indonesia, hampir tiap masjid/musholah memilikinya, termasuk di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang.

Uniknya, pola pembelajaran Qur`an yang dikembangkan di TPA tidaklah seragam. Dilihat dari sistem dan manajemen komunitas belajarnya, setiap TPA memiliki karakter program tersendiri.

Itulah yang mendorong adanya pembahasan ini. Yakni untuk mengeksplorasi lebih jauh pola pembelajaran Qur`an di TPA se-Lowokwaru Malang dan kemudian menganalisisnya dari berbagai aspek yang terkait.

Pembelajaran Al-Qur`an di sini dibatasi hanya pada pembelajaran baca-tulis al-Qur`an, di mana pembelajaran itu sendiri dimaksudkan sebagai usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Atau dengan kata lain, pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya tujuan kurikulum (Abdullah, www.smu-net.com).

Kata “Pola” secara bahasa, di antaranya berarti desain, model, sistem, cara kerja, atau kerangka (Tim Penyusun, 1991). Karenanya, yang dimaksud pola pembelajaran baca Qur`an dalam penelitian ini adalah desain dan kerangka kerja dari suatu aktivitas yang memodifikasi berbagai kondisi untuk menghantarkan peserta didik mampu membaca al-Qur`an seperti yang direncanakan.

Pembelajaran Membaca Al-Qur’an

Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas.

Beberapa pendapat mengenai pengertian pembelajaran, diantaranya: (a) Menurut Sujana, pembelajaran adalah setiap upaya yang sistematik dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan mengajar (Sudjana, 2001); (b) Menurut E. Mulyasa, pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan (Mulyasa, 2004); (c) Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah sebuah kombinasi yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, 2001).

Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa pembelajaran adalah suatu aktivitas atau proses perubahan status siswa (pengetahuan, sikap dan perilaku) yang menuntut keaktifan guru untuk memodifikasi berbagai kondisi, melibatkan unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sedangkan membaca menurut I Gusti Ngurah Oka adalah proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak dari  bacaan itu (Oka, 1983).

Dan menurut Sudarso, membaca adalah proses melisankan paparan bahasa tulis melalui aktivitas yang kompleks yakni harus menggunakan pengertian, hayalan, menghayati, dan mengingat-ingat hasil bacaan (Sudarso, 1993).

Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan mempersepsi tuturan tertulis melalui pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif agar memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu.

Secara keseluruhan yang dimaksud dengan pembelajaran membaca al-Qur’an adalah sebuah proses yang menghasilkan perubahan-perubahan kemampuan melafalkan kata-kata, huruf atau abjad al-Qur’an yang diawali huruf a’ (ﺃ) sampai dengan ya’ (ﻱ) yang dilihatnya dengan mengerahkan beberapa tindakan melalui pengertian dan mengingat-ingat (Faizah, 2006).

Tujuan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an

Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Dalam tujuan ini terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan dalam anak didik. Sehingga berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama proses belajar mengajar berlangsung (Sudjana, 1995).

Menurut Abdurrahman an-Nahlawi tujuan adanya pendidikan  al-Qur’an termasuk di dalamnya pembelajaran membaca al-Qur’an diharapkan santri mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, memahami dengan baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (An-Nahlawi, 1989).

Sedangkan tujuan pembelajaran membaca al-Qur’an menurut Mardiyo, diantaranya santri dapat membaca al-Qur’an dengan mantap, baik dari segi ketepatan harakat, saktat (tempat-tempat berhenti), menyembunyikan huruf-huruf dengan makhrajnya dan persepsi maknanya, mengerti makna al-Qur’an dan terkesan dalam jiwanya,  mampu menimbulkan rasa haru, khusuk, dan tenang jiwanya serta takut kepada Allah, membiasakan santri membaca pada mushaf dan memperkenalkan istilah-istilah yang tertulis baik untuk waqaf, mad dan idghom (Mardiyo, 1999).

Pola Pembelajaran al-Qur`an di TPA

Di dalam Ensiklopedi Islam (1996: 218-220) disebutkan bahwa Taman pendidikan Al-Qur`an (TPA) merupakan lembaga yang dikhususkan untuk anak seusia SD (7-12 tahun). Tujuan umumnya ialah menyiapkan anak didik agar menjadi generasi qur`ani, yaitu generasi yang mencintai al-Qur`an, berkomitmen dengan al-Qur`an serta menjadikan al-Qur`an sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari. Sedangkan tujuan utamanya ialah mendidik santri mampu membaca al-Qur`an dengan benar sesuai ilmu tajwid. TPA ini dibina oleh Departemen Agama Direktorat Penerangan Agama Islam dan Penyelenggaranya adalah masyarakat.

TPA juga disebut pengajian anak-anak dalam bentuk baru dengan metode praktis di bidang pengajaran membaca al-Qur`an yang dikelola secara profesional. Target operasionalnya ialah: dalam waktu kurang lebih satu tahun, diharapkan setiap anak didik memiliki (1) kemampuan membaca al-Qur`an dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Tajwid; (2) melakukan shalat dengan baik dan terbiasa hidup dalam suasana yang islami; (3) hafal beberapa surat pendek, ayat-ayat pilihan dan do’a sehari-hari; dan (4) dapat menulis huruf al-Qur`an.

TPA merupakan penunjang pendidikan agama Islam pada lembaga-lembaga pendidikan formal (SD/MI), karenanya diselenggarakan pada siang/sore hari di luar jam sekolah. Bagi lingkungan masyarakat yang memiliki Madrasah Diniyah pada jam-jam tersebut, TPA dapat dijadikan sebagai kegiatan pra-Madrasah Diniyah.

Lamanya pendidikan dengan metodologi Iqra` misalnya adalah 1 tahun (terbagi dalam 2 semester), masuk 3 kali dalam seminggu, masing-masing 60 menit. Dengan pola masuk seperti ini TPA dapat menggunakan pula fasilitas gedung TK/SD/MI. awal tahun ajaran tidak ditentukan dengan pasti. Dengan fleksibelitas sistemnya, maka TPA dapat menerima santri sewaktu-waktu selama tersedia tenaga pengajar dan ruang kelas. Akhir semester (baik semester ganjil maupun genap) ditandai dengan pembagian raport. Bagi santri yang telah lulus dengan metode Iqra` jilid 6 (telah mampu membaca al-Qur`an dengan benar), di samping mendapat raport juga mendapat ijazah dengan upacara wisuda. Wisuda dilaksanakan setiap semester atau satu tahun sekali sebagai forum silaturrahmi antara pengelola, tenaga pengajar dan wali santri.

Materi pelajaran adalah belajar membaca al-Qur`an dengan menggunakan buku Iqra` jilid 1-6, kemudian dilanjutkan dengan tadarrus al-Qur`an (mulai juz 1). Sebagai materi tambahan atau penunjang adalah hafalan bacaan shalat, surah-surah pendek, do’a-do’a sehari-hari dan ayat-ayat pilihan. Tiap kelas berisi 20-30 santri.

Seiring dengan semakin berkembangnya temuan metodologi pembelajaran baca al-Qur`an (selain Iqra`) pada dekade terakhir ini, maka dimungkinkan berkembang pula pola pembelajaran yang diterapkan di TPA, dan itulah yang hendak dieksplorasi lebih jauh dalam artikel ini.

METODE PENELITIAN

Pengumpulan data dalam penelitian ini ditempuh dengan cara sebagai berikut: (a) Observasi, dilakukan untuk mengetahui dari dekat kondisi riil jumlah maupun aneka pola pembelajaran baca Qur`an di TPA se-Lowokwaru. Dalam hal ini peneliti turun langsung melakukan penelusuran di ruang pembelajaran berbagai TPA tersebut; (b) Wawancara, dilakukan dengan cara bertanya secara langsung dan mengalir kepada beberapa informan yang terlibat dalam pengeloaan TPA untuk memperdalam data yang diperoleh dari metode yang lain. Wawancara ini diarahkan pada wawancara tidak berstruktur; (c) Dokumentasi, digunakan untuk mengumpulkan dokumen tentang pola pembelajaran di TPA se-Lowokwaru seperti modul, diktat, dan panduan pembelajaran yang digunakan.

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini, peneliti berperan sebagai pengamat, pengumpul dan sekaligus pengolah data. Sebagai alat bantu digunakan berbagai sarana seperti tape recorder, kamera digital serta alat tulis lainnya.

Pemeriksaan data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi sumber. Di sini peneliti membandingkan kepercayaan suatu informasi dengan cara: (1) membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara; (2) membanding perkataan (data lisan, hasil wawancara) dengan dokumen yang tertulis; (3) membandingkan apa yang tertulis dalam dokumen terkait dengan realitas hasil observasi.

Pengelohan data dalam penelitian ini menggunakan metode induktif. Ini dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh tentang pola pembelajaran yang ada di TPA se-Lowokwaru.Prosesnya dimulai dengan penelaahan data yang ditemukan dari wawancara, dokumentasi ataupun observasi, kemudian dilakukan reduksi dengan membuat abstraksi yang berupa rangkuman-rangkuman (simpul-simpul). Selanjutnya data yang berupa rangkuman abstraksi disusun dalam satuan-satuan dan diidentifikasi dengan pemberian kode atau tanda agar memudahkan analisa atau pengecekan. Lalu dilakukanlah pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi seperti yang telah dijelaskan di atas. Setelah semua tahapan tersebut selesai dan pengumpulan data dirasa cukup, peneliti mulai melakukan penafsiran data secara kritis sehingga menjadi kesimpulan teoritis yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lowokwaru merupakan salah satu kecamatan di Kota Malang yang secara geografis, di sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Karangploso (Kab. Malang), sebelah timur dengan Kecamatan Blimbing, sebelah barat dengan Kecamatan Dau (Kab. Malang), dan sebelah selatan dengan Kecamatan Klojen. Kecamatan Lowokwaru ini memiliki luas wilayah 2089,513 Ha yang meliputi 116 RW tersebar di 12 kelurahan yaitu Tlogomas, Dinoyo, Ketawanggede, Merjosari, Sumbersari, Tasikmadu, Tunggulwulung, Jatimulyo, Tanjungsekar, Mojolangu, Tulusrejo, dan Lowokwaru (www.pemkot-malang.go.id).

Taman Pendidikan al-Qur`an (TPA/TPQ) di Lowokwaru

Departemen Agama Kota Malang, melalui formulir pendataan Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA/TPQ) tahun 2005-2006 mencatat di Kecamatan Lowokwaru terdapat  lebih dari 60 lembaga non-formal ini yang sebagian besar berpusat di masjid atau musholla.

Dari jumlah TPA di atas, tidak seluruhnya diobservasi dalam penelitian ini, mengingat ada diantaranya yang tutup karena berbagai alasan, seperti sedikitnya jumlah peserta didik (santri), berpindahnya santri ke TPA lain, tiadanya tenaga pengajar (ustadz), atau dalam kasus tertentu, menggabungkan diri (merger) dengan TPA lain. Ada pula beberapa TPA yang baru berdiri dan belum terdaftar dalam data Depag Kota Malang di atas. Selain itu ada beberapa TPA yang merupakan bagian dari sistem kurikulum di lembaga pendidikan formal, walaupun pembelajarannya sebagai ekstrakurikuler. Dalam hal ini, peneliti cenderung tidak memasukkan dalam katagori pembelajaran luar sekolah, karenanya dikeluarkan dari sample penelitian ini. Ada pula satu TPA yang memiliki 4 lokasi pembelajaran (musholla) dengan nama berbeda. Untuk yang terakhir ini peneliti menganggapnya hanya satu.

Dari itu, penelusuran dan observasi lapangan ini menemukan 49 TPA yang tersebar di kecamatan Lowokwaru dengan santri secara keseluruhan berjumlah 3.194  anak.

Metodologi Pembelajaran Qur`an di TPA se-Lowokwaru

Dari observasi terhadap 49 TPA di atas, ditemukan ada 7 jenis pilihan metodologi yang dipakai, yaitu Baghdadi, Iqra`, Qira`ati, Tilawati, Tartila, Yanbu`ah, dan Nahdliyah. Sebagaimana arti literleknya, di sini peneliti membedakan antara “metode” dan “metodologi”. Yang pertama bermakna thariqah, strategi, cara, atau teknik pembelajaran Qur`an semisal Metode Musyafahah (meniru); Metode Tarkiibiyyah (sinthetik); dan metode Shautiyyah (bunyi) seperti yang telah disinggung di Kajian Pustaka. Sedangkan yang kedua bermakna ilmu yang membahas atau berkaitan dengan metode pembelajaran di atas. Pada yang kedua inilah Iqra`, Baghdadi, Qira`ati dan lainnya dapat dikatagorikan.

Sebagian besar TPA tersebut menggunakan metodologi Iqra`, sebanyak 31 TPA (63%), disusul Qira`ati sejumlah 8 TPA (16%), Tilawati sejumlah 4 TPA (8%), Tartila sebanyak 3 TPA (6%), dan Baghdadi, Nahdliyah, serta Yanbu’ah, masing-masing 1 TPA (2%).

Dari data di atas, tampak metodologi Iqra` dalam pembelajaran al-Qur`an menjadi pilihan popular oleh TPA di kecamatan ini. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari beberapa alasan: pertama, sosialisasi Iqra` oleh KH. As`ad Humam bersama Balai Litbang LPTQ Nasional dan Team Tadarus “AMM” Yogyakarta sebagai metodologi yang sistematis, terstruktur dan mengandalkan cara cepat belajar membaca al-Qur`an secara nasional merupakan yang pertama daripada metodologi yang lain, walaupun secara de facto, konon penemuan metodologi Qira`ati oleh H. Dachlan Salim Zarkasyi lebih duluan; kedua, buku panduan Iqra` mudah didapat di pasaran, dan tidak melalui prosedur yang rumit untuk membelinya; ketiga, pengajarnya tidak harus mengikuti Training of Trainer (ToT). Dari itu, maka siapapun, yang penting bisa membaca al-Qur`an dengan baik dan benar, mampu mengajar baca Qur`an dengan buku Iqra`; keempat, dari sisi pembelajaran, Iqra` merupakan metode yang simpel, dan mudah; dan kelima, para instruktur TPA saat ini sebagian besar adalah mereka yang pernah mengalami pembinaan dari Iqra`, minimal pernah mengajar dengan metodologi ini.

Pola Pembelajaran TPA di Lowokwaru

Adanya tujuh metodologi pembelajaran baca Qur`an di atas dimungkinkan akan ditemukan tujuh pola pembelajaran, karena setiap metodologi diasumsikan melahirkan pola pembelajarn yang berbeda. Namun, secara umum pembelajaran Qur`an yang berkembang di TPA se-Lowokwaru ternyata berjalan dalam pola yang hampir seragam. Walaupun pada aspek-aspek tertentu ada juga keberbedaannya, terutama terkait dengan pilihan pendekatan dan strategi membina pembelajaran baca Qur`an yang digunakan. Di bawah ini akan dieksplorasi lebih jauh tentang pola pembelajaran ini dari berbagai aspeknya:

1. Tujuan dan Target Operasional Pembelajaran

Secara umum, tujuan TPA ialah menyiapkan anak didik agar menjadi generasi qur`ani, yaitu generasi yang mencintai al-Qur`an, berkomitmen dengan al-Qur`an serta menjadikan al-Qur`an sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari. Sedangkan secara khusus, tujuan utamanya ialah mendidik santri mampu membaca al-Qur`an dengan benar sesuai ilmu tajwid.

Lembaga ini juga disebut pengajian anak-anak dalam bentuk baru dengan metode praktis di bidang pengajaran membaca al-Qur`an yang dikelola secara profesional. Karenanya, target operasionalnya ialah: dalam waktu secepat mungkin, ada yang mentargetkan kurang lebih satu tahun misalnya, diharapkan setiap anak didik memiliki (1) kemampuan membaca al-Qur`an dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Tajwid; (2) melakukan shalat dengan baik dan terbiasa hidup dalam suasana yang islami; (3) hafal beberapa surat pendek, ayat-ayat pilihan dan do’a sehari-hari; dan (4) dapat menulis huruf al-Qur`an.

Sedangkan pada tujuan operasional khusus, biasanya disesuaikan dengan materi ajar pada buku panduan berdasar metodologi tertentu dan jilid tertentu. Misalnya pada buku jilid 1 dari metodologi Yanbu’a, tujuan operasional khusus pembelajarannya ialah: (1) Anak bisa membaca huruf yang berharokat fatchah, baik yang sudah berangkai atau belum dengan lancer dan benar; (2) [Kotak II] Anak mengetahui nama-nama huruf Hijaiyah dan angka-angka Arab; (3) [Kotak 3] Anak bisa menulis huruf Hijaiyah yang belum berangkai dan yang berangkai dua dan bisa menulis angka Arab (Tim Penyusun Yanbu’a, 2004).

Jika dibandingkan dengan tujuan operasional khusus pada buku yang berjilid sama dari metodologi Tartiila, maka akan ditemukan kemiripan, karena pilihan materi ajarnya memang sama. Di buku ini disebutkan bahwa tujuan pembelajaran buku Tartiila jilid pertama adalah kemampuan dan keterampilan santri: (1) Membaca seluruh huruf Hijaiyah yang bersyakal fathah; (2) Menyebutkan nama masing-masing huruf Hijaiyah; (3) Mengidentifikasikan syakal fathah dan letaknya dari huruf; (4) Mengidentifikasi angka Arab dari satu hingga tiga puluh satu (Tim Perumus P5Q, 1998).

2. Penyelenggara TPA

Sebagaimana keberadaan TPA sebagai lembaga non-formal, maka penyelenggaranya adalah masyarakat. Wa bil khusus, mereka yang memiliki kepedulian pada pendidikan baca-tulis al-Qur`an baik perorangan maupun berjama’ah. Perorangan dapat dilihat pada beberapa TPA yang diselenggarakan di rumah-rumah pribadi atau di mushalla keluarga, dimana pengajarnya adalah pemilik rumah sendiri atau mereka yang masih terikat tali kekerabatan. Ini dapat dilihat misalnya pada TPA Darussalam Dinoyo, satu-satunya TPA yang masih mempertahankan penggunaan metodologi Baghdadiyah. TPA ini berpusat di mushalla dan diselenggarakan oleh keluarga Nur Khalifah, ketuanya saat ini, sejak tahun 1965 ketika ayahnya mendirikan dan mengembangkannya (Wawancara dengan Nur Khalifah).

Sedangkan yang bersifat lembaga dapat dilihat pada TPA yang diselenggarahkan oleh takmir masjid atau mushallah yang biasanya terikat dengan organisasi sosial-keagamaan tertentu, di mana pada materi tambahan (hidden curriculum) yang diberikan memuat sesuatu yang menjadi karakter keberagamaan dari organisasi tersebut.

TPA ini secara struktural dibina oleh Departemen Agama Direktorat Penerangan Agama Islam. Sedangkan secara kultural dibina oleh lembaga pengembang metodologi baca-tulis Qur`an yang digunakan oleh TPA tersebut. Misalnya TPA yang menggunakan Iqra` maka marja` pembinaannya pada AMM Yogyakarta. Yang menggunakan Tilawati maka marja`nya adalah Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur`an (LPTQ). Yang menggunakan Tartiila maka pembinaannya dilakukan oleh Jam’iyyatul  Qurro` wal Huffadh Jawa Timur, demikian yang lainnya.

3. Peserta Didik (Santri) TPA dan Perekrutannya.

Ensiklopedi Islam (1996: 218-220) mencatat bahwa lembaga ini dikhususkan untuk anak seusia SD (7-12 tahun). Namun dalam realitasnya di Lowokwaru banyak anak-anak pra-sekolah yang menjadi santri di lembaga ini, hatta pada beberapa metodologi tertentu juga menyediakan buku pegangan khusus untuk usia prasekolah.

Selain itu, anak-anak seusia SMP pun tidak jarang juga masih menjadi pembelajar di sini, walaupun jumlahnya tidak banyak. Hal itu bukan karena kehadiran mereka ditolak tetapi lebih karena faktor kesempatan (waktu) dimana mereka pada jam yang sama seringkali lebih memilih les pelajaran tambahan di sekolahnya, atau karena faktor psikologis di mana mereka enggan mengaji karena merasa tidak pantas belajar bersama teman yang masih anak-anak. Untuk yang terakhir ini, solusi yang diambil oleh TPA biasanya adalah menyediakan jam belajar mengaji bagi anak seusia SMP ke atas sehabis sholat maghrib hingga isya`(Wawancara dengan Uswatun Hasanah, Agus Rahmatullah dan Nur Khalifah).

Masa perekrutan santri, ada di antara TPA yang amat fleksibel, yakni kapanpun diterima, tanpa ada masa pendaftaran yang ditentukan. Namun sebaliknya, ada juga yang amat ketat dengan menentukan masa pendaftaran pada saat-saat tertentu. Biasanya pada awal ajaran baru.

4. Pusat Pembelajaran

Sebagian besar TPA di Lowokwaru menyelenggarakan pembelajarannya di masjid atau mushalla, dan hanya sebagian kecil saja yang berlokasi di rumah (ruangan kelas). Tentang pusat pembelajaran ini amat berkenaan dengan pihak penyelenggara apakah individual atau lembaga. Kalau penyelenggaranya individual, maka kemungkinannya menempati rumah. Demikian juga kalau penyelenggaranya adalah lembaga atau organisasi semisal takmir, maka kemungkinannya menempati masjid/mushalla sebagai lokasi pembelajaran.

Selain itu juga bergantung pada model pendidikan yang dibangun: semakin mendekati model pendidikan sekolahan maka kecenderungannya lebih memilih ruangan semacam kelas yang ditata sedemikian rupa dengan prasarana yang representatif untuk pembelajaran formal, ada papan tulis, meja, bangku, alat peraga dan sebagainya. Ini dapat dilihat pada TPQ Mambaul Huda yang memiliki beberapa ruang kelas di bangunan tersendiri. Ahmadun menuturkan bahwa TPQ Mamba’ul Huda memang berobsesi untuk menjadikan TPA sebagai lembaga yang tidak dipandang sebelah mata, tetapi benar-benar sebagai sebuah pendidikan pada layaknya (Wawancara dengan Ahmadun).

5. Waktu Pembelajaran

Sebagian besar TPA di atas mengambil waktu belajar di sore hari mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, dan sebagian kecil saja yang memanfaatkan waktu ba’da shalat Maghrib hingga Isya`. Hal ini dapat dipahami karena TPA merupakan lembaga non-formal, penunjang bagi pendidikan sekolah. Sehingga waktu pembelajarannya lebih menyesuaikan dengan waktu longgar peserta didiknya dari kegiatan pendidikan formal yang dilaksanakan pada pagi hingga siang hari.

Di antara TPA tersebut, ada yang menggunakan enam hari dalam seminggu, mulai hari Sabtu hingga Kamis, dan Jum`at libur. Atau Senin hingga Sabtu, dan Ahad libur. Ada juga yang hanya mengambil lima hari dalam seminggu, mulai hari Senin hingga Jum’at, sedang hari Sabtu dan Ahad libur. Bahkan ada yang mengambil empat hari dalam seminggu, yakni Senin hingga Kamis, dan Jum’at sampai Ahad libur.

7. Format Pengelolaan  Materi Ajar (kurikulum).

Sebagian besar TPA di kecamatan ini memiliki format jadwal materi ajar (kurikulum) yang mirip, yakni tahap pertama berupa pengkondisian kelas dan dilanjutkan pembukaan dengan membaca bersama do’a iftitah, hafalan surat-surat pendek, dan do’a belajar. Tahap kedua berupa kegiatan utama, yakni proses belajar baca Qur`an; dan tahap ketiga pembelajaran materi tambahan atau muatan lokal, yang kemudian dipamungkasi dengan penutupan, yakni membaca do’a penutup (kafarat al-majlis). Sedangkan dari sisi muatan materi agak sedikit berbeda.

Di bawah ini adalah format pengelolaan materi ajar (jadwal acara) di beberapa TPA yang berbeda:

1. TPA Sirathal Jannah

Metodologi : Iqra`

Jam belajar: Pukul 15.30 hingga 17.00 WIB, setiap hari Senin hingga  kamis

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Persiapan, membaca do’a, membaca asma`ul husna dan membaca sifat wajib Allah Bersama-sama
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi Iqra` Buku Iqra` I – VI Dalam kelompok sesuai jilid
III Materi Tambahan Tauhid, Fiqh, hafalan surat-surat pendek
IV Penutupan Do`a setelah mengaji

Sedangkan khusus hari Jum’at, dimanfaatkan untuk materi tambahan semata berupa: BCM, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bacaan Shalawat.

2. TPA Darussalam

Metodologi  : Baghdadi

Jam belajar: Pukul 16.00 hingga 17.15 WIB, setiap hari Senin hingga Kamis

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Membaca do’a dan surat-surat pendek Bersama-sama
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi Baghdadi Buku Juz Amma, terbitan Karya Thaha Putra Semarang, dan mushaf al-Qur`an Dalam kelompok sesuai kemampuan
III Materi Tambahan Tauhid, Fiqh, hafalan surat-surat pendek Bersama-sama
IV Penutupan Do`a setelah mengaji

Sedangkan khusus hari Rabu, dimanfaatkan untuk Praktik Shalat (Fiqh).

3. TPA Miftahul Jannah

Metodologi : Nahdliyah

Jam belajar : Pukul 15.00 hingga 16.30 WIB, setiap hari Senin hingga  Rabu

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Persiapan, membaca al-Fatihah dan do’a-doa untuk menuntut ilmu Bersama
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi Nahdliyah Buku I – VI Dalam kelompok sesuai jilid
III Materi Tambahan Menulis Arab (kitabah) idem
IV Penutupan Do`a setelah mengaji Bersama

Sedangkan hari Kamis dimanfaatkan untuk pembelajaran tambahan Fiqh; Jum’at untuk BCM, dan Sabtu untuk Akhlaq.

4. TPA al-Hikmah

Metodologi : Qira`ati

Jam belajar : Pukul 15.30 hingga 17.15 WIB, setiap hari Senin hingga  Sabtu

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Persiapan, membaca al-Fatihah dan do’a-doa untuk menuntut ilmu Bersama-sama
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi Qira`ati Buku Qira`ati  jilid I-VI Dalam kelompok/

Kelas qira`ati

III Pembiasaan Shalat Praktik shalat Bersama-sama
IV Materi Tambahan Surat-surat pendek (Senin), Do’a (Selasa), Bahasa Arab/Inggris (Rabu), Fiqh (Kamis), Hadits (Jum’at), Kesenian [tari/kaligrafi/ tartil] (Sabtu) Dalam kelompok sesuai umur

V

Penutupan

Selain itu, juga sekali dalam sebulan dimanfaatkan untuk pembelajaran keterampilan tangan dan out-bond.

5. TPQ al-Hikam

Metodologi  : Tartiila

Jam belajar : Pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, setiap hari Senin hingga  Jum’at

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) -         Shalat Asyar berjama’ah, dilanjutkan dng wirid, do’a & surat-surat pendek

-         Doa pembuka

Bersama-sama

II

Materi tambahan -         Fiqh Ibadah

-         Akhlaq melalui BCM

-         Hafalan Surat-surat pendek

Bersama-sama
III Belajar baca Qur`an dengan metodologi Tartiila Buku Tartiila  jilid I-VI Dalam kelompok/

Kelas Tartiila

V

Penutupan Doa penutup Di kelas

6. TPQ al-Fadholi

Metodologi : Yanbu’a

Jam belajar : Pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, setiap hari Sabtu hingga  Kamis

Tahap

Materi

Keterangan

I Pengkondisian santri -        Do`a dan hafalan surat pendek

-         Fiqh, Akhlaq melalui BCM

-        Shalat Asyar Berjama`ah

Bersama
II Pembukaan Doa pembuka belajar
III Belajar baca Qur`an dengan metodologi Yanbu’a Buku I – VI Dalam kelompok sesuai jilid
IV Materi Tambahan Makharijul Huruf, Do’a-do’a shalat, hafalan surat-surat pendek idem
V Penutupan Do`a penutup Bersama

7. TPQ Mmba’ul Huda

Metodologi : Tilawati

Jam belajar: Pukul 15.30 hingga 17.00 WIB, setiap hari Senin hingga  Rabu

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Do’a belajar Dalam kelompok sesuai jilid
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi tartiila Buku I – VI Idem
III Materi Tambahan/ Muatan Lokal Aqidah, Akhlaq, Fiqh, Do’a-do’a harian, Surat-surat pendek, dan menulis Arab Idem
IV Penutupan Do`a Penutup Idem

Demikianlah format pengelolaan materi ajar pada setiap pertemuan dari beberapa TPA di atas. Sebagai tambahan, walaupun ada beberapa TPA yang menggunakan metodologi pembelajaran yang sama, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya keberbedaan dalam format pengelolaan kurikulumnya. Contohnya adalah antara TPQ al-Hikam dengan TPA Ainul Yaqin, walaupun sama-sama menggunakan metodologi pembelajaran tartiila, tetapi format pengelolaan dan sebaran materi ajarnya agak berbeda. Terutama pada materi tambahan, di mana TPA Ainul Yaqin lebih bervariasi dan disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, seperti: (1) Hafalan do’a-doa untuk kelas A (anak Tartiila jilid 1-3, seusia TK-SD kelas 1); (2) Aqidah Akhlaq untuk semua kelas: A, B (anak Tartiila jilid 4-6), dan C (kelas juz amma); (3) Hafalan surat-surat pendek untu semua kelas (A/B/C); (4) Tarikh untuk semua kelas; (5) Bahasa Arab, hanya untuk kelas C; (6) Bahasa Inggris, hanya untuk kelas C; (7) Tajwid, hanya untuk kelas C; (8) Imla` dan Khat, untuk semua kelas; (9) Mahfudzat, hanya untuk kelas C; (10) Hafalan ayat-ayat tertentu, hanya untuk kelas C.

Demikian pula, antara TPA Miftahul Ulum dan TPA Sirothol Jannah, walaupun sama-sama menggunakan metodologi Iqra`, tetapi memiliki pengelolaan kurikulum yang berbeda, terutama pada materi-materi tambahannya.

8. Sistem Pengelompokan (kelas)

Sebagian besar TPA menerapkan pengelompokan kelas berdasar kompetensi atau tingkat kemahiran baca-Qur`an santri yang merujuk pada penjenjangan melalui buku pegangan (biasanya dari jilid 1 sampai 6, lalu Qur`an). Tidak berdasarkan usia. Sehingga dimungkinkan santri berusia prasekolah misalnya, karena kemahirannya masuk dalam kelompok jilid 2 atau tiga. Sebaliknya, bisa saja terjadi santri seusia SD kelas 3, karena kemampuannya, baru duduk di kelompok jilid 1. karenanya, sebagian besar TPA di atas memberlakukan placement test bagi santri yang baru masuk, walaupun bentuk tesnya tidak sama. Ada yang ketat dan ada yang fleksibel.

Kecuali beberapa TPA yang menggunakan metodologi Tilawati dengan penuh disiplin. Pengelompokan awal tetap berdasarkan kompetensi yang telah dimiliki (kesiapan belajar) calon santri melalui placement test, tetapi pada proses pembelajaran yang sedang berlangsung, santri tidak dapat melakukan percepatan dengan masuk ke level (jilid) di atasnya walaupun ia mampu, karena pembelajaran ala Tilawati bersifat paket (Wawancara dengan Ahmadun).

8. Pelaksanaan Evaluasi dan “Ending Party”.

Hampir semua TPA melaksanakan evaluasi (ujian) untuk mengontrol tingkat pencapaian santri akan kompetensi dasar yang ditetapkan. Sistemnya ada yang bersifat ketat, teratur dan ada pula yang fleksibel. TPQ Mamba’ul Huda misalnya, memiliki system evaluasi yang teratur, terscheduling. TPQ yang menggunakan metodologi Tilawati ini menerapkan evaluasi harian, dua mingguan, triwulan, dan semesteran (tes kenaikan level). Demikian pula dengan TPQ al-Hikam dan TPA al-Hikmah.

Pada akhir pembelajaran sebagian besar TPA menyelenggarakan perayaan kelulusan. Ada yang menyebutnya sebagai wisuda, khatmil Qur`an, atau munaqasah, intinya, selain untuk mensyukuri kelulusan biasanya dimanfaatkan untuk pembagian raport selain sebagai forum silaturrahim antara penyelenggara TPA, instruktur, santri dan wali santri.

9. Lama pendidikan

Lama pendidikan di TPA berbeda-beda, selain pada metodologi pembelajaran yang digunakan, juga pada kecerdasan dan ketekunan santri.  Dengan Iqra misalnya, untuk anak yang rajin dan cerdas idealnya adalah 1 tahun. Untuk TPA yang memakai metodologi Tilawati, karena pola penyampaian materi adalah system paket, maka pendidikan di sana selama 3 tahun. Sedangkan TPA yang menggunakan metodologi Baghdadi lebih lama lagi, yakni 5 tahun.

10. Pendekatan dan Strategi Pembelajaran

Pendekatan dan strategi (metode) pembelajaran baca Qur`an di TPA amat beragam bergantung pada metodologi yang digunakan. TPA yang menggunakan metodologi Baghdadi misalnya, pendekatan pengajarannya lebih bersifat individual atau sorogan (drill) dan metodenya lebih cenderung monoton pada baca-simak antara santri dan gurunya. Sedangkan di TPA yang menggunakan metodologi non-Baghdadi, pendekatan dan metode pembelajarannya telah berkembang penuh variasi dan tidak monoton, seperti pendekatan classical (kelompok) dan belajar aktif (active learning).

Secara umum, strategi pembelajaran yang dikembangkan di TPA di Lowokwaru adalah: (a) Metode Thariiqah Musyafahah (meniru). Yaitu metode pembelajaran membaca al-Qur’an yang dimulai dari meniru atau  mengikuti bacaan seorang guru sampai hafal. Setelah itu diperkenalkan beberapa huruf beserta tanda baca dan harakatnya dari kata-kata atau  kalimat yang dibaca itu; (b) Metode Thariiqah Tarkiibiyyah (sinthetik). Yaitu metode pembelajaran membaca al-Qur’an dimulai dari mengenali huruf hijayyah, yang diawali huruf alif (ا) sampai dengan ya’ (ي) baru kemudian diperkenalkan tanda baca atau harakat, biasanya dikenal dengan nama metode Baghdadiyyah; (c) Metode mengenalkan cara membaca al-Qur’an yang sesuai dengan kaidah-kaidahnya. Yaitu metode pembelajaran membaca al-Qur’an yang  diawali dengan mengenalkan huruf tanpa dieja. Dengan kata lain mengajarkan membaca huruf-huruf atau kata-kata Arab yang sudah bersyakal dalam al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid; (d) Metode Thariiqah Shautiyyah (bunyi). Metode pembelajaran membaca al-Qur’an ini memperkenalkan bunyi huruf-hurufnya yang sudah diharakati atau bersyakal seperti A, BA, TA dan seterusnya. Ada juga yang memaparkan contoh semisal “MA TA” (Mim fathah, Ta’  fathah) lalu disertai gambar “mata”. Dari huruf-huruf inilah nantinya dirangkai dalam bentuk kalimat yang teratur. Metode ini biasanya dipakai untuk mengantarkan seseorang agar dapat membaca kalimat-kalimat dalam bahasa Arab; (e) Metode Demonstrasi. Yaitu instruktur/ustadz memberikan contoh praktis dalam melafadzkan bunyi huruf dan cara membaca hokum-hukum bacaan; (f) Metode Drill. Yaitu santri disuruh berlatih melafadzkan sesuai dengan makhroj dan hukum bacaan sebagaimana yang dicontohkan oleh ustadz; (g) Metode Tanya Jawab. Yaitu ustadz memberikan pertanyaan dan santri menjawabnya, atau santri mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami, dan ustadz menjawabnya; dan (h) Metode Ceramah. Ustadz menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan.

Kesimpulan dan Saran

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran al-Qur`an di TPA se-Lowokwaru memanfaatkan tujuh pilihan metodologi yang berbeda, yaitu: Baghdadi, Iqra`, Qira`ati, Tartiila, Tilawati, Nahdliyah, dan Yanbu’a, di mana metodologi Iqra` yang paling banyak digunakan.

Walaupun begitu, proses kegiatan belajar-mengajar di lembaga-lembaga non-formal itu, secara umum dikembangkan dalam pola pembelajaran yang seragam. Hal ini dapat ditilik dari tujuan dan target pembelajarannya, peserta didik, pusat pembelajaran, jam belajar, penyelenggara, aturan pengelompokan (berdasar jilid buku panduan), hingga muatan kurikulumnya (inti dan tambahan) hampir serupa.

Metodologi di atas hanya mempengaruhi keberbedaan pada aspek tertentu dari pola pembelajaran tersebut. Seperti pada pilihan titik tekan dalam pendekatan dan metode mengajar, suasana pengelolaan kelas (formal-ketat atau informal-kekeluargaan), dan proses pembinaan pengajarnya.

Akhirnya, penulis menyarankan, terutama bagi pembina TPA atau mereka yang memiliki perhatian pada pembelajaran al-Qur’an luar sekolah, untuk melakukan penelitian pengembangan terutama pada aspek yang selama ini belum dikembangkan seperti desain kurikulum, bahan ajar, dan strategi pembelajarannya. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran al-Qur’an menjadi lebih mudah, menyenangkan, efektif dan efesien.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, “Pengertian Belajar”, www.smu-net.com, diakses: Senin, 23 April 2007.

An-Nahlawi, Abdurrahman. 1989. Prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Dipenogoro. Bandung.

Faizah, Umdzatul. 2006. Pembelajaran Membaca Al-Quran dengan Metode Qira’ati pada Anak Prasekolah di TK Islam Hidayatullah Semarang, Skripsi Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang (tidak diterbitkan).

Hamalik, Oemar. 2001.  Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.

http:/www.pemkot-malang.go.id diakses pada tanggal 16 Maret 2006

Mardiyo. 1999.  Pengajaran Al-Qur’an. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Oka, I Gusti Ngurah. 1983. Pengantar Membaca dan Pengajarannya. Usaha Nasional. Surabaya.

Sudarso. 1993. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sudjana, Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru al-Gesindo. Bandung.

Sujana, Djuju S. 2001. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Falah Production. Bandung.

Tim Penyusun. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi II. Depart. Pendidikan dan Kebudayaan & Balai Pustaka. Jakarta.

Tim Penyusun. 1996. Ensiklopedi Islam . Jakarta

Tim penyusun. 2004. Thariqah Baca Tulis dan Menghafal al-Qur`an “Yanbu’a”. Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur`an. Kudus.

Tim Perumus P5Q. 1998. “Tartiila” Cara Cepat Membaca Al-Qur`an. Jilid 1. Jam’iyyatul  Qurro` wal Huffadh Jawa Timur.

Transkrip Hasil Wawancara dengan Agus Rahmatullah, Ketua TPA Sirathal Jannah Jl. Joyo Raharjo Merjosari tanggal 4 Oktober 2007.

Transkrip hasil Wawancara dengan Nur Khalifah, Ketua TPA Darussalam Jl. MT. Haryono VIIIA/1017 Dinoyo, Selasa 23 Oktober 2007.

Transkrip hasil Wawancara dengan Uswatun Hasanah, Ketua TPA Miftahul Ulum, Jl. Joyo Pranoto Merjosari tanggal 4 Oktober 2007.

Comments
  1. nisa says:

    saya izin ngopi ya boossssssss

  2. ahmad rijali says:

    methode belajar dg cara iqro atau baghdady sdh cukup efektif namun perlu diciptakan sistem pembiasaan agar siswa atau santri selalu gemar membaca seperti solawatan zikir yang dilakukan ba’da sholat wajib seorang yang tidak kenal sama sekali huruf arab ternyata dia bisa melantunkan bacaan tsb ……..kalau tidak seperti itu mereka yang telah bisa membaca mungkin sampai disitu saja banyak lagicontoh contoh lain

  3. ali ahmad says:

    saya sngt berterima ksh,,,,krn sy mendpt banyak tambahn pengetahuan,,,,tentg pembelajran al-qur’an,,smg menjadi amal sholeh,,amiennn..

  4. benramt says:

    silakan… pengetahuan untuk semua..

  5. IMUNK says:

    izin ngopy….matur nuwun………..

  6. euiszaenab says:

    penelitian yang bagus. boleh share ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s